Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Say Again


__ADS_3

Sementara di perjalanan...


Aku masih berada di atas kapal perang ini, dan kini Rain mengajak ku untuk terbang bersamanya. Aku takut, sih. Tapi Rain menjagaku dari belakang.


"Rain, aku takut." Aku ngeri sendiri saat dimintanya menaiki pagar besi anjungan kapal ini.


"Ada aku, Ara. Aku akan menjagamu dari belakang." Dia meyakinkanku.


"Benar, ya?"


"Iya, Sayang." Rain mengusap kepalaku.


Lantas kulepas sepatuku lalu mulai menaiki pagar anjungan ini. Satu per satu kunaiki hingga akhirnya aku sampai di besi ke tiga. Rain lalu memegangi perutku dengan kedua tangannya.


"Rentangkan kedua tanganmu, Ara. Lalu nikmati pemandangan di depan. Sebentar lagi kita akan tiba di salah satu pelabuhan Angkasa."


"Eh, benarkah?!"


"He-em." Rain mengangguk.


Aku menurutinya, merentangkan kedua tangan sambil mencoba menikmati angin laut yang berembus. Adegan ini mirip sekali dengan adegan film Titanic. Entah mengapa aku jadi geli sendiri dengan permintaannya.


"Baiklah, sekarang giliranku." Rain perlahan ikut merentangkan kedua tangannya di belakangku.


Tu kan benar. Ini seperti adegan di film Titanic. Dasar, Rain ....


Rain lalu menggenggam kedua tanganku dari belakang. Dia pun mencium pipiku ini. Tak lama kulihat lampu mercusuar dari sini.


"Rain, apakah kita sudah semakin dekat dengan Angkasa?" tanyaku padanya.


"Iya, Sayang. Sebentar lagi. Sekarang nikmati pemandangan laut ini bersamaku," pintanya.


Aku mengangguk seraya tersenyum dan mulai pasrah, menikmati pemandangan laut lepas dari atas kapal bersamanya. Kurasakan detak jantung kami berpacu selaras. Sepertinya hatiku memang sudah terikat olehnya.


Sepasang insan ini menikmati pemandangan dari atas kapal sebelum tiba di salah satu pelabuhan Angkasa. Keduanya beradegan romantis ditemani cahaya bintang yang berkilauan di langit. Cuaca juga tampak cerah, tak ada awan mendung menyertai. Secerah hati kedua insan yang kini sedang memadu kasih.


Rain Sky telah melamar Ara di depan pasukannya. Dan Ara pun sudah mengiyakan ajakan menikah sang putra bungsu Angkasa. Ia sampai terlupa jika ada Cloud yang tengah menunggunya di istana. Saat bersama Rain, sang gadis lupa dengan segalanya. Ara seolah telah terikat benang takdir dengan sang pangeran.


Lain Ara, lain pula dengan Rain. Sang putra mahkota sudah menganggap jika momen ini adalah perjalanan bulan madunya. Ia tidak lagi menganggap Ara sebagai kekasih, melainkan sudah sebagai istrinya. Apapun akan ia lakukan agar Ara tetap bersamanya, sekalipun harus membagi kasih sayang sang gadis dengan kakaknya sendiri.


Ara ... selamat datang di negeri kita. Lautan ini menjadi saksi betapa besarnya cintaku padamu. Aku telah membuktikan cinta ini dengan mengarungi samudera hanya demi menjemputmu. Dan telah kudaki bukit yang menjulang tinggi hanya demi bertemu denganmu. Apalagi yang kau ragukan? Kau akan memilihku, bukan?

__ADS_1


Rain kembali mencium gadisnya. Tangan kanannya mengusap kepala sang gadis, sedang tangan kirinya memegangi perut Ara dari belakang. Ara pun tersenyum sambil melihat ke arah pangerannya. Ia ikut mencium pipi Rain yang sedari tadi menempel di wajahnya. Dan cinta keduanya membuat semesta ikut mendoakan.


Satu jam kemudian...


Kini aku telah tiba di salah satu markas Angkatan Laut Angkasa. Aku pikir ini adalah penginapan, ternyata asrama prajurit yang sedang mengadakan pelatihan. Tak tahu mengapa Rain memilih turun di dermaga ini.


"Ara, ini pakaian ganti untukmu."


Rain datang membawakan pakaian ganti untukku, sesaat setelah tiba di asrama prajurit ini. Sedang pasukannya mempersiapkan makan malam untuk kami.


"Em, baiklah. Tapi di mana kamar gantinya?" tanyaku pada Rain.


Rain lalu mengantarkan aku menuju sebuah ruangan. Dan ternyata ruangan yang kutuju merupakan sebuah kamar, mirip seperti penginapan karena ada kamar mandi di dalamnya.


"Rain, gelap sekali. Aku takut," kataku saat masuk ke dalam ruangan bersamanya.


"Ada aku, Sayang. Aku akan menjagamu." Dia lalu menghidupkan lampunya.


