
Setengah jam kemudian...
Ara menyediakan sarapan pagi untuk Cloud dan kini keduanya tengah sarapan bersama. Sang pangeran tampak begitu lahap menyantap nasi goreng buatan calon istrinya.
"Nanti kunci saja semua pintunya. Jika ada waktu, jam istirahat aku akan kembali." Cloud berpesan kepada Ara.
"Tak apa, selesaikan saja dulu pekerjaanmu, Cloud. Jangan karena aku, raja sampai memarahimu." Ara menuangkan air minum untuk Cloud.
"Sayang, apa kau tidak senang jika aku makan siang di rumah?" tanyanya yang sontak membuat Ara terdiam.
"Kau ini, bukan begitu maksudku. Aku tidak ingin pekerjaanmu terlantar. Bukankah jarak dari sini ke istana cukup jauh?" tanya sang gadis.
"Benar, sih."
"Nah, waktu istirahatmu akan habis di perjalanan. Lebih baik pulang saat semuanya sudah selesai. Oke?" Ara mengedipkan matanya.
"Hahaha. Dasar. Tapi bagaimana jika aku tidak bisa menahan rindu?" goda Cloud lalu memegang tangan gadisnya.
"Telan saja dulu rindunya. Nanti jika sudah senggang, baru luapkan." Ara tertawa kecil.
Tawanya menenangkan sekali.
Cloud ikut tertawa bersama gadisnya. Sarapan pagi ini begitu berarti di hati sang pangeran. Ia merasa sudah berumah tangga bersama Ara. Dan yang ada di hadapannya ini adalah istrinya sendiri. Seorang gadis yang amat dicintainya. Cloud tidak ingin melewati begitu saja momen indah ini.
Setelah sarapan selesai, Ara mengantarkan Cloud sampai ke depan rumah. Yang mana kereta kudanya sudah menunggu.
"Aku akan kembali. Jangan nakal di rumah, ya." Sang pangeran berpesan lalu mencium kening gadisnya.
"Siap, Pangeran!" Ara menjawab dengan bersemangat.
"Sampai nanti." Cloud pun berpamitan.
"Hati-hati, ya!"
__ADS_1
Ara tersenyum kepada Cloud. Cloud pun membalas senyuman gadisnya. Ia kemudian masuk ke dalam kereta kuda.
Rasanya begitu berbeda hari ini. Aku seperti sudah menjadi istrinya. Membuatkannya sarapan, mengantarkannya pergi bekerja. Apakah ini pertanda semesta untukku?
Ara bertanya-tanya sendiri.
Kedekatan keduanya membuat ikatan batin yang terjalin semakin kuat. Sang gadis pun melambaikan tangannya ke arah Cloud yang sudah berada di dalam kereta kuda. Dan tak lama kemudian, kereta kuda itu meninggalkan halaman rumahnya.
Kini hanya ada Ara seorang di rumah besar ini. Ia pun segera mengunci pintu depan rumahnya lalu menuju halaman belakang rumah. Ia berniat bermeditasi sebentar sebelum membersihkan rumah.
"Aku jadi rindu keluargaku. Mungkin dengan bermeditasi aku bisa meringankan kerinduan."
Ia duduk bersila di dekat kolam lalu mulai mengambil napas dalam. Sang gadis mengikuti alam yang menuntunnya menuju bumi, jauh dari dunianya sekarang. Law of Attraction Ara aktifkan.
Sementara itu di Aksara...
Rain sudah mengantongi semua dokumen penting milik Aksara. Dan kini ia sedang bersiap kembali ke Angkasa. Bersama ribuan pasukannya, Rain menaklukkan negeri kecil ini.
"Pangeran, ini dokumen terakhir milik Aksara." Seorang pasukan memberikannya satu map dokumen.
"Baik, Pangeran." Pasukan itu mengiyakan.
Rain membawa dokumen itu menuju salah satu ruang yang ada di istana Aksara. Ia akan mengadakan rapat dengan para pejabat negeri ini sebelum kembali ke Angkasa.
Ara ... sedang apa dirimu di sana? Maaf, aku tidak bisa cepat pulang. Masih ada hal yang harus kuselesaikan di sini. Semoga kau baik-baik saja di sana.
Sehabis mengeksekusi mati Land di hadapan rakyatnya, Rain segera berbenah struktur kerajaan negeri ini. Ia juga membebaskan Andelin dari penjara yang mengurungnya. Dan memberikan Andelin kebebasan untuk tetap berada di istana atau pergi. Ia hanya menghukum dalang dari penyerangan ke Angkasa.
