
Entah berapa lama aku melakukan perjalanan. Kini samar-samar terdengar suara kicauan burung yang menyadarkanku. Aku mencoba untuk membuka kedua mata, perlahan kulihat langit yang begitu menyilaukan pandangan. Angin pun terasa kasar menyentuh tubuhku.
Ombak laut berjalan membawaku ke tepian. Aku kini berada di atas sampan milik keluargaku. Seakan mendapat perintah, sampan ini seperti menunggu kedatanganku pulang. Aku lalu mencoba bangun dari tidur panjangku.
Kulihat gaun yang sedang kukenakan. Ternyata aku masih mengenakan gaun kerajaan. Gaun berwarna biru mengantarkan pulang ke duniaku. Gaun yang sering kupakai saat berada di istana kerajaan.
"Aku sudah kembali."
Aku mencoba memegang belakang kepalaku. Tidak kurasakan sakit ataupun adanya bekas luka. Aku merasa tidak terjadi apa-apa dengan tubuhku ini.
"Cloud, Rain ...."
Kupandangi bulan yang muncul. Bulan yang mengingatkanku akan istana. Entah mengapa kini aku begitu merindukan mereka.
Kulihat kantong putih pemberian dari Cloud masih tetap berada di tanganku. Aku lalu membukanya.
"Astaga, butir-butir emas asli."
Aku tak percaya jika Cloud memberiku banyak butiran emas. Emas murni yang di duniaku harganya mahal sekali. Mungkin Cloud membayar penuh gajiku selama bekerja di istana.
Cloud ....
Aku teringat akan dirinya. Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak. Aku tidak kuasa menahannya, akupun menangis. Teringat semua kenangan yang telah kami lalui bersama. Aku merindukannya.
Kupegang leherku dan ternyata kalung pemberian Rain masih bersamaku. Aku pun teringat akan dirinya, tangisanku semakin menjadi. Semua kenangan saat bersamanya muncul bersamaan dengan derasnya air mataku yang jatuh.
Rain ....
Aku menangis, mencoba mengeluarkan semua kesedihan yang melanda jiwaku. Aku kehilangan mereka, pangeran-pangeranku yang gagah perkasa. Kini aku tidak dapat lagi melihat keduanya. Hanya alam bawah sadarku yang menyimpan rapat kenangan ini.
Hatiku serasa pecah berkeping-keping. Rasanya aku ingin berteriak, tidak dapat menerima kenyataan ini. Dadaku terasa sesak sekali, seolah-olah udara menghilang dari hadapanku.
Aku kemudian mencoba untuk berjalan, kembali pulang menuju rumah. Kucoba untuk bersikap biasa agar tidak ada yang khawatir dengan keadaanku saat ini. Keadaan di mana aku tenggelam dalam rasa sakit akan kerinduan yang mendalam.
Ayah, Ibu ... Ara pulang.
Sesampainya di rumah...
__ADS_1
Keluargaku begitu terkejut melihat kedatanganku. Mereka segera menyambutku penuh rindu.
"Ara!"
"Ayah, Ibu."
"Ara, kau baik-baik saja, Nak?" tanya ibuku yang tampak cemas.
Ibuku segera mengusap kepalaku. Aku pun mencium tangannya. Rasanya sedikit tak percaya jika kini aku telah kembali ke rumah.
Kulihat adik bungsuku kini sudah besar. Dia tambah lincah dan lancar berbicara. Akupun menyapanya dengan gemas, dan dengan segera dia menjawab pertanyaanku. Sepertinya perbedaan waktu cukup jauh di antara duniaku dan dunia mereka.
"Kak Ara!"
Adik lelakiku juga sudah tampak lebih tinggi. Dia datang lalu memelukku.
"Kau sudah lebih tinggi, ya!" kataku padanya.
"Kakak yang pergi terlalu lama. Tidak ada lagi yang menemaniku bertengkar," ucapnya.
Harus kuakui jika aku dan adik laki-lakiku ini sering bertengkar. Tapi itu tidak bertahan lama. Maklumlah, namanya keluarga pasti ada saja masalahnya. Namun yang kuyakini, di setiap masalah pasti ada solusi jika kita mau mencarinya.
"Ibu rindu, Nak."
Ibu memelukku. Pelukan hangat yang belasan tahun kurindukan, kini kurasakan. Akupun membalas pelukan ibu. Ayah, Adit dan adik bungsuku ikut memelukku. Sepertinya aku tidak perlu terlalu lama terhanyut dengan masa lalu. Aku masih mempunyai keluarga yang selalu ada untukku.
