Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
No Matter What


__ADS_3

...No Matter What...


...Disclaimer...


...Artist : Boyzone...


...Pencipta : Andrew Lloyd Webber, Jim Steinman...


...Album : Where We Belong...


...Label : Polydor...


...Released : 3 August 1998...


...


Irama lagu dimainkan. Suara biola menggema di ruang utama istana sebagai pembuka nada. Ara pun mulai bernyanyi. Ia ditemani Cloud bernyanyi di atas panggung ini.


Ara : "No matter what they tell us ... No matter what they do ... No matter what they teach us ... What we believe is true..."


Ara tersenyum kepada Cloud.


Cloud : "No matter what they call us ... However they attack ... No matter where they take us ... We'll find our own way back..."


Cloud memegang tangan kiri Ara dengan tangan kanannya.


Terbayang saat-saat pertama kali bertemu. Keduanya mengenang kembali bagaimana perjumpaan mereka. Ara yang malu-malu dan Cloud yang cepat menyadarinya, menjadi kenangan tersendiri bagi keduanya. Kenangan indah itu tersimpan abadi di dalam hati.


Cloud : "If only tears were laughter ... If only night was day ... If only prayers were answered ... Then we would hear God say..."


Cloud menatap dalam gadisnya.


Para pangeran dan putri yang berdansa tampak menikmati sesi acara ini. Tak terkecuali Zu. Ia berangan jika Ara lah yang berdansa dengannya. Memejamkan kedua mata, mencoba menghayati suara merdu sang gadis yang mengalun indah di pendengarannya.


Ara : "And I will keep you safe and strong ... And shelter from the storm ... No matter where it's barren ... A dream is being born..."


Ara dan Cloud berdansa, ikut bersama pasangan dansa lainnya. Mereka terlihat tersenyum bahagia.


Cloud lantas memegang tangan sang gadis lalu Ara pun memutar tubuhnya. Sang pangeran menatap gadisnya itu penuh dengan perasaan cinta.


Cloud : "No matter who they follow ... No matter where they lead ... No matter how they judge us ... I'll be everyone you need..."


...No matter if the sun don't shine. Sun don't shine....


...Or if the skies are blue. Skies are blue....


...No matter what the ending ... My life began with you......


Dan kenangan itu akan selalu abadi...


...I can't deny what I believe. What I believe....

__ADS_1


...I can't be what I'm not. I know, I know...


...I know this love's forever......


...That's all that matters now...


...No matter what......


Lagu itu akhirnya menjadi saksi perasaan mereka. Cloud lantas menarik Ara agar lebih dekat kepadanya. Ia lalu mengecup kening sang gadis, tanpa menyadari di mana gerangan dirinya berada saat ini. Sontak saja hal itu membuat Ara terkejut.


Cloud menggenggam tangan kiri Ara lalu menghadap ke arah tamu undangan. Keduanya membungkukkan badan, memberi hormat. Para hadirin pun bertepuk tangan menyambutnya.


Rain ....


Bersamaan dengan itu Ara melihat Rain keluar dari ruangan. Wajah sang pangeran terlihat kesal. Seketika Ara menjadi tidak enak sendiri. Ia bergegas ke belakang panggung setelah memberi penghormatan kepada hadirin. Cloud pun mengikuti.


Ternyata bukan hanya Rain saja yang keluar dari ruangan. Tapi juga ibunya, Moon. Moon tampak kurang suka dengan hal yang dilakukan putranya. Ia terlihat kesal dan hal itu cepat disadari oleh Sky. Namun, Sky membiarkan istrinya keluar sendiri. Ia tidak mengejarnya.


"Ara, tunggu!"


Cloud berjalan cepat mengikuti gadisnya. Namun, Ara terus saja berjalan seolah tidak menghiraukannya.


"Cloud, tadi itu tidak ada dalam skenario." Ara menjelaskan seraya berjalan.


"Maksudmu, ciuman tadi?" tanya Cloud yang mengingat kembali.


Ara pun berhenti, tepat di depan pintu masuk ruangan ganti.


"Kau marah padaku karena hal itu?" tanya Cloud lagi.


Ara diam saja.


"Ara, jawab aku. Aku tidak suka didiamkan seperti ini." Cloud pun meminta.


