
Sore harinya...
Jam kerja Rain telah berakhir. Ia segera pergi ke kolam air panas yang ada di istana untuk merelaksasikan tubuhnya.
Sesampainya di kolam air panas, Rain segera membuka pakaiannya. Dan terlihatlah postur tubuh sang pengeran bungsu ini yang begitu atletis. Hanya memakai celana pendek berwarna putih, ia masuk ke dalam kolam lalu berendam. Sesaat kenangan lucu saat bersama Ara itu terlintas di benaknya.
Beberapa waktu yang lalu...
"Kau bisa sedih juga ternyata."
Rain datang ke kolam air panas dan menyadarkan Ara dari lamunannya. Ia datang sambil tersenyum kepada sang gadis. Gadis itupun melihat ke arah dirinya.
"Rain?!"
"Hai, Nona. Bolehkah aku ikut berendam bersamamu?"
Rain segera masuk ke dalam kolam air panas tanpa menunggu jawaban dari gadis itu. Tampak raut wajah sang gadis yang berubah menjadi kesal karena kedatangannya.
"Kuperhatikan hari ini kau sangat sibuk seperti tidak memberiku cela," kata Rain mengawali.
"Cela, cela apa maksudmu?" tanya gadis itu yang bernama Ara.
Ara tampak risih dengan kedatangannya. Ia segera beranjak bangun dan ingin pergi dari hadapan Rain.
"Nona!"
Rain memegang tangan kiri Ara, berusaha menahan kepergian sang gadis.
"Aku ingin kau menemani. Jangan pergi ...."
Rain membalikkan badannya dan berdiri di belakang gadis itu. Rain kemudian mulai mendekatkan dirinya kepada Ara. Tampak tubuh sang gadis bergetar karena ulahnya.
"Aku ingin lebih mengenalmu, Nona," kata Rain.
Jari jemari Rain mulai merayap dari telapak tangan menuju ke lengan atas sang gadis. Sontak saja perbuatan Rain membuat gadis itu merinding seketika.
Dengan segera Ara berbalik menghadap Rain lalu mendorong dirinya sekuat tenaga, hingga Rain jatuh ke dalam kubangan air panas. Ara tampak tergesa-gesa keluar dari kolam air panas untuk menghindari Rain. Ia berlari keluar sambil mengambil cepat gaunnya.
...
"Hahaha."
Rain tertawa sendiri. Ia teringat kenangannya bersama Ara saat jumpa pertama kali di kolam air panas ini.
"Ara, Ara. Kau begitu lucu saat itu. Tubuhmu bergetar merasakan sentuhan dariku." Rain tersenyum bahagia.
"Sedang apa kau di sana, Sayang? Semoga urusanmu cepat selesai sehingga kita dapat bertemu kembali."
__ADS_1
Rain berharap skripsi Ara segera selesai agar dapat bertemu kembali dengan gadis pujaan hatinya itu. Rain ingin memiliki Ara seutuhnya. Angannya terbang jauh bersama sang gadis. Dan setiap memikirkannya, Rain semakin ingin memilikinya.
Ara, aku milikmu. Dan kau milikku, katanya dalam hati seraya menikmati udara di sore hari ini.
Malam harinya...
Sajian makan malam dipersiapkan. Keluarga utama kerajaan akan segera makan malam bersama.
Di sebuah ruangan, telihat meja makan berukuran besar dengan kursi kayu yang terukir klasik. Lampu-lampu kristal menjadi penerang ruangan itu. Beberapa peralatan makan juga sudah tersedia di meja makan dengan sangat rapi. Para pelayan begitu sibuk mempersiapkannya.
Tak lama, raja dan ratu datang lalu duduk di kursi. Rain pun datang lalu segera duduk di hadapan ayah dan ibunya. Wajahnya tampak berseri-seri.
"Di mana Cloud? Dia belum juga datang?" tanya sang ratu bernama Moon.
"Mungkin sebentar lagi, Ibu," jawab Rain.
Cloud kemudian datang, sesaat setelah Moon menanyakannya. Pangeran sulung itu kemudian duduk di samping kanan Rain. Sedang ibunya duduk di hadapan keduanya. Sang ayah yang duduk di tengah tampak diam sambil menunggu hidangan pembuka.
"Kenapa lama sekali, Cloud? Sudah tahu jam makan malam," gerutu ibunya.
"Maaf, Bu. Aku harus menyelesaikan beberapa dokumen sebelumnya." Cloud memberi tahu sang ibu.
