Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Try it!


__ADS_3

Kunikmati perjalanan ini bersamanya sampai tiba di depan kamarku. Cloud lalu berpamitan.


"Baik-baik di sini. Aku pergi bekerja dulu."


Sebuah kecupan hangat mendarat di keningku. Akupun menikmati kecupan ini. Cloud menatapku dalam lalu memelukku dengan erat.


"Aku berangkat, ya. Aku tak lama. Tunggu aku."


Cloud tersenyum. Dia lalu mengecup punggung tanganku dengan lembut. Aku lalu melepas kepergiannya. Mengangguk, seolah memberikan izin kepadanya.


Kini Cloud berlalu dari pandanganku. Dia meninggalkan kehangatan di pagi ini. Kehangatan yang begitu kuimpikan sejak awal pertemuan dengannya.


Hati-hati di jalan, Cloud...


Aku kemudian melanjutkan tidurku hingga merasa lebih enakan. Kemudian barulah meneruskan pekerjaanku, menyelesaikan semua rancangan kebayaku. Targetku, sepuluh rancangan kebaya harus selesai hari ini.


Aku akan berusaha yang terbaik untuknya dan untuk negeri ini. Semangat api telah Cloud wariskan untukku. Tidak mungkin aku bersantai ria sedang dirinya begitu berjuang keras untuk negeri ini.


Jam makan siang...


Aku sedang menikmati santap siangku di dalam kamar. Semilir angin yang masuk, menemani semangatku yang sedang berkobar. Tak lama, kudengar seseorang yang masuk.


"Rain?!"


Aku terkejut kala melihat kedatangan Rain ke dalam kamarku. Dia tampak membawakan kue dan juga sebotol air jahe yang dicampur gula merah untukku.


"Ara. Kudengar kau sakit, maka itu aku ke sini."


Rain berucap dengan ragu. Dia seperti menahan dirinya, tersirat dari wajahnya yang kaku.


"Hanya sedikit radang di tenggorokan," jawabku seraya tersenyum kepadanya.


"Baiklah. Semoga lekas sembuh."


Rain segera berbalik lalu berjalan keluar kamar. Melihat hal itu, aku segera bangkit lalu mengejarnya.


"Rain, tunggu!" Aku kemudian berjalan mendekatinya.


"Kau hanya sekedar ingin mengantarkan ini?" tanyaku kepadanya.


Rain hanya diam, dia tidak berbalik sama sekali.


"Kalau hanya ini alasanmu, kau bisa menyuruh pelayan, bukan?" tanyaku lagi.


Rain masih diam membelakangiku.


"Rain?"


Aku menyapanya lagi, namun dia tidak menjawab.


"Rain, aku sudah minta maaf. Kenapa kau masih belum memaafkanku?"


Aku terus saja bertanya, tidak peduli dia menjawabku atau tidak. Aku mencoba untuk menyelesaikan masalah ini. Aku tidak ingin di kerajaan ini terjadi perang dingin antara kakak-beradik karena aku.

__ADS_1


"Rain. Aku tahu kau masih menyayangiku."


Rain masih diam.


"Apa kau ingin membuang rasa itu begitu saja?" tanyaku lagi.


Rain masih saja diam.


"Baiklah. Kalau begitu, pergilah! Dan jangan kembali!"


Aku segera menutup pintu kamarku, membiarkannya berada di luar. Aku mencoba untuk tidak peduli lagi padanya. Berulang kali mencoba bicara, namun dia terus saja mengabaikanku.


Aku kemudian segera menyelesaikan makan siangku. Kuteguk habis air minum di dalam gelas lalu segera merapikan piring makanku. Aku kembali menuju meja kerja untuk melanjutkan pekerjaanku hari ini.


Sore harinya...


Aku berendam di kolam air panas kerajaan. Merelaksasikan tubuh yang sejak pagi sudah bekerja keras untuk menyelesaikan rancangan busana. Tak terasa, tujuh rancangan kebaya telah aku selesaikan.


"Hah..."


Aku membuang napasku ke atas seraya melihat langit-langit kolam. Bersamaan dengan itu, entah disengaja atau tidak, Rain masuk ke dalam ruangan dan berniat ingin berendam.


Menyadari kedatangannya, aku segera bangkit dari kolam lalu meninggalkannya. Sengaja bersikap seperti ini agar dia memahami bagaimana perasaanku. Kupikir dia akan mengejarku, namun ternyata tidak.


Sudahlah, aku lelah.


Aku menyerah menghadapi sikapnya. Aku lekas mengambil gaunku lalu menuju ruang ganti. Aku kembali ke kamarku untuk beristirahat dari lelahnya hati dan pikiran ini.


