
Malam harinya di istana...
Rain menghadap ayahnya. Ia memberikan kabar akhir perihal sang gadis.
"Ayah, Ara pasti diculik. Ada yang sengaja ingin mencelakainya." Rain mengadu.
"Tenangkan dirimu, Rain. Ayah sudah memerintahkan pasukan khusus untuk mencarinya." Sky berusaha menenangkan putranya.
Cloud kemudian masuk ke ruangan ayahnya. Ia tampak diam sambil menahan air mata. Ia kemudian memberikan sesuatu kepada ayahnya.
"Cloud? Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Sky kepada putranya.
"Aku menemukannya di ruang bawah tanah istana, Yah. Sepertinya ada yang mengurungnya di dalam sana." Cloud berkata dengan nada yang lemah.
"Ini aneh sekali." Sky tampak berpikir.
"Kakak, ini bukannya mahkota Ara?" Rain terkejut saat melihat sesuatu yang dibawa kakaknya.
"Ya, benar." Cloud menjawab dengan lemas.
"Ayah, benar dugaanku. Pasti ada yang menculik Ara." Rain bertambah khawatir, dahinya berkerut.
"Baiklah. Kalian tenangkan diri dulu. Ayah akan menemui pasukan khusus untuk mencari jejaknya. Sepertinya ada yang tak beres." Sky bergegas keluar dari ruangannya.
Kini hanya ada Cloud dan Rain di ruang kerja ayahnya itu. Keduanya tampak frustrasi mengetahui kabar ini.
"Lihat diri kita, sama sekali tidak berguna, bukan?" Rain membuka percakapan dengan kakaknya.
"Ya, kau benar. Kita memang tidak berguna." Cloud mengiyakan perkataan adiknya, ia merasa tidak berguna.
"Kita terlalu sibuk meraup keuntungan hingga tidak ada yang tahu jika Ara tengah kesakitan." Rain meneruskan.
"Darimana bisa kau berspekulasi seperti itu, Rain?" tanya Cloud seraya menoleh ke arah adiknya.
"Bukankah kau yang menemukan mahkota itu di ruang bawah tanah?" Rain balik bertanya.
"Ya, benar."
"Kau pikir guna ruang bawah tanah itu untuk apa, Kak?" tanya Rain lagi.
"Rain, jangan memancing emosiku." Cloud berkata tegas.
"Hah, kau pikir hanya dirimu yang emosi. Kita telah kehilangannya. Prajurit pun tidak dapat menemukannya."
Cloud diam saja. Ia lantas bergegas keluar, meninggalkan Rain. Cloud tidak ingin menambah beban di pikirannya.
__ADS_1
"Hah, dia sangat lemah." Rain menggerutu. "Tapi sebenarnya akulah yang lemah. Hahaha."
Rain tertawa sendiri, ia kehilangan kendali atas dirinya. Ia seperti orang gila, berbicara tanpa ada yang menemani. Tak lama, air matanya mulai menetes. Rain menangis.
Putra bungsu kerajaan Angkasa itu duduk di lantai dan bersandar pada kursi kerja ayahnya. Hatinya kini lemah, seolah tidak mempunyai daya untuk meneruskan hidup.
Ara ... kenapa kau meninggalkanku? Kenapa? Rain frustrasi.
Rain dan Cloud tidak tahu di mana keberadaan gadisnya. Keduanya kini dirundung kedukaan. Keuntungan berlimpah yang berhasil mereka dapatkan, seolah tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan keselamatan sang gadis. Baik Rain dan Cloud menangisi kejadian ini. Mereka sangat terpukul, seakan kehilangan jiwanya sendiri.
Di lain tempat...
Angin kencang berembus memasuki sebuah kamar megah. Tirai-tirai jendela pun ikut melayang terkena angin malam ini. Dinding kamarnya berwarna biru muda dengan kasur berwarna putih. Dan ada sebuah lemari besar di dekat pintu keluar kamar itu. Tempat di mana pakaian dan keperluan pribadi disimpan.
Terdengar embusan berat seorang gadis yang baru saja tersadar. Wajahnya tampak pucat dengan kompres di dahinya. Iapun terbangun dari tidurnya.
"Ak-aku ...."
Ia ingin berkata-kata, tapi suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Ia mencoba bangkit dari tidurnya, namun tubuhnya masih belum sanggup melakukan itu.
"Nona, kau sudah sadar?"
