Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Don't Make Me Cry


__ADS_3

Sesampainya di bukit persik...


Zu lekas menuruni kudanya lalu berjalan mendekat ke pohon persik raksasa. Ia kemudian memanggil gadisnya. Satu, dua, tiga kali panggilan tidak ada yang menyahuti, seketika Zu merasa cemas bukan main.


Apakah dia sedang tidur di atas pohon? Tapi apa mungkin? Waktu sudah sesore ini.


Ia lantas bergegas menaiki pohon persik, memanjatnya sambil terus melihat keadaan sekitar, kali-kali Ara sedang bersembunyi. Namun sayang seribu kali sayang, setibanya di tengah ketinggian pohon ia belum juga menemukan gadisnya.


"Astaga ... ke mana dia?"


Zu lalu berteriak kencang memanggil nama gadisnya. Teriakannya pun menggema dari atas pohon persik itu, yang mana membuat pasukan khusus terdekat menyadari keberadaan calon rajanya.


"Hei, itu suara pangeran Zu?" Salah satu pasukan khusus menyadarinya.


"Iya, benar. Jangan-jangan pangeran sedang di bukit. Lebih baik kita ke sana. Ayo!"


Dua orang pasukan khusus terdekat bergegas menemui Zu di bukit persik. Keduanya juga sedang mencari keberadaan Ara di sekitaran. Sementara sang pangeran tampak kesal karena belum menemukan gadisnya. Ia lantas menuruni pohon dengan perasaan berkecamuk di dalam dada.


"Ara!!! Lagi-lagi kau membuatku khawatir!" Zu amat kesal.


Ia segera berkeliling pohon persik raksasa itu untuk mencari jejak keberadaan sang gadis. Namun, alangkah terkejutnya saat ia menemukan bekas kayu pembakaran di belakang pohon persik ini. Pikirannya tiba-tiba kalut, jantungnya pun ikut berdebar kencang.


"Ara???" Zu panik sendiri.


Apa Ara diculik? Tapi siapa yang menculiknya? Apakah pihak Angkasa sudah datang?


Zu bertanya-tanya sendiri. Seketika itu juga ia lekas-lekas menuju kuda putihnya, bergegas kembali ke istana untuk menanyakan perihal yang ia temukan ini. Dan saat di pertengahan jalan, ia bertemu dengan kedua pasukan khususnya. Ketiganya lalu segera kembali ke istana.


Sesampainya di istana Asia...


Hari sudah gelap saat sang pangeran kembali ke istana Asia. Ia cepat-cepat menuruni kuda lalu melangkahkan kaki menuju kamar sang ayah. Wajahnya tampak kusut menahan amarah. Ia geram karena Ara belum juga ditemukan.

__ADS_1


Jam di dinding istana sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam, tapi sang pangeran belum juga beristirahat dari lelahnya aktivitas hari ini. Niatnya yang ingin pulang cepat agar dapat bertemu sang gadis, harus ia tepiskan karena kabar yang didengarnya.


Semua pasukan khusus yang diutusnya untuk mencari Ara berkumpul di depan kamar sang raja. Zu lalu menanyakan keberadaan gadisnya kepada para pasukan khusus itu. Namun, Ara dinyatakan benar-benar hilang dari istana.


"Arrrgh!"


Seketika itu Zu melampiaskan rasa kesalnya dengan menendang guci yang berada di dekatnya. Guci itu lantas pecah dan membuat seluruh pasukan dan pelayan yang ada di istana kaget. Tak terkecuali sang adik, ia lekas-lekas keluar dari kamar ayahnya.


"Kakak, ada apa?"


Shu segera menutup kembali pintu kamar ayahnya, agar sang ayah yang sedang tidur tidak mendengar keributan ini. Dilihatnya wajah sang kakak yang memerah, Shu menyadari jika tengah terjadi sesuatu kepada kakaknya.


"Kalian bubar dan kembali bertugas!" Shu membubarkan pasukan khusus yang ada di depan kamar ayahnya.


"Baik, Pangeran!"


Seketika para pasukan khusus membubarkan diri dan kembali bertugas menurut titik jaganya masing-masing. Sementara Zu terlihat duduk membungkuk di kursi yang ada di depan kamar ayahnya. Ia memegangi kepalanya sendiri.


"Shu ...."


"Ada apa, Kak?" tanya Shu yang prihatin.


