
Satu jam kemudian...
Aku dan Cloud tidak langsung kembali ke istana. Dia mengajak ku mengunjungi sebuah rumah di kawasan elit yang letaknya tidak terlalu jauh dari istana. Mungkin jarak tempuh ke istana sekitar dua puluh menit perjalanan dengan menunggangi kuda dalam kecepatan sedang. Dan kini aku sedang memasuki rumah yang menurutku luas dan juga mewah.
Rumah yang kumasuki ini mungkin luasnya ada sekitar 50x50 meter, sedang halamannya sekitar dua kali lipatnya. Di halaman belakangnya juga ada kolam renang yang dibentuk seperti pesisir pantai, amat elok dipandang. Rasanya aku ingin sekali tinggal di sini.
Semua perabotan rumah tangga telah tersedia, sehingga jika ingin tinggal tidak perlu membawa apa-apa. Dan yang lebih menakjubkannya, kamar utama di rumah ini begitu luas, sekitar 10x10 meter dengan segala fasilitasnya. Di dalam kamar utama juga terdapat lemari besar yang telah terisi berbagai keperluan wanita, dari pakaian dalam hingga gaun pesta.
Andai aku bisa mempunyai rumah seperti ini.
Rumah ini beratap plafon putih dengan ukiran batik di setiap sisinya. Lantainya juga berkeramik putih dengan cat dinding berwarna ungu muda. Di salah satu sudut ruangan terdapat alat musik yang mumpuni. Mulai dari piano, biola, gitar dan juga drum kayu. Semuanya bisa dimainkan secara akustik.
Aku tidak tahu apa maksud Cloud mengajak ku ke sini. Tapi rasanya beristirahat sebentar setelah seharian penuh berjalan-jalan, tidak apa-apa. Dan kini aku sedang berada di teras atap rumah. Dari sini aku bisa melihat susunan bunga taman yang membentuk hati.
Romantis sekali rumah ini.
Angin sore yang sejuk membuatku mengantuk. Aku kemudian duduk di ayunan rotan yang ada di teras atap ini. Kupandangi langit biru yang terlukis cahaya kuning kemerah-merahan. Sepertinya petang akan segera tiba.
"Ara, kau di sini rupanya."
Cloud mendatangiku setelah berbincang bersama keempat pasukan khusus yang berjaga. Dan kini dia tidak lagi mengenakan seragam kerajaannya, melainkan hanya sweter wol tebal putih dan celana dasar abu-abunya.
"Cloud, kau tidak memakai jubah kerajaanmu?" tanyaku heran.
Dia tersenyum lalu duduk di sampingku. Dia juga membawakan segelas kopi untukku. Aku jadi bertambah heran dengan sikapnya. Ini kan bukan di istana, tapi mengapa dia menganggap seperti di rumah sendiri?
"Kau sudah melihat semua ruangannya, Ara?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.
"Hm, sudah. Aku rasa jika semua perumahan seperti ini maka akan dijual sangat mahal. Apakah ini pembukaan lahan yang waktu itu?" tanyaku lalu menyeruput kopi yang dia berikan.
"Ya, benar. Kawasan perumahan ini adalah pembukaan lahan yang kita rencanakan dulu. Dan sekarang semua rumahnya sudah hampir jadi."
"Hah? Benarkah?!" Aku tak percaya.
__ADS_1
"Iya, Ara. Apa kau menyukai rumah ini?" tanyanya padaku.
"Hm ... aku suka rancangan rumah ini. Tata letaknya juga membuat penghuninya merasa betah. Aku sendiri ingin tinggal di sini. Kau pasti akan menjualnya dengan sangat mahal, bukan?" selidikku.
"Tidak." Dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak?" Aku jadi bingung.
Cloud lalu berdiri, dia berjalan ke depan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Dia lalu menoleh sedikit ke arahku.
"Rumah ini kuberikan untukmu, Ara."
"Ap-apa?!"
Jantungku tiba-tiba berpacu cepat saat mendengarnya. Aku seperti sedang bermimpi saja, seolah salah mendengar apa yang dia ucapkan.
"Cloud, apa kau sedang mabuk?" tanyaku lalu berjalan mendekatinya.
