Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
What Happened?


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Rain...


"Salam bahagia untuk Nona Ara."


Kedatanganku disambut dua pelayan kediaman Rain. Usianya tidak terpaut jauh dariku, mungkin hanya berbeda tujuh sampai sepuluh tahun.


"Pangeran Rain sudah bangun?" tanyaku kepada keduanya.


"Maaf, Non. Kami tidak tahu. Kami tidak berani masuk ke dalam kamarnya."


"Em, baiklah. Aku saja."


Tak ingin menunda rasa penasaran lebih lama lagi, kulangkahkan kaki segera menuju kamarnya. Jaraknya lumayan jauh dari pintu masuk kediamannya ini. Dan jujur saja, kadang aku merasa risih dengan para pelayan yang dikhususkan untuk rumahnya. Aku khawatir terjadi sesuatu yang tidak dinginkan. Apalagi para pelayannya masih tampak muda dan segar.


Pikiranku sedang kalut sepertinya.


Aku tiba di depan pintu kamar Rain. Kuketuk berulang kali sambil memanggil namanya. Tapi, Rain tidak menyahut sama sekali. Inisiatif kemudian muncul untuk masuk ke dalam kamarnya ini.


"Astaga!"


Kubuka pintu kamarnya, kulihat pangeran bungsu kerajaan ini masih juga tertidur. Ia terdengar mendengkur.


Sepertinya Rain sangat kelelahan.


Aku mendekatinya, mengusap kepalanya. Rasanya tidak tega untuk membangunkannya. Tapi, dengan siapa lagi aku bicara kalau bukan dengannya?


"Rain ...."


Kupanggil namanya pelan, namun dia belum tersadar.


"Sayang ...."


Kupanggil lagi, berharap Rain akan segera bangun.


"Rain." Akupun mulai mengguncang tubuhnya.


"Rain!" Guncanganku semakin kuat.


"RAIN!"


Teriakanku keluar untuk membangunkannya. Dia pun akhirnya terbangun.


"A-ara?"


Suaranya terdengar serak, seksi sekali. Beginikah suara pria saat baru bangun tidur? Berat-berat gimana gitu.


"Rain, ada kabar buruk," kataku segera.


"Hah?!"


Dia tampak terkejut. Mungkin nyawanya belum kumpul semua.


"Sayang, tolong aku," pintaku sambil mengguncang lengan kekarnya.


"Sebentar."


Dia kemudian beranjak bangun, menyandarkan punggung di kepala kasur. Napasnya tak lama kemudian terdengar stabil.


"Ada apa, Ara?" tanyanya seraya melihat ke arahku yang duduk di tepi kasur.


"Rain, kamarku kosong." Aku berterus terang.


"Kosong?!" tanyanya kaget.

__ADS_1


Aku mengangguk. "Tidak ada isi apapun di dalamnya. Aku tidak tahu kenapa dan ada apa," jawabku.


"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya lagi.


"Sebelum itu aku memang sempat bertengkar dengan putri itu."


"Andelin maksudmu?"


"Benar. Dia menyakitiku lalu aku membela diri. Bersamaan dengan itu Cloud datang. Dan Andelin bersandiwara jika aku yang telah menyakitinya." Aku menceritakan.


"Astaga! Lalu bagaimana?!" Rain terlihat serius.


"Aku dipanggil raja sebelum sempat masuk ke dalam kamar."


"Lalu?"


"Aku diminta menceritakan kejadian sebenarnya. Dan raja bilang lebih percaya padaku."


"Hah, syukurlah."


"Kenapa kau malah bersyukur, Rain!" Aku kesal.


"Ara, semua tergantung pada ayah. Jika ayah lebih percaya padamu, maka semua akan baik-baik saja." Rain menerangkan.


"Tapi, ponselku entah ke mana, Rain," kataku lagi.


"Ponselmu di mana?"


"Di lemari. Dan lemarinya tidak ada."


"Hah? Kejadiannya sedikit aneh. Mengapa mendadak seperti ini?" Rain bertanya sendiri.


Aku hanya mengangkat bahu, tidak tahu.


"Bagaimana sikap kak Cloud menanggapi hal ini?" tanyanya lagi.


Rain terdiam, dia seperti berpikir. Entah apa yang ada di dalam pikirannya itu. Aku pun tak tahu.


"Aku mandi dulu. Untuk sementara, beristirahatlah di sini."


Rain bergegas ke kamar mandi dan dia memintaku untuk beristirahat di kediamannya. Akupun keluar dari kamarnya ini.


Sungguh aku juga heran dengan semua yang terjadi. Mengapa dalam sekejap waktu semuanya berubah? Kamarku kosong dan saat di dapur aku tidak diperbolehkan untuk masuk.