"Shu, aku telah kehilangannya." Zu berucap sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.


"Maksudmu Ara?" tanya Shu memastikan.


"Ya, dia. Tak ada yang lain." Zu menahan kecamuk di dalam dadanya.


"Astaga ...." Shu pun menghela napasnya.


"Aku sudah memerintahkan pasukan khusus untuk mencarinya di sekitaran kawasan istana, tapi mereka tidak juga menemukannya," tutur Zu kembali.

__ADS_1


Shu lalu melihat jam di dinding istana. "Ini sudah pukul tujuh malam, Kak. Ada baiknya jika kau beristirahat dulu." Sang adik memberikan saran.


"Istirahat?" Zu melirik ke adiknya. "Kau pikir aku bisa istirahat setelah mendengar kabar ini?" Zu tampak menahan kesal.


"Kak—"


"Shu, dia amat berharga bagiku. Hitungan hari aku akan segera menikahinya. Dia calon istriku, Shu!" Zu berapi-api, menahan kecamuk di dalam dadanya.


"Iya, Kak. Aku mengerti. Tapi lihat dirimu sekarang. Kusut dan kumel seperti ini. Kau pikir dia mau dengan pria sepertimu?!"


"Shu—"


"Kak, lebih baik kau mandi dulu, baru kemudian lanjutkan pencarian. Dengan tubuh lelah seperti ini apa bisa kau berpikir jernih?" tanya adiknya lagi.


Zu pun terkejut. Ia tersadar dari kepanikannya sendiri.


"Aku akan mengkoordinir pasukan untuk mencarinya lebih jauh dari kawasan istana. Kau tenang saja. Sekarang pulanglah dulu. Aku akan menunggu ayah di sini sampai dia bangun." Shu menenangkan kakaknya.


Kegelisahan yang melanda hati sang pangeran akhirnya bisa sedikit reda setelah mendengar penuturan dari adiknya. Ia pun mengangguk dan segera kembali ke kediamannya. Sementara sang adik memanggil beberapa pasukan khusus lainnya, ia ikut membantu melakukan pencarian atas keberadaan sang gadis.


Satu jam kemudian...


Zu mulai merebahkan dirinya di atas kasur yang biasa ditiduri Ara. Malam ini ia menurut kepada sang adik yang sedang berusaha mencari keberadaan gadisnya. Adiknya telah menurunkan puluhan pasukan untuk mencari gadisnya agar Zu bisa beristirahat terlebih dahulu. Zu pun mengusap lembut sisi kiri kasurnya, membayangkan seolah-olah Ara ada di sampingnya.


"Sayang ... tadi pagi kita baru saja memadu kasih. Dan sore harinya kau sudah pergi. Sebenarnya apa maumu? Apa kau hanya ingin menjadikanku pelampiasan rasa sepimu?"


Wajahnya terlihat sendu sambil terus mengusap sisi kiri kasurnya itu. Entah mengapa genangan air mata terlihat dan hampir saja menetes. Zu sekuat hati menahan kesedihannya.


"Kuakui aku memang tidak bisa mengendalikan diri saat bersamamu. Tapi aku mohon mengertilah mengapa aku sampai begitu. Aku amat membutuhkanmu untuk mengisi ruang kosong di hatiku. Hampir dua puluh tahun aku kesepian dan kau datang membawa kasih sayang yang kubutuhkan. Tapi kenapa ... kenapa kau menghilang?" Zu tidak mampu lagi menahan air matanya.


Sang pangeran akhirnya menumpahkan kesedihannya. Setelah kemarau berkepanjangan, Ara datang membawa hujan kehidupan untuknya. Hal itu membuat Zu benar-benar menyayangi Ara, ia sama sekali tidak ada niat untuk mempermainkan sang gadis. Baginya apa yang diminta olehnya itu adalah suatu kebutuhan dan hanya Ara saja yang dapat memenuhinya. Ia tidak menginginkan gadis lain.

__ADS_1


Zu merasa sakit. Semua terjadi begitu cepat di dalam kehidupannya. Ia seperti tidak mempunyai semangat untuk meneruskan serah-terima jabatan raja ini. Dan perlahan ia pun tertidur dalam tangis. Ia membutuhkan Ara sebagaimana bunga membutuhkan hujan. Dan hanya cinta Ara yang Zu butuhkan, tidak ada yang lain. Zu mencintai Ara sepenuh hatinya.


__ADS_2