
Esok harinya...
Pagi telah datang, Zu pun terbangun dari tidurnya. Ia bergegas keluar dari kamar untuk menemui Ara.
"Nona, kau sudah bangun?"
Zu mengetuk pintu kamar Ara. Satu, dua, tiga kali ketukan, namun ia tidak mendapatkan jawaban. Zu pun masuk ke dalam kamar untuk menemui sang gadis. Tapi ternyata, gadis itu sudah tidak ada di kamar.
"Ke mana dia?"
Lekas-lekas ia keluar untuk mencari sang gadis. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Ara. Zu lalu mencarinya ke sekitaran rumah. Namun, ia juga tidak menemuinya.
"Nona! Kau di mana?!"
Jantungnya berdegup kencang karena khawatir. Napasnya pun terdengar cepat karena rasa takut kehilangan itu mengusik hatinya. Ia lantas ke luar rumah untuk mencari keberadaan sang gadis. Dan ternyata, ia menemukan Ara sedang berdiri di ujung jembatan pantai. Zu segera berlari untuk mendekatinya.
"Nona!"
Diraihnya tubuh itu karena khawatir jika Ara akan menceburkan dirinya ke laut. Zu lalu memeluk tubuh sang gadis dengan erat.
Pangeran?
Ara pun segera tersadar saat mencium aroma parfum Zu. Ia kemudian melepaskan dirinya dari pelukan pangeran itu.
"Pangeran, apa yang kau lakukan?" tanya Ara yang bingung.
"Nona, jangan bilang kau akan—"
"Akan apa, Pangeran?" Ara benar-benar bingung.
Zu lantas menyadari kekeliruannya. Ia kini menyadari jika terlalu mengkhawatirkan sang gadis.
Astaga, apa yang telah aku lakukan? Zu bertanya sendiri di dalam hatinya.
"Em, maaf. Aku hanya khawatir." Zu kebingungan sendiri.
Ara juga masih bingung, ia lalu mendekati Zu.
"Pangeran, aku tidak tahu kenapa kau tadi memelukku tiba-tiba. Apa kau merasa aku akan menceburkan diri ke dalam laut?" tanya Ara seraya menatap Zu.
Zu lantas tertawa. Ia bingung terhadap dirinya sendiri. Mengapa ia bisa sepanik dan sekhawatir ini kepada gadis yang belum lama dikenalnya.
Astaga, aku ini kenapa? Kenapa aku merasa sangat aneh dengan diriku sendiri? Apa aku benar-benar menyukainya?
"Pangeran?" Ara masih menunggu jawaban Zu.
__ADS_1
"Hem, iya. Maaf, aku tadi khawatir. Kau sedang apa di sini, Nona?" tanya Zu kemudian. Ia mencoba menutupi suasana hatinya.
Ara lalu memutar tubuhnya menghadap ke laut. Deru ombak berkejaran menemani dirinya yang sedang diliputi kerinduan.
"Aku sedang melihat pemandangan pagi hari di sini. Entah mengapa aku merasa pernah mengunjungi tempat ini." Ara menuturkan.
Deru ombak mewarnai percakapan sang pangeran dan gadis pemilik nama yang sama dengan pohon surga. Laut pun menjadi saksi perbincangan mereka. Angin laut di pagi hari ini datang menyelimuti hati yang kini seolah membutuhkan udara. Perlahan sang mentari pun ikut muncul di hadapan mereka.
"Kau menyukai tempat ini?"
Zu lalu bertanya. Ia berjalan ke dekat Ara dan berdiri di sisi kanan sang gadis.
"Dari kecil aku memang sudah menyukai pemandangan tepi pantai, Pangeran. Rasanya begitu tenang saat melihat laut sejauh mata memandang. Kau sendiri bagaimana?" Ara balik bertanya.
Zu tersenyum. Ia menoleh ke arah Ara yang ada di sisi kirinya. Ia perhatikan saksama sang gadis yang sedang melihat mentari terbit. Rasanya ada kehangatan yang sedang tercipta. Rasa itu semakin lama semakin membesar.
"Aku juga menyukai pemandangan lepas pantai, Nona. Maka dari itu aku membeli vila ini dari gaji pertamaku." Zu bercerita.
"Gaji pertama? Bukankah kau seorang pangeran?" tanya Ara lagi.
"Ya, kau benar. Tapi aku harus tetap bekerja untuk menghidupi diriku sendiri. Dan juga menabung untuk keluarga kecilku nanti." Zu tersenyum kepada Ara.
"Kau sudah berniat untuk menikah?" tanya Ara lagi.
