Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Story of Cloud


__ADS_3

Sesampainya di ruangan Cloud...


Kulihat Cloud sedang sibuk bersama para menterinya. Aku jadi tidak enak masuk ke dalam. Lebih baik kutunggu di luar saja.


"Nona Ara?!"


Kudengar ada suara yang memanggil namaku. Akupun menoleh ke asal suara. Dan kulihat jika Star yang memanggil.


"Salam bahagia untuk Pangeran Star."


"Salam bahagia. Tapi rasanya cukup panggil Star saja, Nona." Star membalas sapaanku.


"Em, ya. Baiklah." Aku sedikit gugup.


"Kau sedang menunggu Cloud?" tanyanya lagi.


Entah direncanakan atau tidak. Aku bertemu dengannya pagi ini. Namun, dia tidak bersama istrinya. Mungkin dia juga mempunyai urusan dengan Cloud.


"Iya, Pangeran. Ada hal yang ingin aku bahas bersamanya."


"Em, kalau begitu kita bisa menunggunya sambil meminum teh di balkon istana. Apa kau berminat?" tanyanya lagi.


Balkon istana? Aduh, nanti malah terjadi salah paham lagi. Aku cemas dengan ajakan Star pagi ini.


Star tersenyum. "Tenang saja. Tidak akan ada yang marah. Kita hanya mengobrol biasa dan diawasi oleh para penjaga. Jadi tidak akan terjadi salah prasangka." Star menjelaskan.


Rasanya aku malu sendiri mendengar kata-katanya. Pikiranku sudah ke mana-mana. Lantas saja aku memenuhi undangannya untuk minum teh bersama.


"Baiklah, Pangeran."


Kami lalu berjalan menuju balkon istana yang ada di lantai dua ini. Tidak jauh dari ruangan Cloud berada. Mungkin hanya berbeda sekitar tiga ruangan saja.


Di balkon istana...


Aku duduk bersama Star di teras balkon lantai dua. Kami menghadap ke arah taman depan istana yang kini terlihat sangat rapi dan indah. Tampak jelas susunan bunga berbentuk hati yang membuat aku tersipu sendiri. Siapa lagi kalau bukan Rain yang membuatkannya untukku.


Ah, aku jadi GR sendiri.


"Akhirnya kita bisa berbicara empat mata, Nona."


Star meneguk tehnya. Kami duduk dipisahkan meja bundar yang cukup besar. Mungkin jarakku dengannya ada sekitar satu meter.


"Apakah ada sesuatu yang ingin Pangeran katakan?" tanyaku sopan.


Star tampak tersenyum. Ia meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja. Bersamaan dengan itu kulihat burung-burung berterbangan di atas langit istana. Angin sejuk pun menemani perbincangan kami pagi ini.


"Cloud sudah menceritakannya padaku. Aku sangat terkejut dengan hal yang terjadi pada kalian." Star mengawali.


Aku kaget saat mengetahui topik pembicaraan ini, namun aku tetap diam dan mendengarkan.


"Aku tahu benar bagaimana Cloud dan adiknya. Sedari kecil kami dibesarkan bersama. Barulah saat dua belas tahun kami berpisah."


"Anda tinggal di mana, Pangeran?" tanyaku yang ingin tahu.


"Aku tinggal bersama nenek di utara negeri ini. Nenek suka berada di sana karena dekat dengan pedesaan yang asri." Star menceritakan.

__ADS_1


Aku tersenyum dan tidak menjawab apapun.


"Ara."


Star tiba-tiba menyebut namaku tanpa kata nona. Sontak aku merasa canggung sendiri.


"Cloud sebenarnya jenaka. Dia sangat suka bercanda. Tapi semenjak kematian kakek, dia lebih suka mengurung diri." Star mulai menceritakan Cloud padaku.


"Dia juga sudah menceritakan tentang mendiang raja padaku, Pangeran." Aku menanggapi.


"Dan kau tahu, hanya dirimulah orang luar yang dia ceritakan. Cloud sangat percaya padamu."


"Benarkah?"


Star mengangguk.


"Seusianya memang sudah diharuskan untuk menikah. Maka dari itu paman lebih mengutamakan Cloud dibandingkan Rain. Mungkin kau juga menyadarinya," katanya lagi.


Jadi ini alasannya?


"Aku dan Cloud berbeda dua tahun. Dan aku menikah di usia dua puluh tiga. Usia yang disegerakan untuk menikah bagi para pangeran."


Aku tertegun mendengarnya.


"Sebenarnya aku tidak ingin mencampuri hal ini. Namun, sebagai sepupunya aku harus ikut bicara. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadapnya. Yang aku tahu, Cloud begitu menyayangimu. Kaulah wanita pertama baginya." Star beranjak berdiri.


