
Di bukit pohon surga...
Seusai sarapan pagi bersama, para pangeran dan putri berdoa. Mereka tampak membentuk lingkaran sambil berpegangan tangan. Ara kembali mengingatkan awal-awal perjumpaan mereka hingga akhirnya tiba di sesi terakhir kebersamaan ini. Tak ayal, para putri terlihat bersedih hingga ada yang meneteskan air mata karena waktu perpisahan telah tiba.
"Aku minta maaf jika sedari awal telah membuat kesalahan. Semoga kita masih bisa bertemu kembali."
Isak tangis menyelimuti puncak akhir acara kebersamaan ini. Beberapa di antara pangeran terlihat menunduk, menahan kesedihannya. Hingga akhirnya Ara mempersilakan untuk berdoa bersama.
Aku berharap bisa berada di sini lebih lama lagi. Tapi apakah itu mungkin?
Zu berkata dalam hatinya sambil terus berdoa agar kebersamaan ini terus terjaga. Momen-momen seperti ini belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak pernah terpikirkan jika ia akan mengikuti sejak awal acara hingga puncaknya. Ia merasa belum puas merasakan kebahagiaan yang langka ini.
"Selesai."
Ara menyudahi doanya. Ia lantas mengajak berpelukan putri yang ada di sampingnya. Dan untuk yang pertama kali para putri itu saling berpelukan di sepanjang sejarah kerajaan. Sedang para pangerannya tampak saling menyemangati. Kebersamaan yang sudah terjalin selama ini meninggalkan kesan tersendiri bagi pribadi masing-masing.
Ada canda tawa, ada juga tangis air mata. Rain yang melihat momen ini ikut terharu karena tak biasanya para putri dan pangeran bisa seakrab seperti ini. Ia merasa jika semua ini karena ide brilian dari gadisnya. Kebersamaan yang tentunya akan menguatkan kerja sama antar kerajaan.
"Baiklah. Para putri dan pangeran dipersilakan menyiapkan keperluannya. Kita akan segera kembali ke istana."
Ara meminta Rain untuk membantu para putri naik ke atas kuda para pangeran. Para pangeran sendiri akan mengantarkannya sampai ke kereta kuda yang ada di kaki bukit. Setelahnya, mereka akan beriringan kembali ke istana.
"Akhirnya selesai juga." Ara tampak lega.
Setelah semua pangeran dan putri bersiap, asisten Ara mendampingi untuk kembali ke istana. Para pasukan khusus yang berjaga pun mulai keluar dari titik jaganya masing-masing. Mereka mengawal para putri dan pangeran kerajaan kembali ke istana. Sementara si gadis masih tertahan oleh pangerannya di atas bukit.
"Rain, kau ini benar-benar tidak tahu tempat."
Ara tampak kesal karena Rain menjahilinya. Iapun menggerutu di hadapan sang pangeran.
"Aku hanya heran padamu, Ara."
"Heran?"
"Kau tidak cemburu saat aku membantu para putri naik ke atas kuda pangeran-pangeran itu."
"Astaga. Jadi kau ingin aku cemburu?" tanya Ara seraya bertolak pinggang di hadapan Rain.
"Bukan begitu maksudku." Rain mencubit kedua pipi Ara. "Aku hanya penasaran apakah kau cemburu tadi?" Rain menjelaskan.
"Hah ...." Ara mengembuskan napasnya.
"???"
"Aku tahu tempat, Rain. Lagipula apa iya kau akan macam-macam pada mereka?" tanya Ara dengan raut wajah yang kesal.
__ADS_1
Seketika Rain menaikkan satu alisnya kala melihat sang gadis bersikap seperti itu. Ia pun mulai melancarkan aksinya.
"Kau tau, Ara." Rain mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. "Semakin kau marah, aku semakin bergairah." Rain lalu menggigit kecil telinga kiri Ara.
"Ah! Dasar genit!"
Ara lantas beranjak pergi meninggalkan Rain. Ia tidak ingin berlama-lama di atas bukit.
"Sayang, tunggu."
"Tidak mau!"
"Hah, kau ini membuatku semakin bergairah saja." Rain lalu mengejar gadisnya.
Rain dan Ara sengaja pulang paling terakhir untuk memastikan tidak ada barang ataupun keperluan yang tertinggal. Hingga akhirnya, ia kembali ke istana bersama Rain. Menunggangi kuda hitam Rain sambil bercanda tawa dengan sang putra mahkota itu.
Sesampainya di istana...