Seorang pria datang kepadanya, duduk lalu mengambil kompres dari dahinya itu. Ia tampak mengkhawatirkan sang gadis. Gadis itu tidak dapat melihat dengan jelas siapa gerangan yang berbicara kepadanya. Ia hanya dapat melihat samar-samar karena rasa pusing yang melanda.
"Nona, beristirahatlah. Aku akan kembali segera." Pria itu lantas meninggalkannya.
Tak lama, pria itu kembali datang dengan membawakan segelas air putih dan juga obat untuknya.
"Nona, minumlah. Ini bisa meredakan sakitmu," kata pria itu lagi.
Gadis itu lantas meminum air yang diberikan, namun ia tidak meminum obatnya. Ia hanya meminta untuk dibangunkan. Sang pria dengan segera membantu, menyandarkan punggungnya di kepala kasur dengan bantal sebagai alasnya.
"Pa-nge-ran Zu?"
Gadis itu terbata, sesaat setelah menyadari siapa gerangan pria yang ada di hadapannya. Pria yang memang benar adalah Zu itu tampak senang saat gadis mulai menyadari siapa dirinya.
"Nona, kau baik-baik saja?" tanya Zu kepada gadis itu.
Gadis itu tampak mengingat, namun kepalanya terasa sakit. Ia memegangi kepalanya.
"Nona, aku sudah menyiapkan bubur untukmu. Kau makan dulu, ya."
Zu lantas mengambil bubur ayam yang sudah tersedia di atas meja, di dekat tempat tidur. Ia lalu ingin menyuapi sang gadis.
"Pangeran, mengapa aku bisa di sini? tanya gadis itu pelan.
__ADS_1
"Nona, sebaiknya makan dulu. Nanti aku akan menceritakannya."
"Pangeran, aku tidak bisa. Aku harus kembali ke Angkasa."
"Nona, aku menemukanmu tergeletak di ruang bawah tanah. Apa kau ingat?" Zu mencoba mengingatkan.
"Ruang bawah tanah?"
"Ya, ruang bawah tanah istana Angkasa. Dan kau ingin kembali ke sana?" Zu heran dengan sikap gadis itu.
Gadis itu adalah Ara, pemilik hati kedua pangeran Angkasa yang kini sedang bersama Zu di dalam sebuah kamar. Di tempat yang belum diketahui banyak orang.
"Aku ...." Ara mencoba berpikir.
"Nona, keadaanmu masih kurang baik. Ada baiknya jika kau menyantap bubur ini dahulu."
Ara merasa tubuhnya masih kaku. Namun berkat kesabaran Zu, akhirnya ia mau memakan bubur ayam itu. Zu pun tampak senang karena Ara menerima tawarannya.
Terima kasih, Nona. Akhirnya ceritaku dimulai di sini.
Zu tersenyum kepada gadis itu sambil terus menyuapinya perlahan. Ara pun mulai mendapatkan kembali kesadarannya. Ia lalu menghabiskan bubur ayam itu setelah menyadari jika dirinya lapar.
Beberapa menit kemudian...
Seusai makan, Ara ingin pipis. Ia lalu dibantu Zu berdiri dari kasurnya. Sang pangeran Asia juga membantu Ara berjalan menuju kamar mandi.
Pangeran Zu begitu baik padaku.
"Nona, jika kau ingin mandi, semua pakaian sudah tersedia di dalam lemari. Aku akan menunggumu di luar." Zu memberi tahu.
"Terima kasih, Pangeran. Tapi, hari sudah malam. Aku khawatir akan menggigil jika mandi di jam sekarang." Ara mengutarakan isi pikirannya.
"Jangan khawatir, Nona. Kau bisa menggunakan air hangat. Tunggu sebentar."
Zu lalu masuk terlebih dahulu ke dalam kamar mandi. Ia menyiapkan air hangat untuk Ara mandi. Ara pun tampak terkejut.
Di sini terlihat lebih modern.
Ara takjub dengan apa yang dilihatnya. Zu lantas segera keluar dari kamar mandi setelah menyiapkan air hangat untuk Ara.
"Sekarang kau bisa mandi, Nona. Aku tunggu di luar."
Zu tersenyum. Ia segera keluar dari kamar. Ara sendiri tampak terheran-heran dengan sikap sang pangeran.
Pangeran Zu ... aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan selain terima kasih.
__ADS_1
Ara lantas masuk ke dalam kamar mandi. Ia berniat membersihkan tubuhnya.