
Tiga jam kemudian...
Rasa lelah menerjangku sehabis membeli kebutuhan bulanan untuk di rumah. Tapi tidak dengan Rain, dia masih tampak bersemangat. Staminanya patut diacungi jempol.
"Tolong ya, Rain. Letakkan saja semuanya di lantai dapur. Nanti biar aku yang merapikan."
Tubuhku ini rasanya lelah sekali, ingin direbahkan. Seolah meronta meminta untuk beristirahat.
Kuambil minuman isotonik untuk menambah stamina tubuhku yang melemah sambil menuju kursi bambu yang ada di belakang rumah. Aku tidak berniat masuk ke dalam kamar karena khawatir Rain akan mengikutiku. Jadi aku ke belakang rumah saja.
"Hah, segarnya."
Setengah botol minuman isotonik sudah kuteguk. Aku lalu merebahkan diri di kursi bambu ini. Rain kemudian datang menghampiri sambil membawa cemilan dan minuman ringan.
"Kau tampak kelelahan, Ara."
"Hm, iya. Aku begitu lelah. Sepertinya aku membutuhkan tukang pijat."
"Bagaimana kalau aku saja yang memijatnya?" Rain menawarkan diri.
"Tidak mau! Nanti kau nakal lagi," gerutuku.
Rain diam lalu menyela duduk di belakangku. Kedua tangannya mulai memegang pundakku yang pegal ini. Akupun pasrah dibuatnya.
"Nyonya Rain, kau harus menuruti titah paduka. Kalau tidak, kau akan terkena hukuman!" ancamnya.
Kedua kakinya dilebarkan, mengunci tubuhku ini. Dia tepat berada di belakangku sambil memijat pundakku ini. Pijatannya benar-benar terasa enak. Sepertinya dia tahu benar titik-titik mana saja yang harus dipijat untuk meringankan bagian yang pegal.
"Rain, pijatanmu enak sekali," kataku sambil menunduk.
"Kau ingin mendapatkan pijatan lebih dariku?" tanyanya sambil terus memijat.
"Memangnya bisa?" tanyaku polos.
"Tentu saja."
Rain segera menyingkapkan rambut panjangku ke bahu kiri. Dia lalu menarikku untuk bersandar di dadanya.
"Rain?"
Dia menatapku. Tangan kanannya menyingkapkan helaian rambutku yang tersisa.
"Ara, berjanjilah untuk setia kepadaku."
"Rain ...."
Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kurasakan hangat napasnya yang kian memburu. Tangan kirinya menggenggam tangan kiriku dengan erat, sedang tangan kanannya melingkar di perutku.
__ADS_1
Napasnya kian terasa. Aku bingung harus berbuat apa. Telapak kakiku terasa sangat dingin. Mungkin karena sedang tidak memakai alas kaki atau mungkin karena terbawa suasana yang sedang terjadi di antara kami.
Kulihat Rain memejamkan kedua matanya. Bibirnya pun semakin mendekati bibirku. Aku jadi gugup dibuatnya. Mungkin aku harus menyerahkan ciuman pertama ini kepadanya.
"Mmh?!"
Rain meraih bibirku, mengecupnya dengan amat lembut. Sontak aku seperti tersengat aliran listrik. Seluruh tubuhku bergetar kecil merasakan ciumannya, dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
Kedua mataku terbelalak, tak percaya jika hari ini aku harus menyerahkan diri kepadanya. Kepada sosok yang dahulu begitu menyebalkan bagiku.
Rain ....
Kupejamkan kedua mata ini sambil menikmati sentuhan lembut bibirnya. Aku mencoba untuk menormalkan tubuhku yang merinding. Mungkin seluruh rambut halusku kini tengah berdiri karena merasakan sensasi yang Rain berikan.
Rain menekan lembut bibirku seolah meminta perlawanan. Akupun mencoba untuk membalasnya. Kugerakkan pelan kepalaku ke kanan dan ke kiri untuk menambah sensasi ini. Kedua bibir kami pun bergesekan dengan lembut. Ciuman ini begitu terasa dan lama-lama semakin menuntut. Kamipun terbawa suasana.
Rain, aku milikmu ....
Aku masih menikmati ciuman ini. Getaran kecil kurasakan pada bagian sensitif tubuhku. Rain lalu menyudahi ciumannya. Dia menarik diri dari wajahku.
Kuintip Rain dari balik kelopak mataku yang sedikit terbuka. Kulihat dia tengah tersenyum manis sekali. Senyumnya mengembang menyiratkan kebahagiaan yang menyelimuti hatinya.
"Ara ...."
