Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
My Lovely


__ADS_3

"Selamat Pagi, Pangeran." Aku menyapa keduanya saat tiba di hadapanku.


"Selamat pagi, Tuan Putri."


Keduanya lalu mencium tanganku ini. Rain mencium tangan kiriku, sedang Cloud mencium tangan kanan. Keduanya tampak akur pagi ini.


"Bagaimana penampilan istana, Ara?" Cloud mengawali.


"Aku tidak bisa berkata apa-apa. Sangat mengagumkan," jawabku terkesima.


"Lalu bagaimana dengan taman istananya?" Rain ikut bertanya.


"Indah sekali. Aku menyukainya, Rain."


Kugandeng keduanya seraya melihat halaman istana dari depan pintu masuk ruang tamu kerajaan. Aku merasa sudah siap untuk melanjutkan cerita ini.


"Minggu depan para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Kau siap, Ara?" tanya Cloud.


"Tentu. Semuanya sudah beres," jawabku seraya tersenyum gembira.


"Perbatasan juga sudah kubuka. Aktivitas ibu kota sudah mulai berjalan normal. Mungkin kau ingin berjalan-jalan?" Rain ikut bertanya.


"Em, mungkin nanti. Aku memang ada keperluan," jawabku seraya menoleh ke Rain.


"Rain, Cloud."


Tiba-tiba kudengar suara memanggil kedua putra mahkota ini. Akupun berbalik ke belakang, melihat ke asal suara.


Raja?!


Kulihat raja datang sendiri dan melihat aku menggandeng kedua putranya. Segera saja kulepas gandenganku pada keduanya.


"Salam bahagia untuk Yang Mulia." Aku memberikan salam setelah melepas gandengan tanganku dengan cepat.


"Terima kasih, Nona Ara. Tampaknya kedua putraku sudah mulai menurut padamu." Raja tersenyum ke arahku.


"Eh, ak-aku ...."


Aku bingung harus menjawab apa. Tapi baik Rain dan Cloud hanya tersenyum. Entah apa yang ada di dalam pikiran keduanya saat ini.


"Baiklah. Seminggu lagi tamu undangan akan mulai berdatangan. Aku harap kalian mempersiapkan diri untuk menyambutnya." Raja mengawali.


"Baik, Ayah!" Rain dan Clod menjawab bersamaan.


"Beberapa raja dan ratu dari kerajaan lain juga akan ikut menghadiri pertunjukan besar ini," lanjut sang raja.


"Em, maafkan saya, Yang Mulia. Untuk konsep panggung nanti apakah Yang Mulia menyetujuinya?" tanyaku santun.


"Aku rasa tidak apa-apa, Nona. Raja dan ratu bisa melihat dari sudut pandang yang lebih tinggi, sehingga semua pertunjukan bisa terlihat lebih jelas."


"Terima kasih, Yang Mulia." Aku membungkukkan badan.


Raja tersenyum padaku. Dia kemudian masuk ke dalam istana. Rain dan Cloud juga ikut berpamitan.


"Ara, aku tinggal sebentar."


Aku mengangguk. Sepertinya ada hal yang ingin dibicarakan raja kepada kedua putranya tanpa perlu kuketahui.

__ADS_1


"Aku ke belakang istana saja."


Akupun melangkahkan kaki ke belakang istana. Berniat untuk melihat taman yang ada di sana. Cukup jauh kakiku melangkah hingga akhirnya tiba juga di sebuah pondok jaga.


"Di mana Green, ya?"


Sudah lama aku tidak bertemu dengan kuda hijauku, aku merindukannya. Selintas kenangan awal perjumpaan dengannya itu membuat aku tersenyum-senyum sendiri. Green bagai mengajakku berkomunikasi.


"Hah, rasanya aku ingin makan buah tin."


"Nona Ara!"


Kudengar suara memanggil dari kejauhan. Kulihat wanita paruh baya dengan pakaian pelayan berwarna hitam, berjalan mendekatiku.


"Mbok?"


"Nona, ada pasar malam di ibu kota. Apakah Nona ingin melihatnya?" Mbok tampak sangat ingin mengajakku.


"Pasar malam?"


"Benar, Non. Mungkin Nona ingin ke sana nanti malam."


"Memangnya Mbok tidak beristirahat?" tanyaku.


"Kebetulan saya besok mendapat libur, Non. Mungkin Non Ara juga ingin berkunjung ke rumah saya."


Aku mengerti maksud Mbok Asri. Dia ingin aku mengunjungi rumahnya, lebih tepatnya menginap. Karena itu dia mengajakku ke pasar malam juga.


"Em, Mbok. Aku tidak tahu diizinkan apa tidak. Nanti aku bilang ke pangeran Cloud dulu, ya?" jawabku.


