Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Honey


__ADS_3

Cloud lalu meninggalkanku. Dia masuk ke ruangan lain. Terdengar jika dia tengah mandi di dalam. Aku lalu melihat-lihat ke sekeliling sebelum akhirnya duduk di kasur megahnya.


Kamarnya tampak begitu rapi, harum dan juga mewah. Aku tidak menyangka jika ada ruangan seperti ini di balik ruang kerjanya.


"Ruang ini kedap suara, Ara."


Cloud lalu keluar dari dalam kamar mandi. Dia masih menghanduki rambut pirangnya yang sedikit panjang itu. Kulihat dia hanya mengenakan celana pendeknya saja. Kami seperti sudah tidak ada jarak pandang.


"Cloud, kenapa kau membawaku ke sini?" tanyaku kepadanya.


Cloud lalu meletakkan handuknya. Dia berjalan mendekati kemudian duduk di depanku.


"Ara. Temani aku malam ini saja. Bisa, kan?"


Pertanyaan dari Cloud seolah-olah menyimpan sebuah misteri untukku. Entah apa yang ada di pikirannya, aku hanya melihat dari luarnya saja.


Cloud lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur, di sampingku. Dia pun memintaku untuk menemaninya.


"Tapi, Cloud—"


Aku berusaha menolaknya, namun Cloud seperti memaksaku kali ini. Dia menarik tubuhku hingga berada di atas tubuhnya.


"Ara ...."


Suara Cloud terdengar berat. Dia menyingkapkan rambutku ke belakang telinga. Aku dibuat geli olehnya.


"Cloud?"


Dia lalu merebahkanku di sampingnya. Tangannya kemudian menarik sesuatu dan tak lama terbukalah tirai yang menutupi langit-langit kamarnya.


"Cloud, ini?"


Aku terkejut, ternyata atap ruangan ini tembus pandang dan hanya tertutup oleh tirai.


"Kita bisa melihat langit malam dari sini," katanya lalu berbaring menghadapku.


"Bagaimana jika ada yang melihatnya dari atas?" tanyaku khawatir.


"Atap ini tidak mampu dilihat dari luar walaupun lampu dinyalakan. Jangan khawatir, Ara."


Cloud mulai memelukku. Sepertinya dia ingin menghabiskan malam bersamaku. Aku hanya bisa diam, tidak berkutik.


"Jangan tegang. Aku hanya ingin bersamamu."


Aku tersentak saat Cloud berbicara seperti itu. Sepertinya dia sangat menyadari sikapku yang kaku ini. Dia semakin melebarkan senyumannya kepadaku.


Cloud, aku ....


Cloud akhirnya tertidur. Dia tertidur sambil memelukku. Aku tidak dapat bergerak. Aku jadi khawatir jika pergerakanku dapat membangunkan tidurnya.


Dia kelihatan lelah sekali.


Rapat hari ini sepertinya membuat Cloud sangat lelah. Aku lalu menemaninya hingga pagi karena tidak mungkin keluar dari kamar yang terkunci seperti ini. Cloud sengaja mengunci pintu kamarnya agar aku tidak dapat pergi darinya.


Dasar...


Aku jadi tertawa sendiri dibuatnya.


Beberapa jam kemudian...


Entah sudah berapa lama aku tertidur, samar-samar aku mendengar suara Cloud memanggilku.


"Ara ...."


Suaranya lembut sekali. Akupun membuka kedua mataku. Kulihat dia tengah duduk di pinggir kasur sambil membangunkanku.

__ADS_1


"Cloud ...."


Kulihat tubuhku masih berada di dalam selimut dengan mengenakan gaun tanpa terbuka sedikit pun. Sepertinya Cloud menyelimutiku dan dia tidak melakukan apapun selain memelukku.


"Kau begitu nyenyak, Ara."


"He-em. Sepertinya begitu."


Aku kemudian bangun. Duduk bersandar di kepala kasur. Perlahan mencoba mengembalikan tenaga tubuhku.


"Cloud, kau sudah mandi? Sepagi ini?"


Aku melihat ke atap kamar. Langit masih terlihat gelap, mungkin sekitar setengah lima pagi. Hanya bintang fajar yang bersinar terang. Namun, Cloud sudah bersiap untuk bekerja. Aku tak percaya dia bekerja sekeras ini untuk memajukan negerinya. Di saat orang lain masih tertidur, Cloud sudah bersiap untuk memulai pekerjaannya.


"Aku sudah terbiasa bangun pagi, Ara. Lagipula ada urusan yang harus kuselesaikan hari ini."


"Kau mau ke mana?" tanyaku.


"Aku mau ke selatan kota. Kau mau ikut?" tanyanya sambil mengusap pipiku.


"Aku ... sepertinya tenggorokanku sakit, Cloud."


Aku tidak bermaksud untuk menolak ajakannya. Tenggorokanku benar-benar terasa sakit. Rasanya untuk menelan saja susah.


"Coba kulihat," katanya yang begitu perhatian.


"Tap-tapi aku malu."