"Pangeran Star, aku—"


"Aku mengerti. Rain juga mencintaimu. Kau dilanda kebimbangan untuk memilih. Aku juga tidak mampu untuk memaksanya."


Star meneruskan perkataannya seraya menatap taman dari pagar teras, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Kau tidak perlu minta maaf, Ara. Mungkin yang salah memang Cloud. Dia kurang peka terhadap perasaanmu dari awal. Tapi ...,"


"Tapi apa, Pangeran?" tanyaku lagi.


"Cloud punya alasan kuat untuk itu." Star berbalik menghadapku.


Sepertinya pembicaraan ini menjurus ke arah agar aku memilih Cloud.


"Dia trauma kehilangan. Maka dari itu dia menjauh karena takut kehilangan lagi. Perasaannya begitu rapuh, Ara."


Aku jadi merasa bersalah setelah mendengar hal ini. Hatiku bertambah bingung untuk memilih. Aku tidak ingin memilih Cloud karena rasa iba yang kini muncul di benakku.


"Dia juga pernah sempat menyukai seorang putri dari Negeri Bunga. Dan lagi-lagi putri itu hilang entah ke mana."


"Cloud sudah menceritakannya padaku, Pangeran."


"Ya. Dia kehilangan kepercayaan dirinya. Dia merasa orang yang disayangi dan disukainya pergi meninggalkannya begitu saja. Sehingga dia juga takut akan merasakan hal itu lagi."


"Tapi, Pangeran. Waktu itu aku sempat ...,"


Rasanya aku ingin meneruskan pembicaraan ini. Tapi aku khawatir Star akan mengetahui jati diriku yang sebenarnya.


"Kenapa, Ara?" Star tampak menungguku.

__ADS_1


"Em, tidak. Sepertinya aku—"


"Hei, kalian di sini tanpaku?"


Belum sempat aku meneruskan perkataan, Cloud datang menghampiri kami. Sepertinya penjaga di depan ruangannya telah memberi tahu jika aku ke sana tadi.


"Ya, ya. Kami sedang bergosip, Cloud. Kau mau ikut?" tanya Star kepada Cloud.


"Kau ini memang virus. Ada apa kau kemari?" Cloud duduk lalu meneguk cangkir teh milik Star.


Ya ampun mereka ini.


"Nenek Sun meminta agar diadakan games untuk acara pertunjukan busana nanti. Maka dari itu aku ke sini."


"Games?" Cloud tampak bingung.


"Iya. Dia ingin mengenang masa mudanya. Dia meminta agar diadakan acara pemilihan hati." Star menyampaikan.


Hah?! Maksudnya apa, ya?


"Memangnya diizinkan oleh ayah?" tanya Cloud lagi.


Cloud tersenyum ke arahku lalu mencium tangan kiriku ini. Dia tidak malu menampakkan kemesraan di hadapan sepupunya itu.


"Hah, kau ini. Bermesraan di depanku pagi-pagi." Star tampak risih.


Aku menahan tawa saat kedua saudara ini saling bercengkrama. Aku masih diam mendengarkan keduanya berbicara.


"Tak apa, kan? Kau sudah ada lawan. Sedang aku ...." Cloud melirik ke arahku.


"Cloud!" Aku mencoba memperingatkannya.


"Hah, baiklah. Itu saja pesan nenek untukmu. Lama-lama aku tidak sanggup melihat kalian berdua. Aku permisi." Star pun beranjak pergi.


"Hei, nanti aku ke sana!"


Cloud berseru kepada Star. Dia lalu berjalan mendekatiku.


"Maaf, Ara. Aku benar-benar sibuk. Ini juga masih ada urusan administrasi yang harus segera kuselesaikan. Lusa aku baru bisa libur," katanya.


"Em, baiklah," jawabku.


"Mungkin kita bisa berlibur bersama nanti. Kau mau, kan?" tanyanya padaku.


Kutatap wajahnya itu, tersenyum seraya mengusap pipinya. Cloud pun memegang tanganku.


"Ara?" Dia tampak bingung karena aku diam saja.


Aku tertegun dengan semua perkataan Star tadi. Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaannya saat aku bersama Rain. Aku jadi dilema.


"Ara, kau kenapa?" Cloud lagi-lagi bertanya.


"Cloud, aku ... mencintaimu," kataku lalu mengusap dahinya yang licin.


"Ara?" Dia tampak bingung.

__ADS_1


"Em, aku ke sini untuk memberi tahu lagu yang kumaksud waktu itu."


Aku tahu Cloud begitu sibuk. Jadi langsung kuutarakan saja tujuanku menemuinya. Perubahan roman wajahku ternyata menyita perhatiannya. Cloud menatapku tanpa berkedip.


__ADS_2