Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Special Day


__ADS_3

Esok harinya...


Ara tidur di lantai dua kediaman Rain. Ia kini lebih bahagia walau tidak memiliki kamar sendiri. Setiap malam ia tidak pernah merasa kesepian karena Rain selalu menemaninya. Rain juga merasa jika Ara telah menjadi miliknya. Ya, walaupun belum sepenuhnya menjadi seorang istri. Kehadiran Ara di rumahnya membuat Rain semakin bersemangat untuk bekerja.


Fajar ini Rain sudah berangkat menemui pasukannya untuk berlatih tempur bersama. Sebagai panglima tinggi di istana, tentunya Rain memiliki kepribadian yang terkesan menakutkan. Tapi tidak jika sedang bersama gadisnya. Ia tidak malu untuk menunjukkan sisi asli dari dirinya itu.


Setiap malam sebelum tidur, Rain mengajak Ara bercengkrama di teras belakang sambil menikmati secangkir susu hangat. Rain bermanjaan dengan gadisnya hingga membuat para pelayan di kediamannya harus menelan ludah. Ara yang masih menjaga jarak, membuat Rain merasa semakin tertantang untuk menaklukannya. Beberapa sentuhan ia berikan untuk membangkitkan hasrat sang gadis


Lain dengan Ara. Ia masih bersikukuh untuk mempertahankan keperawanannya. Ia tidak ingin memberikannya kepada selain suaminya kelak. Namun, ia juga manusia biasa. Terkadang ulah Rain membuatnya dimabuk kepayang. Ia hampir kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.


"Selamat pagi, Nona."


"Selamat pagi. Pangeran Rain belum kembali?"


Ara turun dari lantai dua dengan semangat juangnya yang kokoh. Tubuhnya terbalut gaun hitam polos dengan pernak-pernik berkilauan. Berlengan pendek dengan bagian bahu yang sedikit terbuka. Gaun itu pemberian dari sang pangeran bungsu. Ya, siapa lagi kalau bukan Rain Sky.


Ara menyukai gaun dengan motif yang simpel dan juga nyaman dipakai. Dasarnya yang jatuh, membuat Ara jadi leluasa untuk bergerak.


"Belum, Nona. Mungkin sebentar lagi. Sarapan sudah saya letakkan di atas meja," kata pelayan itu.


"Terima kasih, nanti aku akan menyantapnya," sahut Ara, dan pelayan itu kemudian undur diri.


Ara lantas masuk ke dalam kamar Rain. Ia berniat menggunakan make-up di sana.


"Apakah gaun ini cocok untuk kukenakan?"


Ia memutar tubuh di depan cermin besar yang ada di kamar Rain. Menimbang kembali gaun hitam yang akan ia kenakan. Pernak-pernik yang menghiasi tentunya akan sangat berkilauan jika terkena sinar matahari.


"Tak apa mungkin jika aku mengenakan gaun ini."


Ara menggulung rambutnya, menjepitnya agar tidak acak-acakan saat terkena angin. Ia juga mengenakan make-up yang lebih berani hari ini, menyesuaikan dengan gaun hitamnya. Lipstik merah menghiasi bibir manisnya. Tampilannya hari ini tampak mengimbangi para putri kerajaan lain. Tak lupa tiara pemberian dari raja juga ia kenakan, ditambah semprotan parfum kesukaannya.


"Aku siap!"


Ia tersenyum kepada dirinya di pantulan cermin, lalu segera melangkahkan kaki keluar kamar. Bersamaan dengan itu, Rain datang dan melihatnya.


"Ara?!"

__ADS_1


"Rain?"


"Kau?!"


"Kenapa?"


"Kau mengenakan gaun ini?" Rain tampak tidak percaya.


"Memangnya aneh, ya?" Ara melihat gaunnya sendiri.


"Tidak, Sayang. Kau kelihatan seperti putri bangsawan. Aku takjub melihatnya."


"Huh, pagi-pagi sudah merayu." Ara keluar menuju meja makan.


"Merayu? Tidak. Aku hanya berkata jujur," sergah Rain.


"Sudah, kita sarapan dulu, ya. Aku harus menuju ruang utama pagi ini."


"Kau ada pekerjaan?"


"Iya. Akan ada acara selepas ini."


"Mungkin besok aku libur."


"Baiklah. Jangan terlalu lelah, ya." Rain mencubit pipi gadisnya.


