Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Memories


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Jam di ponsel menunjukkan pukul delapan pagi. Dan kini aku sedang berada di ruangan Cloud. Selepas mengantarkan Rain, aku bergegas mandi lalu ke sini. Namun, gaun yang kukenakan hari ini terbuka, sehingga harus mengenakan rompi untuk menutupi bagian bahunya.


"Cloud."


"Ara, maaf menunggu."


Cloud baru saja keluar dari kamarnya. Aku menunggunya sedari tadi. Tampaknya kondisi dia lebih baik hari ini. Wajahnya mulai cerah, kembali ke sedia kala.


Hah, syukurlah.


Dia berjalan mendekatiku, duduk di sisi kanan lalu memelukku. Aroma parfumnya tercium menyengat sekali. Sepertinya dia sengaja menggodaku.


Ah, pikiranku ini.


"Maafkan aku, Ara." Kata maaf itu tiba-tiba terucap dari bibirnya.


"Cloud, kau sudah lebih baik?" tanyaku seraya melepas pelukan.


"Iya." Dia mengangguk.


"Syukurlah, kau harus lebih banyak beristirahat lagi. Aku akan menemani." Aku tersenyum padanya.


"Ara."


"Iya?"


"Aku ingin makan buah tin," pintanya kemudian.


"Buah tin? Tumben?" Aku heran seketika.


"Buah itu bisa menetralkan sihir, bukan? Aku rasa aku harus memakannya."


Suaranya masih terdengar lemah.


"Em, baiklah. Tapi apa kau kuat untuk naik kuda? Atau aku saja yang pergi mengambilkannya?" tanyaku khawatir.


"Aku ingin pergi ke sana bersamamu. Boleh, kan?" Dia meminta.


"Tentu boleh, Cloud. Tapi aku khawatir," kataku cemas.


"Tenang saja." Dia mengusap kepalaku.


Cloud memberi keyakinan padaku jika dia akan baik-baik saja. Aku lalu memenuhi keinginannya untuk pergi ke bukit pohon surga bersama.


"Aku bantu, ya."


Kubantu dirinya saat berjalan keluar ruangan. Cloud tampak memandangiku, dia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Selang beberapa menit kemudian, kulihat Menteri Count berjalan mendekati kami.


"Salam bahagia untuk Pangeran dan Nona."


"Salam bahagia." Aku membalasnya segera.


"Maafkan saya, Pangeran, Nona. Saya baru tahu tentang kabar ini." Menteri di hadapan kami tampak berempati.


"Tidak apa, Tuan Count. Hari ini aku minta tolong gantikan pekerjaanku sementara waktu. Aku ingin beristirahat sejenak." Cloud meminta.


"Baik, Pangeran."


Menteri itu segera menyanggupi. Kami pun segera berpamitan. Tersirat kecemasan yang kutangkap dari raut wajah mentri berjubah hijau itu. Sepertinya dia mencemaskan keadaan Cloud.


"Baiklah. Kita ke belakang istana, ya."


Aku melepaskan rangkulanku padanya. Cloud pun mulai berjalan tanpa kubantu. Kami menuju belakang istana untuk mengambil kuda putihnya.

__ADS_1


"Ara."


"Iya?"


"Terima kasih," katanya lalu menggenggam tanganku.


Aku hanya tersenyum padanya seraya melanjutkan perjalanan. Setibanya di halaman belakang istana, Cloud segera meminta agar kudanya dibawakan. Dan tanpa menunggu lama, kuda putihnya datang menghampiri.


"Biar aku saja yang melajukan White, ya." Aku menawarkan diri.


Cloud mengangguk seraya tersenyum. Dia lebih sedikit berkata-kata kali ini. Mungkin masih terasa sakit di perutnya.


Aku mulai naik ke atas kudanya dan Cloud pun menyusul. Sebelum benar-benar pergi, Mbok Asri datang membawakan keranjang berukuran sedang untuk kami. Seolah mengerti jika hari ini kami akan berpergian. Atau mungkin sebelum peristiwa kemarin terjadi, Cloud sudah berpesan dari jauh-jauh hari.


"Nona, ini bekalnya."


Mbok memberikan kami makanan dan minuman untuk dibawa ke bukit pohon surga. Dia juga berbisik agar aku kembali dengan membawakan buah tin untuknya. Aku hanya tersenyum menanggapi permintaannya itu.


Aku merasa sangat dibutuhkan di sini.


Kami akhirnya melaju, menuju bukit pohon surga. Aku melajukan White, sedang Cloud memegang keranjang di belakang. Hari ini adalah hari teristimewa untukku. Aku dapat pergi bersama pangeran sulung kerajaan ini setelah melewati ujian kemarin. Ujian yang tak terduga sebelumnya.


Sesampainya di bukit pohon surga...


Kini aku baru saja tiba di bukit pohon surga. Cloud turun terlebih dahulu. Dia lalu membantuku untuk turun.


"Akhirnya aku bisa berlibur bersamamu, Ara."


Dia tersenyum, manis sekali. Cloudku akhirnya sudah kembali.


"Ini kedua kalinya, ya?" Aku juga begitu senang karena bisa berdua dengannya.


