Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Because of You


__ADS_3

Di istana Asia...


Sesampainya di istana, Zu segera menuju ruang kerjanya. Pagi-pagi buta ia memasuki ruang kerjanya ini. Dan ternyata, di depan jendela ruangannya tengah bertengger burung pengantar pesan. Iapun lekas-lekas membuka jendela ruangannya.


"Pasti ini dari pasukan yang kukirim ke Angkasa."


Diambilnya surat itu lalu dibacanya segera. Dan ternyata memang benar jika surat tersebut datang dari pasukan khusus yang ia tugaskan untuk mencari tahu keberadaan Ara di Angkasa. Namun, di saat membaca surat itu, hatinya diliputi rasa ketidakpercayaan.


"Apa?! Angkasa diserang?!"


Ia tidak menyangka jika akan mendengar kabar ini. Ia lantas memahami maksud dari isi surat tersebut lalu segera memberikan balasannya.


"Tolong sampaikan kepada pasukanku." Zu memberikan suratnya kepada burung naga pengantar pesan.


Zu melihat kepergian burung pengantar pesan sambil terus memikirkan hal apa yang sebenarnya terjadi di Angkasa. Ia khawatir jika sesuatu terjadi kepada gadisnya itu, Ara.


"Ara, apakah kau baik-baik saja di sana? Aku begitu mencemaskanmu. Aku tidak tahu di mana kau sekarang. Kumohon berilah kabar untukku."


Zu diliputi kecemasaan dan rasa sesal karena tidak sempat menemui Ara, sebelum gadis itu pergi dari istana. Pekerjaan yang menumpuk lagi-lagi membuat sang pangeran harus fokus ke satu tujuannya, serah terima jabatan raja.


"Apa mungkin pihak Angkasa yang menjemputnya? Tapi keadaan mereka sedang diserang sekarang. Ya Tuhan ... kenapa pikiranku terpecah belah seperti ini?"


Zu memegangi kepalanya, merasa pusing sendiri. Pikirannya diselimuti kecemasan berlebihan terhadap keadaan sang gadis. Pasukan khusus yang ia kirimkan pun sementara harus tertahan karena tidak dapat memasuki pelabuhan Angkasa.


Sampai kapan aku harus menunggu?


Zu merasa tidak sanggup lagi untuk terus menunggu. Ia begitu merindukan gadisnya.


Kecemasan yang dialami Zu, ternyata bukan hanya dirasakan olehnya. Putra sulung kerajaan Angkasa ini juga begitu cemas saat tidak menemukan Ara di dalam kamarnya. Seketika pikirannya panik, mencemaskan keadaan sang gadis yang entah berada di mana.


Di istana Angkasa...


"Ara, kau di mana?"


Cloud mencari Ara ke sekeliling kamar hingga sampai ke taman kecil yang ada di atas kamarnya. Namun, sang gadis belum juga ditemukan.


"Astaga! Ara, kau di mana?!" Ia merasa kelabakan saat tidak menemukan gadisnya.

__ADS_1


Dengan cepat Cloud bergegas menuruni anak tangga lalu kembali ke kamarnya, melewati pintu kamar lalu keluar begitu saja. Cloud segera keluar dari ruang kerjanya untuk mencari keberadaan Ara.


Langkah kakinya terdengar begitu cepat karena rasa panik sedang menerjang pikirannya. Ia tidak ingin lagi kehilangan Ara.


"Penjaga, apa kau melihat Ara?" tanya Cloud kepada pasukan yang berjaga di depan ruangannya.


"Maaf, Pangeran. Semalam kami melihat nona keluar dari kamar lalu menuju ke lantai tiga istana," jawab salah satu pasukan yang berjaga.


"Lantai tiga?" Cloud tampak berpikir.


Tak lama sang pangeran pun segera menuju ke lantai tiga istana untuk mencari gadisnya. Ia bergegas menaiki anak tangga.


Sesampainya di lantai tiga, ia kembali menanyakan kepada pasukan yang berjaga tentang keberadaan Ara. Dan akhirnya Cloud mengetahui ke mana gadis itu menuju.


