Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Standby


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Aku dan Rain berdiri di depan teras ruangan raja. Aku pun menceritakan penglihatanku kepadanya saat mencoba memeriksa ratu. Satu per satu kugambarkan sejelas mungkin. Dan kini kulihat dahi pangeranku berkerut.


"Ara, kembalilah ke kediamanku. Nanti aku akan ke sana." Dia berpesan.


"Tapi, Rain—"


Sejujurnya aku khawatir jika hal ini hanyalah delusiku semata. Tapi, Rain membenarkannya. Dia amat mempercayai apa yang aku lihat.


"Sayang, jika benar maka waktu kita tak banyak. Tunggu aku di rumah, ya." Dia memintaku lagi agar kembali ke kediamannya.


Aku pun tak bisa membantah, aku mengangguk dan dia kemudian segera pergi meninggalkanku. Aku tidak tahu dia mau ke mana, tapi kuturuti saja permintaannya agar lekas kembali ke kediamannya.


Ya Tuhan, tolong jaga negeri ini.


Ara tidak mengerti mengapa bisa melihat semua peristiwa yang akan terjadi. Ia menceritakannya kepada Rain dengan sangat hati-hati. Ia khawatir jika ini hanyalah delusinya semata. Namun, Rain membenarkan apa yang diceritakan oleh Ara. Ia pun segera menuju lantai dua istana, berniat menemui para menterinya.


Langkah kaki sang pangeran terdengar tergesa-gesa menyusuri koridor istana lantai tiga. Sedang sang gadis mengambil jalan lain untuk kembali ke kediamannya.


Beberapa menit kemudian, di ruang Menteri Pertahanan, Dave...


"Pangeran Rain."


Menteri berjubah hijau itu segera berdiri, sesaat setelah Rain masuk ke dalam ruangannya. Rain pun segera mengutarakan niatnya.


"Tuan Dave, tolong kirim kabar kepada seluruh jenderal di perbatasan untuk siap siaga menghadapi penyerangan dari negeri musuh," tutur Rain lugas.


"Penyerangan?" Menteri hampir berusia lima puluh tahun itupun tampak kaget.


"Ya. Akan ada penyerangan malam ini. Jadi persiapan juga pasukan untuk menemaniku ke pelabuhan selatan negeri," kata Rain lagi.


"Pangeran, jika kabar ini benar bagaimana keadaan istana tanpamu?" Dave khawatir.

__ADS_1


"Minta kepada markas pasukan untuk segera datang ke istana dan buat pertahanan tiga lapis. Sore ini juga aku akan berangkat ke selatan negeri. Siapkan pemanah handal untuk berjaga di teras atap istana dan turunkan semua pemanah yang kita miliki untuk berjaga di tembok perbatasan negeri." Rain amat serius.


"Baik, Pangeran. Saya mengerti."


"Segera kirim kabar ke seluruh jenderal di penjuru negeri ini. Waktu kita tak banyak. Pastikan mendapatkan balasan dari mereka." Rain beranjak pergi.


"Baik, Pangeran."


Dave pun mematuhi apa yang Rain perintahkan kepadanya. Ia segera menulis banyak surat untuk para jenderal di penjuru negeri ini. Dave bekerja keras agar pesan bisa sampai dengan cepat.


Tugas Rain belum selesai. Ia masih harus melangkahkan kakinya menuju ruang Menteri Dalam Negeri Angkasa. Sesampainya di sana, ia segera mengutarakan niatnya.


Di ruang Menteri Dalam Negeri, Count...


"Pangeran Rain." Count berdiri saat Rain masuk ke dalam ruangannya.


"Tuan Count, tolong kirim pemberitahuan kepada seluruh penduduk untuk menyelesaikan semua kegiatan sebelum awal pertengahan malam. Minta kepada mereka untuk tidak keluar dari rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Pastikan para lelakinya berjaga-jaga dan tidak pulas tertidur sampai fajar menjelang. Minta kepada mereka untuk tidak membuka pintu atas siapapun yang datang," tutur Rain dengan lugasnya.


"Angkasa akan diserang malam ini. Maka aku minta semua penduduk berjaga-jaga di rumahnya masing-masing. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Rain cepat menanggapi.