"Baik, Mbok. Terima kasih," kataku.


Mbok lalu berpamitan. Kulihat wanita paruh baya itu bergembira atas jawabanku.


Sepertinya Mbok Asri ingin lebih dekat denganku. Atau mungkin dia ingin menyampaikan sesuatu?


Aku rasa sambil menunggu siang, kugunakan waktu untuk bersantai sambil membaca buku di perpustakaan istana. Kebetulan hari ini belum ada pekerjaan untukku.


Segera kulangkahkan kaki menuju perpustakaan dengan diantarkan salah satu pengawal. Ternyata, tempatnya tidak jauh. Berada di lantai dua dan hanya berbeda beberapa ruang saja dari ruang kerja Cloud. Memang sih tempatnya di sudut, tapi mungkin memang sengaja agar tidak menggangu konsentrasi baca.


"Salam bahagia untuk Nona Ara."


Sesampainya di depan pintu perpustakaan, penjaga perpustakaan memberi salam padaku. Aku pikir perpustakaan ini tidak ada yang menjaganya.


Tanya tidak, ya?


Tiba-tiba aku teringat dengan buku hitam itu dan ingin menanyakan tempatnya. Tapi sepertinya, lebih baik kucari sendiri saja agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Aku segera masuk ke dalam. Kulihat banyak rak buku tinggi di setiap sisi dinding. Dan rak yang lebih pendek di pertengahan ruang perpustakaan ini. Aku jadi bingung harus mencari di mana buku itu.


"Di mana, ya?"


Aku mencoba mencarinya. Aku ingin tahu apa isi dari buku hitam itu. Tapi sayangnya, aku belum juga menemukannya.


Astaga, aku lelah.


Setelah lelah mencari, tanpa sengaja aku melihat Rain masuk ke dalam perpustakaan. Dia sepertinya mencariku.

__ADS_1


"Ara?"


"Rain?!"


"Sedang apa kau di sini?" tanyanya seperti curiga.


"Ak-aku sedang mencari ... buku," jawabku terbata.


"Kau ingin mencari buku apa?" tanyanya lagi seraya berjalan mendekatiku.


"Em, buku sejarah."


"Sejarah?"


"He-em, tentang kerajaan ini."


Rain tampak berpikir. "Kau bisa tanyakan padaku tentang itu, Ara. Ayo, keluar! Aku ada sesuatu untukmu."


Rain menarik tanganku. Akupun tak berdaya menolak ajakannya. Kuikuti langkah kakinya keluar dari perpustakaan ini.


Hah, sepertinya aku belum diizinkan untuk membaca buku itu.


"Rain, kita akan ke mana?" tanyaku sambil mengikutinya.


"Kita ke manshion-ku," jawabnya.


"Apa ada pekerjaan untukku?" tanyaku lagi.


"Tidak ada, sih. Hanya saja aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu."


"Hal apa?"


"Sudah, jangan banyak tanya, Ara. Ikuti saja aku." Rain tampak kesal.


Ish, dia ini. Selalu saja ingin dituruti.


Kami pun menuruni anak tangga menuju lantai satu. Melewati koridor ruangan untuk menuju ke barat istana, tempat manshion Rain berada. Yang mana lokasinya tidak jauh dari pintu gerbang belakang istana ini.


Entah apa yang akan Rain tunjukan padaku. Aku berusaha berpikiran positif saja. Kalaupun hasilnya negatif, ya sudah. Aku pasrah saja. Toh aku tidak bisa berbuat apa-apa di hadapannya.


Pegangan tangannya begitu erat. Dia tidak malu memegang erat tanganku di hadapan para pelayan yang menyapa. Wajahnya terlihat angkuh, tapi hatinya lembut sekali. Dan cuma aku yang tahu hal itu.


Rain, kau tahu. Semakin lama, aku semakin menginginkanmu. Apakah aku salah dengan perasaanku ini?


Tubuh tegapnya membuatku merasa sangat terlindungi. Aku tidak takut dengan siapapun selama itu bersamanya. Rain begitu menjagaku. Dan kini dia juga mulai protektif padaku. Entah apa yang terjadi padanya sehingga sikapnya semakin memiliki seperti ini.


"Ara, ada pasar malam di ibu kota. Kau ingin ke sana?" tanyanya saat kami berjalan sejajar.


"Ingin, sih. Tapi kau akan bertugas. Mungkin aku sama mbok Asri saja."


"Tidak boleh. Aku tidak mengizinkannya."


"Rain?"


"Kau tidak boleh keluar istana tanpaku."


Tu kan, mulai. Apa perkataannya harus kuturuti. Dasar!

__ADS_1


__ADS_2