Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Misunderstanding


__ADS_3

Kedua insan itu masih saling berhadapan di teras atap kediaman ini. Namun, sang pangeran belum juga mau berkata-kata kepada gadisnya.


"Rain ...." Ara menatap Rain, sesaat setelah sang pangeran melepaskan ciumannya. "Rain, bicaralah. Kumohon," kata Ara lagi.


Rain seperti enggan berkata-kata, ia hanya memandangi wajah gadisnya. Yang mana hal itu membuat Ara semakin merasa bersalah.


"Rain, aku hanya lepas jumpa dengan Cloud. Dan kami sarapan pagi bersama. Itu saja." Ara menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Rain masih diam.


"Rain, tolong jangan seperti ini. Aku jadi bingung harus berbuat apa. Aku mohon ...." Sang gadis memohon agar pangerannya bicara.


"Ara ...." Rain akhirnya mau bicara.


"Rain?" Ara pun mendengarkan.


"Kau tahu jika aku sangat mencintaimu, bukan?" tanya Rain sambil memegang pipi gadisnya.


Ara mengangguk.


"Aku sudah mencoba untuk berdamai dengan hati ini. Tapi hatiku ...."


"Rain ...." Ara segera menghambur ke pelukan Rain. "Maafkan aku, Rain. Maaf." Ara benar-benar merasa bersalah.


"Aku telah mencoba merelakan kasih sayangmu. Tapi ... tetap saja tak bisa. Hatiku merasa sakit." Rain mencoba jujur.


"Rain, sudah. Aku tidak akan seperti itu lagi. Aku janji. Maafkan aku, Rain ...."


Suara sang gadis tiba-tiba serak. Dan Rain pun menyadari jika gadisnya tengah menangis di pelukannya.


"Ara ...," Ia membalas pelukan Ara dengan erat, dan lantas mencium kepala gadisnya. "Aku mencintaimu, dulu, sekarang, dan yang akan datang," kata Rain lagi.


"He-em." Ara mengangguk seraya terisak sendiri.


Rain mengutarakan kesedihannya kepada sang gadis, dan Ara pun segera meminta maaf, berjanji untuk tidak mengulanginya. Kini ia mengetahui kepada siapa hatinya akan menuju. Dan hal yang dilakukan bersama Cloud pun hanya sebatas lepas jumpa setelah lama tidak bertemu, tidak lebih dari itu. Ia amat tidak mengira jika Rain akan sampai seperti ini.


Sang pangeran pun menerima pengakuan gadisnya. Ia percaya jika Ara akan menjaga hatinya. Terlepas dari ucapannya waktu itu, Rain masih mencoba untuk membagi kasih sayang Ara kepada kakaknya. Walaupun itu sangatlah berat baginya.


Ara ... kehilanganmu membuatku rapuh. Aku sampai berucap rela membagi kasih sayangmu asal kau tetap bersamaku. Aku tidak mampu jika harus kehilanganmu lagi. Aku pria biasa yang hanya di depanmu bisa menjadi diriku sendiri. Dan hanya dirimu yang tahu bagaimana aku sebenarnya. Tolong jaga perasaan ini.


Rain memeluk Ara dengan pelukan yang erat. Ia merasa tidak mampu jika harus kehilangan Ara kembali. Ia bahkan sampai berucap akan membagi kasih sayang Ara kepada Cloud asal Ara tetap bersamanya. Rain seperti menemui jalan buntu, ia tidak menemukan siapapun selain Ara di ujung jalan sana. Ia amat menyayangi gadisnya.


Jam makan siang di Angkasa...


Siang ini aku sedang membuat sup sapi kesukaanku. Aku juga sudah mandi, dan kini mengenakan gaun berwarna hitam tanpa lengan yang lebih mirip seperti daster mewah. Rambut pun sengaja kugulung agar tidak ribet saat memasak. Dan sebentar lagi sup sapi buatanku akan siap tersaji.

__ADS_1


Aku kembali ke Angkasa pagi ini. Dan aku sedikit tak percaya jika Rain lah yang datang menjemputku, bukannya Cloud. Aku tidak tahu mengapa Rain yang ditakdirkan untuk menjemputku. Tapi rasanya, aku memang lebih memilihnya dibandingkan Cloud.


Sejak awal di Angkasa, Rain lah yang selalu ada untukku. Tidak seperti Cloud yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ya, aku mengerti dengan rutinitas hariannya yang padat, tapi tak bisa kupungkiri jika aku membutuhkan kasih sayang yang nyata. Dan Rain memberikannya kepadaku.


Di depan orang lain, Rain terkesan angkuh dan juga menyeramkan. Tapi di depanku, dia adalah pria biasa, sama seperti pria lainnya yang membutuhkan kasih sayang dari pasangannya. Dan aku memang tidak keberatan saat dia meminta kasih sayang itu karena sudah merasa sangat dekat dengannya.


Terlepas dari sifat mesumnya, dia mempunyai jiwa ksatria yang kukagumi. Dia seorang pria yang tidak mengenal kata lelah untuk mencapai tujuannya. Terlebih sifat aslinya memang penyayang, terbukti dari kedua adikku yang lebih memilihnya ketimbang Cloud. Ya, mungkin saja ini memang jalan yang dituliskan untuk kami.