"Cloud ...,"


"Ara, aku akan menjadi suamimu. Apa aku salah melakukan hal itu?" Cloud memegang wajah Ara dengan kedua tangannya.


"Tapi itu terlalu mencolok, Sayang. Banyak yang melihatnya. Apa kau tak malu?" Ara balik bertanya.


"Malu? Malu untuk apa, Ara? Semuanya sudah tahu jika kita akan segera menikah. Kau akan jadi milikku seutuhnya." Cloud heran dengan pikiran gadisnya.


"Ya, sudah. Aku mau berganti pakaian dulu."


"Tidak-tidak. Aku tidak akan pergi sebelum masalah ini selesai," kata Cloud lagi.


Ara menghela napasnya lalu mengembuskan pelan.


"Baiklah-baiklah, aku minta maaf. Tadi aku memang salah, melampaui skenario yang sudah dirapatkan. Sekarang tolong maafkan aku, dan jangan mencoba untuk menghindar dariku lagi." Cloud meminta kepada gadisnya.


"Iya." Ara pun mengangguk.

__ADS_1


"Aku ingin yang tulus."


"Iya, Sayang." Ara tersenyum gemas kepada Cloud.


Cloud lantas memeluk gadisnya itu. "Aku begitu menyayangimu, Ara. Jangan pernah mencoba menghindar dariku," katanya lagi.


"Iya, iya. Dasar bawel!" Ara lantas mencubit perut Cloud.


"Aw!"


"Sudah sana! Aku masih akan tampil." Ara meminta Cloud kembali ke tempatnya.


"Baiklah, sampai nanti." Ia kemudian melepaskan pertemuan ini.


Cloud bergegas kembali menemani ayahnya di lantai dua teras istana. Ara pun melepas kepergian pangerannya. Tapi, ia tidak langsung masuk ke ruang ganti dulu, melainkan mencari Rain. Ara merasa jika Rain kesal kepadanya.


Beberapa saat kemudian...


Ara menemukan Rain sedang membasuh muka di pancuran air yang ada di taman. Ia lantas menunggu sampai sang pangeran selesai.


"Kau marah padaku?" tanya Ara setelah Rain mengelap wajahnya.


"Ara? Kau di sini? Sejak kapan?" Rain kaget dengan kehadiran Ara yang tiba-tiba.


"Aku lihat kau keluar ruangan tadi. Jangan bilang kalau marah." Ara tampak menunggu.


Rain membuang napasnya. Ia seperti sedang menahan kesedihan.


"Aku merasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya, Ara." Rain merasa rendah diri.


"Rain, mengapa kau bicara seperti itu?" Ara tak menyangka jika Rain akan seperasa ini.


"Ya, dia bisa bernyanyi, bisa bermain biola. Sedang aku ... aku bisa apa untuk merebut hatimu?"


Perkataan Rain tentu saja membuat hati Ara terenyuh. Ia lantas memeluk Rain.


"Rain, jangan berkata seperti itu. Aku menyayangimu, apa adanya. Aku tidak peduli kau bisa bernyanyi atau tidak. Bisa bermain alat musik apa tidak. Kita bisa belajar bersama jika kau mau." Ara menyemangati.


Ara .... Rain lalu mengusap rambut gadisnya. Kau memang penenang hatiku.


Rain membalas pelukan Ara. Ia kemudian mengecup kepala sang gadis, menyalurkan perasaan sayangnya.


Jadi gadis itu mempunyai hubungan khusus dengan kedua pangeran kerajaan ini?


Tanpa Rain dan Ara sadari, ternyata Zu melihat keduanya sedang berpelukan. Ia juga mendengar samar-samar percakapan keduanya. Dan entah mengapa, Zu merasa berkecil hati. Hatinya terasa sakit dalam sekejap, harapannya seolah sirna.


Ia melihat Rain mengusap wajah gadis itu, mencium keningnya lalu berjalan bersama masuk ke ruang utama. Sedang dirinya bersembunyi di balik dinding. Melihat kemesraan yang tengah terjadi di depan kedua matanya.


Nona ... apakah ini akhir dari ceritaku?


Pikiran Zu tak menentu. Senyuman gadis itu kembali terngiang di ingatannya. Gadis yang membuatnya merasakan getaran aneh, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Zu patah hati.

__ADS_1


__ADS_2