
Beberapa saat kemudian...
Aku duduk menyendiri di dalam kamar yang ada di lantai tiga istana. Menekuk kedua lutut sambil menahan air mata yang akan tumpah. Tapi, semakin berusaha menahannya, dadaku terasa semakin sesak. Dan akhirnya, air mataku pun jatuh membasahi pipi ini.
Semakin lama air mataku semakin mengalir dengan deras. Aku sedih, ya aku sedih. Menyayangkan mengapa kisah cintaku harus seperti ini. Aku harus menyakiti hati seorang pangeran yang pernah menyelamatkanku dari bahaya besar. Jika bukan karenanya mungkin ceritaku sudah berakhir.
Entah mengapa kenangan bersamanya teringat lagi di benakku. Bagaimana dia memperlakukanku, mengajakku berbincang. Bahkan saat pertama kali dia menyentuhku. Semuanya teringat jelas di alam pikiranku ini.
Maafkan aku, Pangeran ....
Aku tahu jika tidak bisa menyalahkan siapapun atas hal ini. Mungkin akunya juga yang salah. Tapi apa masalah bisa selesai hanya dengan menyalakan diri sendiri? Tentu hal itu malah akan lebih memperberat pikiranku.
Ya Tuhan ... tolong jaga dirinya.
Aku tidak sanggup membayangkan apa yang dia rasakan setelah kutegaskan jika tidak mencintainya. Pastinya dia sangat sakit dengan pernyataanku ini. Tapi aku juga tidak ingin terlalu lama membuang waktu. Biarlah yang sudah terjadi berlalu. Mungkin akan kusimpan menjadi kenangan di dalam hati saja.
"Ara."
Kudengar suara Rain mengetuk pintu kamar yang sengaja kukunci dari dalam. Akupun lekas-lekas mengusap air mata ini lalu beranjak menuju pintu.
"Rain?" Kubukakan pintu untuknya.
"Sayang, kau menangis?" Dia melihat mataku sembab.
"Rain."
Aku tidak banyak bicara. Kupeluk saja dirinya. Aku ingin merasakan kehangatan di tengah rasa sedih ini. Rasanya ingin kutumpahkan semua kesedihan dan kecemasan yang melanda hatiku.
"Sayang, jangan menangis. Ada aku di sini."
Rain membalas pelukanku dengan erat.
__ADS_1
Kutahu jika Rain berusaha menenangkan hatiku. Aku pun sama, berusaha menenangkan hati ini. Tapi, aku bukan tipe perempuan yang mudah melupakan sesuatu. Aku butuh waktu untuk melupakan semua yang terjadi. Termasuk hal yang terjadi antara aku dan juga Zu.
"Sayang, dia sudah pergi. Kau tidak perlu menangis lagi." Rain memberi tahuku.
Aku pun melepaskan pelukan ini. "Dia sudah pergi?" tanyaku memastikan.
"Ya, dia sudah pergi bersama pasukannya. Semua sudah berlalu dan kau berhasil melewatinya." Rain tersenyum padaku sambil mengusap pipi ini.
Aku berusaha tersenyum di hadapannya. Padahal hatiku merasa sedih sekali. Aku juga khawatir jika apa yang dikatakan Zu akan benar terjadi. Aku tidak ingin terjadi apapun pada Rain ataupun Cloud. Apalagi negeri ini.
Haruskah aku mengatakannya pada Rain?
Entah apa yang harus kukatakan padanya. Aku hanya bisa membalas senyumannya dan kembali memeluknya. Aku membutuhkannya, ya aku membutuhkan Rain. Dia bagai hujan di tengah tanah yang tandus. Dia memberikan air kehidupan untukku.
Rain, sungguh aku khawatir apa yang akan terjadi setelah ini. Aku ingin mengatakan hal yang sebenarnya, tapi aku takut kau malah menantangnya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian. Ya, kau dan Cloud yang kucinta.
Ara menangis karena kenangan dan rasa takut di dalam hatinya menjadi satu. Ia merasa tidak tahu diuntung karena telah diselamatkan oleh Zu, tapi malah menolak permohonannya. Namun, di sisi lain Ara juga tidak bisa mengingkari hati. Ia jatuh hati kepada kedua pangeran Angkasa. Terutama Rain yang telah memberikannya air kehidupan sehingga hidupnya lebih berwarna.
Di pikiran Ara sekarang hanya ada Rain dan Cloud, yang mana keduanya akan menjadi suaminya kelak. Entah bagaimana akhirnya, Ara hanya mempercayakan semua ini kepada pemilik skenario terbaik. Entah dengan siapa ia akan menikah nantinya, ia akan menerimanya dengan lapang dada. Baik Rain ataupun Cloud, ia tidak mempermasalahkannya. Bahkan jika keduanya ditakdirkan untuknya, Ara akan dengan senang hati menerimanya.
Kini sang pangeran berkulit putih itu berangkat menuju pelabuhan timur Angkasa. Ia akan segera kembali ke negerinya setelah menerima penolakan dari gadis yang dicintai. Zu seperti tak punya kuasa, ia bagai pengembara yang kehilangan arah. Namun, di depan pasukannya ia berusaha bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apapun padanya.
Ara ... kau benar-benar ingin membuktikan ucapanku.
Cintanya begitu besar kepada Ara. Ia juga tidak mengerti mengapa kebodohan ini bisa terjadi padanya. Setiap pagi datang ia selalu berharap Ara ada di sisinya. Menyambutnya dalam kehangatan cinta dan kasih sayang terdalam. Tapi sayang seribu sayang, Ara hanya sebatas angan yang sulit digapainya.
Di tengah kuasanya yang akan menjadi seorang raja besar, Zu seperti tidak berdaya di hadapan Ara. Cinta Ara begitu ia butuhkan untuk menemani hari-harinya yang penuh dengan kesibukan. Tapi lagi dan lagi, Ara seperti bayangan yang tak bisa digapainya.
Langkah kaki kudanya terdengar melaju cepat menuju pelabuhan timur negeri ini. Ia ingin segera menyelesaikan hal yang menjadi penyebab Ara meninggalkannya. Ya, ia akan menemui Jasmine dan meminta pertanggungjawaban atas ucapannya kepada Ara. Zu tidak akan tinggal diam begitu saja.
...
__ADS_1
Lain Zu lain juga dengan Cloud. Sang putra sulung kerajaan Angkasa ini baru tiba di pelabuhan selatan negerinya. Ia baru saja akan menyeberangi lautan menuju ke sebuah negeri kecil yang ada di sana, Aksara.
Kuda-kuda pasukan khusus yang diperintahkan ayahnya pun mulai memasuki kapal perang milik Angkatan Laut Angkasa. Cloud juga ikut masuk bersama seratus pasukan khusus yang sang ayah perintahkan untuk menjaganya. Ia akan segera menyelesaikan administrasi di negeri itu sebelum hari pernikahannya tiba.
Sayang, aku baru saja akan berlayar. Baik-baik di istana. Aku akan segera kembali.
Kapal pun mulai dilayarkan setelah semua pasukan masuk bersama kudanya. Kini sang pangeran sulung kerajaan Angkasa tengah memandangi mercusuar negerinya. Semakin lama dataran Angkasa pun terlihat semakin mengecil. Kapal perang yang ditumpangi Cloud segera melaju ke selatan bumi, tempat negeri Aksara berada. Dan kini hanya doa yang ditinggalkannya untuk sang gadis. Ia berharap Ara baik-baik saja di istana.
...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan.
Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.
Gadis, dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?
Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
__ADS_1
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...