
Sesampainya di ruang kerja Cloud...
Rain masuk ke ruangan Cloud dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Kedatangannya tentu saja membuat Cloud tersentak. Sang pangeran sulung baru saja ingin memulai pekerjaannya. Namun sepertinya, harus terhenti beberapa saat.
"Rain, kau sudah kembali?" Cloud tampak bimbang melihat kedatangan adiknya.
"Kak, aku menitipkan Ara padamu. Di mana dia sekarang? Aku tidak menemukannya di kediamanku?"
Pertanyaan Rain tentu saja membuat Cloud cemas bukan main. Baru saja ia berusaha setengah mati untuk merebut hati Ara kembali, namun kini peperangan batinnya dimulai lagi.
"Ara sudah tinggal di luar di istana. Kau ada keperluan apa padanya?" tanya Cloud yang berubah roman wajah.
"Tentu saja aku rindu padanya. Tidak ada hal lain," jawab Rain cepat.
"Bagaimana dengan peperanganmu?" Cloud mencoba mengalihkan.
"Sudah, Kak. Jangan buang waktuku. Katakan di mana Ara sekarang? Aku ingin menemuinya." Rain berucap lugas.
Helaan napas pun terdengar dari sang kakak saat Rain tidak memberi cela sama sekali untuk berbasa-basi. Cloud merasa tersudutkan, ia tidak mempunyai cara lain untuk menyembunyikan Ara dari adiknya.
"Baiklah. Ara sekarang tinggal di perumahan elite, tidak jauh dari istana." Cloud akhirnya memberi tahu.
"Apa?!" Rain terkejut.
"Aku sengaja memintanya tinggal di sana karena khawatir jika dia berada di istana," kata Cloud lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Rain tak mengerti.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Pekerjaanku masih banyak. Lain kali saja." Cloud pun mulai bekerja.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menemuinya sekarang." Rain beranjak pergi.
"Rain!" Cloud berseru sebelum Rain pergi dari ruangannya. Sang adik pun menoleh ke kakaknya. "Jangan macam-macam padanya," pesan Cloud, yang ditanggapi Rain dengan tutupan pintu dari luar.
Putra sulung kerajaan ini merasa cemas atas kedatangan adiknya. Bukannya ia tidak senang Rain selamat, tapi Cloud khawatir jika Ara akan kembali ke adiknya lagi. Padahal ia telah bersusah payah untuk mendapatkan hati Ara kembali. Sampai-sampai kehormatannya pun diberikannya kepada sang gadis.
Ya Tuhan ... kenapa risiko yang harus kutanggung begitu berat? Aku takut dia macam-macam kepada Ara, sedang hatiku ini hanya terukir namanya. Astaga, apa yang harus kulakukan? Sedang aku tidak punya pilihan lain selain dirinya. Tolong aku, kumohon ....
Cloud menopang wajah dengan kedua tangannya. Pikirannya diselimuti rasa cemas berlebihan terhadap sang gadis yang ingin dijumpai adiknya. Waktu pun serasa melambat jika sudah memikirkannya. Cloud dirundung kecemasan hatinya sendiri.
Setengah jam kemudian, di rumah Ara...
Ara baru saja selesai membersihkan rumah. Dari menyapu hingga memasak untuk makan siang nanti. Terlihat dirinya yang kelelahan sehabis menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Sebuah ide pun muncul di benaknya.
__ADS_1
Mungkin akan segar jika berenang.
Ia berniat berenang di kolam renang buatan yang ada di halaman belakang rumahnya ini. Segera ia melepas daster mewahnya lalu menuju kolam renang yang ditata bak berada di pesisir pantai. Ia pun menceburkan diri ke kolam yang tidak terlalu tinggi itu.
"Wuihhh ... segarnya!"
Ia terlihat riang gembira karena bisa bermain air di rumahnya sendiri. Ia pun menyusuri pinggir kolam dengan gaya bebas. Setelahnya, ia ke tengah-tengah kolam untuk mengolah pernapasannya agar lebih panjang. Tanpa menyadari jika ada seseorang yang tengah berusaha membuka pintu rumahnya dari luar.
"Ah ... aku suka sekali rancangan kolam renang ini. Bentuknya sembarang namun airnya bergelombang seperti ombak di laut. Serasa di pantaaaiiii!"
Sang gadis begitu riangnya. Ia kemudian menuju ujung dari kolam renang ini, berniat menyandarkan punggung di tepi kolam sambil melihat keadaan langit yang cerah.
"Ayah, ibu. Ara sangat bahagia di sini. Ara sudah punya rumah sendiri. Mungkin suatu saat ayah dan ibu bisa melihatnya."
Ia tersenyum sambil memandang awan putih yang berarak di langit. Seseorang pun melihatnya yang tengah mengayuh kaki di dalam air. Terlihat sosok itu menelan ludah berulang kali saat melihat Ara hanya mengenakan kemben dan leging pendek.
Ara ... aku datang.
Dialah Rain, si pangeran mesum yang lekas-lekas melepas pakaiannya saat melihat sang gadis tengah asik berenang. Ara yang sedang melihat ke arah langit pun tidak menyadari jika ada sosok pria sedang menuju ke arahnya. Pria itu hanya mengenakan celana pendek ketatnya yang berwarna hitam. Seluruh atribut kerajaannya dilepas seketika.