Kutatap matanya, kuperhatikan wajahnya, dan kucoba membaca gerak-gerik dari bibirnya. Dia kemudian tersenyum manis padaku dan juga mengusap kepalaku.
"Hah?!" Lagi dan lagi aku seperti salah mendengar.
"Semenjak menyadari jika ternyata aku mencintaimu, kuputuskan untuk membangun sebuah rumah di kawasan ini. Rumah ini kubangun untukmu dan juga untuk anak-anak kita kelak." Dia tersenyum manis sekali.
"Cloud ...." Entah mengapa tiba-tiba aku jadi terharu.
Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dia memegang tanganku lalu memberikan sesuatu kepadaku.
"Ini kunci rumahnya. Kau bisa tinggal di sini mulai hari ini."
"Tap-tapi—"
"Kau tidak perlu tinggal di rumah Rain lagi. Sekarang kau sudah mempunyai rumah sendiri, Ara." Cloud mencubit kedua pipiku.
__ADS_1
Aku tidak dapat berkata apa-apa mendengarnya. Dan tanpa terasa kristal bening ini mulai menetes membasahi pipi. Cloud pun segera mengusapnya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Ara. Aku berharap kau mau menjadi ibu dari anak-anakku. Aku tidak mempunyai pilihan lagi selain dirimu. Sepenuhnya akan kuserahkan segala yang kupunya."
"Cloud—" Aku mencoba menyela.
"Ssst." Dia menahan ucapanku dengan meletakkan jari telunjuknya di bibirku. "Malam ini mari habiskan waktu bersama, karena esok hari-hari sibuk sudah dimulai," pintanya lembut.
"Apa ini berarti kau akan meninggalkan aku sendirian di sini?" tanyaku ingin kepastian.
"Tidak, Sayang. Aku akan pulang cepat besok. Awal sore aku akan segera kembali ke sini. Jadi ... kau tidak akan merasa sendiri." Dia mencolek hidungku.
"Hm, baiklah. Tapi mengapa aku tidak diperbolehkan tinggal di istana lagi?" selidikku padanya.
Kulihat dia mengembuskan napasnya dengan berat. Aku tidak tahu kenapa, tapi mungkin saja dia sudah mengetahui hal yang sebenarnya terjadi waktu itu.
"Ara, semenjak remaja aku kurang begitu akur dengan ibu. Dan kemarin ayah sudah menceritakan padaku perihal apa yang ibu lakukan padamu," katanya.
"Lalu?"
"Aku memang tidak ingin tinggal di istana. Aku ingin mandiri bersamamu, bersama istriku sendiri. Lagipula aku tidak tega melihat istriku kesulitan bergerak karena sering melihat mertua perempuannya." Dia menggodaku.
"Ish, apa sih!" Aku pun mencubit lengannya.
"Aw! Sakit tahu!" Dia mengusap-usap lengannya.
"Biar saja. Biar tahu rasa. Wee!" Aku mengejeknya.
Aku segera berlari menjauh darinya. Kutinggalkan saja dia sendirian di teras atap rumah ini. Sambil tersenyum-senyum sendiri, kuturuni anak tangga menuju lantai satu. Tak menyangka jika hari ini aku akan diberi hadiah besar olehnya.
Cloud ... tenyata kau sudah mempersiapkan semua ini untukku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Sampai-sampai tidak sanggup berterima kasih. Tapi, syaratmu sungguh berat bagiku. Haruskah aku melahirkan anak-anakmu untuk dapat memiliki rumah ini? Dasar! Kau memang bisa saja menguntai kata-kata.
Ara amat bahagia dengan kejutan yang Cloud berikan padanya. Iapun menuju halaman belakang rumah untuk menikmati pemandangan kolam renang yang bak di pantai. Sedang sang pangeran tertawa kecil lalu menatap ke langit. Ia merasa amat bahagia karena hari ini dapat menghabiskan waktu bersama gadis yang dicintainya.
__ADS_1
Cloud tidak hanya menginginkan Ara menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Tapi juga membutuhkan sang gadis untuk mengisi setiap relung hatinya. Karena ia menyadari jika hanya Ara lah yang dapat memenuhi semua kebutuhannya. Baik lahir maupun batinnya.