
Beberapa saat kemudian...
Aku kembali ke kamar setelah selesai mandi sore. Sesampainya di dalam, aku menemukan Zu tengah memandangi halaman rumah dari balik kaca jendela. Aku pun terkejut karena ternyata dia sudah berada di rumah.
"Pangeran?"
Rambutku masih basah, namun kini sudah mengenakan gaun baru. Aku mengenakan gaun tidur berwarna krim hingga sebatas lutut. Berlengan pendek dengan bagian bahu yang terbuka. Di sini juga aku masih mengenakan kemben sebagai pelapis pakaian dalam.
"Pangeran?"
Aku memanggil Zu kembali, namun pangeran itu masih diam saja. Segera saja aku berjalan mendekatinya.
"Pangeran ...."
Aku berdiri di hadapannya sambil menggerak-gerakkan tangan di depan wajahnya. Sontak dia tersadar dari lamunannya itu.
"Nona? Em, kau sudah selesai mandi?" tanyanya padaku, ia tampak gugup kali ini.
"Sudah. Lihat, rambutku masih tampak basah, bukan? Pangeran sendiri tidak mandi?" tanyaku dengan polosnya.
"Em, aku ...," Ucapannya seperti tertahan.
"Hm?"
"Nona, bisakah kita lebih dekat lagi?" tanya Zu tiba-tiba.
"Eh?!" Aku merasa bingung.
"Maksudku ...." Zu mulai membelai rambutku yang tergerai panjang.
"Pangeran?" Aku tidak mengerti mengapa dia begitu.
"Nona ...." Dia lantas mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Jika sudah seperti ini, aku merasa bingung sendiri harus bagaimana. Dia jelas menginginkan sebuah ciuman dariku.
"Pangeran, kau belum mandi!"
Segera saja kudorong dirinya agar menjauh. Aku tidak ingin ciuman ini terjadi lagi. Aku khawatir akan terhanyut dalam permainannya. Jadi lebih baik menghindarinya saja.
"Nona?!" Zu tampak kaget.
"Em, maaf. Kau belum mandi, Pangeran." Aku menunduk, khawatir dia marah.
"Astaga." Dia mengusap rambutnya.
Aku pikir dia akan marah karena sikapku. Tapi ternyata, dia malah tertawa.
__ADS_1
"Ya, ya, baiklah. Aku mandi dulu. Tunggu aku, ya." Dia lantas mencubit kedua pipiku.
Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, tapi mungkin dia mengira jika aku menolak ciumannya karena dia belum mandi. Padahal aku hanya mencari alasan agar tidak terhanyut lebih jauh. Aku khawatir hatiku goyah.
Rain, Cloud. Cepat jemput aku! Bagaimana jika aku menyukai pangeran itu? Kalian tidak cemburu apa?!!
Kulihat Zu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Kebetulan kamarnya ini luas seperti apartemen, yang mana kamar mandi terpisah dengan kamar tidurnya. Lebih tepatnya kamarnya merupakan ruangan tersendiri. Sedang di luar kamar ada kamar mandi, ruang tamu, ruang santai dan lain sebagainya.
Aduh, bisakah aku kembali ke Angkasa sebelum semuanya bertambah rumit?
Entah mengapa aku merasa sebentar lagi akan datang kejadian besar untukku. Pesan Tetua Agung pun terngiang-ngiang di benakku ini. Aku diminta untuk mengikuti arusnya saja. Tapi, jika terus dibiarkan seperti ini, aku khawatir dengan hatiku sendiri.
Ya, aku takut jatuh hati kepada pangeran itu. Bukankah cinta bersemi karena biasa? Biasa bertemu, biasa melihat, biasa berbincang, biasa bersama. Dan aku khawatir jika hal itu sampai terjadi padaku.
Lain Ara, lain pula dengan Zu. Sang pangeran tampak tersenyum-senyum sendiri sambil menikmati waktu mandi di pancuran airnya. Ia tidak habis pikir jika gadis itu begitu menggemaskan di matanya. Zu merasa jika Aralah yang selama ini ia cari.
Dia begitu menggemaskan, menggodaku dengan lekuk tubuhnya. Tubuhku pun sampai terasa aneh saat melihatnya mandi di sungai. Astaga ... sebenarnya apa yang telah terjadi padaku? Mengapa aku sangat menginginkannya?
Ada sepercik hasrat timbul saat Zu melihat Ara mandi di sungai buatan kediaman rumahnya. Ia melihat jelas dari samping bagaimana lekuk tubuh sang gadis. Ia pun harus berulang kali menelan ludahnya saat merasakan sensasi aneh pada tubuhnya itu. Sedang sang gadis tidak menyadari jika Zu telah melihatnya.