Semakin lama hatiku semakin condong kepadanya. Namun, aku masih bingung bagaimana mengutarakan pilihanku ini. Aku masih takut menyakiti hati Cloud. Pastinya dia akan merasa sakit hati jika mengetahui aku lebih memilih Rain ketimbang dirinya.


"Ah!"


Tiba-tiba aku merasa kaget, bulu kudukku pun ikut merinding, sesaat setelah merasakan ada yang mencium leherku dari belakang. Aku pun mencoba menoleh, melihat siapa gerangan yang iseng padaku. Dan ternyata ... pangeran mesum ini yang sedang tersenyum-senyum tak karuan di belakangku.


"Rain!" Aku pun kesal padanya.


"Hahaha. Tubuhmu sensitif sekali, Sayang," katanya lalu berjalan mendekatiku.


"Jangan seperti itu, aku tidak siap, tahu!" gerutuku.


"Hm, jadi harus ada persiapan dulu?" Dia semakin mendekat.


"Rain, aku lagi masak. Jangan dulu!" kataku lalu segera berbalik membelakanginya.


"Masak apa, Sayang?" Dia malah memelukku dari belakang.


Rain memelukku, dia menopang wajahnya di bahu kananku, membuatku jadi risih sendiri. Napasnya juga amat terasa, membuatku jadi gelisah tak menentu.


"Rain, jauhkan wajahmu. Aku geli," kataku lagi.


Dia terkekeh. "Tidak apa jika denganku." Dia semakin menjadi-jadi. Kedua tangannya melingkar di perutku ini.


Hah, ya sudahlah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika sifat manjanya sudah keluar.


"Aku sedang masak sup sapi. Kau sudah puas tidur?" tanyaku seraya mengangkat tutup panci sup ini.


"Hm, tidur dua jam juga sudah cukup untukku. Lagipula mana bisa berlama-lama tidur, sedang kau ada di sini." Dia seperti menggodaku.


"Ish, dasar!" Aku pun mematikan kompor.


"Ara."


"Hm?"


"Selepas makan siang temani aku ke ruangan ayah, ya?" pintanya yang masih bergelayut manja padaku.

__ADS_1


"Iya, nanti aku temani. Aku juga ingin menjenguk ratu," kataku seraya menuangkan sup ke dalam mangkok.


"Tapi aku belum mandi." Dia melepaskan pelukannya.


"Terus?" Aku berbalik menghadapnya.


"Aku ... ingin dimandikan." Dia malu-malu mengatakannya.


"Rain ...?"


"Tak apa bukan minta dimandikan olehmu." Dia berlagak sok imut di depanku.


Astaga, dia ini. Bagaimana jika ada prajurit yang melihat ekspresi wajahnya sekarang? Hilang sudah kewibawaannya.


Aku tak habis pikir jika Rain akan semanja ini padaku. Kuperhatikan wajahnya dengan saksama. Dan entah mengapa, tiba-tiba aku jadi tertawa sendiri. Kusilangkan kedua tangan di dada sambil memperhatikan sikapnya itu, dia pun segera menyadarinya.


"Sayang, kau sengaja, ya?" tanyanya.


"Sengaja?"


"Iya, memakai gaun seperti ini. Lihat! Bahumu, lekuk dadamu, terlihat jelas di depan kedua mataku."


"Eh!"


"Rasanya aku ingin menurunkan kedua talinya." Dia tersenyum nakal.


"Rain, jangan macam-macam," pintaku.


"Aku tidak macam-macam, Sayang. Hanya saja ingin ... melakukan apa yang kau bisikan semalam." Dia berbisik di telingaku.


"Rain?"


"Bagaimana jika kita melakukannya sekarang?" tanyanya tanpa merasa berdosa.


"Hei! Itu ucapan semalam, tidak sekarang!" sanggahku.


"Hah?! Jadi?" Dia terperanjat kaget.


"Sudah sana mandi! Kita makan siang lalu segera menemui ratu!" seruku sambil berjalan meninggalkannya.


Kulihat Rain terpaku di tempatnya. Mungkin dia sedang berpikir keras atas ucapanku semalam. Yang mana aku hanya membisikkan tiga kata padanya. Namun ternyata, dia menagihnya sekarang.


Astaga, sepertinya aku harus berhati-hati jika bercanda padanya, ternyata dia menganggapinya dengan serius. Dasar Rain.


Rain tidak menyangka jika tiga kata yang Ara bisikan hanya berlaku untuk semalam saja. Ia menyesal karena tidak melakukannya, padahal Ara telah memintanya sendiri.

__ADS_1


Astaga ... kenapa kesempatan ini kusia-siakan begitu saja?! Rain kesal kepada dirinya.


Tiga patah kata yang Ara bisikan, mampu membuat Rain melayang jauh ke angkasa. Namun sayangnya, sang pangeran salah tanggap dengan perkataan gadisnya. Ia pikir kata-kata itu akan berlaku untuk ke depannya. Namun ternyata, hanya semalam saja. Dan tiga patah kata itu adalah ... "Beri aku bayi." Rain pun menyesal dibuatnya.


__ADS_2