Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Love the Prince


__ADS_3

Hell mengumpulkan semua menteri-menterinya. Bersamaan dengan itu, ia membahas surat yang dikirimkan Sky. Hell tampak kebingungan. Ia membutuhkan masukan dari menteri-menterinya itu.


"Rencana kita gagal. Diplomasi kita tidak berhasil. Apa yang harus kita lakukan ke depannya?" Hell kebingungan.


"Paduka, jika semua cara dilakukan gagal, bagaimana kalau mencoba jalan yang tidak terlihat."


"Maksudmu?" tanya Hell kepada salah seorang menterinya.


"Angkasa tidak dapat diajak berdiplomasi. Ancaman perang yang kita buat juga disambut baik oleh mereka. Mengapa tidak mencoba menggunakan sihir untuk membuat seluruh prajurit kehilangan nyalinya? Dengan begitu kita dapat menggertak Angkasa untuk tunduk."


"Tidak, aku kurang setuju." Menteri sayap kanan menolak tegas.


"Apa alasanmu tidak setuju?" tanya Hell kepada menteri itu.


"Paduka, Angkasa mempunyai pelindung mistis yang sulit tertembus. Jika kita nekat mencobanya, bisa-bisa hal itu berbalik kepada prajurit-prajurit di negeri ini. Dan hal itu akan membuat Aksara semakin terpuruk."


Hell tampak berpikir. "Sky siap menyerang Aksara kapan saja. Aku jadi khawatir," kata Hell.


"Raja Sky mengetahui semua rencana kita?" tanya menterinya.


"Kurasa dia mengetahui semua rencana kita. Termasuk penyusupan saat itu." Hell melanjutkan.


Aksara berniat menguasai Angkasa dengan akal busuknya. Namun, pertahanan yang dimiliki negeri itu belum mampu tertembus.


"Kita kumpulkan saja sekutu negeri ini, Paduka." Menteri sayap kiri kembali ambil suara.


"Saat ini perekonomian kita kurang stabil. Tidak ada yang bisa kita harapkan selain mencuri rancangan busana itu," Hell melanjutkan.


"Paduka!" Land kemudian ikut ambil suara.


"Ada apa, Land? Apa kau mempunyai jalan lain?" tanya Hell kepada menteri yang menjabat sebagai sekretaris itu.


"Paduka, jika semua jalan tidak bisa kita tempuh, bagaimana jika menggunakan sihir namun bukan secara langsung," jawab Land.


"Maksudmu?"


"Saya mempunyai kenalan seorang penyihir hebat dari negeri seberang. Bagaimana jika kita mencoba bernegosiasi dengannya? Mungkin dia bisa membantu." Land menuturkan.


Hell lalu duduk seraya berpikir. Ia benar-benar berambisi untuk menaklukan negeri kedua pangeran itu.


Akan kubalaskan dendam masa lalu ini kepadamu, Sky. Aku masih tidak terima.


Hell rupanya mempunyai dendam masa lalu dengan raja Negeri Angkasa, Sky. Mungkin karena hal itulah yang membuat Hell sangat berambisi untuk menaklukkan Angkasa.


"Baiklah. Aku serahkan padamu, Land!" titah sang raja akhirnya dikeluarkan.

__ADS_1


Land merupakan orang kepercayaan Hell. Ia banyak memberi masukan dan membantu Hell mengurusi pemerintahannya. Namun, Hell tidak mengetahui apa alasan dibalik Land membantunya. Land mempunyai misi tersendiri.


Menteri itu terlihat tersenyum licik setelah mendapatkan izin dari Hell. Ia merasa semakin diistimewakan sang raja.


Malam harinya...


Cloud tampak menikmati malam di gazebo istana. Ia sedang menyelesaikan pekerjaan di luar ruangan. Entah mengapa, ia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya malam ini.


Cuaca di luar begitu dingin. Sepertinya pergantian musim akan segera tiba. Cloud masih sibuk dengan pekerjaannya dan tidak menghiraukan sama sekali dingin yang menerjang tubuhnya itu. Cloud tampak bersemangat malam ini.


Seekor kupu-kupu hijau besar datang di tengah lampu taman istana yang bersinar terang. Kupu-kupu itu mengitari gazebo dan tampak memperhatikan pangeran sulung yang sedang mengerjakan tugasnya itu.


Perlahan, kupu-kupu itu masuk ke dalam gazebo lalu hinggap di cangkir teh milik Cloud seraya mengepak-ngepakan sayapnya. Cloud pun segera tersadar dengan kedatangan kupu-kupu itu.


"Hai, malam-malam kau menghampiriku. Apakah ada kabar baik untukku?" tanya Cloud seraya tersenyum kepada kupu-kupu itu.


Kupu-kupu itu lalu terbang dan hinggap di tangan kanan Cloud, membuat sang pangeran menghentikan aktivitasnya sejenak. Cloud tampak heran dengan gelagat sang kupu-kupu.


"Apa kau diutus untuk memberi kabar padaku?" tanya Cloud lagi.


