Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Survive


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Angin sepoi-sepoi menyapu rambutku yang dibiarkan tergerai. Kini aku sedang tiduran di ayunan jaring, dekat dengan pantai. Tapi aku tidak sendiri, aku ditemani Zu. Dia membiarkanku merasakan kehangatan tubuhnya.


Dia sama sekali tidak keberatan dengan apa yang kulakukan, dia malah menawarkan dirinya tadi. Aku juga kini sudah bisa menerima takdirku. Aku tetap harus melangkah maju ke depan dan menjalani kehidupan ini. Mungkin belum saatnya untukku kembali ke pelukan kedua pangeranku.


"Nona, tidurlah."


Zu mengusap pelan kepalaku. Dia memperlakukanku begitu lembut. Hampir-hampir saja aku terhanyut dalam hangat kasihnya. Entahlah, aku hanya mencoba menikmati kisahku ini.


"Pangeran."


"Hm?"


"Panggil saja aku Ara. Aku merasa kita tidak akan pernah bisa dekat jika kau terus memanggilku dengan sebutan nona," kataku padanya.


"Benarkah?"


"He-em." Aku mengangguk pelan.


"Baiklah. Mulai saat ini aku akan memanggilmu dengan sebutan Ara. Yang Mulia Ara," katanya lagi.


"Eh?!"


Aku beranjak bangun. Kulihat dia tersenyum ke arahku. Jarak kami kini pun begitu dekat. Rasanya hampir saja tidak percaya jika kini bisa sedekat ini. Permohonan-permohonan darinya itu membuat hatiku luluh, tak berdaya.


"Tak apa bukan jika aku memanggilmu dengan sebutan itu?" tanyanya seraya mencolek hidungku.


"Pangeran ...." Aku jadi malu sendiri dibuatnya.


"Aku tahu jika kau sebenarnya manja, Nona. Maka bermanjalah denganku. Aku sama sekali tidak keberatan," ucapnya lagi.


Entah mengapa mendengar dia mengatakan hal itu, aku jadi terharu. Sepertinya Tuhan memang mengutusnya untukku.


"Kemari, peluk aku kembali," pintanya sambil merentangkan kedua tangannya.


Aku memasrahkan diriku, kupeluk kembali tubuhnya itu walau di hati kecilku ada perasaan bersalah kepada kedua pangeranku di sana.


Maafkan aku, Rain ... Cloud ....

__ADS_1


Entah bagaimana nantinya, aku jalani saja kehidupan yang sekarang. Aku merasa lebih tenang jika menerima takdir-NYA. Aku percayakan saja. Lagipula untuk apa memikirkan hal yang sudah pasti. Ya, setiap manusia sudah mempunyai garis hidupnya masing-masing. Lalu untuk apa pusing memikirkannya?


Aku lalu merebahkan diri di sisi kanan tubuhnya, sambil meletakkan tangan kanan di atas dadanya yang bidang. Aku mencoba rileks saat bersamanya.


Ara kini sudah bisa menerima takdirnya. Ia merasa lega setelah menyerahkan kembali urusan ini kepada Sang Maha Pencipta. Ia mengakui jika dirinya tidaklah berdaya upaya. Ia hanyalah seorang hamba, makhluk ciptaan-NYA. Dan kini hatinya mulai tenang bersama Zu. Begitu juga dengan Zu, ia merasa amat bahagia karena akhirnya sang gadis mau mulai menerimanya.


Terima kasih telah mempercayaiku. Terima kasih telah memberiku kesempatan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Aku tahu aku salah. Aku datang di saat kalian sudah menjalin hubungan. Tapi ... altar pernikahan belum dihamparkan, aku masih mempunyai kesempatan untuk memilikimu. Jikapun sudah, aku akan terus berjuang untukmu, Nona.


Aku tidak tahu mengapa bisa segila ini. Baru kali ini aku merasakan getaran yang berbeda saat melihat seorang wanita. Dan wanita itu adalah dirimu. Ya, katakan saja jika aku memang sudah gila. Aku akui jika aku gila karenamu.


Aku tidak peduli dengan semua yang terjadi. Yang kutahu kini aku bersamamu. Aku merasa nyaman, damai dan juga tenang. Terlepas dari penatnya tugas kerajaan, aku merasa jika sudah menemukan surgaku. Dan itu ada di dalam hatimu. Cintamu yang kubutuhkan, hanya itu, tak ada yang lain.