"Tidak perlu malu padaku, Ara. Kita sudah sejauh ini. Buka mulutmu, ya."


Cloud menjulurkan lidahnya, mencontohkan agar aku mengikutinya. Dia ingin melihat tenggorokanku. Mau tak mau, akupun menurutinya. Dia lalu berdiri melihat tenggorokanku.


"Astaga, Ara. Tenggorokanmu memerah."


"Minumlah."


Dia begitu perhatian padaku. Aku menikmati kasih sayangnya. Kuteguk air minum yang diberikannya, cukup membuat rasa sakit di tenggorokanku berkurang.


"Sepertinya terkena radang tenggorokan, Ara. Aku panggilkan tabib, ya?" tanyanya seraya berjalan menuju pintu.


"Cloud! Tidak perlu!" ucapku sedikit berteriak, tepat di saat dia memegang gagang pintu.


"Tapi, Ara—"


"Aku tidak apa-apa. Hanya perlu istirahat sebentar," kataku.


"Baiklah. Hari ini libur saja. Nanti setelah kepulanganku, kita berlibur bersama."


Cloud tersenyum manis lalu mengusap kepalaku. Rasanya begitu tenang diperlakukan seperti ini olehnya.


"Kau akan berangkat sekarang?" tanyaku kepadanya.


"Hem, iya. Aku harus berangkat pagi-pagi. Tidak apa kan kutinggal?"


"Iya. Tidak apa-apa," jawabku seraya mengangguk.


Aku segera duduk di tepi kasur bersamanya. Rasanya tidak ingin kebersamaan ini cepat berakhir.


"Cloud."


"Hm?"


"Bantu aku berdiri," pintaku.


Dia mengangguk. Dipegangnya kedua tanganku lalu dibantunya berdiri. Dia begitu lembut memperlakukanku.

__ADS_1


Cloud lalu berjalan menuju pintu tapi aku diam saja, tak bergerak dan masih terpaku.


"Ara?" Dia tampak bingung melihatku.


Aku jadi punya ide.


"Cloud." Aku memanggilnya dengan manja.


"Kenapa, Ara?" tanyanya bingung.


"Gendong aku," kataku manja.


Sontak Cloud tersenyum lalu tertawa kecil. Dia pun tak menolaknya. Dia segera menghampiriku.


"Baiklah, Tuan Putri. Mau digendong depan atau belakang?" tanyanya gemas sambil mencubit kedua pipiku.


"Belakang saja, depan terlalu vulgar," jawabku singkat lalu membuatnya tertawa.


"Baiklah-baiklah."


Cloud memutar badannya. Dia membelakangiku lalu sedikit berjongkok.


"Silakan naik, Tuan Putri."


Kusambut tawarannya. Kuambil sepatuku segera lalu menentengnya dengan tangan kanan. Aku pun naik ke atas kasur lalu memeluk Cloud dari belakang. Dia segera menangkapku dari depan lalu mengambil sepatu yang kupegang. Kami berjalan keluar kamar bersama.


...


Cloud mengendong belakang tubuhku, aku seperti anak kecil yang dimanja. Saat ini aku merasa mempunyai seorang kakak. Maklum, aku anak pertama dan tidak tahu bagaimana rasanya disayang oleh kakak. Tapi kini Cloud memberikan kasih sayangnya padaku. Aku merasa memiliki apa yang tidak kupunya. Terlepas dari perasaanku kepadanya.


Cloud menggendongku sepanjang perjalanan menuju kamar. Kulihat istana begitu sepi di pagi ini. Kami menyusuri koridor bersama.


"Cloud."


"Hm?"


"Bagaimana jika ada yang melihat kita?" tanyaku kepadanya dari belakang.


"Tidak mengapa. Memangnya kenapa?" Cloud malah balik bertanya.


"Kau serius?" tanyaku lagi.


"He-em. Aku serius."


"Tapi ... kau kan pangeran, apa tidak malu menggendongku seperti ini?"


"Aku sedang tidak melakukan kesalahan, mengapa harus malu? Lagipula yang kugendong ini adalah seorang ibu."


"Hah? Apa kau bilang?" Aku merasa seperti sedang salah mendengar.


"Iya. Seorang ibu. Ibu dari anak-anakku kelak," katanya, yang sontak membuat wajahku memerah.


"Cloud!" Aku gemas, kucubit saja dadanya.


"Aw! Sakit, Ara. Tak bisakah lebih lembut lagi?" tanyanya, seraya memegang dadanya yang sakit dengan tangan kirinya.


Pegangannya pun dilepaskan. Aku jadi seperti ingin merosot dari gendongannya.


"Habisnya kau, sih!" gerutuku gemas.


"Tapi kau menyukainya, bukan?"


Cloud menyudutkanku, aku merasa terpojok oleh kata-katanya itu. Tak dapat kupungkiri jika aku menyukainya. Perasaan ini mengalir begitu saja.


Cloud, tampaknya kau telah berhasil mencuri kembali hati ini.

__ADS_1


__ADS_2