
Putri itu membuat Cloud tidak berselera makan. Ia tampak malas-malasan menyantap hidangan makan malam ini. Lain dengan Rain, ia tampak menoleh ke arah ibunya seolah memberikan kode. Moon pun seakan mengerti maksud dari putra bungsunya itu.
"Putri Andelin, kedua putraku sangat sibuk mengurusi pekerjaan negeri ini. Jikalaupun bisa, itu tidak akan lama." Moon menjelaskan.
Sky tampak memperhatikan kedua putranya yang sedari tadi hanya berdiam diri. Ia melihat ke arah Cloud.
"Cloud, bagaimana? Apa kau bisa menemani Putri Andelin di hari terakhirnya di istana?" Sky bertanya kepada putra sulungnya itu.
Cloud hanya menunduk seraya menelan makanannya. Ia tampak kesulitan untuk bicara. Sky pun seolah mengerti gestur tubuh putra pertamanya itu.
"Rain?" Sky beralih ke putra bungsunya.
"Em, maaf, Ayah." Rain segera menyeka mulut dengan sapu tangan. "Aku tidak bisa. Aku begitu sibuk melatih para prajurit. Maafkan aku."
Sky mengangguk, ia kembali beralih kepada Cloud. "Cloud, adikmu tidak bisa."
Putra mahkota itu merasa tersudutkan, seolah tidak mempunyai pilihan lain. Tersirat raut kekesalan dari wajahnya yang rupawan.
"Cloud, kau bisa menunda beberapa jam pekerjaanmu. Ini permintaan Putri Andelin di hari terakhirnya."
Cloud diam, tidak menjawab sama sekali. Moon jadi tidak enak hati dengan putri Negeri Aksara itu.
"Pangeran Cloud, hanya sebentar saja. Tak bisakah?" tanya Andelin seraya memasang wajah sendu.
Cloud meneguk segelas air. Ia mencoba menyelesaikan makan malamnya.
"Aku hanya bisa di sore hari. Dan itu pun tak lama," sahut Cloud singkat.
Tersirat senyum kemenangan di wajah Andelin saat mendengar ucapan dari Cloud. Ia merasa telah berhasil membuat perangkap untuk pangeran sulung itu.
"Tak apa, Pangeran. Terima kasih. Yang Mulia, Paduka Raja. Terima kasih."
Andelin berterima kasih karena sudah diizinkan untuk berkeliling ibu kota bersama pangeran sulung kerajaan ini. Sedang Cloud sendiri segera berpamitan, menyudahi makan malamnya.
"Aku permisi, Ayah, Ibu."
Ia berjalan meninggalkan ruang makan malam. Langkah kakinya terdengar terburu-buru. Cloud tampak kesal sendiri.
Keesokan paginya...
Kini Cloud sedang berbincang dengan Menteri Dalam Negeri, Count. Ia menceritakan kepada Count akan ajakan putri Aksara tersebut. Count tampak mencemaskan keadaan Could.
"Pangeran, saya harap Pangeran tetap waspada. Saya khawatir akan terjadi sesuatu di luar dugaan kita."
__ADS_1
"Hm, ya. Aku tetap mawas diri untuk hal ini. Dia kelihatan memaksa sekali sampai ayah dan ibuku turun tangan."
"Apakah perlu dikawal dengan pasukan khusus?" tanya Count yang cemas.
"Sepertinya tidak perlu, Tuan Count. Kita memasuki wilayah ibu kota yang ramai. Aku khawatir malah akan menarik perhatian penduduk. Lebih baik aku berjaga sendiri."
"Baiklah. Lalu bagaimana dengan Nona Ara. Apakah dia akan segera datang?" tanya Count lagi.
Sejenak Could terdiam saat Menteri Dalam Negerinya itu menanyakan sosok gadis yang bersemayam di dalam hatinya.
"Saya berharap pertunjukan busana akan segera dilakukan, Pangeran. Neraca perdagangan kita semakin menipis karena perekrutan masal ini."
"Aku juga berharap dia akan segera datang. Untuk sementara waktu, lakukan sebisa mungkin untuk menstabilkan keadaan negeri."
"Baik, Pangeran. Saya mengerti."
Could menutup perbincangannya bersama menteri itu. Namun selang beberapa saat kemudian, Rain datang mengetuk pintu.
"Salam bahagia untuk Pangeran Rain."
Count berpapasan dengan Rain di depan pintu ruangan. Ia segera undur diri dari hadapan keduanya.
Pintu ruang kerja Could ditutup dari luar. Kini hanya ada kakak-beradik di dalam ruangan itu. Tampak Cloud yang seperti tidak memedulikan kedatangan adiknya.
