Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I'm Not Princess


__ADS_3

"Rain, kau dengar apa kata Ayah?" tanya Sky yang tampak kesal karena putra bungsunya diam, seolah tidak menanggapi apa yang dikatakan olehnya.


"Aku dengar, Yah. Aku harap semua ini cepat selesai sehingga aku bisa berbulan madu bersama Ara."


Rain berjalan mengambil dokumen itu. Ia melewati Cloud dengan pandangan yang tajam. Cloud sendiri terlihat geram dengan ucapan Rain.


"Selesaikan tugas ini dengan sebaik mungkin. Jangan dulu beralih kepada yang lain." Sky berpesan tegas.


Rain segera keluar dari ruangan ayahnya seraya membawa dokumen itu. Cloud sendiri diam sambil menahan kesalnya, hingga tidak menyadari jika sang ayah tengah memperhatikan.


"Cloud, duduklah." Sky meminta Cloud duduk.


Cloud pun duduk di depan meja kerja ayahnya. Ia tampak menghela napas.


"Jangan sampai Ayah harus mengulang apa yang telah Ayah katakan kepada kalian." Sky meneguk secangkir kopi yang ada di atas meja kerja.


"Dia selalu membuatku naik darah, Yah," sela Cloud.


"Tapi dia juga adikmu. Kalian saat ini memang sedang bersaing. Tapi Ayah pinta jangan sampai gunakan kekerasan. Kalian saudara kandung, dilahirkan dari rahim yang sama." Sky mengingatkan.


Sky mengerti bagaimana perasaan kedua putranya. Tinggal beberapa hari lagi pertunjukan busana dan acara pelelangannya akan diselenggarakan, sebagai puncak kerja keras mereka. Namun, Sky tidak ingin terjadi keributan di hari-hari menjelang keputusan siapakah yang akan terpilih untuk menikahi Ara.


"Baik, Yah. Aku harap keberuntungan akan berpihak padaku. Rasanya Ayah tidak perlu mempertanyakan lagi bagaimana perasaanku pada Ara."


Sky mengangguk, menanggapi perkataan putranya. Ia lantas mempersilakan Cloud untuk kembali ke aktivitas hariannya dengan memberikan beberapa dokumen untuk dicek kembali oleh Cloud. Cloud pun segera menerima dokumen itu lalu berpamitan.


Aku rasa perlu menanyakan empat mata perihal hal ini kepada gadis itu. Aku tidak ingin kedua putraku bertengkar. Terlebih tugas dan tanggung jawab mereka besar untuk negeri ini.


Ada rasa khawatir di benak Sky jika setelah hari penentuan ada salah satu putranya yang tidak terima dengan hasil keputusan. Ia khawatir terjadi perpecahan di pihak istana dan mengakibatkan pemberontakan. Sky memikirkan ulang sebelum semuanya terlambat. Bagaimanapun ia tahu persis sifat kedua putranya itu.


Selepas makan siang di bukit pohon surga...


Para putri dan pangeran beristirahat sejenak sebelum memulai permainan yang akan diadakan sore nanti. Sesuai jadwal, mereka akan pergi ke air terjun untuk mandi di sana. Tempat di mana Cloud mengundang Ara untuk menikmati alam terbuka yang indah seperti surgawi. Dan kini gadis itu tengah duduk di belakang pohon surga sambil meneguk air di botol minumnya.


"Cuaca panas sekali padahal baru saja awal musim semi."


Ia mengelap keringat di dahinya seraya berulang kali meneguk air minum. Tanpa menyadari jika ada seorang pangeran sedang mencari dirinya. Siapa lagi kalau bukan Zu.

__ADS_1


Para putri sedang duduk menikmati indahnya pemandangan dari atas bukit, ditemani para pangeran yang sedang berusaha mendekati mereka. Sedang para pasukan khusus sudah berjaga di titiknya masing-masing.


Kini terlihatlah Zu yang diam-diam berjalan mendekati Ara. Ia berdiri di sisi kiri sang gadis sebelum diizinkan untuk duduk bersama.


"Pemandangan di sini begitu indah sekali." Zu mengawali.


"Pa-pangeran?"


Ara bergegas menaruh botol minumnya lalu ingin berdiri. Tapi, Zu menahannya.