Kedua tangannya lalu memegang pipiku. Akupun membuka kedua mata ini di hadapannya.
"Ara, maukah menikah denganku? Hidup bersamaku sampai akhir hayat kelak?" tanyanya yang sontak membuat aliran darahku seolah terhenti.
"Ara, jangan bilang selama ini kau hanya menganggapku bercanda."
Aku memeluknya. Melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya, merebahkan kepalaku di dadanya yang bidang.
"Aku hanya khawatir jika aku terjebak dalam harapan semu, Rain," kataku yang mencoba untuk jujur.
"Astaga, Ara. Aku benar-benar serius padamu. Kau tidak tahu bagaimana perjuanganku untuk sampai ke sini, hanya untuk menemui dirimu?"
"Rain—"
"Aku harus bertapa di bukit pohon surga selama tiga hari tiga malam untuk bisa menemui Tetuah Agung lalu memohon kepadanya untuk dibukakan portal."
"Rain, aku—"
"Dan bukan hanya itu saja. Portal akan dibuka jika selama tiga malam aku berhasil memimpikanmu. Dan apa kau tahu, Ara? Betapa banyak waktuku tersita hanya untuk memikirkanku. Bagaimana Ayah memarahiku karena pekerjaanku terlantar? Belum lagi para penghuni istana yang—"
"Cukup, Rain."
Aku segera melepas pelukanku. Aku bangkit lalu berbalik arah untuk menghadapnya. Kedua kakiku kini berada di atas pahanya. Kuraih bibirnya sambil melingkarkan kedua tangan dilehernya itu.
__ADS_1
"Ar-ara ...?"
Kini aku tidak dapat menahan diriku lagi. Kuserahkan diri ini kepadanya. Deru napasku kian memburu, jantungku berpacu sangat cepat. Kucoba untuk menyalurkan hasrat ini kepadanya. Aku mencium bibirnya dengan penuh gairah. Kedua tangan Rain juga mulai merayap menuju pinggulku. Dia lantas memegangnya dengan erat.
Kami bercumbu, benar-benar bercumbu. Melepaskan hasrat yang telah menggebu. Kucium bibirnya, kutekan lembut bibirnya itu seraya lebih mendekatkan tubuhku ke tubuhnya. Kami sangat dekat sekali. Kurasakan napas Rain amat memburu. Dia pun tidak ingin kalah dariku.
Sesaat aku memberhentikan ciumanku. Kulihat wajahnya memerah karena sikap agresifku ini. Tangan kirinya lantas merayap hingga ke tengkuk leherku dan menarikku untuk bercumbu lagi. Dia tidak memberiku kesempatan untuk bernapas sama sekali.
"Rain ...."
"Ara ...."
Kami lalu bercumbu lagi, melepas semua keinginan yang selama ini terpendam.
"Ara ... mmhh!"
Dia menikmatinya. Kurasakan sesuatu sudah mengeras di bawah sana. Kulihat Rain dari balik kelopak mataku yang begitu menghayati ciuman ini.
Entah berapa lama kami bercumbu. Hingga suara klakson mobil menghentikan aksi kami yang gila ini. Entah siapa yang datang, rasanya aku tidak ingin menyudahi hal ini bersamanya.
"Aku menyayangimu, Rain," kataku seraya menatapnya.
"Aku lebih menyayangimu, Ara."
Rain mengusap pipiku. Kami lalu berpelukan. Rain menyandarkan kepalanya di dadaku, aku pun membiarkannya. Biarlah burung nuri yang ada di belakang rumah ini menjadi saksi akan cinta kami.
Aku kini menyadari jika aku mencintainya. Serasa tidak peduli lagi dengan Cloud. Padahal karena Cloud lah kehidupan keluargaku dapat berubah drastis. Kuakui, cinta ini memang kadang tak ada logika.
"Rain."
"Hm?"
"Kita lihat dulu siapa yang datang, ya?" ajakku.
"Tapi, Ara. Aku masih ingin bersamamu," jawabnya.
"Nanti bisa kita lanjutkan. Aku khawatir jika ayah yang datang—"
Sejenak aku terdiam.
"Astaga, Rain. Ayo, cepat! Rapikan dirimu! Jangan-jangan ayah sudah pulang."
Aku lalu bergegas merapikan diri sambil menuju gerbang. Aku khawatir jika ayahlah yang datang.
"Ara, tunggu aku!"
Sekilas kulihat Rain membenarkan celananya. Sepertinya sesuatu telah terjadi pada dirinya itu.
__ADS_1
Rasakan! Berani nakal akhirnya begitu!
Aku jadi tertawa sendiri melihatnya.