"Benarkah?" Ara pun terkejut.
Zu lantas tertawa. Ia bingung kenapa Ara belum juga peka dengan ucapannya. Ia merasa gemas dengan sang gadis. Ia lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil terus tertawa. Ara pun menjadi bingung.
"Pangeran, apa aku salah?" tanya Ara lagi.
Zu tersenyum hingga terlihatlah gigi-giginya itu. "Hah, aku merasa ini lucu sekali."
Zu lalu duduk di tepi jembatan itu. Ara pun mengikuti.
"Lucu? Sepertinya kita tidak sedang membuat lelucon." Ara tampak berpikir.
"Nona."
Zu lantas mulai serius. Ia menatap Ara dalam-dalam. Ara pun tampak terperanjat dengan sikap Zu.
"Haruskah aku mengulangi tawaranku padamu?" tanya Zu yang sontak mengingatkan Ara pada kejadian di belakang bukit waktu itu.
"Pangeran, aku ...,"
"Aku sudah menemukannya. Dan kini sedang menunggunya," kata Zu lagi.
__ADS_1
Ara lantas memalingkan pandangannya dari Zu. Ia menunduk.
"Pangeran, tempat ini memang indah. Tapi seperti ada yang kurang." Ara mulai mengutarakan isi hatinya.
"Nona, mengapa kau berkata seperti itu?" tanya Zu yang heran.
Tiba-tiba saja atmosfer sekitar berubah menjadi sendu. Tersirat kesedihan dari raut wajah sang gadis. Zu pun menyadarinya.
"Pangeran, seharusnya aku kembali ke Angkasa. Bisakah kau mengantarkanku?" tanya Ara pelan.
"Apa?! Kau ingin kembali ke sana? Tidak, Nona. Aku tidak akan membiarkanmu disakiti oleh ratu." Zu segera menolaknya.
"Tapi ...." Ara masih menginginkan kembali ke negeri itu.
"Nona, aku akan memberikan apapun yang kau mau, asalkan kau tetap bersamaku. Aku tidak tenang jika kau kembali ke sana."
Zu mulai mengungkapkan isi hatinya. Ia merasa keberatan jika harus membawa Ara kembali ke Angkasa, ia tidak ingin kehilangan gadis itu. Ara pun tidak tahu harus berkata apa, ia belum tahu kebenaran tentang hal ini. Terlebih Zu adalah orang baru di kehidupannya, ia tidak mungkin percaya begitu saja kepada Zu. Tapi, kejadian di ruang bawah tanah yang mengurungnya bisa membenarkan apa yang telah Zu katakan padanya.
Apa benar jika ratu yang telah mengurungku?
Ia masih juga bertanya-tanya padahal Zu telah menceritakannya. Ara merasa harus mengetahui kebenarannya sendiri.
Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu Rain dan Cloud? Ya Tuhan, aku rindu sekali.
"Nona, maafkan aku. Mungkin aku terlalu memaksamu. Tapi ini semua demi kebaikanmu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Zu meneruskan.
Ara terdiam. Ia bingung dengan keadaan yang menimpanya.
Aku rindu dengan Rain dan Cloud. Tapi aku juga tidak bisa kembali ke Angkasa begitu saja. Aku khawatir ratu akan mengira jika aku ingin menghancurkan rumah tangganya karena masalah ini.
Sang gadis pemilik hati kedua pangeran Angkasa itu tampak dilema. Ia terus saja berpikir dan berpikir.
Nona, aku tahu jika hal ini tidaklah mudah untukmu. Tapi tolong hargailah pengorbananku.
Semilir angin pantai menemani keduanya yang tengah menikmati ombak di pagi hari. Zu begitu khawatir jika Ara kembali ke Angkasa. Terlebih ia telah mendengar sendiri apa yang dikatakan ratu kepada mantan asisten Ara itu. Sedang Ara merindukan kedua pangerannya, ia ingin sekali bertemu.
Ara bingung harus bagaimana. Ia tidak ingin mengecewakan Zu karena Zu telah menyelamatkannya. Tapi ia juga rindu kepada kedua pangeran itu. Lagi-lagi sang gadis diterpa dilema kehidupannya.
Dua jam kemudian...
Istana Angkasa mulai beraktivitas seperti biasanya. Di sebuah ruangan yang berada di lantai dua, terlihat sang pangeran sulung kerajaan ini sedang bersiap-siap untuk pergi. Tak lama, seorang menteri datang menghadapnya.
"Pangeran Cloud."
Menteri itu masuk ke dalam ruangan Cloud setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1