Count pun mengerti. "Baik, Pangeran. Pengumuman akan segera saya kirimkan kepada penduduk di seluruh penjuru negeri." Count memenuhi.


"Waktu kita tak banyak, Tuan Count. Tolong pastikan semua penduduk mematuhi perintah ini." Rain mempercayakan tugas ini kepada Count.


"Baik, Pangeran." Count pun mengiyakan.


Rain menemui satu per satu menterinya dan berpesan sebelum berangkat menuju selatan negeri ini. Yang mana Ara menceritakan jika akan banyak kapal perang datang dari selatan Angkasa. Rain pun segera mengantisipasinya, yang mana ia juga pernah mendengar hal ini sebelumnya.


Ara, aku tidak tahu harus bagaimana berterima kasih padamu. Tapi semua yang kau ceritakan sama persis dengan yang kudengar waktu itu. Mungkin sudah saatnya bagi Angkasa untuk menunjukkan taringnya kepada negeri musuh, yang mana selama ini selalu diredam dan diredam.


Aku tidak rela walau sejengkal tanah negeri ini diambil. Biarlah Tuhan menentukan semuanya malam ini. Aku mencintaimu, Ara ....


Setelah menemui keempat menterinya, Rain menuju ke ruangan kakaknya. Ia pun segera masuk ke ruangan Cloud yang mana sang kakak tampak sedang merapikan meja kerjanya.

__ADS_1


"Rain?" Cloud terkejut saat Rain masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kak, aku akan berangkat ke selatan. Tolong jaga ayah dan ibu, dan juga Ara. Aku titip istana padamu." Rain langsung ke inti pembicaraan.


"Rain, ada apa?" tanya Cloud yang heran.


"Malam ini akan ada penyerangan dari pihak negeri musuh, jadi berjaga-jagalah. Aku sudah meminta keempat menteri untuk mengantisipasinya. Maka dari itu aku juga meminta kepadamu." Rain amat serius.


"Kau tahu dari mana jika akan ada penyerangan?" tanya Cloud lagi yang masih tak percaya.


"Ara yang menceritakannya padaku saat memeriksa ibu," jawab Rain cepat.


"Apa?!" Seketika itu juga dokumen yang dipegang Cloud jatuh.


"Aku akan segera berangkat. Tolong koordinir pasukan." Rain beranjak pergi dari ruangan kakaknya.


Sungguh kabar ini sangat mengejutkan bagi Cloud. Tiba-tiba jantungnya berdetak amat kencang. Ia pun teringat dengan mimpinya waktu itu.


"Astaga ... jadi hal itu benar akan terjadi?" Cloud tak percaya.


Ia segera merapikan meja kerjanya lalu menyimpan dokumen-dokumen penting ke dalam sebuah lemari khusus. Setelahnya, ia melangkahkan kaki menuju lantai tiga istana untuk memberi tahu ayahnya hal ini.


Kabar ini membuat Angkasa siap siaga dalam waktu singkat. Burung-burung pengantar surat pun berterbangan ke angkasa. Mereka membawa pesan untuk para jenderal di negeri ini. Tak ayal, keadaan istana juga menjadi panik. Mereka khawatir atas apa yang akan terjadi.


Begitu juga dengan Ara, ia masih menunggu kedatangan Rain di rumah. Sedari tadi ia menunggu di ruang tamu, berharap Rain akan segera kembali untuk menemuinya.


Ya Tuhan, aku berharap hal ini tidak benar-benar terjadi. Aku takut ....


Ara mondar-mandir menunggu Rain datang. Hatinya cemas dan juga gelisah. Ingatan akan penglihatannya benar-benar membuatnya takut sendiri. Ia tidak dapat tenang menjelang petang ini.


Apa yang harus kulakukan? Astaga ... mengapa aku tidak bisa berpikir dengan baik? Ia berbicara sendiri.


Ara masih menunggu dan terus menunggu kedatangan Rain di rumah. Ia mematuhi apa yang Rain pintakan kepadanya. Dan tak lama, sang pangeran pun datang. Langkah kakinya terdengar cepat saat memasuki rumah. Ara pun segera mendekatinya.

__ADS_1


__ADS_2