Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Please, Come Back...


__ADS_3

Cloud menyusuri jalan menuju bukit pohon surga seorang diri. Kini ia tidak lagi dapat merasakan kehangatan dari sang gadis. Ia merasa lemah, tak berdaya. Namun, sebisa mungkin ia terlihat biasa saja di hadapan penghuni istana.


Kini ia teringat saat terakhir kali menunggangi kuda bersama Ara. Ara tampak begitu bahagia bersamanya.


"Kau baik-baik saja?" Ara masih mengendalikan laju kudanya.


"Hm, ya. Kau sudah mahir melajukan kuda sekarang, Ara."


"Hahaha. Sebenarnya karena kepepet juga, sih. Demi untuk menemuimu." Ara berkata jujur kepada pangerannya.


"Dasar!" Cloud lantas mengusap-usap kepala gadisnya dari belakang.


Kini semua hanya tinggal kenangan yang tersimpan abadi di dalam hati. Cloud lalu semakin mempercepat laju kudanya. Ia ingin segera sampai di bukit pohon surga.


Di teras belakang kediaman Rain...


Rain duduk seorang diri di teras belakang rumahnya. Tak ada lagi canda, tak ada lagi tawa yang menyerta. Ia benar-benar kehilangan gadisnya.


Dipandanginya foto-foto yang ada di ponsel sang gadis. Rain pun kembali meneteskan air mata.


"Aku begitu lemah sekarang. Kau lihat, aku menangis, Ara. Aku menangis karena kehilanganmu. Apa kau juga demikian?" Rain bertanya sendiri sambil melihat satu per satu fotonya bersama sang gadis.


Kebersamaan yang terlewati tentunya tidak bisa dilupakan begitu saja. Canda tawa yang tercipta akan selalu terkenang di dalam jiwa. Rain begitu menyayangi gadisnya. Ia lantas memeluk ponsel Ara dengan erat, seolah sedang memeluk gadisnya.


"Aku mencintaimu. Dan sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu. Jika kau mencintaiku, kembalilah ke sini. Aku rela membagi kasih sayangmu dengannya asal kau tetap bersamaku. Ara ... kembalilah ...."


Air mata itu jatuh, semakin deras dari matanya. Kini Rain diliputi penyesalan, menyesal karena tidak dapat menjaga gadisnya. Dan kini gadis itu telah hilang dari pandangannya.


Waktu itu...


Napas Ara terdengar memburu setelah menyelesaikan satu lagu bersama Rain. Dan kini sang gadis tengah bersandar di dadanya. Rain membiarkan Ara beristirahat sejenak di dadanya yang bidang ini.


Perlahan jari jemari Rain menyusuri punggung sang gadis. Naik ke leher lalu memegangnya dengan lembut. Rain menatap Ara.


"Tidak ada yang begitu kuinginkan selain dirimu, Ara. Kau begitu sempurna di mataku." Rain tampak bersungguh-sungguh dengan perkataannya.


"Rain ...." Ara pun terkesima.


Tatapan kedua mata Rain seolah mencengkram tubuh sang gadis. Ara tidak dapat bergerak di hadapan sang pangeran.


"Segeralah selesaikan tugasmu. Aku sudah tidak sabar ingin selalu bersamamu," kata Rain lagi.


Ara pun mengangguk.

__ADS_1


...


"Ara ...." Napas Rain tersengal saat teringat kebersamaan itu.


"ARAAAAAA....!!!"


Ia lalu berteriak kencang, memanggil nama gadisnya. Tidak lagi peduli dengan berapa banyak orang yang mendengarnya.


Rain diliputi kesedihan yang mendalam. Gadis itu amat berarti bagi hidupnya. Ia telah menyerahkan segalanya kepada gadis itu. Bahkan hal yang seharusnya ia sembunyikan pun ia perlihatkan kepada Ara.


Rain tidak dapat menutupi sesuatu apapun. Ia sudah terlanjur mencintai dan menyayangi Ara sepenuh hati dan jiwanya.


Di waktu yang bersamaan, di bukit pohon surga...


Cloud baru saja tiba di bukit pohon surga. Ia lantas menuruni kudanya. Ia berjalan sambil memegang tali kudanya itu.


"Kita sudah sampai, White. Kali ini aku berjalan sendirian." Cloud berusaha tersenyum.


White seolah mengerti kesedihan tuannya. Ia diam seraya menunduk, seakan sedih karena tidak ada lagi yang menemani tuannya.


"Kita duduk di sini saja."


Cloud lantas menggulung tali kudanya. Ia kemudian duduk tak jauh dari pohon tin itu. Ia duduk seraya melihat pemandangan dari atas bukit. Dan entah mengapa, wajah Ara terbayang di benaknya. Gadis itu tersenyum manis ke arahnya.


Ara ... kau adalah alasan mengapa aku giat bekerja. Aku ingin membahagiakanmu, membahagiakan anak-anak kita kelak. Tapi mengapa kau meninggalkanku sekarang? Ah, tidak. Aku yakin kau baik-baik saja di sana, di tempat yang tidak aku ketahui. Tapi setidaknya, berikanlah kabarmu. Kau menyayangiku, bukan? Kau juga mencintaiku. Dan ... aku juga mencintaimu.


...


Jantungku berdetak karena kaulah alasannya.


Tidurku tak nyenyak, kumohon kembalilah.


Pikiranku berpacu dan kaulah alasannya.


Aku masih bernapas, kini aku putus asa.


Kan kudaki semua gunung.


Dan kurenangi semua laut.


Demi untuk bersamamu.


Dan perbaiki yang telah kulakukan.

__ADS_1


Oh, karena kuingin kau tahu bahwa kaulah alasannya...


Tanganku bergetar.


Dan kaulah alasannya.


Hatiku terus terluka.


Dan aku membutuhkanmu.


Andai bisa kuputar kembali waktu,


Kan kupastikan cahaya kalahkan gelap.


Kan kuhabiskan seluruh waktu, setiap hari.


Pastikan kau aman.


Kan kudaki semua gunung.


Dan kurenangi semua laut.


Demi untuk bersamamu.


Dan perbaiki yang telah kulakukan.


Oh, karena kuingin kau tahu bahwa kaulah alasannya...


Aku tak ingin bertengkar lagi.


Aku tak ingin sembunyi lagi.


Aku tak ingin menangis lagi.


Kembalilah, kuingin kau mendekapku...


Mendekatlah.


Mendekatlah.


Mendekatlah.


Malam ini kuingin kau mendekapku...

__ADS_1


...


Bagian Kelima Tamat


__ADS_2