"Biarkan aku saja yang duduk." Zu kemudian duduk di sisi kiri Ara.


"Pangeran Zu, Anda tidak bergabung dengan pangeran dan putri lainnya?" tanya Ara berhati-hati.


"Bagaimana bisa aku berada di sana sedang kau di sini, Nona?" Zu balik bertanya.


"Hah?!" Ara terkejut mendengarnya.


Zu menoleh ke arah Ara yang sedang melihatnya. Ia lalu tersenyum kepada gadis itu.


"Maksud Anda, Pangeran?" Ara tampak bingung.


"Ada sesuatu yang melatarbelakangi kedatanganku ke sini," lanjut Zu.


"Apakah ini berkaitan dengan kerja sama antar kerajaan?" tanya Ara lagi.


"Tentunya, Nona," jawab Zu cepat.


Ara menunduk. Ia merasa bodoh karena telah mempertanyakan hal itu kepada Zu. Tapi, di hatinya menyimpan tanda tanya besar atas sikap baik Zu kepadanya.


"Aku sedang mencari calon ibu untuk anak-anakku kelak. Mungkin kau berminat."


"Ap-apa?!"


Bagai petir di siang bolong. Perkataan Zu membuat Ara menarik kembali pandangan tentang dirinya. Ia merasa jika Zu mempunyai keinginan lain dari perjalanan kerajaan ini.


Apa maksud dia mengatakan hal itu padaku? Apa semua putri dia tawarkan?

__ADS_1


Ara terkejut dan juga bingung. Dan tiba-tiba saja terlintas perkataan Tetua Agung agar berhati-hati dalam setiap menerima tamu istana yang datang. Pikirannya tiba-tiba negatif. Pandangannya pun berubah terhadap Zu.


"Aku hanya akan menawarkannya sekali padamu." Zu menoleh ke Ara yang duduk di sisi kanannya.


"Pa-pangeran, apa ini serius?" tanya Ara lagi mencoba untuk memastikan.


"Menurutmu?" Zu malah balik bertanya.


"Em, ma-maksudku apa ini berkaitan dengan politik kerajaan?" Ara tampak gugup menanggapi obrolan ini.


"Hahaha."


Zu pun tertawa mendengar pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan yang tidak pernah terbesit di benaknya ia dengar siang ini.


"Nona, tawaranku serius." Zu mulai menatap serius Ara.


"Tap-tapi—"


"Aku tahu kau pasti kaget dengan hal yang kukatakan. Mungkin ini terlalu cepat bagimu. Namun, bagiku tidak." Zu memutar badannya ke Ara.


"Pangeran, aku bukanlah seorang putri. Aku tidak pantas menerima tawaran itu." Ara tampak menolak karena dirinya bukanlah seorang putri.


Seketika itu juga ada rasa iba pada diri Zu, ia memandang Ara dengan pandangan yang lain. Ingin rasanya Zu menarik Ara ke dalam pelukannya. Ia tidak bisa melihat perubahan roman wajah Ara karena tawaran yang diajukan olehnya. Namun, ia menepiskan keinginannya. Ia tidak ingin Ara berprasangka yang tidak-tidak tentangnya.


"Nona, apakah hal itu penting?" Zu mencoba meredakan kesedihan yang tersirat dari wajah Ara.


"Aku tidak tahu, Pangeran. Tapi setelah menjalani kehidupan di Angkasa, yang kutahu seorang pangeran harus menikah dengan putri kerajaan." Ara menundukkan kepala.


Gadis ini ternyata begitu perasa. Padahal aku tidak memedulikan dia seorang putri atau bukan.


"Itu hanya dogma semata, Nona. Jika cinta sudah berkata, tak ada yang dapat mencegahnya. Bukan begitu?" Zu menambahkan.


Ara tertegun.


"Mari kita berkumpul dengan yang lainnya. Aku tidak ingin melihat raut kesedihan di wajahmu. Apalagi jika itu karena aku."


Zu mengajak Ara untuk kembali ke depan pohon surga. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Ara berdiri. Ara pun mengangguk, ia lantas bangkit sendiri, tidak menghiraukan uluran tangan Zu. Namun, sesuatu kemudian terjadi padanya. Sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2