Cinta itu begitu membutakan. Pesona yang tersirat dari lawan jenis, membuat terhanyut dalam keinginan terdalam. Zu dimabuk kepayang oleh perasaannya sendiri. Perasaan yang semakin bersemi di dalam hati.
Di istana Angkasa...
Rain memilih untuk tidak menghadiri makan malam bersama ayah dan ibunya. Ia lebih memilih bersantai di atas ayunan yang ada di teras atap rumahnya, tempat di mana ia meminta maaf kepada Ara karena tingkah lakunya yang menyebalkan itu.
"Ara ... aku masih menunggu kesempatan datang kepadaku. Tunggulah aku, aku akan menjemputmu."
Rain tidak ingin gegabah dalam bertindak. Terlebih yang dihadapinya bukanlah negeri kecil, melainkan negeri besar yang ada di timur peta dunia ini.
Rain masih menunggu perintah dari Sky. Yang mana ia yakini jika sang ayah lebih mengetahui solusi terbaik untuk dirinya dan juga negeri ini. Sehingga sementara waktu, ia biarkan rasa rindu itu tenggelam bersama angan yang terdalam.
Waktu itu, sepulang dari bukit pohon surga...
"Ara."
"Hm?"
"Sesampai di istana bagaimana jika kita bermain?" tanya Rain sambil melajukan kudanya.
"Bermain?" Ara tampak bingung.
"Iya, bermain. Bermain kuda-kudaan," lanjut Rain seraya menahan tawa.
"Ish, kau ini! Apa tidak ada hal lain di pikiranmu itu?!" gerutu sang gadis.
"Em, bagaimana, ya?" Rain pura-pura berpikir.
__ADS_1
"Kau belum berubah sedari dulu. Sama mesumnya!" Ara menggerutu sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
"Hei, jangan salahkan aku jika menginginkannya. Tapi salahkan dirimu yang selalu menggodaku," bela Rain.
"Apa?!"
Sontak Ara marah mendengar kata-kata itu, ia lalu menggigit lengan kanan Rain yang sedang melajukan kuda. Sang pangeran pun tampak kesakitan.
"Sayang, kau tahu itu sakit?!" Rain mengusap-usap lengannya yang digigit oleh Ara.
"Biar saja. Habisnya kau menyebalkan!" Ara berlagak ngambek di depan Rain.
"Aku lelaki normal, Ara. Wajar saja jika aku begitu. Lagipula hanya denganmu saja." Rain membela dirinya.
Ara masih diam di depan Rain. Gadis itu tampak membuat sang pangeran bertambah gemas.
"Buahmu semakin hari semakin membesar, ya. Padahal aku belum pernah menyentuhnya."
"Rain!"
"Awww!"
Lagi dan lagi sang gadis mencubit perutnya itu. Rain pun memegangi perutnya.
"Aduh, kau ini ... kalau tidak menggigit, mencubit seenaknya. Lebih baik gunakan jari-jarimu itu untuk hal yang lebih berguna, Ara."
"Apa contohnya, hah?!" tantang Ara yang mulai kesal.
Rain diam, dia lalu memegang jari telunjuk kiri sang gadis. Ia usap lembut jari itu, yang mana sontak Ara tersadar akan maksud sang pangeran.
"Rainnnnn!!" Ara pun semakin kesal kepada pangerannya.
"Ampun, Sayang!" Rain merasa puas menjahili gadisnya.
"Awas kau, ya! Kau belum tahu bagaimana diriku yang sebenarnya." Ara mengancam.
"O, ya? Aku jadi penasaran." Rain balik menantang.
Lantas saja perbincangan mereka di atas lajuan kuda itu menjadi gurauan yang menghangatkan. Sang gadis pun menyandarkan tubuhnya ke Rain. Ia lalu memegang wajah sang pangeran dengan tangan kanannya.
"Kau ini nakal, tapi entah mengapa aku menyukainya." Ara menahan tawa.
"Kau juga membuatku gemas, Ara. Kau menginginkannya tapi masih malu untuk mengakuinya." Rain mencium tangan gadisnya berulang kali.
"Aku menyayangimu, Rain." Ara menatap dalam Rain dari sisinya.
"Aku juga, Ara."
__ADS_1
Rain memberatkan kepalanya di kepala sang gadis lalu menciumnya dengan penuh penghayatan. Tangan Rain yang kiri pun memegangi perut Ara sambil sesekali mengusapnya. Perjalanan kembali ke istana itu mereka habiskan dengan berbagi canda dan juga tawa.