
Rain mendekati kemudian memelukku. "Sepertinya ... calon istriku ini sangat merindukanku." Dia mengecup keningku.
"He-em, rindu sekali," kataku manja seraya membalas pelukannya.
"Bagaimana jika kita berjalan-jalan?" tanya Rain sambil mencolek daguku.
"Berjalan-jalan? Ke mana?"
"Ke sebuah tempat yang baru aku kunjungi dengan ayah kemarin."
"Jauh?"
"Tidak, dekat dari timur istana. Mau ya, Sayang?" tanyanya yang kutanggapi dengan kekehan kecil dari mulutku.
"Sebentar." Aku lalu merapikan sketsa rancanganku. "Boleh membawa ini?" tanyaku lagi.
"Em, sebaiknya ...," Rain tampak berpikir.
"Sebaiknya?" Aku masih menunggu.
"Sebaiknya letakkan saja di kamarku," jawabnya.
"Kalau begitu, di kamarku saja."
"Tidak, Ara. Kamarmu itu kurang aman. Kamarku saja." Rain lalu mengambil map berisi rancanganku.
Hah, baiklah. Dia sudah kembali ke dirinya, aku tidak akan membantah.
"Ayo!"
Rain mengulurkan tangan kirinya. Akupun segera menyambut tangannya itu. Dia menggenggam erat tangan kananku. Kami berjalan menyusuri taman istana ke arah kediaman pribadinya.
Rain, aku bahagia kau kembali dengan selamat.
Senyumku mengembang saat berjalan bergandengan tangan dengannya. Rasanya tidak takut menghadapi apapun selama Rain berada di sisiku. Dia juga tersenyum dan sesekali memberatkan kepalanya di kepalaku. Sedang tangan kanannya memegang map rancanganku. Kini pahlawanku telah kembali.
Beberapa menit kemudian...
Kini aku menaiki kuda hitam milik Rain. Kami keluar gerbang menuju suatu tempat yang ada di timur istana. Dia mengendalikan laju kudanya dengan kecepatan sedang, sedang aku asik menatapnya.
Dia sangat tampan.
Entah mengapa hasratku muncul saat melihat rambut-rambut halus yang ada di wajahnya ini. Rain tampak begitu jantan dengan jambang tipis yang ada di wajahnya. Dan dengan kejahilanku, kuusapkan telapak tangan kiriku ini pada jambangnya. Eh, tapi dia malah menciumi telapak tanganku ini.
Rain, beri aku kekuatan untuk memilih.
Jujur saja hatiku masih gundah untuk memilih salah satu di antara Rain ataupun Cloud. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Rasanya ingin menimbang dan menentukan pilihan segera, tapi aku khawatir pilihanku nantinya akan menyakiti hati salah satu di antara keduanya. Terlepas dari itu, aku memang menyayangi Cloud maupun Rain.
"Ara, kau semakin berisi."
Entah dia memuji atau mengejekku. Aku memang sedikit gendutan sekarang.
"Rain, kau tampan sekali dengan jambang di wajahmu ini."
"Benarkah? Kau menyukainya?"
__ADS_1
"He-em." Aku mengangguk.
"Tadinya sih ingin kucukur, Ara. Aku pikir kau tidak menyukainya."
Sebenarnya aku rada aneh dengan rambut halus yang ada pada kedua pangeran ini. Cloud banyak mempunyai rambut halus di dadanya, sedang di wajahnya tidak ada sama sekali. Tapi kenapa Rain sebaliknya, ya? Dia mempunyai rambut halus begitu banyak di bagian wajah, sedang di dadanya tidak ada. Apakah rambut halusnya dijual terpisah?
"Sebentar lagi kita sampai," katanya membuyarkan lamunanku.
Aku masih menatapnya dari sisi. Saat berada bersamanya, seperti tidak ada pria lain selain dirinya di dunia ini. Apakah ini berarti hatiku lebih condong kepadanya?
Jujur saja, aku masih segan untuk bermanjaan dengan Cloud. Dia begitu bersahaja di mata banyak orang, tak terkecuali di mataku. Tapi kalau dengan Rain, aku tidak perlu malu-malu lagi. Aku bebas melakukan apa saja. Terlebih sikap mesumnya itu kini aku sukai.
Kadang aku tertawa sendiri dengan berbagai ucapannya itu. Bisa-bisanya seorang Rain berkata sedemikian mesumnya kepadaku. Tanpa rasa malu, tanpa merasa berdosa sama sekali. Dia tidak segan melepas kepribadiannya di hadapanku.
Rain memberiku keleluasaan untuk bergerak dan dia juga begitu memanjakanku. Dengan kedua adikku pun dia begitu mengasuh. Rasanya hatiku mulai menuntun ke mana ujung cerita ini.
"Ara, lihat!"