Aku belum tahu apa alasan Rain mengajak ku ke sini. Kuturuti saja kemauannya selama tidak membahayakan. Aku pun segera berganti pakaian ditemani olehnya. Dia berbalik, tidak melihat ke arahku.


"Jangan mengintip, ya!" kataku yang mulai melepas gaun yang kupakai.


"Hah ... untuk apa mengintip jika bisa melihatnya dengan jelas," gerutunya yang masih membelakangiku.


Lekas-lekas kuganti semua pakaianku. Hingga akhirnya kini mengenakan gaun panjang semata kaki berwarna cokelat muda, berlengan panjang dengan hiasan pita di pinggangnya. Kulihat di cermin gaun ini bagus sekali.


"Sudah belum?" tanyanya yang masih membelakangiku.


"Sudah, bawel," jawabku lalu mulai menggulung rambut ini.


Rain lalu berbalik, berjalan mendekatiku. Dia bergantian melepas pakaiannya di depanku.


"Eh-eh, apa yang kau lakukan?!" Seketika aku gugup melihatnya.


"Menurutmu?" Dia mulai melepas jubahnya.


"Rain, jangan macam-macam!" seruku.


Dia menaikkan satu alisnya lalu mulai melepas dalaman jubahnya. Tatapan Rain tidak ada yang berubah sama sekali. Dia masih sama seperti dulu. Sama mesumnya.


"Rain ...."

__ADS_1


"Kau lihat, Ara. Aku bahkan tidak sempat menyenangkan diriku sendiri."


"Eh?!"


"Aku terlalu sibuk memikirkanmu hingga tidak ada yang memikirkan aku. Tubuhku ini tidak terawat lagi." Dia berkeluh kesah.


"Rain ...."


Aku jadi sedih mendengarnya. Tak kusangka jika dia akan begitu mencemaskan keadaanku. Dia kemudian mulai mengambil pakaian gantinya.


"Tunggu!" kataku.


"Ara?" Dia tampak bingung.


Entah mengapa hatiku merasa bersalah padanya. Dan tubuhku tiba-tiba saja mendekat lalu mulai membelai wajahnya itu. Kuambil pakaian gantinya lalu membiarkannya bertelanjang dada. Aku ingin membelai tubuhnya terlebih dahulu.


"Sayang ...."


Rain memanggilku, tapi tak kugubris. Kubelai lembut wajahnya dengan jemari tangan kananku. Kubelai perlahan hingga aku bisa merasakan permukaan kulitnya. Ternyata aku benar-benar merindukannya.


"Ara ...."


Suaranya lembut sekali saat memanggil namaku. Kutahu jika dia tengah memperhatikanku. Tapi, kuteruskan saja belaian tanganku ini. Ke lehernya, bahunya, dadanya, hingga ke perutnya. Kulihat Rain memejamkan kedua matanya, seperti menikmati setiap sentuhan dariku.


Lantas kudekatkan tubuhku. Perlahan kususuri lengan kekarnya lalu mulai mengalungkan kedua tanganku di lehernya. Kukecup bibirnya dengan kecupan yang lembut, kutarik perlahan dengan bibirku hingga terlihat jelas bibirnya tertarik. Rain kemudian membuka kedua matanya.


"Sayang, apakah kau sedang ingin?" tanyanya seraya memegang wajahku ini.


Aku menggelengkan kepala.


"Lalu? Apa yang kau inginkan? Katakan saja, aku akan memenuhinya." Dia meyakinkanku.


Entah mengapa menatap kedua matanya membuat hatiku tenang sekali. Dia meyakinkanku akan keamanan dan kenyamanan saat bersamanya, sehingga membuatku leluasa untuk melakukan apapun yang kumau. Dan aku lalu berbisik di telinganya. Sebuah kalimat yang sontak membuat wajahnya memerah.


"Ara ...." Dia seolah tidak bisa berkata-kata.


"Aku tunggu, ya," kataku lalu bergegas pergi.


Tak tahu apa yang dia pikirkan, aku segera keluar dari kamar lalu menutup pintunya. Aku rasa dia akan terbayang-bayang dengan kata-kataku tadi.


Ara keluar dari kamar dan meninggalkan Rain sendirian di dalam. Ia membisikkan sebuah kalimat yang membuat Rain terpaku di tempatnya. Sang pangeran tidak menyangka jika gadisnya akan mengatakan hal ini. Padahal selama ini Rain lah yang selalu meminta. Rain masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.

__ADS_1


Sayang, bisa kau ucapkan sekali lagi? Aku ingin mendengarnya lagi. Kalimat itu membuatku merasa menjadi seorang pria sejati. Dan aku akan membuktikannya padamu.


Rain segera berganti pakaian agar bisa mengejar gadisnya. Dan tak lama, ia pun sudah mengganti semua pakaiannya. Ia lantas bergegas mengejar sang gadis. Gadis yang amat ia rindukan. Dan kini gadis itu berada di depan matanya.


__ADS_2