
Di teras belakang kamar raja...
"Pangeran, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan," kataku mengawali.
Kami duduk berdekatan sambil menatap taman kecil yang ada di belakang kamar raja ini. Di sini juga ada pancuran air yang terus mengalir tiada henti. Mungkin berfungsi sebagai terapis agar raja bisa tertidur nyenyak saat malam.
"Tanyakanlah, aku akan menjawab sebisaku." Zu tampak antusias menanggapi.
Entah dari mana aku harus memulai pertanyaan ini. Rasanya pertanyaanku akan sedikit berhubungan dengan urusan pribadinya. Dan aku khawatir akan terjadi salah paham di kemudian hari. Tapi, karena penasaranku begitu tinggi, aku tanyakan saja apa yang ada di dalam hati.
"Pangeran, aku melihat ada sesuatu yang aneh pada raja. Rambutnya masih hitam, tapi kenapa kulitnya bisa keriput seperti itu, ya?" tanyaku memberanikan diri.
Zu menghela napasnya. "Entahlah, aku kurang tahu akan hal itu. Tapi tabib istana bilang ayahku mengalami penuaan dini." Zu seperti ragu menjawabnya.
Penuaan dini? Aku jadi heran dengan jawaban yang diberikan oleh Zu. Apa ini ada hubungannya dengan percakapan ratu di pintu belakang istana?
"Em, Pangeran. Tadi saat aku masuk ke kamar raja, tiba-tiba kakiku terselandung dan merasa ada sesuatu yang aneh pada guci berbentuk patung itu." Aku meneruskan.
"Maksudmu patung guci berwarna putih yang ada di sudut kamar ayahku?" tanyanya seraya menoleh.
"He-em." Aku mengangguk.
"Guci itu punya ibu suri dan sudah lama berada di kamar ayahku," jawabnya segera.
"Ibu suri?"
"Ya, maksudku ratu yang sekarang. Dia ibu tiriku. Ibu kandungku sudah tiada, Ara." Zu tampak bersedih.
Apa?!
Sontak aku terkejut mendengarnya. Ternyata Zu tidak lagi mempunyai seorang ibu.
"Maaf, Pangeran. Aku tidak tahu," kataku menyesal.
"Tak apa." Dia mengusap kepalaku. "Sekarang ada kau yang menjagaku. Kau bersedia, bukan?" Zu memegang tanganku.
__ADS_1
Entah mengapa aku jadi merasa iba kepadanya. Aku pun ingin mengetahui lebih jauh tentangnya lagi.
"Pangeran, aku tidak ingin menuduh. Tapi, alangkah baiknya jika obat raja dihentikan," kataku.
"Dihentikan? Apa kau merasakan sesuatu?" tanyanya serius.
"Em ... aku tidak tahu kebenarannya. Tapi aku merasa ramuan obat itu bukannya menyembuhkan malah sebaliknya." Aku mencoba jujur.
"Tapi ... obat itu pemberian dari tabib istana yang sudah terpercaya. Apa mungkin dia berniat jelek?" Zu mencoba menelusuri perkataanku.
"Tadi aku melihat ada ular kecil berwarna hijau yang melompat ke arahku, saat mengambil satu butir pil itu. Tapi ternyata, ular itu tidak benar-benar ada. Namun, saat aku mencoba mengecek kondisi tubuh raja, aku melihat ada beberapa ular yang bersarang di perutnya."
"Apa?!!" Zu amat terkejut.
"Maaf, Pangeran. Aku tidak tahu ini benar atau tidak. Tapi aku bisa sedikit merasakan keanehan yang terjadi. Mungkin Pangeran ingin menyelidiki hal ini sendiri." Aku memberikan saran.
Entah apa yang Zu pikirkan, sepertinya ia mempercayai perkataanku. Lagipula untuk apa berbohong padanya, tak ada keuntungan yang kudapat.
"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya seraya menatap serius kedua mataku.
Aku sebenarnya takut salah bicara. Terlebih ini bukan di duniaku. Di duniaku saja jika salah bicara, ribuan haters akan menyerang. Entah jika di dunia ini.
"Baiklah. Aku akan menyelidikinya." Dia kemudian tersenyum lalu mengajakku kembali ke kamar ayahnya.
Aku tidak tahu cara ini berhasil atau tidak. Tapi semoga saja Tuhan menolongku untuk memecahkan misteri ini.
Lantas saja aku kembali ke kamar raja. Aku pun diminta oleh Zu untuk tidur di sofa yang ada di depan kasur. Sedang Zu bersama Shu menemani ayahnya tidur. Mereka berjaga di sisi kanan dan kiri sang raja. Dan tiba-tiba saja aku jadi terharu sendiri melihatnya.
