Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
My Sweet Heart


__ADS_3

Makan malam di dermaga...


Aku dan Rain makan malam bersama di balkon teras asrama ini. Karena udaranya dingin, Rain melepas jubahnya lalu dipakaikan kepadaku. Dia pun hanya mengenakan dalaman jubahnya saja.


Rain mulai bercerita tentang kejadian selama aku hilang dari istana. Dari kepanikan sampai dirinya yang mulai menggila karena tiba-tiba aku hilang begitu saja. Hingga akhirnya dia menceritakan padaku tentang penyakit yang menimpa ibunya.


Aku masih tak percaya jika ratu terserang penyakit seperti itu. Ingin rasanya kuceritakan hal yang sebenarnya terjadi, mengapa aku sampai bisa di Asia. Tapi rasanya kurang pantas jika menceritakannya sekarang, terlebih ratu sedang diserang penyakit seperti ini.


"Lalu bagaimana dengan raja, Rain?" tanyaku yang prihatin.


Rain masih menyuap mulutnya dengan hidangan makan malam, sedang aku kurang berselera makan saat mendengar kejadian ini. Pastinya Cloud juga akan ikut terkena dampak dari penyakit yang menimpa ratu.


"Ayah tampak kelelahan, Ara. Sepanjang hari dia terus bekerja. Ayah tidak bisa meninggalkan ibu begitu saja. Jadi ya ... waktunya terbagi dua." Rain meneguk air minumnya.


Sungguh miris kabar yang kudengar. Walau ratu sudah bersikap jahat kepadaku, rasanya tetap saja tidak pantas membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebagai manusia pastinya mempunyai nurani, ya walaupun kalau ingat cerita Zu waktu itu hatiku terasa sakit sekali.


"Rain, apa yang bisa kubantu?" tanyaku seraya memegang tangannya.


Rain menatapku, tatapan penuh arti dari bola mata biru gelapnya. Aku bisa merasakan kehangatan kasih sayangnya terhadap ratu. Tapi di lain sisi sepertinya dia memikirkanku. Entah apa yang terjadi, mungkin dia sudah mengetahui hal yang sebenarnya.


"Ara, tabib bilang ibu diminta untuk mengonsumsi buah surga dan juga ramuan dedaunnya." Rain menuturkan.


"Oh, begitu." Aku mengerti.


"Sayang, aku menjemputmu bukan karena hal ini saja. Sungguh aku rindu." Dia menjelaskan ulang.


Rain sepertinya tidak enak sendiri saat aku menanggapi perkataannya dengan singkat. Dia segera menjelaskan lebih lanjut agar aku tidak salah paham.


"Iya-iya, aku mengerti. Nanti sesampai di istana, aku ingin melihat keadaan ratu, ya." Aku tersenyum kepada Rain.


"Baik, Ara." Rain pun ikut tersenyum.


Kami akhirnya meneruskan makan malam ini ditemani semilir angin laut yang dingin. Rasanya aku jadi ingin cepat-cepat beristirahat saja. Perjalanan kami amatlah panjang tadi. Dan entah mengapa saat bersama Rain, aku tidak merasa mual lagi.


Rain merasa tidak enak, ia khawatir Ara berprasangka lain mengenai tujuan penjemputan ini. Ia segera menjelaskan hal yang mengganggu hatinya dan sang gadis pun mengerti. Tak dapat dipungkiri jika Rain semakin menyayangi Ara. Seorang gadis yang bertahta penuh di dalam hatinya.


Awal pertengahan malam...


Malam semakin larut dan tiba saatnya bagi kami untuk segera beristirahat di ruang masing-masing. Aku pun bersama Rain beristirahat di dalam sebuah kamar yang tidak terlalu besar, mirip seperti kamar penginapan. Dan kini aku merebahkan diri, membelakanginya yang sudah mulai tertidur pulas.


Dia seperti kelelahan sekali. Tidurnya sampai mendengkur.


Tidurku sedikit terganggu dengan suara dengkurannya. Terlebih wajahnya tepat di samping pipiku. Pelan-pelan akupun beranjak bangun darinya. Tapi, dia menarikku agar tertidur kembali.

__ADS_1


Ish, dia ini ....


Aku tidak jadi bangun dan kembali merebahkan diri di atas kasur bersamanya. Kulihat Rain mulai bernapas normal lalu beberapa detik kemudian kembali mendengkur. Rasanya aku kesal sekali.


Dia ini berisik sekali!


Aku tidak mampu untuk bertahan lama tidur di sampingnya. Segera saja aku bangun melewatinya. Dan kini aku mencari tikar untuk tidur di atas lantai.


Sudah lewat pertengahan malam tapi aku belum juga bisa tertidur. Astaga, jika dia benar menjadi suamiku, apakah tiap malam tidak bisa tertidur dengan nyenyak?


Kuakui jika perjalanan kami begitu panjang. Mungkin ada sekitar sepuluh jam perjalanan dari bukit persik itu. Dan Rain memilih untuk beristirahat sejenak sebelum kembali ke istana, yang katanya sih jaraknya bisa sampai dua-tiga jam perjalanan.


