Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Ambush


__ADS_3

Beberapa orang berpakaian hitam-hitam turun dari kapal mendekati Zu. Mereka seperti tergesa-gesa menemui pangeran Asia ini.


Kenapa datangnya sekarang, bukannya aku meminta besok siang?


Zu tampak heran. Jika bukan karena melihat bendera yang berkibar di atas kapal, ia pasti sudah mencabut pedangnya.


"Pangeran." Beberapa orang menghadap Zu.


"Ada apa? Kenapa sekarang?" Zu bertanya-tanya.


"Maaf, Pangeran. Pihak Angkasa mengirim surat permohonan izin untuk masuk ke pulau ini. Sesuai yang Pangeran perintahkan, kami segera datang sebelum pihak Angkasa sampai." Salah satu dari mereka menjelaskan kepada Zu.


Astaga! Dari mana mereka tahu jika aku dan Ara berada di sini? Zu bingung sendiri.


"Berapa lama waktu yang kita punya?" tanya Zu segera.


"Kita hanya punya waktu sepuluh menit sebelum mereka melihat keberadaan kita, Pangeran."


"Apa?!" Zu terkejut. Ini mendadak sekali. "Baiklah, segera hilangkan jejak di vila ini. Aku akan membangunkannya!" perintah Zu kepada orang-orang itu.


"Baik, Pangeran!"


Ternyata yang datang adalah pihak Asia, pasukan khusus yang diperintahkan langsung oleh Zu untuk berjaga-jaga, jika ada kabar yang tidak diinginkan tentang keberadaannya di pulau ini. Dan ternyata benar saja, pihak Angkasa mengetahui keberadaannya.


Pihak Asia terlebih dahulu tiba di vila Zu sebelum pihak Angkasa sampai. Zu lantas segera memerintahkan pasukan khususnya untuk menghilangkan jejak keberadaan. Ia pun segera berlari ke lantai atas, menemui Ara.


Aku harus cepat membawanya pergi.


Ia cepat masuk ke dalam kamar Ara dan melihat gadis itu masih tertidur. Zu tergesa-gesa.


"Nona, bangunlah." Ia mencoba membangunkan sang gadis.


Ara yang sudah terlelap, tidak dapat mendengar panggilan Zu. Zu lalu segera menggendongnya, dan saat itulah sang gadis tersadar.


"Pangeran ...?" Ara tampak bingung melihat Zu tiba-tiba mengangkatnya.


"Nona, kita ke Asia sekarang," kata Zu seraya membawa Ara keluar dari kamar.


"Hah?!" Ara bertambah bingung.


"Nanti aku ceritakan. Waktu kita tak banyak."


Zu bergegas menuruni anak tangga sambil menggendong Ara ala pengantin. Ia lalu keluar vila, menuju kapal Asia yang ditepikan. Sementara para pasukan khususnya segera mengosongkan vila itu.


Lampu-lampu dimatikan, jejak pun dihilangkan. Mereka akhirnya ikut masuk ke dalam kapal setelah semua jejak keberadaan dihilangkan. Dan tak lama, kapal pihak Asia segera berlabuh.


"Aduh ...."

__ADS_1


Ara tampak pusing saat tiba di dalam kapal. Gadis itu kini duduk di sisi kanan Zu sambil memegangi kepalanya, ia merasa mual.


"Nona, kau tak apa?" tanya Zu yang khawatir.


"Aku mual, Pangeran. Aku seperti ingin muntah." Ara menutup mulutnya.


"Mari kuantarkan."


Zu segera mengantarkan Ara ke belakang kapal. Di mana ada wastefel kecil yang berada di luar kamar mandi. Ara pun menghilangkan rasa mualnya di situ.


Maafkan aku, Nona. Aku terpaksa melakukan hal ini, aku tidak ingin mereka menjemputmu.


Zu lantas membawa Ara kembali ke kursi kapal setelah Ara merasa lega. Ia pun menidurkan Ara, dengan bantal sebagai penyanggah punggung sang gadis di kursi kapal itu.


"Tunggu sebentar, ya."


Zu lalu pergi ke bagian nahkoda kapal cepat ini. Meninggalkan Ara yang sedang beristirahat sejenak.


"Apakah radar kita terbaca oleh mereka?" tanya Zu yang khawatir.


"Ada kapal berjarak beberapa puluh mil dari kapal ini, Pangeran. Tapi sepertinya mereka tidak menyadari jika ini kapal pihak Asia." Pasukan penjaga arah mata angin menjelaskan kepada Zu.


"Kalau begitu matikan saja radarnya. Matikan juga lampu kapal dan segera turunkan tirai hitam. Jangan sampai pihak Angkasa mengetahui keberadaan kita!" seru Zu kepada para pasukannya.


"Siap, Pangeran!"


"Pangeran! Pangeran Zu!"


Dari dalam Ara memanggil-manggil nama Zu. Zu pun segera menyadarinya. Ia lantas kembali menemui sang gadis.


