
"Ara?"
"A-ayah?"
"Mana ibumu?"
"Ibu di kamar, Yah."
"Ya, sudah. Ayah juga mau istirahat. Besok ayah pinjam mobilnya, ya."
Aku hanya bisa mengangguk saat ayah berjalan melewati. Rasanya aku ingin bertanya tentang apa yang diberikan oleh Rain, tapi ayah berlalu begitu cepat meninggalkanku.
"Ara!"
"Rain?!"
Rain tiba-tiba saja menarikku. Kami lalu berada di teras belakang rumah, tepat di balik pintu.
"Rain, apa yang kau lakukan?" tanyaku padanya.
Rain tersenyum bahagia di hadapanku, sedang aku masih menunggu jawabannya.
"Ara ...."
Dia menatapku dalam tepat di mata sambil memegang lembut kedua pipiku dengan tangannya.
"Aku sudah melamarmu."
A-apa?!!
Aku tak menyangka jika Rain mengatakan hal ini. Jantungku serasa mau copot. Hal yang kutakutkan kini benar terjadi.
"Rain, tapi aku belum—"
"Aku tahu kau belum menjawab pernyataan cintaku. Tapi aku yakin kau pun mencintai aku, Ara."
"Rain, ini terlalu mendadak. Aku belum siap."
Aku berusaha berdalih. Kepalaku mendadak pusing saat ini. Rain begitu cepat bertindak sedang aku tidak punya persiapan sama sekali. Dia begitu nekat melakukan hal ini.
"Kau akan siap seiring dengan berjalannya waktu. Tolong jangan lukai perasaanku lagi dengan alasanmu. Aku sungguh menyayangimu, Ara."
Dia lantas memelukku, merengkuh tubuh ini ke dalam pelukannya yang hangat. Kurasakan alunan merdu jantungnya yang mulai melambat, bersamaan dengan napasnya yang berat. Tersirat kebahagiaan dari wajahnya yang berseri-seri.
Aku bingung harus berkata apa. Mungkin benar apa kata orang-orang, yang jauh akan kalah dengan yang dekat apalagi yang cepat bertindak. Seperti Rain yang langsung menuju sasaran, ayahku sendiri. Dia tak segan mengungkapkan niatannya untuk memilikiku.
Haduh, skripsiku belum selesai, sudah ada narasi baru. Astaga...
Malam ini pun aku berakhir di pelukannya. Pelukan hangat tubuh seorang pria yang dahulu sangat menyebalkan bagiku. Kini memelukku dengan erat dan penuh cinta.
Esok harinya...
Hari ini aku mengantarkan ayah dan ibu, Adit dan juga Anggi yang hendak pergi ke luar kota menghadiri pesta pernikahan saudaraku. Pagi-pagi sekali ayah berangkat padahal waktu masih menunjukkan pukul enam pagi.
"Nak Rain, Ayah titip Ara."
Ayahku sekarang sudah tidak canggung menyebut dirinya sebagai ayah kepada Rain. Semenjak prosesi lamaran semalam, kini ayah tampak sangat percaya kepada pria mesum di samping kiriku ini.
"Baik, Yah. Hati-hati di jalan."
__ADS_1
"Ara, kalau sempat pergilah berbelanja kebutuhan bulanan, ya."
Ibuku juga berpesan sebelum masuk ke dalam mobil. Ibu yang tadinya seperti memihak kepada Cloud, kini ikut-ikutan ayah, lebih condong kepada Rain. Ya, namanya juga orang tua, pasti memilih yang berani mengatakan langsung daripada hanya sekedar izin.
"Iya, Bu. Selepas ke kampus, Ara akan berbelanja."
"Kak Ara, mau nitip apa nanti?" tanya adikku, Adit.
"Tidak usah, Dit. Kamu jagain Anggi aja."
"Bener, nih?" tanyanya lagi.
"Iya. Sudah sana. Hati-hati, ya."
Akupun melepas kepergian keluargaku bersama mobil merah yang baru saja kubeli dua bulan lalu. Mobil ini kubeli tunai dengan menggunakan jaminan yang Cloud berikan kepada ayah sebelum aku pergi ke negerinya.
Sedang apa ya dia di sana?
Batinku masih saja mengingat Cloud walau Rain berada di sisiku sekarang. Aku begitu mencemaskan keadaannya selepas kembali ke dunia ini. Masih belum dapat sepenuhnya kepada Rain sebelum urusanku bersama Cloud selesai.
"Ara."
Rain memanggilku, merangkul tubuhku dengan penuh percaya diri. Padahal mobil yang dikendarai ayah belum hilang dari pandangan mata.
"Aku lapar."
Dia tiba-tiba mengatakan hal yang membuatku geli. Tak biasanya dia berkata seperti itu kepadaku, membuatku ingin tertawa saja.
"Kan sarapan sudah ada di atas meja, Rain. Makanlah segera," kataku.