Rain ... terima kasih.


Tak bisa kubayangkan jarak yang harus dia tempuh untuk menjemputku. Terlebih penjemputan ini menggunakan uang pribadinya. Pasti banyak sekali yang harus dia keluarkan, apalagi sampai membawa puluhan pasukan dan menyewa kapal besar seperti itu. Hatiku jadi terenyuh dengan pengorbanannya.


Kuusap kepalanya dari sisi kasur lalu mencium pipi kirinya itu. Ternyata aku benar-benar menyayangi Rainku. Mungkin ini pertanda ke mana hatiku akan berlabuh nantinya.


"Ara ...." Rain memanggilku, dia seperti mengigau.


"Di mana kamu, Sayang? Jangan tinggalkan aku," katanya lagi.


Sontak aku tersentak mendengar ucapannya. Aku pun berbisik di telinga kirinya. "Aku di sini, Rain. Di sisimu," kataku pelan agar dia tidak bangun.


Jadi aku harus meyakinkannya dulu agar dia tidak mendengkur? Astaga, Rain ....


Aku kemudian kembali merebahkan diri di sampingnya karena tidak juga menemukan tikar untuk dihamparkan di atas lantai. Ya, sudah. Akhirnya aku bisa tertidur malam ini. Dan sambil menatap wajahnya, kuusap pelan pipinya itu.


Aku menyayangimu, Pangeran mesumku ....


Malam ini menjadi malam yang indah bagi keduanya. Setelah lama tak bertemu akhirnya perjuangan itu membuahkan hasil. Rain dapat membawa Ara kembali ke Angkasa.


Kini mereka sedang berada di kawasan angkatan laut negeri ini, yang berada di dekat pelabuhan timur Angkasa. Sang gadis pun memasrahkan dirinya jika Rain lah yang telah dipilihkan Tuhan untuknya.


Esok paginya...


Suara sirene membangunkan Ara tiba-tiba. Ia terkejut saat mendengar suara sirene yang begitu nyaring. Sang gadis lantas membangunkan pangerannya.


"Rain ... Rain!"


Berulang kali Ara mengguncang tubuh Rain agar sang pangeran lekas terbangun dari tidurnya. Rain pun akhirnya bangun setelah mendapat kelitikan dari Ara. Tak ada cara lain yang bisa Ara lakukan selain menggelitik dada bidang Rain.


"Ara ...?" Suara Rain terdengar serak sambil mencoba membuka kedua matanya.

__ADS_1


"Rain, bangun. Ada bahaya!" Ara panik sendiri.


"Bahaya?" Rain beranjak duduk di atas kasurnya.


"Itu, Rain! Suara sirene!" Ara menunjuk ke arah luar.


Rain mencoba menyatukan nyawanya. Ia lalu bangkit dari kasurnya.


"Rain, kau mau ke mana?" tanya Ara yang khawatir.


"Aku mau ke depan, minta alarm itu dimatikan," jawab Rain.


"Hah?!' Ara tampak berpikir. "Tunggu, Rain!" Ara menghentikan Rain yang sedang mengenakan jubahnya.


"Tunggu?" Rain pun bingung.


"Maaf, aku tak mengerti. Maksudnya alarm apa, ya?" tanya Ara dengan polosnya.


Sontak Rain kembali merebahkan dirinya di samping Ara. Sedang Ara masih kebingungan sendiri.


"Sayang, itu alarm bangun untuk para prajurit," kata Rain sambil menoleh ke Ara.


"Alarm bangun tidur? Astaga!" Ara pun tersadar.


"Iya. Setiap fajar kami diharuskan sudah bangun. Dan ini suara alarmnya." Rain menjelaskan.


Seketika Ara terdiam.


"Tenang. Jika ada bahaya, bukan alarm seperti itu yang berbunyi." Rain mengusap kepala Ara.


"Rain ...." Ara akhirnya dapat tenang. Namun, ia kembali terkejut. "Rain! It-itu!"


Ara menunjuk-nunjuk sesuatu. Seketika Rain pun menyadarinya.


"Hahahaha. Maaf, Sayang. Memang begini kalau bangun tidur. Hahahaha." Rain tertawa sambil membenarkan celananya.


Ara menjadi tersipu sendiri melihatnya. Ia lantas memalingkan pandangan dari apa yang dilihatnya itu.


"Sudah, nanti ini juga akan menjadi milikmu selamanya. Jika kau ingin, sekarang pun bisa memilikinya," goda Rain sambil beranjak bangun, mendekat ke Ara.


"Ish, apaan sih!" Ara pun malu.


Keduanya sudah amat dekat seperti tidak mempunyai jarak. Dan hanya tinggal menunggu keputusan, altar pernikahan itu akan segera dihamparkan. Sebuah pesta pernikahan yang diidam-idamkan sejak lama. Ya, Rain mencintai Ara dan Ara pun mencintai Rain. Tapi apakah benar takdir akan berpihak kepada keduanya?

__ADS_1


__ADS_2