Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I Love U


__ADS_3

"Putri, si kecil di mana?"


Aku mencoba membuka percakapan karena Rainku tampak sinis dengan sepupunya itu, Star.


"Dia sedang bersama neneknya, Nona," jawab Snow seraya tersenyum. "Sepertinya Nona Ara ingin sekali mempunyai bayi perempuan, ya?" Snow bergantian bertanya padaku.


"Hm, iya. Melihatnya sangat gemas sekali," jawabku.


"Kalau begitu, segerakan pernikahannya. Pangeran Rain, Nona Ara kelihatannya sudah siap untuk mempunyai bayi. Apakah masih ada yang ditunggu?" tanya Snow seraya tersenyum.


Aku menunggu jawaban Rain. Kira-kira apa yang akan dijawab olehnya, ya?


"Kami akan segera melangsungkan pernikahan. Jika Ara memang ingin lebih cepat mempunyai bayi, aku siap membuahi." Rain lalu mencium pelipis kiriku.


"Rain! Kau ini apa-apaan, sih!" gerutuku karena malu dengan jawabannya yang seperti itu.


"Jadi kapan menyusul kami?" Star akhirnya ikut bicara.


Rain tersenyum tipis lalu menoleh ke arahku yang duduk di sisi kanannya. "Secepatnya. Kalau bisa besok."


"Rain!"


Kucubit perutnya itu yang bersikap sangat santai sedang ada istri Star. Rain pun mengusap-usap perutnya yang terkena cubitanku ini.


"Kalian ini lucu, ya."


Snow menutup mulutnya, menahan tawa. Sepertinya tingkah kami sangat menggelitik putri bergaun putih ini. Sementara Star seperti sedang mencari bahan untuk mengobrol.


"Em, maaf. Aku masih ada pekerjaan yang harus kulakukan, Putri, Pangeran Star. Aku tinggal tak apa, ya?" tanyaku kepada sepasang suami istri ini.


"Iya, tak apa, Nona Ara," sahut Snow seraya tersenyum.


"Ara, kau ingin ke mana?" Rain menahan tanganku.


"Aku ingin melanjutkan pekerjaanku, Rain. Kutinggal, ya?"


"Aku juga ikut." Rain ikut berdiri.


"Rain, tidak enak."


"Tak apa," sahutnya. "Star, Putri Snow. Kami pamit. Lain kali kita bisa melanjutkan obrolan ini."


Rain juga berpamitan kepada keduanya, ia lalu menggandeng tanganku ini. Aku pun membungkukkan badan sebelum meninggalkan gazebo. Sedang Snow dan Star ikut berdiri mengantarkan kepergian kami.


"Rain, kau ini apa-apaan, sih! Aku malu tahu," gerutuku saat berjalan bersamanya.


"Memang benar, kan?"


"Apanya?" tanyaku kesal.


"Aku memang benar siap membuahimu, Ara. Hanya kau saja yang selalu menahannya."


"Kan belum waktunya."


"Kan bisa dicicil."


"Rain!"


"Ara ...."


Rain lalu menarik tubuhku, dia merangkul seraya mengusap-usap kepalaku ini. Dia tampak begitu bahagia. Senyumnya kulihat mengembang hingga gigi-giginya itu terlihat.


"Dasar!" kataku lalu kami berjalan bersama menuju manshion-nya.


Rain sama sekali tidak malu menunjukkan kemesraannya di hadapan orang lain. Aku merasa begitu dimiliki olehnya.


Sesampainya di kediaman Rain...

__ADS_1


"Ara, celanaku lengket."


"Terus?"


"Bisa tolong aku?"


"Tolong apa?"


Aku sedang duduk-duduk di kamarnya sambil membaca beberapa buku strategi perang milik Rain. Cemilan anggur pun menemaniku menjelang sore ini.


"Bantu aku membersihkannya." Rain melepas semua pakaiannya di hadapanku.


Astaga!!!


"Rain! Kau ini tidak malu sama sekali! Dasar mesum!"


"Hei, hei. Jangan marah-marah, Sayang. Lagipula tidak ada lagi yang harus kututupi darimu. Jadi tak apa jika aku begini."


Dia tanpa malu masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa semua pakaiannya itu, dengan tanpa menutupi tubuh sedikit pun. Aku jadi melihat sesuatu yang tergantung di tengah rerumputan hitam itu.


Astaga ... dia tidak malu sama sekali memperlihatkannya. Apa dia memancingku?


Kutelan banyak-banyak buah anggur ini ke dalam mulut sambil membuang pandangan darinya. Kudengar Rain terkekeh lalu menutup pintu kamar mandi.


"Aku mencintaimu, Ara! Sangat mencintaimu!" teriaknya, seperti sambil menghidupkan keran air.


"Dia itu benar-benar, ya." Aku menggerutu sendiri.


Tak lama terdengar guyuran air dari dalam kamar mandi. Sepertinya dia sedang menggosok badannya dengan sabun.


"Aku mencintaimu!" teriaknya lagi.


Aku tidak mengerti mengapa harus terjebak di situasi seperti ini. Ini baru Rain, belum Cloud. Bagaimana jika kudapatkan keduanya? Apakah aku bisa membagi waktuku?


Beberapa menit kemudian...