Selamat tidur, Ara. Jangan lupa untuk bahagia, ucapku di hati sebelum terlelap dalam mimpi.


Aku terjaga dari tidurku. Tiba-tiba saja suasana hatiku berubah drastis. Aku merasa kesal sendiri. Ditambah mengingat kelakuan Rain, lengkap sudah rasa kesalku ini.


"Dia itu benar-benar menyebalkan!"


Aku sudah mencoba untuk bicara padanya, tapi dia masih bersikap dingin. Aku pun sudah meminta maaf, tapi dia tetap bersikap acuh tak acuh padaku. Rasanya menyebalkan sekali.


Aku kemudian keluar kamar, mencari angin segar. Kulihat dua penjaga istana sedang membicarakan sesuatu. Kudekati perlahan, ternyata mereka tengah membicarakanku. Kudengar dari balik dinding apa yang sedang mereka bicarakan itu.


"Pangeran Rain juga seorang manusia biasa, dia mempunyai hati. Mungkin sedang terjadi persaingan di istana ini," kata penjaga pertama.


"Aku rasa Nona Ara adalah cinta pertama Pangeran Rain," sahut penjaga kedua.


"Entahlah, siapa yang akan menjadi raja nantinya. Aku juga bingung."


"Aku apalagi. Bagaimanapun Pangeran Rain atasan kita."


"Tapi Pangeran Cloud yang memakmurkan hidup kita."


Dahiku berkerut. Kedua penjaga ini malah adu pendapat tentang Rain dan Cloud. Aku pun segera menampakkan diri di hadapan mereka.


"Hei! Kalian sedang membicarakan apa?" tanyaku tiba-tiba.


Sontak kedua pengawal itu berdiri tegak lalu memberi hormat kepadaku. Mereka tampak kaku begitu melihat kehadiranku.

__ADS_1


"Ampuni kami, Nona. Kami hanya sedang curhat," jawab penjaga pertama.


"Curhat?!" tanyaku tak percaya.


"Hem, iya, Nona. Kami sedang membicarakan perbatasan," sambung penjaga kedua.


"Sudah-sudah. Aku sudah mendengarnya. Kalian jangan berbohong padaku."


"Ampuni kami, Nona. Maafkan kekhilafan kami."


Kedua penjaga ini segera berlutut memohon ampun kepadaku. Aku merasa tidak enak sendiri.


"Hei, bangunlah! Aku tidak akan menceritakannya kepada siapapun."


"Benarkah, Nona?"


"Iya, tapi ada syaratnya."


Kedua penjaga ini saling berpandangan. Mereka terlihat bingung dan berharap-harap cemas.


"Kalau boleh kami tahu, syaratnya apa, Nona?" tanya salah satunya.


Aku kemudian berjalan beberapa langkah dari keduanya, lalu duduk di atas teras. Kedua tangan menopang kepalaku yang terasa pusing karena mendengar curhatan mereka.


"Sebenarnya, apa yang kalian ketahui tentang aku dan Pangeran Rain?" tanyaku seraya menoleh ke arah mereka.


Kedua penjaga tampak diam.


"Jawab saja. Aku hanya sekedar ingin tahu," kataku lagi.


"Maafkan kami, Nona. Kami tidak bermaksud untuk membela Pangeran Rain. Tapi setahu kami, selama kedatangan Nona ke istana ini, banyak perubahan dalam sikap Pangeran Rain."


"Lebih baik atau lebih buruk?" tanyaku lagi.


Kedua pengawal ini tampak segan untuk menjawabnya.


"Maafkan kami, Nona. Kami selalu melihat Pangeran Rain memperhatikan Anda dari teras atas istana."


Hatiku terenyuh mendengar penuturan penjaga ini. Kutundukkan kepalaku karena merasa bersalah. Tidak seharusnya aku berada di antara dua hati.


"Nona?"


Kedua pengawal itu mencoba untuk menyapaku. Raut wajah khawatir tersirat dari keduanya.


"Bisa tolong ambilkan anak panah beserta busurnya?" tanyaku kemudian.


"Ap-apa, Nona? Maaf kami tidak mengerti maksud Nona."


Kedua penjaga ini tampak terkejut dengan permintaanku. Aku lalu beranjak berdiri dan duduk di kursi teras.


"Tolong ambilkan aku anak panah sebanyak-banyaknya beserta busur panah dan juga papan sasaran. Aku ingin berlatih memanah," jawabku tegas.


"Ba-baik, Nona. Akan segera kami ambilkan."

__ADS_1


Kedua penjaga itu berlalu dari penglihatanku. Saat ini aku ingin segera melampiaskan rasa kesal dengan latihan memanah. Ya, daripada pikiranku melayang ke mana-mana, lebih baik kugunakan waktuku untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.


__ADS_2