Astaga, dia ke teras atap istana?! Aku harus cepat!


Sang pangeran tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju teras atap istana. Dan sesampainya di sana, ia melihat tim pemanah sudah tidak lagi berjaga, melainkan tertidur di titik jaganya masing-masing. Hingga akhirnya rintik-rintik hujan mulai turun membasahi. Angkasa dituruni rintik hujan dari langit.


"Ara!!!"


Cloud berteriak saat melihat gadisnya terbaring di tengah-tengah teras atap istana. Teriakannya itu mampu membangunkan seluruh tim pemanah yang ada. Ia pun segera berlari mendekati Ara lalu mendekap tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


Ditepuk-tepuknya pipi sang gadis agar Ara terbangun. Tapi sang gadis tidak juga terbangun. Cloud lalu segera menggendong Ara menuju lantai tiga istana.


Beberapa saat kemudian...


Fajar telah datang. Istana Angkasa juga sudah berada di fase aman dari penyerangan. Namun, para pasukan belum dapat menyelesaikan tugasnya sebelum kabar keberhasilan Rain diterima. Mereka bergantian istirahat sebelum kembali berjaga di titiknya masing-masing.


Saat ini pukul lima pagi waktu sekitarnya. Terlihat sang gadis baru saja selesai diperiksa oleh salah satu tabib istana. Gaunnya kini sudah berganti dan ia juga sudah dimandikan oleh para pelayan rumah kecantikan istana. Namun, sang gadis masih belum juga terbangun dari tidurnya.


Gadis bergaun putih itu masih tertidur di atas kasur besar yang ada di salah satu ruang lantai tiga istana. Cloud pun masih setia menemani. Ia tampak menahan kesedihan karena lagi-lagi harus melihat Ara dalam keadaan seperti ini.


"Pangeran Cloud, Anda tidak perlu cemas. Nona Ara dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin dia hanya kelelahan," tutur tabib yang memeriksa.


Cloud terdiam. Ia seperti kehilangan kata-kata.


"Saya berikan resep ini. Jika nona sudah terbangun, maka minumlah ramuan seperti yang ada di dalam resep. Semoga keadaannya lekas pulih." Tabib itu memberikan resepnya kepada Cloud.

__ADS_1


"Terima kasih, Paman. Aku berharap dia akan segera tersadarkan." Cloud menahan kesedihannya.


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi, Pangeran." Tabib berpamitan.


Cloud mengangguk.


Sang pangeran lalu duduk di pinggir kasur gadisnya. Ia belai lembut wajah Ara yang begitu pucat. Dan tanpa disadari, air matanya menetes membasahi pipi.


"Ara, maafkan aku. Aku tidak bisa menjagamu. Aku memang tidak becus menjadi seorang pria!" Cloud mencaci maki dirinya sendiri.


Sang ayah, Sky tak lama datang memasuki ruangan, tempat di mana Ara dibaringkan. Raja Angkasa itu datang dan melihat keadaan Ara seusai bertemu dengan tabib yang memeriksa, di depan ruangan tadi.


"Cloud." Sky menghampiri putranya.


"Ayah?" Cloud menoleh.


"Cloud, Ara—"


"Tabib bilang dia baik-baik saja, Yah. Tapi entah mengapa hatiku tidak merasa yakin atas ucapannya." Cloud berbalik, menghadap Sky.


"Mari kita bicarakan di luar saja, Nak." Sky meminta agar membicarakan hal ini di luar ruangan.


Cloud pun menuruti, ia mengikuti ayahnya ke luar ruangan. Keduanya kemudian berbincang mengenai Ara, di kursi yang ada di depan ruangan tempat Ara dirawat. Tampak Sky yang prihatin dengan keadaan calon menantunya itu. Sementara Cloud duduk gelisah karena meninggalkan Ara sendirian di dalam. Ia tidak ingin terjadi sesuatu apapun kepada gadisnya. Cloud amat mencintai Ara.


...


Kau adalah udara yang kuhirup.


Kau adalah segala yang kubutuhkan.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan.


Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.

__ADS_1


Gadis, dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?


Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona...


__ADS_2