Dia memintaku untuk melihat banyaknya burung garuda yang sedang dilatih mengirim pesan, di kebun ini. Kami telah memasuki kebun binatang milik kerajaan Angkasa.
"Ayo, turun!"
Rain lalu turun dari kudanya, dia juga membantuku untuk turun. Aku yang mengenakan gaun hitam tanpa lengan ini membuatnya sedikit terpana. Maklum saja, ketiakku yang putih bersih tampak jelas di pandangan kedua matanya.
"Hah, baru kali ini aku melihat burung garuda sebanyak ini."
Setelah turun dari kuda hitam miliknya, Rain segera menggulung tali kudanya dan membiarkan kudanya itu berjalan sendiri.
"Hei, dia mau ke mana?!" tanyaku seraya menoleh ke arahnya.
"Hah? Apa?!" Aku kaget mendengarnya.
"Kudaku itu sudah mempunyai kekasih." Rain melanjuti.
"Eh, benarkah?" tanyaku tak percaya.
"Kau mau lihat?"
"Boleh," jawabku seraya menggandeng tangan kirinya.
Kamipun berjalan menuju sebuah tempat yang ada di kebun binatang ini. Tak lama tiba di sebuah padang rumput luas yang terdapat banyak kuda, sedang memakan rerumputan.
"Yang mana, Rain?" tanyaku lagi.
Aku kebingungan mencari kekasih dari kuda hitam milik Rain. Kudanya terlalu banyak di sini. Rain lalu menunjukkan seekor kuda yang berada di bawah pohon jati.
"Itu kudanya! Lihat, Black sedang duduk bersamanya."
"Ap-apa?!"
Aku terkejut bukan main saat melihat kuda yang ditunjuk oleh Rain. Kulihat kuda itu sama persis dengan kuda yang kutemui saat baru saja tiba di bukit pohon surga.
"R-rain ... R-rain."
"Ara, kau tak apa?"
Tiba-tiba saja aku kehilangan kendali atas tubuhku. Aku merasa lemas dan kemudian terjatuh.
__ADS_1
"Ara!"
Kudengar Rain memanggil namaku sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya. Dan setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.
Beberapa saat kemudian...
"Ara ...."
Kudengar suara itu memanggil. Kepalaku serasa diusap-usap olehnya.
"Rain ...." Suaraku masih lemas.
"Ara, kau kenapa?" Rain tampak mencemaskan keadaanku.
Aku berusaha bangun. Dan Kusadari jika kini tengah berada di sebuah gubuk, tak jauh dari padang rumput berisi banyak kuda. Rain lalu memberiku sebotol air minum. Aku pun segera meneguknya.
"Rain, tadi aku kaget," kataku seraya menyandarkan punggung pada dinding gubuk.
"Karena melihat kuda hijau itu?" tanya Rain lagi.
"Iya. Kau tahu, kuda hijau itu kuda yang mengantarkanku ke istana saat tiba di bukit pohon surga," jawabku.
Rain terperanjat. "Benarkah, Ara?"
"Iya." Aku mengangguk. "Memangnya dia diperbolehkan keluar dari sini?" tanyaku.
"Em, itu ...." Rain tampak menyembunyikan sesuatu dariku.
"Sayang, katakan!" kataku bernada mengancam.
"I-iya. Kuda hijau itu bebas keluar masuk dari sini," jawab Rain.
"Kok, bisa?!" tanyaku heran.
"Em, begini. Kuda hijau itu begitu unik. Dia tidak bisa ditangkap dan ada di sini jika sedang ingin saja." Rain mulai bercerita.
"Lalu bagaimana kau bisa tahu jika kuda hijau itu kekasih dari kuda hitammu?" tanyaku lagi.
Rain lalu tertawa terbahak-bahak. Dia kemudian menarikku untuk segera bersandar di bahunya.
"Aku hanya bercanda, Ara. Aku hanya menggodamu?" jawabnya yang menurutku tak lucu.
"Rain!" Aku pun kesal dan segera menjauh darinya.
"Ara ...." Dia memanggilku lalu menarik tubuhku kembali. "Maaf, ya. Aku lihat kau begitu kelelahan, jadi aku mencoba untuk menghiburmu." Rain sepertinya berkata jujur.
Kutahu jika Rain begitu perhatian denganku. Dia tidak ingin aku kelelahan karena pekerjaan ini. Namun terkadang, lelucon yang dia buat itu sangat menyebalkan bagiku.
"Ara ...." Dia mendekatiku.
Entah mengapa suasana sekitar berubah dengan cepat. Rain mendorongku ke dipan gubuk ini. Dan akupun jatuh terlentang di hadapannya, dengan tangan kirinya menjadi alas kepalaku.
"Rain ...."
Kulihat senyum manis itu mengembang. Kurasakan jika sebentar lagi akan terjadi sesuatu dengan kami. Rain mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Rain ... apakah ini ...?
__ADS_1