Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Result!


__ADS_3

Di perjalanan pulang ke Angkasa...


Kini aku berada di atas anjungan kapal. Dari sini aku bisa melihat betapa cerahnya langit hari ini.


Indahnya ....


Aku merebahkan diri di sisi kanan Rain sambil memeluk tubuhnya. Alunan detak jantungnya pun bisa kudengar dengan jelas.


"Rain."


"Hm?"


Rain mengusap kepalaku berulang kali. Rasanya tenang dan nyaman sekali. Aku tak percaya jika dia akan menjemputku. Hatiku ini serasa luluh karena pengorbanannya.


"Tadi kulihat nenek dan kakek begitu senang menerima buah persik pemberian dari kita," kataku seraya menghirup aroma tubuhnya.


"Iya. Tapi anehnya, kenapa aku tidak bisa mengambilnya, ya?" Rain menoleh kepadaku.


"Eh, benarkah?" tanyaku tak percaya, seraya menatapnya.


"Iya. Aku sudah mencoba memetik bahkan menarik buahnya, tapi tak bisa. Jadi kami hanya memakan buah yang berjatuhan saja." Rain menceritakan padaku.


"Astaga! Memangnya kalian tidak membawa bekal?" tanyaku lagi.


"Bawa, sih. Tapi melihat buah serimbun itu, hasrat kami menginginkannya. Jadi kami mencoba untuk memetiknya," jelas Rain.


Ini aneh sekali. Ternyata benar yang diceritakan oleh Shu.


Aku mencoba mengingat perkataan Shu waktu itu. Dan ternyata memang benar, Rain pun tidak dapat memetik buah persik sembarangan. Sedang aku, mudah sekali.


Sebelum perjalanan pulang ke dermaga, aku memetik banyak buah persik untuk dibawa pulang. Jarang sekali bisa makan buah gratis, jadi kuambil saja sebanyak mungkin. Lagipula aku akan kembali ke Angkasa, jadi kubawa juga untuk para penghuni istana. Pastinya mereka akan sangat senang dengan oleh-oleh dariku ini.


"Ara." Rain memutar tubuhnya ke arahku.


"Hm?"


"Kau pintar memetik buah yang tidak bisa dipetik orang lain." Rain menatapku.


"Hm, kau benar." Aku jadi tertawa geli sendiri.


"Kadang aku juga ingin seperti dirimu," katanya lagi.


"Eh?!"


"Aku juga ingin bisa memetik buah." Tatapan matanya mulai nakal.


"Buah apa?" tanyaku polos.


Rain tidak menjawabnya, dia hanya menatapku lalu berbisik pelan. Seketika itu juga aku mencubit dadanya.


"Aw!" Dia kesakitan.


"Rain, kau ini tidak pernah berubah, ya!" gerutuku.


"Sakit, Ara. Kau mencubit dadaku seenaknya saja. Bagaimana jika aku membalasnya?!"


"Hah?!"

__ADS_1


"Aku bergantian mencubit ... mencubit ... em ...." Rain terbata seketika.


Aku mengerti apa yang dia maksud. Dia memang tidak pernah berubah dari dulu. Sifat jahilku pun tiba-tiba muncul. Lantas saja aku bangkit lalu duduk di sampingnya. Kuturunkan gaun ini di hadapannya dan seketika itu juga kulihat Rain menelan ludahnya sendiri.


"Sayang ...." Suaranya lembut sekali.


"Aduh, Rain. Seperti ada yang merambat di tubuhku." Aku berpura-pura.


"Merambat?" Dia jadi bingung.


"Iya, seperti ada yang berjalan. Coba kau lihat!" Aku memintanya melihat punggungku.


Rain lalu bangkit dan melihat punggungku. Dia terus memperhatikan punggungku ini dan mencari sesuatu yang merambat. Aku sendiri sebisa mungkin menahan tawa karena telah menjahilinya.


"Tidak ada, Ara." Dia terlihat bingung sendiri.


"Coba lihat lebih jelas. Gatal sekali punggungku." Aku pun menggaruk-garuk punggungku ini.


Seketika itu kurasakan tangan Rain mengentikan tanganku. Dia lalu mengecup bagian punggung yang kugaruk ini. Dan saat itu juga aku merasa merinding sekali. Rain masihlah Rain yang dulu. Dia amat perhatian kepadaku, bahkan untuk hal terkecil sekalipun.


"Sudah, Sayang? Atau masih gatal?" tanyanya lagi.


Aku menahan tawa setelah rasa geli yang melanda. Lantas segera kunaikkan kembali gaunku ini.


"Eh, kok dinaikkan?" tanyanya heran.


"Rain ...." Aku berbalik menghadapnya.


"Ya, Ara?"


"Aku mencintaimu," kataku yang sontak membuatnya tersipu.


"Rain ...."


Kami akhirnya saling bertatapan, menikmati indah paras masing-masing. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, seperti ingin mencium. Dan aku pasrah saja di hadapannya, kupejamkan kedua mataku ini.