Lebih baik aku ke halaman belakang saja.


Aku mencoba berpikir. Terlintas di benakku jika ini ada kaitannya dengan raja Aksara itu. Sikap Cloud yang tiba-tiba berubah, memunculkan spekulasi lain tentang hal ini.


"Hahh ...."


Kurebahkan punggungku di sofa yang ada di teras belakang. Mencoba menghirup udara sore di tengah cerahnya cuaca. Tak lama, Rain menghampiriku. Dia sudah mengenakan jubahnya disertai atribut kerajaan lengkap.


"Ara, aku akan menemui ayah untuk membicarakan hal ini. Aku juga akan mencari ponselmu. Secepatnya aku kembali. Tunggu aku."


Rain berpesan, aku pun mengantarkannya hingga sampai ke depan pintu rumah. Aku berharap mendapat titik temu dari kejadian ini, karena tidak tahu ada apa sebenarnya.


"Hati-hati, Rain. Selamat bertugas."


Rain hanya tersenyum tanpa memberikan kecupan untukku. Sepertinya dia sedang sangat serius atau mungkin memang lupa. Kulihat dia berjalan cepat, keluar dari halaman rumahnya ini.


Semoga Tuhan menolongku.


Aku lalu ke dapur, membuat sesuatu untuk menemani sore. Namun ternyata, sebelum sempat membuat apapun, rasa kantuk menerjangku. Segera kubaringkan diri di atas sofa yang ada di dekat perapian. Aku mengantuk.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian...


"Hoaamm."


Aku terbangun. Kulihat malam telah datang. Lampu-lampu di kediaman Rain juga sudah dihidupkan semuanya.


"Nona, Anda ingin makan malam apa?"


Salah seorang pelayan kediamannya datang menanyakan keinginanku. Karena lapar, aku meminta sup sapi saja.


"Baik, Nona. Mohon ditunggu."


Selama menunggu, aku bergegas mandi. Tapi, aku tidak punya gaun ganti. Sehingga terpaksa mengenakan gaun yang ada di lemari Rain.


"Hah ... segarnya."


Tubuhku kini lebih segar. Air sejuk membantu meringankan beban pikiran yang tengah melanda. Dengan masih terbalut handuk putih, aku mengambil gaun berwarna ungu hitam dari lemari Rain.


"Ini sih lebih mirip daster."


Kupakai gaun itu, kulihat tubuhku begitu menggoda. Gaun ini tidak mempunyai lengan sehingga bahuku terlihat begitu saja. Hanya ada tali kecil yang mengait di kedua bahuku.


"Dasarnya lentur."


Aku mencoba menarik dasar gaun ini dan ternyata seperti karet. Aku jadi membayangkan jika tengah hamil mengenakan gaun ini.


"Rain sudah mempersiapkan semuanya untukku. Tapi, entah mengapa aku belum bisa memilihnya sepenuh hati."


Kuambil make-up dari dari lemarinya lalu kupoleskan ke wajahku. Beberapa parfum yang tersedia juga kusemprotkan ke sekujur tubuh. Kini wajahku tampak cerah dan menggemaskan.


"Ara, kau di dalam?"


Kudengar suara Rain bertanya sambil mengetuk pintu. Segera saja kubukakan pintu untuknya.


"Rain?"


"Ara?!!" Rain tampak terkejut.


"Kenapa, Rain?" tanyaku bingung.


"Astaga." Dia mengusap wajahnya sendiri.


"Rain?" Aku bertambah bingung.


"Ara, kau ... cantik sekali," katanya takjub.


"Benarkah?"


"Iya, Sayang."


Rain segera mengangkat tubuhku ke atas. Seketika aku merasa seperti melayang di udara. Wajahnya pun tepat berada di depan dadaku ini.


"Aku merasa sudah menjadi seorang suami dan sebentar lagi akan menjadi ayah, Ara." Dia tampak bahagia.


"Rain, tidak ada gaun yang tertutup. Jadi aku mengenakan yang ini saja. Cuma ini yang panjangnya melebihi lutut." Aku menjelaskan.


"Tak apa. Semua gaun di lemariku memang untuk calon istriku." Dia tersenyum.


"Huh, dasar! Cepat turunkan aku," pintaku pura-pura kesal padanya.


Rain lalu menurunkanku. Dia memegang kedua pipiku lalu mencium keningku ini.


"Aku begitu menyayangimu, Ara." Dia lantas memelukku.

__ADS_1


Aku juga Rain.


Aku tidak menjawabnya langsung, hanya menjawab di dalam hati saja. Rain lalu mengajakku ke teras belakang kediamannya. Sepertinya dia sudah mendapatkan jawaban atas keanehan yang terjadi.


__ADS_2