Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Final Decision


__ADS_3

Menjelang pertengahan malam di Angkasa...


Rain meminta Ara menemaninya tidur. Tapi keadaan berbalik saat suhu tubuh Ara terasa panas. Sang pangeran pun sibuk mengompres dahi gadisnya agar panasnya lekas turun. Namun, Ara juga mual-mual malam ini, entah mengapa.


"Sayang, kau tidak sedang bercanda, kan?"


Rain heran saat melihat Ara bolak-balik ke kamar mandi. Ia merasa belum melakukan cocok tanam kepada gadisnya. Pikirannya pun ke mana-mana, khawatir Ara sedang mengalami sesuatu.


"Aduh, aku butuh jahe hangat." Ara merasa tidak enak badan.


"Aku minta pelayan ambilkan, ya?" Rain segera menawarkan.


"Tidak. Tidak perlu. Gendong saja aku ke dapur istana," kata Ara lagi.


"Gendong?!" Rain pun terkejut.


"He-em. Ayo cepat!" Ara segera memanjat tubuh tinggi pangerannya.


Mau tak mau sang pangeran pun menuruti keinginan gadisnya. Ia lalu menggendong Ara menuju dapur istana. Sepanjang perjalanan sang gadis merebahkan kepalanya di bahu Rain, dan tidak berbicara sama sekali.


Sayang, mengapa seperti ini? Mengapa kau manja sekali padaku? Kau tahu, perjalananku akan terasa amat berat jika sikapmu seperti ini. Aku berat untuk meninggalkanmu, Sayang.


Sesekali Rain menoleh ke Ara yang masih merebahkan kepala di bahunya. Ia pun tidak malu menggendong sang gadis dari kamar hingga ke dapur istana, melewati prajurit yang berjaga malam. Sesampainya di dapur, barulah Rain menurunkan Ara.


"Sayang, sudah sampai."


"Hah? Sudah, ya?" Ara melihat ke sekeliling.


Ara lalu duduk di kursi yang ada di depan meja makan dapur. Sedang Rain masih berdiri di hadapannya.


"Rain, buatkan aku wedang jahe. Bisa, kan?" tanya Ara kepada Rain.


"Aku ... tidak bisa, Sayang. Aku minta pelayan saja, ya?" kata Rain yang memang benar-benar tidak bisa membuat wedang jahe.


"Enggak mauuu, aku maunya kamu!" Ara semakin menjadi-jadi. Ia semakin manja kepada Rain.


Astaga ....


Rain pun mengusap keringat di dahinya. Perjalanan dari kediamannya menuju dapur istana ini tidaklah dekat, sehingga membuat sang pangeran keringatan. Dan kini sang gadis minta dibuatkan wedang jahe olehnya.


"Baiklah, aku coba." Rain akhirnya menuruti permintaan sang gadis.


Sebisa mungkin Rain membuatkannya untuk Ara. Ia mulai mencari jahe, gula merah, lada dan kayu manis. Ia kemudian mencuci semua bahannya, termasuk gula merahnya juga ikut dicuci oleh Rain. Ara pun terkekeh sendiri melihatnya. Ia sengaja mendiamkannya saja.


"Ini direbus semua, ya?" tanya Rain seraya menoleh ke Ara yang duduk di depan meja makan.


"Iya. Masukkan semua bahannya ke panci lalu kasih air. Rebus saja sampai mendidih," kata Ara yang menunggu.


"Em, baiklah." Rain pun menurut.


Menit demi menit dilalui keduanya di dapur istana. Hingga tak terasa sudah melewati pertengahan malam. Wedang jahe pun akhirnya tersaji, hasil karya Rain sendiri.

__ADS_1


"Ini wedang jahenya. Diminum ya," pinta Rain kepada Ara.


Ara pun mencicipi hasil buatan Rain. Dan rasanya...


"Aaaaaa! Kurang gula, enggak mauuu!" Ara menolak dengan manjanya.


Ya Tuhan, Sayangku ini ....


Rain akhirnya menambahkan gula pasir ke dalam wedang jahe Ara.


"Enggak mau gula putih, maunya gula merah," kata Ara lagi.


Malam ini sang pangeran dikerjai gadisnya. Rain bolak-balik menyempurnakan wedang jahe buatannya. Sampai akhirnya, keinginan Ara bisa terpenuhi olehnya.


"Bagaimana Sayang?" tanya Rain yang sudah keringatan.


"Em, ini baru!" Ara memberi dua jempol kepada Rain.


"Hah, syukurlah." Rain mengusap keringatnya. "Ya, sudah. Sekarang kita kembali ke kediamanku, ya?" Rain mengajak Ara.


"He-em." Ara pun mengangguk.


Keduanya lalu kembali ke kediaman Rain sambil membawa satu botol berisi wedang jahe hangat buatan Rain. Ara pun kembali tidur di sisi pangerannya. Namun...


"Rain, gigiku gatal." Ara mengeluhkan giginya yang gatal.


"Hah?!" Rain pun terkejut.


"Sayang, tapi kau sedang tidak enak badan." Rain mencegah, ia berpikir jika Ara meminta sesuatu padanya.


"Aku cuma minta buka baju saja. Kenapa pelit sekali?" Ara pun menggerutu.


Mendengar dirinya dikatain pelit. Rain pun lekas-lekas melepas bajunya. Ia kemudian membanting bajunya itu ke lantai, karena kesal.


"Ini!"


Ia kemudian mendekati Ara hanya dengan mengenakan celana panjangnya saja. Sedang dadanya tidak memakai apa-apa.