"Nona, ini aku. Tenanglah." Zu segera duduk di sisi kiri Ara.


"Pangeran gelap sekali." Ara tampak takut.


"Tenang, ya. Ada aku di sini. Tidurlah di dadaku." Zu lantas merebahkan kepala Ara di dadanya yang bidang.


Ara masih merasa mual. Namun saat berada di dekat Zu, debaran jantungnya lebih mendominasi dari rasa mualnya sendiri. Zu pun seperti menyadarinya. Ia lantas mengusap-usap perut Ara.


"Sabar ya, Sayang. Kita akan segera sampai di Asia."


Sontak Ara terbelalak mendengar Zu berkata seperti itu saat mengusap perutnya. Ia seperti bermimpi di dini hari.


Pangeran, apa maksudmu? Apa kau kira aku hamil? Ara bertanya sendiri dalam hati.


Ara tidak mengerti mengapa Zu berkata seperti itu kepadanya. Ia merasa aneh dengan semua ini. Namun, Zu seperti tidak keberatan jika hal itu memang benar terjadi.


Aku akan selalu berada di sisimu. Sesampainya di Asia, aku akan membahagiakanmu. Kau tidak perlu berlelah lagi, karena semua kebutuhanmu aku yang akan menanggungnya.

__ADS_1


Zu lantas mengusap-usap lengan kanan Ara. Sedang Ara masih bersandar di dadanya. Keadaan kapal yang gelap membuat Ara pasrah bersama Zu. Ia mencoba mempercayakan keselamatannya kepada pangeran Asia itu. Lambat laun, Ara pun kembali terpejam.


Sementara itu...


Beberapa menit kemudian, Rain dan kedua puluh prajuritnya tiba di pulau hati, mereka bergegas masuk ke dalam vila. Tampak vila itu begitu gelap sehingga para prajuritnya harus masuk menggunakan senter.


Sekeliling vila dijaga oleh sepuluh prajurit. Sedang sepuluh lagi bersama Rain mencari jejak Ara. Mereka mencari di setiap sudut ruangan.


Keadaan vila ini tampak kosong?


Rain masih berusaha menyusuri setiap kamar, hingga ia tiba di kamar yang tadi Ara tiduri. Matanya tajam, melihat ke segala arah. Tapi ia tidak menemukan sesuatu apapun.


"Sial!"


Empat prajuritnya datang mendekat. Mereka membantu menyenter ke sekeliling kamar. Namun, entah bagaimana tiba-tiba Rain melihat sesuatu di atas bantal putih kasur tersebut.


I-ini?!


Seketika jantungnya berdegup kencang. Aliran darahnya pun seolah terhenti saat melihat apa yang ia temukan. Rain menemukan sesuatu.


Benar dugaanku jika dialah yang membawa Ara.


Rain mengambil barang bukti dari atas bantal kasur itu lalu meletakkannya ke dalam tabung kaca yang ia bawa. Ia simpan baik-baik bukti yang ia temukan untuk menghadap sang ayah nanti.


"Pangeran!" Salah seorang prajuritnya masuk.


"Ya, bagaimana?" tanya Rain segera.


"Kami sudah berkeliling, tapi tidak menemukan apapun," lapor salah satu prajurit.


"Baiklah. Aku rasa apa yang aku temukan sudah bisa menjadi barang bukti." Rain amat yakin.


"Lalu apa tugas kami selanjutnya, Pangeran?" tanya prajurit itu lagi.


Rain berpikir. Ia tidak ingin salah langkah menghadapi situasi kali ini.


Aku sudah menemukan bukti jika Ara ada di sini dan bisa saja aku menyusulnya. Tapi, itu akan sangat merepotkan. Perjalanan sangat jauh ke Asia dan aku hanya membawa dua puluh pasukan saja. Mungkin ada baiknya jika aku kembali ke istana terlebih dahulu.


"Kita kembali ke istana!" cetus Rain kemudian.


"Baik, Pangeran!"


Setelah berpikir matang-matang, Rain memutuskan untuk menarik mundur prajuritnya dan tidak melanjutkan pengejaran. Para prajurit pun bergegas keluar setelah perintah mereka dapatkan. Mereka menutup kembali semua pintu dan jendela yang terbuka. Setelahnya para prajurit itu bersama Rain menaiki kapal, kembali menuju Negeri Angkasa.


Ara, sejak awal hanya dia yang menatapmu dengan pandangan berbeda. Tapi, aku tidak ingin terlalu cepat menarik kesimpulan. Namun, kini aku berani menyimpulkan jika dialah yang membawamu pergi dari istana.


Rain mengepalkan kedua tangannya. Ia tampak geram karena Zu telah berani-beraninya membawa Ara pergi dari istana. Terlepas dari apa yang terjadi sebelumnya, Rain merasa jika pangeran Asia itu mencuri kesempatan dalam kesempitan.

__ADS_1


__ADS_2