Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Where are you?


__ADS_3

Beberapa menit kemudian...


Seseorang mengetuk pintu kamarku tiga kali, aku pun segera menoleh ke arah pintu. Kulihat seseorang tengah membawakan sarapan pagi untukku.


"Mbok Asri?!"


Seketika aku kegirangan melihat Mbok Asri datang. Segera saja aku memeluknya.


"Non Ara."


"Mbok, sudah lama sekali kita tidak bertemu," kataku seraya melepas pelukan.


"Iya, Non. Syukurlah jika Non Ara baik-baik saja. Saya sangat khawatir waktu itu."


Senyumku mengembang saat mendengar wanita paruh baya ini mengatakan hal demikian. Aku tahu benar jika Mbok Asri menangisiku saat koma waktu itu. Akupun memeluknya kembali.


"Ini berkat doa dari Mbok juga. Terima kasih," kataku seraya menahan haru.


"Iya, Non. Senang rasanya bisa melihat Non Ara dalam keadaan baik. Semoga hal yang kemarin tidak terjadi lagi."


"Aamiin," kataku. "Mbok bawa apa untukku pagi ini?" tanyaku saat melihatnya masih membawa nampan berisi sarapan pagi.


"Pangeran Cloud meminta saya membawakan roti dan juga susu. Silakan dimakan, Non."


Mbok Asri lalu meletakkan sarapan itu ke atas meja tamu yang ada di kamarku. Akupun segera menyantapnya.


"Mbok, duduklah di sini bersamaku," pintaku yang melihat Mbok Asri masih berdiri.


"Tapi, Non. Rasanya kurang pantas duduk di kursi yang sama. Saya kan—"


"Mbok, kita itu sama saja. Mari duduk."


Aku meminta Mbok Asri untuk duduk bersama di kursi panjang yang terbuat dari kayu ini. Mbok merasa segan, namun aku terus meminta. Akhirnya dia pun mau memenuhi permintaanku.


Sambil menyantap sarapan pagi, aku mulai bertanya-tanya kepadanya tentang apa saja yang terjadi di istana ini selama kutinggal.


"Aku rindu sekali, Mbok. Bagaimana keadaan istana setelah malam penyusupan itu?" tanyaku mengawali.


Mbok Asri tampak diam sejenak. Dia seperti enggan untuk menceritakannya.


"Katakanlah, Mbok. Aku sangat ingin mengetahuinya. Tak apa jika ada hal yang tidak mengenakkan. Aku siap untuk mendengarkannya." Aku mencoba menyakinkan.


"Non, setelah malam itu istana dilanda kebimbangan," kata Mbok Asri.


"Maksudnya, Mbok?" tanyaku yang tidak mengerti.

__ADS_1


"Pangeran Cloud dan Pangeran Rain bersitegang semenjak malam penyusupan itu. Pangeran Cloud juga tampak banyak diam dan menyendiri."


"Pangeran Cloud?"


"Pangeran Cloud seperti merasa sangat bersalah sekali karena telah meninggalkan Non Ara."


Tersirat raut wajah sedih di kala Mbok Asri mengingat kejadian malam itu.


"Lalu bagaimana dengan Pangeran Rain?" tanyaku.


"Pangeran Rain banyak menyakiti dirinya. Dia sangat terpukul di saat mengetahui Non Ara sudah pergi meninggalkan istana."


Ya ampun, mereka benar-benar menyalahkan diri sendiri karena mencemaskan keadaanku. Aku tidak menyangka akan mendengar hal ini.


"Non ... saya berharap Non Ara tidak akan meninggalkan kedua pangeran lagi. Saya khawatir negeri ini akan terlantar karena hati kedua pangeran tidak tenang dalam menjalankan tugas."


Aku mengerti kekhawatiran yang Mbok Asri katakan, namun aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Biarlah menjadi pelajaran agar ke depannya kami bisa lebih berhati-hati lagi.


"Mbok, aku tidak melihat Pangeran Rain sedari malam. Dia ke mana, ya?" tanyaku mencoba mengalihkan suasana.


"Pangeran Rain sedang pergi ke perbatasan."


"Perbatasan?"


"Lalu bagaimana dengan peperangannya?" tanyaku yang mulai khawatir.


"Aksara membatalkan perangnya, Non."


"Hah? Benarkah, Mbok?!" tanyaku kegirangan.


"Benar, Non. Namun, pangeran Rain harus berada di perbatasan selama beberapa hari," katanya lagi.


