Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Only She


__ADS_3

Esok harinya...


Pagi-pagi Zu telah bersiap untuk berangkat ke Angkasa. Kini sang pangeran sedang mengarahkan para menteri sebelum keberangkatannya. Tampak Shu, sang adik hanya bisa diam sambil menyilangkan kedua tangan di dada saat mendengarkan kakaknya berbicara di depan para menteri. Ia tidak lagi mempunyai cara untuk menghentikan keinginan sang kakak.


Setelah memberi pengarahan, Zu lekas berpamitan kepada ayahnya. Ia meminta restu akan keberangkatannya hari ini. Sang ayah pun yang sudah tampak sehat itu memberikan restu kepada putranya. Namun, sampai detik ini Zu belum menceritakan perihal Ara dengan kedua pangeran Angkasa. Ia masih menutupi hal itu dari ayahnya.


Tepat pukul enam pagi, Zu bersama puluhan pasukan elit akan memulai perjalanannya. Namun, sang nenek tiba-tiba datang dan menahan keberangkatan Zu.


"Zu, tunggu!" Sang nenek kini berada di hadapannya.


"Nenek Lin?" Zu pun terkejut melihat neneknya.


"Kau mau ke mana, Cucuku?" tanya seorang wanita berusia tujuh puluh tahun dengan gaun kerajaan yang berwarna cokelat muda.


"Nenek, aku ingin ke Angkasa, menjemput calon istriku." Zu menerangkan kepada neneknya.


"Zu, Jasmine sedang sakit. Tapi kau sama sekali belum menjenguknya. Apa kau tidak mau melihatnya terlebih dahulu?" tanya sang nenek.


"Maaf, Nek. Aku mempunyai urusan yang lebih penting. Aku harap Nenek tidak memaksa," jawab Zu segera.


"Zu, Jasmine selalu mengigau namamu. Tak ada sedikit rasa di hatimu untuknya?" tanya neneknya lagi.


"Hah ...." Zu mengembuskan napas seraya menatap ke sembarang arah.


"Dia sudah lama berada di istana, tapi kenapa lebih memilih gadis yang baru beberapa bulan kau kenal? Di mana hatimu, Cucuku?" Sang nenek berusaha menyadarkan Zu.


"Nek, tolong. Ini urusan pribadiku. Biarkan aku menentukan pilihanku sendiri. Aku sudah dewasa dan tahu mana yang lebih kubutuhkan. Aku pamit, tolong doakan keberangkatan ini."

__ADS_1


Zu pun lekas menaiki kudanya. Ia tidak ingin menunda keberangkatannya lagi. Kuda-kuda hitam itupun segera keluar dari halaman istana Asia.


Aku tidak mengerti mengapa cucuku bisa sampai seperti itu? Dia mengorbankan Jasmine yang jelas-jelas mencintainya, demi seorang gadis yang belum tentu mencintainya. Entah apa yang merasukinya sekarang. Zu amat berbeda sekali. Apakah tekanan serah terima jabatan raja terlalu membebaninya?


Sang nenek hanya diam sambil menatap nanar kepergian cucunya. Ia merasa heran dengan perubahan sikap Zu. Menurutnya, Zu tidak lagi seperti yang dulu. Entah mengapa ia merasa semakin penasaran dengan gadis yang sudah membuat cucunya sampai seperti ini. Lin menantikan kedatangan Ara di istana Asia.


...


Lain Zu, lain pula Ara. Sang gadis pagi-pagi sudah bangun dan sekarang tengah mempercantik diri di rumah kecantikan istana. Pelayan rumah kecantikan pun tampak sibuk meluluri seluruh tubuhnya, dengan lulur khusus yang bisa membuat kulit Ara lebih cerah dan bercahaya. Ara pun menikmati setiap terapi yang diberikan oleh pelayan rumah kecantikan istana.


"Nona, sehabis ini Nona akan dipijat dan dililin area pribadinya. Apakah ada sesuatu yang Nona butuhkan?" tanya pelayan yang masih meluluri tubuhnya.


"Aku sebenarnya ngeri, Mbok. Tapi jika memang syarat menjadi pengantin seperti itu, ya mau tak mau." Ara menjawab ala kadarnya.


"Hahaha. Nona bisa saja." Pelayan pun tertawa mendengar jawaban Ara.