Rain berjalan masuk ke kolam lalu menceburkan diri. Perlahan ia menyusup lewat bawah air agar kehadirannya tidak terlihat oleh Ara. Ia terus berenang hingga sampai di bawah kaki sang gadis. Sesampainya, ia kemudian melebarkan kedua kaki sang gadis lalu menyusup ke tengah-tengahnya.
"Aaaaa!!" Ara pun terkejut seketika.
"Siapa kau?! Berani-beraninya masuk ke dalam rumahku!"
Ara segera mengambil tongkat pembersih kolam lalu memukul-mukulkannya ke Rain. Sontak sang pangeran kesakitan lalu berteriak.
"Ara! Ini aku! Rain! Hentikaaan!"
Saat Rain mengaku, barulah Ara tersadar. Ia tidak lagi memukul-mukul sosok yang ada di dalam kolam itu.
"Rain, kaukah itu?" Ara mencoba melihat lebih jelas sosok yang ada di dalam kolam.
"Aduhhh ... sakit sekali. Baru pulang bertugas bukan disambut ciuman malah disambut pukulan." Rain mengusap-usap lengan kekarnya yang terkena pukulan Ara.
"Rain?!"
Ara akhirnya bisa melihat dengan jelas sosok yang ada di dalam kolam. Setelah menyadari siapa yang ada di depannya, ia pun segera membuang tongkatnya lalu menceburkan diri ke kolam. Ia berusaha meraih tubuh pangerannya, yang mana membuat Rain kehilangan keseimbangan.
"Ara!"
"Rain!"
__ADS_1
Keduanya akhirnya tenggelam sampai ke dasar. Rain pun segera menolakkan kakinya agar dapat muncul ke permukaan, bersama sang gadis yang kini bergelayut manja di tubuhnya.
"Hah ... hah ...."
Rain mengambil napas cepat-cepat. Ia yang tidak siap hampir saja kehilangan udara, karena sang gadis tiba-tiba menceburkan diri ke arahnya. Dan kini gadisnya tengah membenamkan wajah di dada bidangnya.
"Ara ...." Rain lalu memegang lengan gadisnya.
"Rain, aku rindu." Ara masih melingkarkan kedua tangannya di leher Rain.
"Rindu sih rindu. Tapi tidak membahayakan juga seperti ini, Ara." Rain kemudian memeluk gadisnya.
"Hah? Apa katamu?!"
Tiba-tiba Ara merasa kesal karena mendengar Rain berkata tidak sesuai keinginannya. Ia lalu melepaskan pelukannya dari Rain. Rain pun melihat perubahan pada wajah gadisnya. Ia lalu menahan Ara agar tidak melepas pelukannya.
"Sayang, maaf. Maksudku kau bisa menyambutku dengan penuh kelembutan, bukan dengan kekerasan." Rain melingkarkan kembali kedua tangan Ara di lehernya.
"Tahu, ah!" Ara membuang pandangannya.
"Ya, ya. Maaf. Aku salah, memang aku yang salah." Akhirnya Rain mengalah menghadapi gadisnya yang ngambek.
"Kau ini, datang tidak memberi tahuku. Tiba-tiba muncul di hadapanku. Siapa yang tidak kaget?!" Ara menggerutu seraya melepas tangannya dari leher Rain.
"Iya, maaf. Tadinya aku ingin memberi kejutan padamu." Rain memasang wajah sendu agar Ara tidak ngambek lagi padanya.
"Ya, sudah. Kita naik saja ke atas." Ara ingin naik ke tepi kolam.
"Eh, nanti dulu." Rain menahannya.
"Apalagi?!" tanya Ara jutek.
"Aku ... rindu. Bolehkah aku—"
"TIDAK!"
Tanpa basa-basi Ara menolak apa yang ingin Rain sampaikan. Ia beranjak dari kolam dan meninggalkan pangerannya. Sang gadis seperti sudah tahu apa yang diinginkan oleh pangerannya.
Huh, dia ini. Kejutan macam apa jika membahayakan seperti ini? Hampir saja aku jantungan karenanya. Untung saja dia tidak kulempar pot bunga. Dasar Rain!
Ara masih menggerutu di dalam hatinya sambil terus melangkahkan kaki, masuk ke dalam rumah. Rain pun hanya bisa terpaku dalam keheningan. Ia melihat gadisnya terus berlalu sambil menahan sesuatu yang sudah mulai bereaksi. Tak ayal, Rain pun tersiksa sendiri.
Ara, apa kau benar-benar marah padaku? Aduh ... bukannya tadi aku diam saja saat dia bilang rindu. Pasti sekarang sudah mendapatkan ciuman mesra darinya. Rain-rain, lain kali jangan ceroboh menghadapi perempuan. Sekarang dia marah kan padamu.
__ADS_1
Rain berbicara sendiri dalam hati sambil naik ke atas kolam dan membenarkan celananya. Ia segera mengikuti ke mana langkah kaki sang gadis pergi. Namun sayang, Ara masih ngambek kepadanya.