Hah, syukurlah jika tidak jadi berperang.


Aku begitu senang mendengar kabar ini. Kupikir buat apa juga berperang, hanya akan merugikan kedua belah pihak saja.


"Nona, parfum kesukaan Nona sedang habis. Apakah Nona ingin mengganti parfum lain?" tanya Mbok Asri kepadaku.


Aku berpikir sejenak. "Em, mungkin aroma mawar ada, Mbok?"


"Ada, Non. Sebentar saya ambilkan."


Mbok lalu berpamitan kepadaku. Aku pun mengiyakannya. Kulihat Mbok Asri begitu cepat tanggap dengan segala keperluanku.


Dia seperti ibuku sendiri.

__ADS_1


Aku segera menyelesaikan sarapan pagi. Setelahnya, mulai melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda. Aku mulai menorehkan pensil di atas kertas putih yang Cloud berikan padaku. Semoga saja dapat kuserahkan lima dari sepuluh rancangan kebaya hari ini.


Beberapa jam kemudian...


Tiga rancangan kebaya sudah kuselesaikan. Kini aku sedang berdandan di depan cermin besar yang ada di kamarku. Seperti biasa dengan mengenakan make-up minimalis dan sapuan lipstik berwarna merah muda di bibirku. Aku sengaja membawa perlengkapan make-up sendiri dari rumah, karena menurutku lebih cocok di kulit.


Tanpa sengaja, aku melihat ponsel di dalam tas kecilku. Akupun segera mengecek ponselku. Dan ternyata, tidak ada jaringan di sini. Ya, wajarlah. Namanya juga beda bumi. Provider-ku tidak dapat menjangkau sampai ke tempat sini.


"Apa kabar kalian?"


Kulihat foto ayah dan ibu di ponsel, dan foto kedua adikku yang sedang bermain di waterboom saat itu. Aku merindukan mereka. Padahal baru saja sampai di sini.


Aku belum tahu pasti tentang perbedaan waktu antara duniaku dan dunia ini. Mungkin jaraknya cukup jauh. Satu hari di sini berkisar 8-10 hari di duniaku. Entahlah, aku belum dapat memastikannya.


Semalam saat tiba di bukit pohon surga, ada hal aneh yang terjadi padaku. Waktu itu...


..


Ara baru saja tiba di bukit pohon surga. Ia jatuh tepat di bawah pohon tin. Keadaan sekeliling tampak begitu gelap. Hanya cahaya rembulan yang mampu meneranginya.


Ia kemudian tersadar dari pingsannya selama melewati portal yang terbuka. Ara lalu mencoba untuk membuka kedua matanya.


"Sakit sekali."


Ia menyadari jika sudah tiba di negeri yang dituju. Namun, ia tampak kebingungan. Memikirkan bagaimana cara agar dapat sampai ke istana, sedang ia tidak hapal jalan dan juga takut jika harus berjalan kaki.


Tiba-tiba seekor kuda hijau datang menghampirinya. Sontak saja Ara terkejut lalu memundurkan langkah kakinya ke belakang karena takut.


"Si-siapa k-kau?" tanyanya terbata.


Kuda itu tidak menjawab, dia hanya duduk di depan Ara seolah menunggu. Ara kemudian mencoba untuk mendekatinya.


Dia tidak berontak sama sekali?


Kuda itu seperti diutus untuk menjemputnya. Ia lalu menaiki kuda berwarna hijau itu. Perlahan kuda itu berdiri setelah Ara duduk di atas badannya. Sang kuda lalu berjalan pelan menuruni bukit. Sementara Ara masih terheran-heran sendiri.


Perjalanan panjang dilalui dengan laju yang semakin lama semakin cepat. Awalnya Ara merasa takut. Namun, lama-kelamaan Ara menjadi terbiasa. Dan kini ia sudah dapat menunggangi kuda seorang diri.


Hingga sampai di depan pintu gerbang istana, kuda hijau itu lalu menurunkan Ara. Ia kemudian turun lalu mengucapkan terima kasih kepada kuda itu. Ara pun berbalik untuk masuk ke dalam istana. Namun, saat ia kembali melihat ke arah kuda, ternyata kuda itu sudah tidak ada.


...


Apakah kuda itu memang menunggu kedatanganku?


Aku belum tahu pasti. Ini masih menjadi misteri yang belum sempat terpecahkan.

__ADS_1


__ADS_2