"Ara ... kau semakin pintar sekarang." Dia berbisik pelan di telingaku.


"Hah?!" Aku terkejut dan bingung, ternyata dia tidak jadi menciumku.


Rain lalu menjauhkan wajahnya dariku. "Aku tak percaya jika ternyata ajaran sesatku ini diikuti juga olehmu." Dia seperti menahan tawa.


"Ap-apa? Hei! Apa maksudnya, hah?!" Tiba-tiba aku merasa kesal melihatnya seperti itu.


"Ya, sifat mesumku akhirnya menular juga kepadamu. Hahaha." Dia lantas tertawa.


"Rain!"


Akupun mencoba untuk mencubitnya kembali, tapi dia segera menghindar. Sehingga bertambahlah rasa kesalku padanya.


"Hahahaha. Akhirnya Araku bisa begini. Hahaha." Dia mengejekku.


Entah mengapa aku jadi ingin menangkapnya. Di atas anjungan kapal inipun kami berkejaran. Aku mencoba menangkap Rainku.


Dasar hujan! Ini ulahmu sehingga aku bisa seperti ini!


Aku tak habis pikir dia akan mengejekku. Padahal jelas-jelas aku begini juga karena dirinya. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu.

__ADS_1


Dasar Rain! Awas saja jika sudah sampai di istana!


Ara merasa kesal karena Rain telah mengejeknya. Sang gadis terus berusaha untuk menangkap sang pangeran. Tapi, Rain tidak dapat ditangkap. Ia begitu lincah menghindar sehingga membuat Ara kelelahan. Sang gadis pun akhirnya memegangi kedua lututnya sendiri.


"Rain, sudah." Napas Ara terengah-engah.


"Aduh, Sayang. Baru seperti ini sudah lelah. Bagaimana jika aku meminta sepuluh ronde setiap malam?"


"Hah?! Apa?!" Ara terkejut. Pertanyaan Rain sontak membuatnya tambah lemas.


"Ya, kau tahu sendiri bagaimana aku. Jadi persiapkan dirimu sebelum lemas karena ulahku nanti." Rain tersenyum nakal kepada gadisnya.


"Rain!" Ara pun bertambah kesal karena ulah pangerannya.


"Hahahaha." Rain tertawa sambil berjalan mendekati Ara. "Sayang." Dia membelai rambut sang gadis. "Aku mencintaimu," katanya menutup perbincangan ini.


Rain ....


Sang gadis pun pasrah saat Rain menarik tubuhnya. Rain mencium bibir sang gadis. Ciuman lembut nan hangat yang sudah lama tak dirasakan. Dan tanpa diminta, sang gadis pun mengalungkan kedua tangannya di leher Rain. Keduanya menikmati momen ini sampai benang saliva itu saling terhubung. Dan laut pun menjadi saksi akan cinta mereka.


Sementara di istana Angkasa...


Sore hari istana Angkasa menerima kabar yang menggembirakan. Shane mendatangi putra sulung kerajaan ini. Ia tampak membawa selembar surat yang diterima olehnya.


"Pangeran." Shane mengetuk pintu ruangan Cloud.


"Masuk!"


Shane pun segera masuk, menghampiri Cloud yang sedang mengerjakan aktivitas hariannya. Dengan semringah sang menteri memberi kabar bahagia ini kepada Cloud.


"Pangeran Cloud, ada kabar baik untuk Angkasa." Shane memberi tahu.


"Kabar baik apa, Tuan Shane?" Cloud menoleh sambil memegang beberapa lembar dokumen.


"Ini berkaitan dengan nona Ara," kata Shane lagi.


"Ara?!" Seketika Cloud berhenti dari aktivitasnya, ia pun langsung berdiri begitu mendengar kabar tentang Ara.


"Benar, Pangeran. Ini surat yang istana terima."


Shane menyerahkan surat kepada Cloud.


Cloud pun segera membaca isi surat tersebut. Ia mencermati setiap kata-kata yang dituliskan, dan seketika itu juga Cloud riang bukan main.


"Hah?! Apa ini benar??" Wajah Cloud berseri-seri.


"Benar, Pangeran." Shane tersenyum.


"Ya Tuhan, akhirnya ... Araku ...."


Cloud begitu gembira akan surat yang ia baca. Ia lalu bergegas menemui ayahnya untuk menyampaikan kabar ini.


"Terima kasih, Tuan Shane. Aku ingin mengabari hal ini kepada ayah." Cloud segera keluar dari ruangannya.


Sang menteri, Shane ikut bersuka cita atas kamar yang diterima istana sore ini. Ia merasa senang karena akhirnya sang putra bungsu Angkasa berhasil membawa pulang calon ratu negeri ini.


Syukurlah, akhirnya semua bisa kembali berkumpul.

__ADS_1


Shane tersenyum, ia pun bergegas keluar dari ruangan Cloud. Ia lalu kembali ke ruang kerjanya. Sedang Cloud, terlihat tergesa-gesa menemui ayahnya. Cloud amat gembira dengan kabar ini.


__ADS_2