"Tidak mau jika tidak ada yang menemani," sahutnya.
Sifat aslinya kini mulai ditampakkan saat kami hanya berduaan saja. Rain bersikap seolah-olah aku mempunyai tanggung jawab lebih kepadanya.
Aku melepas rangkulannya lalu berbalik masuk ke dalam rumah. Rain pun mengikutiku dari belakang.
"Ara, bokongmu besar dan padat."
Langkah kakiku seketika terhenti, sesaat setelah dia mengucapkan kata-kata itu.
"Rain! Mulai, ya!"
Kupasang wajah kesalku kepadanya. Dia malah mendekati lalu menggendongku ala pegantin.
"Rain, lepaskan!"
"Tidak."
"Rain, nanti aku jatuh."
"Pegangan saja."
Sikap menyebalkannya kini muncul ke permukaan, membuatku tak bisa berkutik. Mau tak mau, kulingkarkan kedua tanganku di lehernya.
"Jangan menolak jika kau pun menginginkannya, Ara."
"Hei, apa maksudmu?!" tanyaku seraya menatapnya dari bawah.
"Kau milikku sekarang dan tidak akan bisa lari ke mana-mana lagi."
__ADS_1
"Dasar mesum!"
"Biarkan saja aku mesum. Aku memang mesum dan itu hanya saat bersamamu, Sayang."
Senyum nakalnya mulai mengembang bersamaan dengan detak jantungku yang berpacu lebih cepat. Ada rasa khawatir dan juga penasaran yang menyelimuti diriku ini.
Aku harus mengalihkannya.
Walaupun diliputi rasa penasaran, aku masih berusaha mengalihkan pikiranku ke hal lain. Aku masih bersikap keras terhadap diriku sendiri. Dan masih menjaga sampai benar-benar siap, tanpa ada paksaan dari siapapun.
Rain, tolong berhenti menggodaku.
Tiga jam kemudian...
Selepas sarapan bersama, aku bersama Rain merapikan rumah. Aku sibuk mencuci piring sedang dia menyapu halaman depan dan belakang rumahku. Setelahnya, barulah aku mencuci semua pakaian yang kotor dengan mengenakan mesin cuci bertabung besar. Dan Rain kini membantuku menjemur pakaian. Kami layaknya sudah menjadi pasangan suami-istri yang sah.
"Ara, habis ini kita mandi bersama, ya?"
Entah dia sadar atau tidak, kata-katanya itu selalu membuatku berpikiran negatif. Kulihat dirinya membawa bak besar masuk ke dalam rumah.
Dia selalu saja menggodaku.
Aku tidak menghiraukan perkataannya, aku masih sibuk menjemur dalaman pakaian. Tak lama, Rain datang hanya dengan menggenakan handuk. Dia lantas memelukku dari belakang seraya mencium tengkuk leherku.
"Rain, ah! Lepaskan!"
Aku berontak, namun bibirnya makin berani menciumi tengkuk leherku. Seketika itu juga terasa ada aliran listrik yang tersambung di dalam tubuhku ini. Aku tak mampu untuk membendungnya.
"Rain—"
"Ara, biarkan saja. Nikmatilah."
Bibirnya makin merayap hingga membuatku merinding tak tertahankan. Tubuhku serasa begitu lemas untuk melawan tindakannya.
"Rain ...."
Suaraku terdengar berat saat bibirnya menciumi setiap inchi dari pundakku. Aku lemas, tak berdaya. Lenguhan kecil akhirnya terdengar dan mengalun merdu di telingaku. Dan ternyata suara itu berasal dari bibirku.
"Rain ...."
Dia kemudian melepaskan pelukannya lalu membalikkan tubuhku untuk segera menghadapnya. Kulihat senyum kemenangan itu mengembang di bibirnya yang manis.
"Kau menyukainya, kan?" tanyanya penuh selidik.
"Rain ... aku—"
"Kau tidak bisa membohongiku, Ara. Lihatlah wajahmu ini, kau menginginkannya juga."
Aku hanya diam saat dia menyudutkanku.
"Aku menyukainya, Permaisuriku."
Rain mengusap bibirku dengan telunjuk tangan kanannya. Dia lalu bergegas pergi meninggalkanku.
Rain!
Aku kesal. Ya, aku kesal dengan diriku sendiri. Rasanya aku tidak ingin menahan hasrat ini lagi. Tapi mungkinkah aku menyerah secepat itu?
"Nanti kita lanjutkan selepas mandi."
__ADS_1
Aku hanya diam, lagi-lagi diam sambil menikmati sensasi yang baru saja kurasakan. Lututku terasa begitu lemas saat ini. Pria itu tidak pernah berhenti untuk menggodaku. Dia selalu saja seperti itu. Tidak di sini, tidak di dunianya.
"Dasar mesum!" gerutuku, lalu mulai menjemur pakaian yang tersisa.