"Siap, Pangeran Rain!" Ara bersemangat menanggapinya.


Keduanya sarapan pagi bersama layaknya sepasang suami istri yang bahagia. Setelahnya, Ara pun berpamitan. Rain sendiri segera beristirahat setelah latihan fisik yang melelahkan bersama para prajuritnya.


"Besok aku akan meminta libur. Tapi sepertinya hari ini akan menjadi hari yang melelahkan untukku."


Gadis itu terus melangkahkan kaki menuju ruang utama istana. Ia tampak menyemangati dirinya yang sudah mulai merasa lelah. Ini semua demi kerajaan Angkasa. Demi kerajaan kedua pangeran yang dicintainya.


Sesampainya di ruang utama...


Sarapan pagi bersama telah selesai dilakukan. Para pangeran dan putri tampak menunggu instruksi selanjutnya. Ara pun datang seraya tersenyum, melewati para putri dan pangeran yang sedang duduk di depan meja makan. Ia mendekati Cloud yang sedang berbincang dengan menterinya.

__ADS_1


"Selamat pagi," sapa Ara kepada Cloud dan juga Count.


Tampilan Ara pagi ini membuat para pangeran menujukan pandangan ke arahnya. Gaun hitam berdasar jatuh itu tampak mencuri perhatian para pangeran. Ara mengenakan gaun yang berbeda dari putri-putri kerajaan lain.


"Salam bahagia untuk Nona Ara." Count memberi salam.


"Salam bahagia. Apakah hari ini sudah bisa dimulai, Pangeran, Menteri Count?" tanya Ara kepada keduanya.


"Sudah bisa, Nona. Semalam sudah saya jelaskan susunan acaranya sebelum acara inti," jawab Count.


"Em, baiklah. Terima kasih." Ara pun tersenyum.


"Kalau begitu saya permisi, Pangeran, Nona." Count lalu undur diri.


Hari ini Ara akan menjalankan tugasnya sebagai pendamping para pangeran dan putri kerajaan. Ia membantu Cloud agar sang putra sulung tetap bisa mengerjakan tugas hariannya tanpa harus terganggu.


"Ara, kau yakin? Hari ini kau akan lelah." Cloud merasa khawatir.


"Tidak apa, Cloud. Aku merasa baik-baik saja hari ini. Lagipula kau harus banyak istirahat. Biar aku saja yang menggantikannya."


Cloud tersenyum. "Terima kasih, Sayang. Kau begitu pengertian denganku."


Semenjak kejadian kemarin, kondisi Cloud memang harus lebih banyak beristirahat. Buah ceri yang sempat masuk ke dalam lambungnya itu membuat lambung Cloud sedikit terganggu. Untuk saja Ara dan Rain bertindak cepat. Jika tidak, buah itu akan menjadi penyakit di tubuh sang pangeran.


"Baiklah. Nanti makan siang aku akan ke ruanganmu. Selamat bertugas." Ara menyemangati.


Cloud tersenyum lagi dan lagi. Ia sangat bahagia dengan perlakuan Ara pada dirinya. Ia merasa jika Ara tidak lagi menjadi kekasihnya, melainkan sudah seperti istrinya sendiri.


Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Ara. Pengorbanan yang telah kau lakukan untukku dan negeri ini sudah sangat besar. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.


Cloud kemudian berpisah dengan gadisnya itu. Ia kembali ke ruang kerjanya, berniat melanjutkan aktivitas. Sedang Ara, ia mulai memperkenalkan diri kepada para pangeran dan putri kerajaan.


Aku harus percaya diri. Tidak boleh membuat malu raja dan kedua pangeranku. Aku pasti bisa melaksanakan tugas ini. Toh, aku sudah terbiasa bersosialisasi saat di duniaku dulu. Tentunya hal ini tidak akan sulit untukku.


Ara berdiri di dekat kursi utama. Ia tersenyum kepada para putri dan pangeran. Bersamaan dengan itu, seorang pelayan datang membawakan banyak papan alas untuk menulis, lembaran kertas dan puluhan pena. Ara akan segera memulai acaranya.


"Selamat pagi, Putri, Pangeran." Ara mulai menyapa para putri dan pangeran yang hadir.

__ADS_1


"Selamat pagi," sahut para putri dan pangeran serempak.


Hari ini akan menjadi hari pertama Ara sebagai pendamping tamu kehormatan istana. Tentunya ia akan berusaha keras untuk itu.


__ADS_2