"Ya, Nona. Nanti setelah semua selesai, Nona bisa mandi uap. Sekalian kita akan menguapi area pribadi Nona."


"Hah? Apa?!" Ara pun terkejut.


"Penguapan bertujuan untuk membersihkan kotoran yang ada di dalam rahim. Sehingga jika ada sesuatu yang tak baik, bisa mudah dikeluarkan. Biasanya penguapan berjalan dengan lancar sambil merendam kaki di air hangat khusus," kata pelayan lagi.


Sang gadis pun mengerutkan dahinya.


Aduh, ternyata ribet sekali ya mau jadi pengantin ini. Tapi ya sudahlah. Tidak ada jalan lain selain menuruti semua prosedurnya.


Ara merasa proses kecantikan yang harus dilaluinya begitu panjang. Ia tidak habis pikir jika akan menjadi pengantin sampai serumit ini. Padahal di dunianya tidak sampai seperti ini. Namun, mau tak mau ia harus memenuhi semua prosedurnya.

__ADS_1


Sementara itu...


Moon bersama Sky tengah duduk di ruang makan kerajaan yang berada di lantai tiga istana. Mereka tengah menunggu hidangan sarapan pagi datang sambil bercakap-cakap mengenai pernikahan kedua putranya. Tampak Moon yang menuangkan teh untuk Sky.


"Minumlah." Moon memberikan secangkir teh kepada Sky.


"Terima kasih, Istriku." Sky segera mengambil lalu meneguk tehnya.


"Aku sudah memutuskan untuk mengikuti semua kehendakmu, walau terasa amat berat bagiku." Moon membuka percakapan.


"Aku tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan, Istriku." Sky menerangkan.


"Ya, aku tahu. Tapi pernikahan ini pertama kalinya terjadi dalam sejarah kerajaan Angkasa. Aku masih tidak habis pikir dengan keputusanmu." Moon ikut meminum teh miliknya.


"Ya, Sayang. Aku mengerti. Tapi sebagai orang tua pastinya menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dan sebagai seorang ayah, aku tidak ingin terjadi keributan di antara kedua putraku. Apalagi hanya dikarenakan seorang perempuan." Sky menoleh ke arah istrinya.


Sang raja dan ratu duduk berhadapan di depan meja makan. Keduanya juga sudah mengenakan pakaian kerajaan, lengkap dengan atributnya. Mahkota berlapis emas itu pun keduanya kenakan saat akan memulai hari. Jubah kerajaan yang berwarna hitam pun menghiasi tubuh sang raja dan ratu Angkasa. Keduanya sedang menikmati kebersamaan sebelum kembali ke rutinitas hariannya.


Sebagai seorang ratu, Moon mempunyai kekuasaan tak terbatas dalam segala tindakan di istana. Tidak ada satu orangpun yang bisa menolak kehendaknya selain suaminya sendiri. Dan kini Moon mencoba untuk menerima keputusan suaminya.


"Aku tidak terlalu yakin dia bisa mengurus kedua putraku. Aku saja yang menjadi ibunya amat kelelahan, mengurusnya saat kecil. Apalagi kini mereka sudah besar dan mempunyai sifat yang berbeda. Aku khawatir salah satu akan terluka karena gadis itu tidak dapat berlaku adil." Moon mengungkapkan ketakutannya.


"Istriku, percayalah jika wanita itu lebih kuat dari pria. Kami pun tidak akan tinggal diam jika wanita kami kelelahan. Selama ini apakah aku pernah memaksamu untuk melakukan sesuatu pekerjaan?" Sky menggenggam erat tangan istrinya, meyakinkan jika Ara mampu mengurus kedua putranya.


"Ya, aku tahu. Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan." Moon meletakkan tangannya yang lain ke atas tangan suaminya seraya tersenyum.


Sang ratu akhirnya merestui pernikahan kedua putranya dengan Ara. Setelah melalui berbagai macam pertimbangan, Moon memutuskan untuk menerima semua keputusan suaminya walau hal itu terasa amat berat baginya. Moon percaya jika suaminya lebih mengetahui mana yang terbaik untuk keluarga, istana, kerajaan bahkan negeri ini. Dan pagi ini menjadi saksi atas kembalinya sang ratu ke pelukan sang raja. Sky berhasil mempertahankan rumah tangganya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2