"Tentang apa?" tanya Cloud seraya mengambil map yang harus ia baca.
"Ini tentang Ara," jawab Rain singkat.
Sontak saja Cloud menutup mapnya. Ia lalu menoleh ke arah adiknya itu. Rain masih tampak berdiri di hadapan sang kakak.
"Apa yang mau kau bicarakan tentangnya?" tanya Cloud seraya menoleh ke Rain.
"Kakak, apa kau marah kepadaku karena Ara telah menerima cintaku?" tanya Rain terus terang.
"Kau menanyakan hal yang tidak ada kaitannya dengan urusan pekerjaan."
"Tapi, Kak. Semenjak kemarin sikapmu berubah kepadaku. Apa benar kau mencintainya? Bukankah dia itu hanya seorang pekerja bagimu?" tanya Rain lagi.
Cloud terdiam. Ia menahan gejolak amarah yang muncul saat mendengar pertanyaan sang adik.
"Awal pertemuan kau bilang dia bukan siapa-siapa bagimu. Lalu apa salah jika aku menaruh hati padanya?" tanya Rain lagi.
"Cukup, Rain! Bicarakan hal yang berkaitan dengan pekerjaan saja. Aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu."
__ADS_1
"Aku tidak mengajakmu berdebat, Kak. Aku hanya ingin memastikan jika keadaan ini baik-baik saja."
"Semua masih dalam keadaan baik. Jika tak ada lagi yang ingin kau bicarakan, sebaiknya segera keluar dari ruanganku."
"Kak Cloud, harus kau tahu jika aku sangat mencintainya. Ara milikku. Tolong jangan ambil dia—"
"Rain!!!"
Cloud menggebrak meja kerjanya. Ia tampak kesal dengan perkataan sang adik. Wajahnya terlihat menahan emosi yang kian meluap.
"Tolong jangan bahas hal pribadi di saat jam kerja kerajaan. Kau mengerti?" Cloud menatap tajam adiknya.
Rain menelan ludah. Kini ia menyadari apa yang sedang terjadi dengan kakaknya itu. Ia lalu undur diri dari hadapan sang kakak.
"Baik, Kak. Tapi harus kau tahu jika aku tidak akan mundur, sekalipun harus bersaing dengan kakakku sendiri," ucap Rain lalu bergegas meninggalkan ruangan.
Rain segera keluar dari ruangan Cloud. Langkah kakinya terdengar begitu cepat. Kini ia menyadari penyebab sang kakak mendiamkannya akhir-akhir ini. Tanpa Rain sadari, Andelin mendengar percakapan mereka dari balik dinding ruangan.
"Siapa Ara?"
Suara Could begitu keras hingga Andelin dapat mengupingnya dari balik dinding. Ia seperti mendapat petunjuk akan sebab-musabab mengapa kedua pangeran itu bersikap acuh tak acuh kepadanya.
"Sayang waktuku hanya tinggal hari ini. Jika bisa lebih lama saja, mungkin aku akan tahu siapa Ara itu," gumamnya pelan.
Andelin bergegas pergi dari tempat di mana ia menguping pembicaraan. Ia segera mempersiapkan diri untuk melancarkan rencananya sore nanti.
Sementara itu di dalam ruangan...
"Hah!!"
Cloud meninju dinding ruangannya sendiri. Tersirat emosi yang meluap-luap di dirinya saat ini.
"Kenapa? Kenapa harus begini?"
Cloud merasa kesal dengan hal yang terjadi, ia seperti kehilangan jati dirinya. Untung saja tidak ada penghuni istana yang mendengar pertengkaran keduanya. Kalau ada, maka akan jadi gosip sepanjang masa.
Hanya dua pengawal yang berjaga di depan ruangan Cloud lah yang mengetahui pertengkaran kakak-beradik itu. Tapi bisa dipastikan jika kedua pengawal itu dapat menjaga rahasia dengan sangat baik.
"Ara, cepatlah datang. Aku tidak sanggup lagi menjalani hari-hari ini. Hanya kau yang mampu menghibur hatiku. Ara ...."
Cloud menyandarkan tubuh di dinding ruangan dengan satu tangan sebagai alasnya. Ia tampak terpukul dengan perkataan Rain.
"Aku tidak mengerti mengapa menjadi seperti ini. Di mana logikaku? Kenapa aku tidak menemukannya?" Ia bertanya sendiri.
__ADS_1
Cloud tidak dapat berpikir. Ia seperti kehilangan jati dirinya sendiri. Ara benar-benar bertahta di hatinya. Gadis itu begitu berharga. Could amat merindukan gadis berbola mata hitam itu.