Zu terus saja mengusap lembut kepala Ara. Ia melakukannya dengan penuh kasih dan sayang. Perlahan, sang gadis pun terpejam. Zu lantas memegang tangan kanan sang gadis lalu menciumnya dengan penuh penghayatan. Ia berharap bisa selalu bersama Ara, sampai ajal memisahkan.


...


Orang bijak berkata, hanya orang bodoh yang suka tergesa.


Tapi aku tak bisa berhenti jatuh cinta padamu.


Jika aku tak bisa berhenti jatuh cinta padamu?


Seperti air yang mengalir, pasti ke laut.


Kasih, begitulah adanya.


Ada hal-hal yang memang telah digariskan.


Raih tanganku.


Raih juga seluruh hidupku.


Karena aku tak bisa berhenti jatuh cinta padamu...


...


Cinta memang kadang tak ada logika. Tak mengenal asal, tak mengenal jabatan, apalagi status sosial. Cinta membuktikan bagaimana kekuatan hati bisa mengendalikan seluruh pikiran. Dan hanya tertuju pada satu titik. Berlabuh bersama dalam bahtera rumah tangga yang penuh kasih. Merawat anak-anak sepenuh hati dalam cinta yang abadi.

__ADS_1


Begitulah yang Zu rasakan. Rasa tertariknya itu kini berubah menjadi rasa ingin memiliki. Ia memang egois, keras kepala. Tapi itu semua dilakukannya untuk melindungi sang gadis, yang kini mulai ia cintai sepenuh hati. Ya, Zu menyadari jika ia mencintai gadis itu. Dan gadis itu adalah Ara.


Lain Zu, lain pula kedua pangeran Angkasa. Keduanya kini mulai membiasakan diri melanjutkan kehidupan tanpa sang gadis. Tekanan pekerjaan membuat keduanya harus rela menepiskan perasaan kehilangan yang mendalam.


Baik Cloud maupun Rain disibukkan dengan pekerjaannya. Tapi, di saat mereka sedang sendiri, keduanya kembali teringat dengan Ara.


Di istana Angkasa...


"Pangeran."


Menteri berjubah hijau itu datang menghadap Rain yang sedang sibuk membaca data para prajuritnya.


"Ya, ada apa?" tanya Rain seperlunya.


"Pangeran, nanti malam ada kunjungan dari Negeri Bunga," kata menteri itu.


"Negeri Bunga?" tanya Rain seraya menoleh.


"Benar, Pangeran. Yang Mulia meminta saya menyampaikan hal ini."


"Apa tugasku?" tanya Rain langsung ke inti.


"Pangeran hanya diminta mengawal putri Rose saja," jawab menteri itu.


"Apa?!"


Sontak Rain terkejut dengan hal yang didengarnya. Ia merasa kunjungan ini tidak ada hubungan dengan dirinya itu. Terlebih jika ia harus mengawal putri Negeri Bunga.


"Maaf, Pangeran. Saya hanya menyampaikan. Saya permisi." Menteri itu lalu berpamitan.


Rain meletakkan berkas-berkas prajuritnya. Ia kemudian mengusap wajahnya sendiri. Tak habis pikir jika harus menerima tugas ini.


Apa maksud ayah memintaku untuk mengawal putri itu? Apa dia ingin menjodohkanku? Rain bertanya sendiri.


Tak ingin terlarut dalam pikiran, Rain segera bergegas menemui ayahnya. Kebetulan saat sampai di ruang kerja Sky, ada Cloud yang juga hadir di sana. Rain lalu duduk di samping kakaknya. Keduanya tengah menunggu sang ayah yang sedang berbicara dengan salah seorang pasukan khusus.


Cloud dan Rain tampak berdiaman. Mereka tidak bertegur sapa sama sekali. Tersirat jika sedang terjadi perang batin di antara keduanya. Sebagai lelaki memang dituntut untuk tegar dan kuat menghadapi sesuatu. Tapi mereka hanyalah anak manusia yang hatinya terbuat dari daging, bukan dari batu. Maka saat hati berbicara, keduanya pun lemah tak berdaya.


Cinta Ara seperti udara yang mereka hirup, seperti kata-kata yang mereka baca. Dan seperti cahaya yang mereka butuhkan untuk melihat. Namun, kini semua itu tidak lagi ada. Mereka harus berjuang melawan kesunyian di hati, entah sampai kapan. Mereka akan berusaha kuat demi kejayaan negeri tercintanya.

__ADS_1


__ADS_2