Rain dan Ara kini sudah tiba di istana kerajaan Angkasa. Tampak keadaan istana yang mulai disibukkan untuk acara pertunjukan busana nanti malam. Namun, Ara tidak langsung melihatnya, ia ingin beristirahat terlebih dahulu.
"Kau tidak ingin melihat dekorasi ruangan, Ara?" tanya Rain yang berjalan masuk bersama Ara ke halaman rumahnya.
"Nanti saja, Rain. Aku ingin tidur dulu. Rasanya lelah sekali," jawab Ara seraya meregangkan kedua tangannya ke atas.
"Jam makan siang saja. Tapi jangan sampai lupa, ya."
"Tenang saja, Nona."
"Hah? Nona?"
"Istriku ...." Rain memasang wajah mesumnya.
"Ish, dasar!"
"Tapi nanti makan siang di luar ruangan, Ara." Rain memberi tahu.
"Iya, aku sudah tahu. Ruang utama kan sedang dipakai."
"Kau tidak ingin ikut makan siang bersama?" tanya Rain lagi.
"Entahlah. Aku lelah dan juga mengantuk sekali. Tapi yang jelas bangunkan aku saat jam makan siang." Ara mengingatkan kembali.
"Iya-iya, istriku." Rain lalu merangkul Ara.
Keduanya pun berjalan masuk ke kediaman Rain. Mereka lantas berpisah, Ara menaiki tangga menuju lantai dua, sedang Rain masuk ke dalam kamarnya. Mereka sama-sama ingin beristirahat sejenak sebelum melaksanakan tugas selanjutnya.
__ADS_1
Sementara itu di kamar Zu...
Zu telah kembali ke kamarnya dan kini ia sedang merebahkan diri. Ia berniat beristirahat sebelum makan siang bersama dilakukan.
Ia berbalik ke kanan dan ke kiri di atas kasurnya, namun belum juga bisa tertidur. Ia masih terbayang-bayang dengan kejadian tadi, saat melihat Ara yang begitu dekat dengan Rain.
"Aku penasaran, apa hubungan gadis itu dengan pangeran bungsu kerajaan ini?"
Zu beranjak bangun. Hatinya diliputi rasa penasaran dan keingintahuan yang begitu besar terhadap sang gadis. Zu ingin mengetahuinya sendiri, namun ia juga memikirkan bagaimana cara agar bisa mengetahuinya tanpa harus bertanya kepada penghuni istana ini.
"Kakak!"
"Shu?"
Tak lama adiknya datang, masuk ke dalam kamar dengan membawakan kacang goreng dan juga air jahe.
"Lihat apa yang kubawa."
"Kau bawa apa, Shu?"
"Aku bawa kacang dan juga air jahe spesial." Shu berkata bangga.
"Kau dapat dari mana?"
"Aku memintanya kepada pelayan istana ini. Kudengar air jahe ini begitu enak."
"Kau sudah mencicipinya?" tanya Zu lagi.
"Tentu saja. Maka itu aku juga membawakannya untukmu. Rasanya lain daripada yang lain." Shu meletakkan bawaannya ke atas meja.
Jangan-jangan gadis itu juga yang membuatnya?
Zu langsung mencicipi air jahe yang adiknya bawa. Ia rasakan sendiri bagaimana sensasi meminum air jahe itu. Dan tanpa banyak bicara, Zu langsung keluar mencari pelayan. Shu pun terheran-heran sendiri dengan sikap kakaknya itu.
"Eh?! Dia mau ke mana?"
Zu lantas mencari salah satu pelayan. Ia minta diantarkan ke dapur istana ini. Dan sesampainya di sana, ia segera menanyakan hal yang ada di dalam pikirannya itu. Zu pun mendapatkan jawabannya.
Dia lagi yang membuatnya?
Zu semakin terkagum-kagum kepada gadis itu setelah mengetahui jika resep dari Ara jualah pembuatan air jahe ini. Rasanya ia ingin sekali mengenal lebih jauh gadis itu.
Dia gadis yang serba bisa. Aku harus menunggu apa lagi? Dialah gadis yang kucari selama ini. Ya Tuhan, kepada siapa lagi aku meminta selain kepada-MU? Tolong aku, beri jalan agar aku dapat lebih dekat dengannya.
Zu akhirnya kembali ke kamarnya setelah mendapatkan jawaban. Semakin lama ia semakin diliputi perasaannya sendiri. Sebuah perasaan yang sulit jika diungkapkan lewat kata-kata.
__ADS_1