
Selepas makan malam di kediaman Zu...
Aku baru selesai bersantap malam. Dan kini kami duduk, menyandarkan punggung di dinding teras luar kamar sambil memandangi halaman depan kediamannya dari atas.
Zu duduk di sisi kiriku, ia dekat dengan pagar teras. Sedang aku dekat dengan pintu masuk ke dalam. Semilir angin malam yang berembus, membuatku sedikit kedinginan. Zu pun menyadarinya, ia segera melepas rompi piyama tidurnya untukku.
"Pakailah." Dia memakaikan rompi tidurnya kepadaku.
Aku memang merasa sudah dekat dengannya. Hal inilah yang terkadang membuat hatiku gundah sendiri. Aku semakin bingung dalam menentukan pilihan. Dua pangeran saja sudah membuatku galau, dan kini bertambah lagi dirinya.
"Pangeran, entah mengapa beberapa hari ini aku merasa kedinginan," kataku seraya menoleh kepadanya.
Sontak kata-kataku ini membuat Zu tertegun. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, Zu segera memelukku.
Eh?!
"Pakailah tubuhku untuk menghangatkanmu," katanya menanggapi.
Sejujurnya aku merasa nyaman saat berada di pelukannya, tapi aku juga masih menjaga batasan. Karena bagaimanapun dia seorang pria normal. Pastinya ada suatu getaran yang dirasakan saat dekat dengan wanita, apalagi jika wanita itu dicintai olehnya.
"Pangeran, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanyaku yang kini menyandarkan kepala di dadanya.
Zu merangkulku, dia memegang lengan kananku. Sedang tangan kirinya memegang tangan kiriku. Rasanya nyaman sekali berada di pelukannya ini.
"Em, ini masalah kerajaan kami, Ara." Dia segera menanggapi.
"Apakah itu?" Aku mulai penasaran.
"Begini. Beberapa hari lagi festival musim semi akan diadakan. Para menteri menyarankan untuk tetap mengadakan festival yang hanya setahun sekali ini. Tapi ...,"
"Tapi?" Aku melihat ke arahnya.
"Tapi aku khawatir jika festival ini akan membawa kabar buruk untukku."
"Maksud Pangeran?"
"Aku takut di sela-sela kesibukanku mengurus festival ini akan membuatmu kembali ke Angkasa."
"Hah? Apa?!" Sontak aku terperanjat kaget.
Astaga! Perasaannya begitu peka. Dia bisa mengetahui apa yang akan terjadi.
"Ara, aku benar-benar ingin menikahimu. Sungguh. Aku sudah yakin dengan keputusanku ini." Dia menatapku dalam sekali.
__ADS_1
"Pangeran ...."
Kupeluk saja tubuhnya. Harum parfumnya yang begitu lembut kuhirup dalam-dalam. Dan entah mengapa aku semakin betah berlama-lama di pelukannya.
"Ara."
"Hm?"
"Aku akan membelimu."
"Hah? Apa?!!" Aku begitu kaget mendengarnya.
"Aku akan membelimu dengan nyawaku, Sayang," katanya lagi.
"Pangeran ...."
Kami lantas saling berpandangan. Kulihat dia tersenyum padaku. Ujung hidungku pun dicolek olehnya. Dan entah mengapa rasanya senang sekali.
Pangeran, hatiku ....
Dia mengusap-usap kepalaku lalu mencium kening ini. Aku pun tidak melawan, kubiarkan saja dia berbuat seperti itu, selama tidak meminta yang aneh-aneh kepadaku.
"Sejak kecil, nenek Lin yang mengurusku. Ibu meninggal saat melahirkan Shu." Zu mulai bercerita.
"Ya, dia tidak sempat melihat wajah ibu. Kami dibesarkan oleh nenek. Dan setelah berusia tujuh tahun, aku yang mengurus Shu. Mulai dari memandikannya, menyuapinya, menidurkannya. Semua aku mengerjakannya sendiri."
Astaga .... Aku terpana mendengar cerita ini.
"Aku sudah mandiri sejak usia tujuh tahun, Ara. Kehidupanku sebagai putra mahkota ternyata tidaklah seindah yang dibayangkan." Tersirat kesedihan dari wajahnya.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Pangeran? Apa kau ingin menceritakannya padaku?" tanyaku seraya terus menatapnya dari sisi.
"Ayah menikah dengan ibu suri saat ibu masih mengandung Shu."
"Apa?!"