Lima negara sekutu Aksara saat ini berada dalam pengawasan Rain. Kelimanya sudah mengajukan perjanjian damai, tapi Rain dengan tegas menolaknya. Ia akan mendatangi kelima negeri itu satu per satu untuk meminta pertanggungjawaban atas ulah mereka yang menyerang Angkasa. Sang panglima akan mempunyai banyak kesibukan demi negerinya.
"Pangeran Rain."
Andelin mendekati Rain dengan malu. Putri bergaun putih itu menahan kepergian Rain menuju ruang rapat istana.
__ADS_1
"Putri Andelin, ada apa?" tanya Rain, tidak ingin berbasa-basi.
"Maaf, Pangeran. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan saya dari penjara yang dibuat oleh Land." Andelin malu-malu.
"Ya, aku senang bisa membantu." Rain pun beranjak pergi.
"Pangeran Rain." Andelin kembali menahannya, Rain pun menoleh. "Apakah boleh saya ikut ke Angkasa setelah rapat ini selesai?" tanya Andelin ragu.
Rain berpikir sejenak. "Putri, kesalahanmu waktu itu sudah membuat ayahku menutup semua tempat di istana untukmu. Ayahku amat tidak suka jika kepercayaannya dikhianati." Rain menjelaskan.
Andelin pun menunduk. "Maafkan saya, Pangeran. Saya hanya ingin meminta maaf langsung kepada nona Ara. Itu saja." Andelin malu hati.
"Jika hanya itu, aku akan sampaikan padanya. Kau tidak perlu khawatir. Permisi."
Rain dengan tegas menolak kedatangan Andelin ke istana. Sementara sang putri merasa amat bersalah dengan apa yang telah diperbuatnya waktu itu. Ia hanya bisa melihat kepergian Rain dengan penuh penyesalan.
Andai saja waktu itu aku tidak mengikuti perintah ayah, mungkin hubungan baik bisa tercipta di antara aku dan Ara. Sayangnya nasi telah menjadi bubur. Raja Angkasa sendiri telah melarangku untuk datang. Andelin, ini adalah panen dari keburukanmu. Nikmatilah.
Sang putri akhirnya menerima karma buruk atas perbuatannya. Kini ia tidak lagi mempunyai teman yang bisa diajak berbagi. Ia juga tidak mempunyai tempat pulang yang nyaman. Ayahnya sudah meninggal dan kerajaan telah diambil alih oleh Rain. Andelin hanya bisa menunggu pangeran berkudanya datang.
Lain Andelin, lain juga Rain. Rain segera memulai rapat dengan para pejabat istana terdahulu. Ia memberi perintah sesuai apa yang ayahnya arahkan. Walaupun sudah berhasil menaklukkan Aksara, Rain tetap meminta arahan dari sang ayah. Ia tidak ingin salah langkah dan mengakibatkan penyesalan. Bagaimanapun mengurus suatu negeri tidaklah mudah, sehingga Rain meminta pendapat dan saran kepada yang telah berpengalaman.
Kembali ke Ara...
Ara sudah mendapatkan tujuannya. Dan kini ia tengah melihat ibu dan kedua adiknya sedang berkumpul di depan TV. Rasa rindu itu akhirnya terobati setelah lama tidak berjumpa.
Ibu, Anggi, Adit ....
Ara merasa terharu karena dapat melihat ketiganya sekaligus. Sedang sang ayah belum dapat ia temukan.
Mungkin ayah sedang berjaga di toko.
Ara kemudian mencoba mendengarkan percakapan keluarganya. Ia terus fokus dengan alam bawah sadarnya yang sedang dituntun oleh semesta. Betapa bahagia hati sang gadis karena bisa merasakan kehangatan keluarga yang telah lama ia rindukan.
__ADS_1
Mungkin di sana sedang hari minggu, ya? Ara bertanya sendiri.
Sang gadis mulai mendengarkan percakapan di antara ibu dan kedua adiknya. Ia pun terlihat tertawa-tawa sendiri walau raganya masih di rumah pemberian Cloud ini. Keceriaan terpancar dari wajahnya saat mendengar celetukan sang adik bungsu kepada adik lelakinya yang sering membuatnya kesal. Ara pun tertawa sendiri.