"Sini dekat lagi." Ara pun meminta agar Rain lebih dekat dengannya.


"Sayang, kau mau apa?" Rain merasa heran dengan tingkah Ara.


"Sudah diam saja." Ara kemudian memeluk Rain yang tidur di sisinya, dan...


"Aaaaaaaa!" Rain tiba-tiba menjerit. "Ara, apa yang kau lakukan?! Aaaaaa! Sakiiiittt!" Rain kesakitan.


Ara tidak memedulikan Rain yang berteriak kesakitan, ia terus saja menggigit sesuatu yang ada di dada Rain. Sang pangeran pun tak habis pikir dengan tingkah gadisnya malam ini.


Astaga, apa giginya sangat gatal sehingga harus menggigit dadaku? Harusnya kan aku yang seperti ini, bukan malah dia.


Rain tidak habis pikir dengan sikap Ara malam ini. Kini sang gadis masih menggigit-gigit dadanya. Seperti tidak ada benda lain yang bisa digigit. Dan akhirnya ia pun tertidur di pelukan Rain setelah merasa nyaman. Sedang sang pangeran segera menjauhkan dadanya dari wajah sang gadis. Ia melihat bekas gigitan Ara pada dadanya.

__ADS_1


Dia kenapa, sih? Malam ini aneh sekali.


Rain kebingungan sendiri.


Sayang, kau segalanya bagiku. Jangan memperberat keberangkatanku dengan sikap manjamu ini. Aku milikmu, selamanya akan jadi milikmu. Bersabarlah sampai hari bahagia itu tiba ya.


Rain mengusap lembut kepala gadisnya lalu menciumnya lama. Ia curahkan semua perasaannya yang ada di dalam jiwa kepada sang gadis. Perlahan-lahan suhu panas di tubuh Ara pun menurun. Rain lalu memeluk gadisnya.


Maafkan aku. Aku pergi bukan karena tidak mencintaimu. Justru karena kau begitu berharga di mataku, maka aku tak rela jika dia sampai mengusikmu.


Rain teringat perbincangannya di ruang kerja sang ayah...


"Jadi kau sudah membaca semua dokumennya?" tanya Sky kepada putranya.


"Sudah, aku juga sudah mempelajarinya," jawab Rain segera.


"Lalu bagaimana tanggapanmu? Batas pemberian jawaban hanya tinggal hari ini. Kita harus segera membuat keputusan," kata Sky lagi.


"Apakah tidak bisa menunggu seminggu lagi, Yah?" tanya Rain kepada ayahnya.


"Tidak bisa, Rain. Jikalau bisa, pastinya sudah ayah putuskan. Terlebih tanggal pernikahan tinggal menghitung hari. Mereka menginginkan kepastian," kata sang ayah.


Rain tertunduk. "Ini berarti aku tidak bisa menikahinya terlebih dulu." Rain murung seketika.


"Perjanjian akan tetap berlangsung selama kalian hidup. Kau tidak perlu mencemaskan hal itu. Lagipula sepulangmu nanti ke Angkasa, kau akan lebih lama menjalani kehidupan bersama Ara." Sky menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan Zu? Aku khawatir saat kepergianku dia malah menyerang Angkasa." Rain cemas.


"Jika kau mengambil misi ini, ayah sendiri yang akan datang ke Asia dan membicarakan hal ini kepada ayahnya. Kami akan berdiskusi mengenai permasalahan yang terjadi. Kau tidak perlu khawatir."


Seketika Rain menyadari jika sang ayah benar-benar ingin dirinya mengambil misi ini.


"Baik. Kalau begitu aku terima misi ini." Rain akhirnya menyanggupi.


"Kau sudah yakin?" tanya ayahnya memastikan.


"Biarlah aku mengalah beberapa waktu kepada kakakku. Karena ini bukan hanya untuk kebaikan kerajaan tapi juga penduduk negeri." Rain memutuskan.


"Kau hebat, Rain. Ayah bangga padamu." Sky menepuk pundak putranya. "Nanti ayah akan membicarakan hal ini kepada Cloud. Kau jangan khawatir." Sang ayah menenangkan.


Rain akhirnya menerima misi di hari-hari menjelang pernikahannya. Sebuah misi yang tidak bisa lagi ditunda. Ia pun harus merelakan Ara menikah dengan kakaknya setelah perjuangan panjang yang ia lakukan untuk sang gadis. Ternyata, sementara waktu si bungsu harus menunda keinginannya untuk menikahi Ara.


...


"Hah ...." Rain mengembuskan napasnya saat mengingat percakapan itu.


Aku harap keputusan yang kuambil ini tepat. Dan semoga saat kepulanganku nanti, Ara masih mau menikah denganku. Sayang, kau masih mau menikah denganku, kan?


Rain mencium kembali kening gadisnya, ia pun memeluk tubuh Ara dengan erat.


Tugas besar akan Rain pikul. Sepuluh negeri akan ia kunjungi dan mengadakan pelatihan militer untuk memperkuat pertahanan Angkasa. Kemenangannya di medan peperangan ternyata membuat banyak negeri tertarik untuk menyatukan wilayah kekuasaannya di bawah naungan Angkasa. Yang mana hal ini merupakan kabar gembira bagi istana.

__ADS_1


Hanya Rain yang mampu melakukannya. Hanya sang panglima yang dapat mengemban tugas besar ini. Walaupun ia harus meninggalkan gadis yang amat dicintainya, semua itu tidak lain karena demi negeri tercintanya. Rain akan melindungi negerinya dari setiap bahaya yang mengancam. Jiwa patriotisme amat melekat di dada sang pangeran.


__ADS_2