"Harusnya bisa kau jeda nanti saja," lanjut Moon.
"Maaf, Bu. Tidak baik menunda-nunda pekerjaan," kata Cloud lagi.
Terdengar helaan napas dari sang ibu saat Cloud selalu saja menjawabi ucapannya. Sedang Rain, tampak memperhatikan keduanya.
Kenapa Ibu dan Kak Cloud tidak pernah akur, ya? tanya Rain dalam hati.
Beberapa saat kemudian, para pelayan membawakan hidangan untuk keluarga utama kerajaan. Sebuah hidangan pembuka segera diletakkan di meja. Para pelayan begitu berhati-hati menyajikannya.
"Silakan, Paduka Raja, Paduka Ratu."
Pelayan mempersilakan raja dan ratu Negeri Angkasa menyantap hidangan pembuka, setelah sajian tersedia di atas meja makan.
"Silakan, Pangeran Cloud, Pangeran Rain," kata pelayan saat menghidangkan sajian pembuka kepada kedua pangeran itu.
"Terima kasih," jawab Cloud seraya tersenyum.
Mereka kemudian menyantap hidangan pembuka bersama. Tampak Cloud yang diam dan tidak menyapa Rain sama sekali.
Sementara itu, di dunia Ara...
"Akhirnya selesai juga."
Ara tampak merenggangkan kedua tangannya ke atas, sesaat setelah selesai mengetik skripsinya.
__ADS_1
"Tinggal baca ulang saja, edit dan selesai!" serunya senang.
"Kak Ara, Kak Baim datang," kata Adit, memberi tahu Ara dari depan kamar.
"Baim? Eh, dia tidak mengabariku dulu?"
Ara kaget dengan kedatangan Baim yang tanpa mengabari sebelumnya. Ia lalu mengambil ponsel dan mengeceknya.
"Astaga! Sepuluh panggilan tak terjawab dan empat puluh pesan darinya?!" Ara terkejut.
"Pantas saja dia langsung datang. Ternyata aku terlalu asik menyelesaikan skripsi ini sampai dering ponselku tidak terdengar."
Ara kemudian beranjak keluar untuk menemui Baim. Sepertinya ada kabar penting yang akan diterimanya malam ini.
Mengenakan baju rajutan lengan panjang berwarna cokelat dan celana dasar hitam ketat sebatas lutut, gadis manis kepunyaan pangeran bungsu ini segera menemui teman kampusnya. Tampak rambutnya yang kini dicat pirang dan sedikit ikal. Sepertinya Ara merubah gaya penampilan menjelang sidang skripsinya.
"Baim?"
"Ara, dari tadi aku menghubungimu."
"Maaf, aku terlalu asik mengerjakan skripsi ini sampai-sampai dering ponselku tidak kedengaran. Maaf ya," kata Ara meminta maaf.
"Baiklah, tak apa. Aku kemari karena ada sesuatu yang penting," jelas Baim.
Pemuda berkemeja biru itu kemudian duduk bersama Ara di kursi yang ada di teras depan rumah. Mereka kemudian memperbincangkan sesuatu.
"Ara, buatkan minuman dulu!" seru ibunya yang datang melihat Baim.
"Eh, Tante. Maaf, malam-malam begini saya ke sini."
Baim bersalaman dengan ibunya Ara. Ia mencium tangan ibunya gadis itu.
"Enggak apa-apa, Nak Baim. Baru jam delapan malam juga," sahut ibu Ara.
"Bapak ada, Bu?" tanya Baim berbasa-basi.
"Bapak ada, tapi sedang ke rumah Pak RT. Ibu juga masih ada kerjaan. Ibu tinggal dulu ya, Baim. Ara cepat buatkan minuman!" lanjut sang ibu seraya menatap ke anak gadisnya.
"Iya, Bu," jawab Ara lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
"Tunggu ya, Baim," kata Ara kepada Baim.
Baim mengangguk. Ia kembali duduk sambil menunggu Ara datang membawakan minuman untuknya.
Malam ini langit tampak begitu cerah berbintang. Keadaan sekeliling komplek perumahan juga masih ramai. Anak-anak komplek bermain tanpa ada rasa takutnya sama sekali. Padahal hari sudah malam.
Apakah kabar yang akan Baim sampaikan kepada Ara? Sedemikian penting kah hingga Baim harus datang ke rumah temannya itu?
__ADS_1