"Ibu suri dulunya adalah penari di istana ini. Dan mungkin karena ayah kasihan kepadanya sehingga ayah menikahinya.
"Maksud Pangeran?"
"Ibu suri adalah orang tua tunggal dari putranya."
"Hah?!" Aku terperanjat.
__ADS_1
Entah mengapa aku merasa hubungan keluarga utama di istana ini sangat rumit sekali. Zu pun seperti menyadarinya.
"Baiklah, akan kuceritakan hal yang sebenarnya. Dengarkan, ya." Zu memintanya dengan lembut.
Aku mengangguk dan semakin mempererat pelukan ini. Kubiarkan dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di keluarga utama istana. Dan betapa terkejutnya aku saat mengetahuinya langsung dari Zu. Seketika itu juga hatiku terenyuh mendengarnya.
"Pangeran ...."
Zu menceritakan padaku jika raja menikahi ratu yang sekarang karena berdasarkan rasa kasihan. Ratu itu ternyata orang tua tunggal dari seorang putra yang masih kecil. Jadi Zu mempunyai saudara tiri laki-laki dari ibu suri itu.
Aku belum tahu siapa dan yang mana saudara tiri Zu. Tapi sepertinya, aku bisa mengerti bagaimana kehidupan di istana ini. Yang mana membuat Zu sudah hidup mandiri sejak kecil. Dan hal itulah yang membuat hatiku amat terenyuh mendengarnya.
Seorang gadis yang kulihat di kamar raja waktu itu adalah saudara satu ayah. Dia putri negeri ini namun berbeda ibu. Zu bilang saat ibunya mengandung Shu, mendiang ibunya itu tengah terkena penyakit serius. Sehingga hanya ada satu pilihan, menyelamatkan ratu atau Shu.
Mendengar cerita ini aku merasa beruntung karena masih mempunyai orang tua yang lengkap. Tidak bisa kubayangkan jika nasibku sama seperti Zu, serasa harta kekayaan itu tidak ada apa-apanya sama sekali.
"Pangeran, maafkan aku." Aku lantas meminta maaf padanya.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Zu yang bingung.
Aku hanya tersenyum dan semakin mendekatkan diri kepadanya. Kuusap perlahan dadanya agar dia merasa sedikit tenang setelah menceritakan hal ini. Dan entah mengapa, aku jadi mengiba dan ingin memenuhi keinginannya agar dia tidak sedih lagi.
"Pangeran, tenanglah. Ada aku di sini." Kupegang erat tangan kirinya.
Zu tersenyum padaku, senyuman yang manis sekali. Aku pun mendekatkan wajahku ini ke wajahnya, aku ingin mencium bibirnya. Dan tanpa menolak, Zu menerimanya dengan senang hati.
Kutatap matanya, kuusap wajahnya lalu kupeluk erat lagi. Sepertinya Zu sangat bahagia dengan hal yang kulakukan. Dia juga mengusap-ngusap punggungku.
"Kita tidur, ya." Dia mengajak ku tidur.
Aku mengangguk. Dia pun menggendongku masuk ke dalam kamar seraya terus memandangi wajahku. Rasanya jadi malu sendiri ditatap olehnya seperti itu.
Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan, tapi malam ini kubiarkan saja dia melakukan apapun, asal tidak merugikanku. Kunikmati saja jalan cerita ini bersamanya, karena aku juga mulai menyayanginya.
"Lekas tidur, ya."
Zu merebahkanku di atas kasur, dia pun ikut merebahkan dirinya di sisi kananku. Kami menarik selimut hingga sebatas pinggang. Dan setelahnya, dia mendekatkan dirinya. Dia tidur menghadapku lalu merendahkan tubuhnya, seolah meminta usapan sayang dariku.
Dasar!
Kuusap perlahan rambutnya lalu kupeluk agar dia merasa lebih nyaman. Wajahnya tepat berada di depan dadaku. Ya, sudah. Biarlah malam ini aku menghangatkan hatinya.
Pangeran, aku merasa bersalah. Aku bingung harus bagaimana, aku sudah membuat janji bertemu Rain besok. Maafkan aku, ya. Andai bisa dibagi, aku akan membaginya dengan adil.
__ADS_1
Aku pun ikut memejamkan mata dan mulai menarik napas perlahan. Akhirnya kami tertidur di atas kasur ini. Tidur selayaknya sepasang suami istri, namun tanpa melakukan sesuatu apapun.