"Ya. Dan aku tidak akan pernah melupakan kenangan itu, Ara." Cloud menggenggam tanganku.


Kuda putihnya dia biarkan mencari rumput sendiri. Tak jauh dari pohon tin ini berada. Sedang aku, segera menggelar karpet kecil sebagai alas untuk kami duduk. Cloud pun meletakkan keranjang berisi makanan dan minuman ke atas karpet. Kami seperti sedang berekreasi saja.


Aku cemas karena Cloud bersikap tak biasanya. Dia tampak membela putri itu ketimbang aku yang katanya akan menjadi ratunya.


"Maaf, Ara. Aku seperti tertahan sendiri," jawabnya pelan.


"Maksudmu?" tanyaku serius.


"Setelah memakan buah ceri itu aku merasa seperti terperangkap. Aku tidak dapat mengendalikan tubuhku. Aku bisa melihat dan mendengar, tapi apa yang aku lakukan seperti dikendalikan." Cloud menceritakan.


Astaga! Apakah putri itu menggunakan sihir? Setahuku sihir bisa melalui makanan yang masuk ke dalam perut.


Aku menduga jika buah ceri itu bukan buah biasa, tapi ada sihirnya. Tidak mungkin Cloud tiba-tiba berubah sikap padaku kalau tanpa alasan yang jelas. Terlebih sebelumnya kami baik-baik saja.


"Ara, maafkan aku, ya." Dia menggenggam tanganku.


Aku duduk di sisi kanannya dengan keranjang makanan di depan kami. Aku pun membalas pegangan tangannya dengan erat.


"Cloud, aku heran mengapa pihak Aksara begitu berambisi terhadap kita." Aku memulai percakapan.


"Entahlah, Ara. Aku juga tidak tahu apa alasan dibalik itu. Namun sepertinya, ayah lebih mengetahui hal ini."


"Em, bolehkah aku bertanya langsung pada raja?" tanyaku berhati-hati.


"Tak apa. Tanyakan saja. Mungkin ayah akan menceritakan padamu." Cloud menjawab dengan senyuman.


"Cloud, apa kau tahu jika aku sudah tidak punya kamar lagi?" tanyaku padanya.


"Hah?!"


"Kamarku dikosongkan, Cloud."

__ADS_1


"Apa?!" Cloud tampak terkejut.


"Setelah keributan di taman dan raja memanggilku, aku kembali ke kamar. Tapi saat membuka pintu, kulihat kamarku sudah kosong."


"Kau serius, Ara?"


Aku mengangguk.


"Lalu bagaimana menurutmu, apa ini ada hubungannya dengan Andelin?" tanya Cloud yang mulai serius.


"Aku tidak tahu, sih. Tapi tadi mbok Asri memberi kabar kepadaku."


"Kabar?"


Segera saja kuceritakan perihal kabar yang kuterima dari Mbok Asri. Cloud begitu terkejut mendengarnya. Dia tampak geram, tangan kirinya terkepal.


"Cloud, ada baiknya jika kau lebih menjaga jarak dengan siapapun setelah kejadian ini." Aku mencoba memberikan saran.


"Apa semua orang terlihat mencurigakan, Ara?"


"Tidak, sih. Namun yang aku lihat, kau mudah sekali terkena semacam sihir."


"Apa?!"


"Setahu aku, sekali saja jendela ruh terbuka, dia akan mudah termasuki angin. Kau mengerti kiasanku, bukan?"


Cloud mengangguk. "Lalu apa yang harus aku lakukan, Ara?" tanyanya cemas.


"Kau harus berhati-hati dengan siapapun, terutama wanita. Karena aku merasa kau sedang menjadi incaran pihak lain."


"Incaran?"


"Ya. Aku tidak tahu siapa saja pihak itu. Tapi kuyakin mereka tahu jika kaulah yang akan menjadi raja selanjutnya. Aku khawatir jalanmu dipersulit. Terlebih ada pihak yang tidak menyukai Angkasa."


"Aksara maksudmu?" tanyanya lagi.


Aku mengangguk.


"Baiklah. Sepertinya aku memang harus lebih mawas diri lagi, Ara." Cloud bertekad.


Aku mengusap-usap tangannya.


"Ara?"


"Iya?"


"Temani aku, ya? Aku merasa tenang jika berada di dekatmu."


"Kau merayuku?"


"Tidak, Ara. Aku merasa tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain dirimu."


"Hush! Tidak boleh berkata seperti itu. Kau sempurna, Cloud. Kau dapat memiliki apa yang kau mau."


"Tapi ...,"


"Tapi?"


"Rasanya aku benar-benar membutuhkanmu. Kau penasehat yang baik."


"Ish!"


Segera kucubit lengannya, Cloud pun tampak kesakitan. Aku tak mampu menahan diri dari ucapannya yang membuat hatiku meleleh bak lilin terkena api.


"Sudahlah. Aku lapar, aku mau makan."

__ADS_1


Kubuka keranjang makanan yang dibawa ini. Kulihat isinya terdiri dari buah-buahan dan juga makan siang. Ada buah pisang, anggur, apel dan juga pir. Tapi aku mengambil buah pisang terlebih dahulu untuk kusantap.


__ADS_2