Tiba-tiba bulan bersinar sangat terang dari balik awan yang menutupinya, seolah menyorot Cloud dari atas langit. Cloud pun terkejut, ia segera keluar dari gazebo lalu melihat bulan itu.


"Bulan purnama telah tiba, apakah ini pertanda Ara akan datang?" tanyanya sendiri.


Kupu-kupu itupun terbang ke atasnya, menjauh dari Cloud seolah menuju bulan. Sesaat kemudian, terlintas bayangan Ara di bulan yang bersinar terang itu.


Cloud terkejut. Bayangan itu terlintas jelas dan mampu memberikan arti padanya. Ia kemudian teringat saat berada di dunia Ara. Keduanya sedang memandangi bulan purnama...


...


"Kau seperti memikirkan sesuatu. Kalau berkenan, bisa berbaginya denganku." Ara mengawali perkataannya.


Gadis itu berdiri di samping Cloud sambil ikut memandangi rembulan yang bersinar terang.


"Hm, ya benar. Memang ada yang sedang kupikirkan saat ini. Apa kau dapat membantuku?" sahut Cloud seraya menoleh kepada Ara.


"Mungkin aku bisa membantu jika sudah mengetahui apa permasalahannya," jawab Ara bersemangat.


"Ara ...."


Cloud memperbaiki sikap tubuhnya, ia berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di dada.


"Aku membutuhkan seorang ahli untuk negeriku, bisakah kau bekerja untukku?" tanya Cloud lagi.


"Bekerja?" Ara tampak heran.

__ADS_1


Suasana menjadi hening sejenak. Cloud kemudian menghadap gadis itu.


"Aku mempunyai tugas yang sangat menumpuk. Aku membutuhkanmu untuk membantuku."


Ara terlihat bingung.


"Ara ...." Cloud memanggil Ara dengan suara yang lembut.


"Hm, iya. Tap-tapi aku tidak mengerti mengapa kau menawarkan hal ini kepadaku?" tanya Ara yang diliputi perasaan heran kepada Cloud.


"Begini, aku punya pekerjaan yang sangat banyak sekali. Dan aku membutuhkanmu untuk membantuku mengerjakannya. Untuk imbalannya, kau tidak perlu meragukan hal itu. Aku akan membayarnya dengan sangat mahal," kata Cloud, berusaha menjelaskan.


"Pekerjaan apa itu?" tanya Ara memastikan.


"Hanya sebagai asistenku saja. Nanti aku akan memberikan pengarahan kepadamu tentang apa yang harus kau kerjakan. Cukup mudah, kan?" tanya Cloud lagi.


Ara mengangguk dalam kebingungannya.


"Percaya padaku. Hanya dirimu yang mampu melakukannya, Ara. Tolong aku," kata Cloud dengan raut wajah penuh harap.


...


"Ara ...." Cloud termenung mengingatnya.


"Kuakui waktu itu belum menyukaimu. Aku masih fokus dengan tujuanku. Namun sekarang, aku sadari jika aku tidak hanya membutuhkanmu untuk membantuku mengurusi pekerjaan di istana ini. Tapi juga membutuhkanmu untuk membesarkan anak-anak kita kelak."


Cloud tersenyum semringah. Angannya melayang jauh bersama sang gadis. Ia penuh harap akan masa depannya bersama Ara.


"Semoga kau mau mengemban tugasmu menjadi seorang ibu dari anak-anakku kelak."


Cloud kembali menatap bulan yang bersinar terang. Kunang-kunang malam pun datang mengitarinya. Cloud merasakan kebahagiaan itu akan segera diraihnya.


Sementara itu...


Ara sedang mengatur ulang napasnya untuk menghadapi sidang skripsi lusa esok. Ia bermeditasi di belakang rumah ditemani gemercik air kolam ikan koinya. Ketenangan itu pun ia dapatkan setelah satu jam menyatu dengan alam.


"Huuuuuuhh..."


Ia mengembuskan napas setelah merasa semua beban di pundaknya hilang. Ara kini tampak lebih fresh.


"Entah mengapa aku melihat Cloud sedang menatap bulan purnama."


Di dunia Ara, baru memasuki malam kedua belas. Sehingga bulan belum sepenuhnya terlihat sempurna. Ia kemudian menatap rembulan yang hangat. Tersirat senyum manis dari raut wajahnya yang menggemaskan.


"Cloud, aku akan datang sebentar lagi. Tunggulah."

__ADS_1


Ara menatap bulan seolah meminta menyampaikan salam dan pesannya kepada Cloud. Setelah mengalami mimpi yang menyesakkan dada, rasa cemasnya semakin bertambah. Ia ingin segera bertemu dengan sang pangeran. Benih-benih perasaannya yang dulu pun mulai bermunculan.


"Entahlah, aku hanya mengikuti takdirku. Baik Cloud ataupun Rain, akan kuterima dengan senang hati," katanya lalu beranjak masuk ke dalam rumah.


__ADS_2