Ayah, semoga kau baik-baik saja di sana. Maafkan Ara karena belum bisa kembali ke rumah. Masih banyak urusan yang belum terselesaikan di sini. Semoga ayah, ibu, Adit dan Anggi sehat selalu di sana. Doa Ara menyertai.
Kututup malam ini dengan doa, berharap hari esok lebih baik. Aku juga berdoa untuk kedua pangeranku, semoga mereka selalu sehat di sana.
Rain ... Cloud, aku ada pekerjaan di sini. Izinkan aku tinggal lebih lama di Asia. Ada sesuatu yang harus kupecahkan sebelum kembali ke Angkasa. Aku menyayangi kalian.
Malam pun semakin larut. Sang dewi akhirnya tertidur dalam mimpi dan angan indahnya. Ia pun mulai merasa betah tinggal di istana baru ini. Hatinya seperti digerakkan untuk memecahkan misteri yang ada. Rasa penasarannya begitu besar terhadap apa yang terjadi. Semesta pun ikut merestui niat baiknya.
__ADS_1
Sementara di Angkasa...
Menteri berjubah hijau mendatangi Sky yang sedang duduk di depan meja kerjanya. Tampak sang raja tengah memijat dahinya sendiri.
"Yang Mulia." Menteri itu menyapa Sky.
"Tuan Shane, apa sudah ada kabar dari pasukan khusus yang kita kirim ke Asia?" tanya Sky segera, begitu menyadari menterinya hadir.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Belum ada kabar terbaru dari mereka." Shane menundukkan kepala.
Sky beranjak berdiri. "Apakah mereka kesulitan memasuki istana Asia itu?" Sky bergumam sendiri.
"Yang Mulia, kabar terakhir pasukan khusus sudah sampai di dekat istana. Tapi mungkin benar seperti Yang Mulia katakan, mereka kesulitan untuk memasuki istana itu." Shane meneruskan.
"Apa mungkin penjagaannya lebih diperketat lagi?" Sky mengajak berargumen.
"Saya kurang mengetahui tentang hal itu, Yang Mulia. Tapi bisa saja terjadi jika nona Ara benar berada di sana." Shane menanggapi.
"Ya, aku juga berpikir demikian. Formasi sudah dibentuk sedemikian rupa agar bisa memastikan keberadaan gadis itu. Tapi sepertinya, tidak mudah bagi kita untuk memastikan apakah benar Ara ada di sana atau tidak." Sky kembali duduk di kursi kerjanya.
Shane turut prihatin. Ia hanya diam mendengarkan.
"Lalu bagaimana dengan pihak Negeri Bunga, apakah mereka masih menunda kedatangannya?" tanya Sky lagi.
"Menteri Luar Negerinya mengatakan jika Negeri Bunga sedang kedatangan tamu kehormatan dari Asia. Sehingga sementara waktu kunjungan ke Angkasa ditunda terlebih dahulu. Begitu yang bisa saya sampaikan, Yang Mulia." Shane menjelaskan.
"Hm, sepertinya kedua negeri itu sangat dekat." Sky berbicara sendiri.
"Apakah ada hal lain, Yang Mulia?" tanya Shane lagi.
"Tidak, terima kasih." Sky tersenyum kepada menterinya itu.
Menteri itupun segera undur diri dari hadapan Sky. Sedang sang raja masih mencari alternatif lain untuk memastikan keberadaan Ara, apakah benar ada di Asia atau tidak. Ia tidak ingin salah langkah ataupun terburu-buru dalam hal ini.
Sky khawatir kesalahan sekecil apapun bisa memicu perang dingin atau bahkan perang besar di antara kedua negeri. Terlebih saat ini Angkasa belum mampu menandingi kekuatan militer Asia. Ia terus berpikir, mencari solusi terbaik untuk kedua putranya.
__ADS_1
Cloud, Rain ... bersabarlah. Ayah masih berusaha. Semoga setelah mendapatkan kepastian, kita bisa bertindak untuk selanjutnya. Sementara ini Ayah ingin memastikan, apakah benar Ara ada di sana atau tidak.
Sebagai seorang ayah, tentunya menginginkan yang terbaik untuk putra-putranya. Dan Sky telah berusaha semaksimal mungkin untuk kedua putranya itu. Walau lelah karena usia, tetapi tidak sedikitpun menyurutkan niatnya untuk membahagiakan sang putra tercinta. Begitulah perjuangan seorang ayah untuk anak-anaknya.