"Anak Ayah tambah cantik."
Baru kali ini aku mendengar ayah memujiku. Biasanya aku dilatih tangguh olehnya.
"Ara mandi dulu ya, Bu."
Melihat semuanya sedang berkumpul, memacu semangatku kembali. Aku segera beranjak mandi dan melepas beban di hati. Kurasakan hati dan pikiranku masih bertaut kepada dunia itu. Dunia di mana kisah cintaku dimulai dari sana.
Beberapa saat kemudian...
Setelah berbersih diri, aku berkumpul bersama keluargaku. Aku lalu memberikan semua gajiku kepada ibu. Kulihat ibu menangis saat menerima butiran emas itu. Ayah pun terlihat berlinang air mata.
__ADS_1
Ibu dan ayah tentu saja kaget karena gajiku dibayar dengan emas. Tapi kubilang saja pembayaran gaji di sana memang menggunakan emas.
Rencana emas ini akan kami jual lalu uangnya digunakan untuk membeli rumah di perkotaan yang tak jauh dari desa. Karena kami mempunyai kebun yang masih harus diurus di sini. Mungkin juga ayah akan membuka toko di kota nanti, sehingga tidak perlu bolak-balik lagi ke pasar. Sedangkan aku...
Aku melanjutkan kehidupanku. Setelah ini akan kembali ke kampus lalu mengambil semester pendek untuk mengejar semua ketertinggalanku.
Semoga keadaan mereka baik-baik saja di sana. Doaku selalu menyertai.
Walaupun aku jauh, aku masih dapat merasakan keberadaan mereka. Alam bawah sadarku telah mengunci rapat kenangan indah ini. Kenangan yang tak akan kulupakan di sepanjang hidupku.
Cloud ... Rain ... semoga suatu saat kita masih dapat bertemu.
Jujur saja perjalananku seperti sebuah keajaiban. Dan mengenal Cloud maupun Rain adalah hal terindah untukku. Mereka memperlakukanku dalam balutan kasih sayang yang kuimpikan. Ingin rasanya aku kembali menjelajahi waktu untuk bertemu mereka. Tapi apalah daya, saat ini aku hanya dapat berdoa dan terus berdoa.
Kala kuingat mereka, selalu ada senyum dan tawa mengiringi kisah kami. Cloud dengan sikap kalemnya dan Rain dengan sikap agresifnya. Jika diharuskan memilih, aku tidak tahu harus memilih yang mana. Aku jadi bingung sendiri. Namun satu hal yang pasti, aku menyayangi keduanya.
Malam harinya...
Malam akhirnya tiba. Kurasakan kantuk menerjangku. Aku segera masuk ke dalam kamar. Kurebahkan tubuhku di atas kasur kapuk lalu mulai mengingat kembali kejadian yang baru saja terlewati.
Kupandangi atap rumahku. Entah mengapa bayangan perjalananku di sana teringat dengan jelas. Pertemuan pertamaku dengan Rain di ruang utama kerajaan, tatapannya yang tajam, sikapnya yang menyebalkan, teringat jelas di pikiranku. Kisah lucuku saat memasukkan daun ke mulutnya hingga dia kesulitan untuk bernapas, membuatku tertawa-tawa sendiri.
Rain, kau melakukan ini semua untuk mencuri hatiku.
Masih banyak kisahku bersama Rain. Aku jadi amat merindukannya. Ingin sekali rasanya dia datang lalu membuatku bergidik kesal karena kata-kata mesumnya itu.
Aku menyayangimu, Rain...
Bayangan akan kasih sayang Cloud kepadaku pun teringat jelas. Aku diperlakukan olehnya bak putri raja yang akan menjadi seorang permaisuri. Hangat kasih sayangnya terus bersemayam di dalam dada ini. Entah mengapa, saat ini aku merasa berada di dalam dekapannya. Aroma tubuhnya masih bisa kurasakan.
Cloud, sedang apa dirimu?
Aku terus memikirkan keduanya. Hingga tiba-tiba saja sesuatu terjadi padaku.
I-ini ...?!
Aku terbata. Kini aku berada di bukit pohon surga. Kulihat Rain datang bersama kuda hitamnya lalu menghampiri Cloud yang tengah terbaring di atas rerumputan bukit. Sedang kuda hitam Rain ikut duduk bersama kuda putih milik Cloud.
__ADS_1