Rain keluar dari kamar mandi sambil menghanduki rambutnya yang basah. Aku sendiri sedang melihat-lihat pedang yang dimilikinya dari luar lemari hias, dekat pintu masuk kamar.


"Kau tidak mandi, Ara?" tanyanya seraya membuka lemari pakaian.


"Aku tidak membawa pakaian ganti," jawabku.


"Mandi saja, nanti aku siapkan pakaian ganti untukmu."


"Tidak, ah. Nanti kau mengintipku lagi," kataku seraya menoleh ke belakang, melihatnya.


"Tenang, aku tidak akan mengintip. Hanya melihatnya saja."


"Itu lebih parah, tahu!"


"Hahaha. Sudah sana cepat mandi. Aku tahu jika kau pun basah tadi." Rain tampak senang dengan ulahnya itu.


"Kau, sih. Genit!" seruku seraya berjalan melewatinya.


"Tapi aku yakin kau pun menyukainya."


"Bodok!"


Aku mengambil handuk lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri setelah melakukan perjalanan bersamanya.


Kamar mandinya begitu bersih dan wangi, seperti kamar mandi wanita. Rain membuatku takjub dengan kepribadiannya yang selalu menjaga kebersihan. Meskipun pekerjaannya itu terkadang harus terkena debu dan kotoran.


Aku mengaguminya sebagai sosok pengajar bagiku. Rain mau mengajariku hal-hal baru. Dari mulai memanah hingga bermain pedang. Aku jadi semakin menyayanginya.


Beberapa menit kemudian...


Selepas mandi, aku melihatnya sudah tertidur dan berselimut tebal. Kulihat di samping lemarinya sudah tersedia gaun untukku. Gaun berwarna merah dengan dasar lembut seperti sutra. Dengan bagian bahu terbuka, namun terkait di bagian lehernya. Tapi setelah aku memakainya, ternyata belahan kaki gaun itu tinggi sekali.

__ADS_1


Rain serius memintaku untuk mengenakan gaun ini?


Aku berkaca diri. Mencoba melangkah untuk mengetahui seberapa lebar belahan kakinya. Dan ternyata, setengah pahaku terlihat kala berjalan.


"Kau menyukainya?"


Tiba-tiba saja Rain menanyakan tentang gaun yang kukenakan ini. Dia terbangun dan melihat ke arahku.


"Rain, kau serius ingin aku memakai gaun ini?" tanyaku ragu.


"Iya. Tak apa."


"Tapi bukannya—"


"Kalau di depanku tak apa."


"Huh! Dasar!"


"Ini kan gaun dansa, Ara. Kemarin aku melihat gaun ini di konveksi paman Rich. Dan aku tertarik untuk membelinya."


"Untukku?"


"Tidak, untuk ibuku."


"Huh!"


"Ya, jelas untukmu, Ara."


Rain beranjak dari tidurnya lalu mendekat ke arahku. Kulihat dia mengenakan celana dasar panjang berwarna putih tanpa mengenakan baju.


"Tapi, sepertinya ada yang kurang." Rain lalu membuka lemarinya.


"Ap-apa ini, Rain?!" Aku terperanjat melihat sesuatu yang Rain berikan padaku.


"Pakai dalaman ini biar tidak menonjol." Rain memberiku pakaian dalam.


Aku pun menelan ludah. Dia begitu teliti sekali dengan keperluanku, sampai-sampai menyiapkan dalaman untuk kupakai.


"Pakailah, atau mau kubantu memakainya?" tanyanya genit.


"Tidak-tidak. Biar aku saja!"


Aku lalu masuk ke kamar mandi untuk memakai dalaman itu. Setelah kupakai, dadaku terlihat semakin besar.


Dia sepertinya sengaja memberiku ini.


Rain menyiapkan segala keperluanku. Di lemarinya itu ternyata banyak tersimpan keperluan wanita. Dari pakaian dalam, gaun, baju tidur, hingga peralatan make-up. Aku tidak mengerti mengapa semua itu sudah ada di dalam lemari besarnya.


"Nah, sekarang ... kau bak putri raja, Sayang."


Rain memelukku dari belakang saat bercermin dengan gaun dansa berwarna merah ini. Aku pun merasa geli saat rambut halusnya itu menyentuh telinga kananku.


"Rain, tapi dadaku ...,"


"Tak apa, gunanya busa itu kan untuk menyamarkan yang kecil."


"Tapi punyaku tidak kecil, Rain."


"Iya, terlihat lebih besar kan tak apa, Sayang." Rain mencubit kedua pipiku dari belakang.


Aku sungguh bahagia diperlakukan seperti ini olehnya. Hal sekecil apapun, dia sangat memperhatikannya. Serasa aku dengannya itu tidak mempunyai jarak lagi.


Ya, jujur saja. Aku lebih menjadi diriku sendiri di hadapan Rain. Tidak perlu segan, sungkan, malu ataupun berbasa-basi. Ara di hadapan Rain adalah Ara yang sesungguhnya.


"Kita tidur ya, Ara. Aku sudah sangat lelah."


Dia lalu menarikku ke atas kasurnya. Kami kemudian menutup malam ini dengan tidur bersama, tanpa melakukan apapun.

__ADS_1


__ADS_2