
Bersama Cloud, aku menaiki kereta kuda yang dikawal beberapa prajurit. Kami berjalan melintasi daerah padat penduduk di kota ini. Kulihat ada pelebaran jalan dan pembangunan ulang rumah penduduk yang terkena gusur. Cloud memberikan sebuah denah kepadaku.
"Ini rancangan pembangunan ulang kota. Rumah-rumah penduduk akan dibangun ulang untuk dirapikan. Selama pembangunan ini, para penduduk yang terkena pembangunan ulang akan di tempatkan di sebuah rumah besar yang terletak di selatan kota. Di sana kita akan membuka lahan besar-besaran. Sehingga penduduk selain mendapatkan rumah baru, mereka juga mendapatkan gaji dari pembukaan lahan baru."
"Kau sungguh berbaik hati memberikan pekerjaan kepada rakyatmu, Cloud. Terima kasih." Aku terkesima dengan perbuatannya.
"Ini sudah menjadi tanggung jawabku, Ara. Dan seharusnya malah aku yang berterima kasih padamu."
Lagi-lagi dia tersenyum, membuat hatiku gundah-gulana kala melihat senyuman tulus darinya.
Cloud, tolong jangan bangkitkan perasaan yang telah kupendam.
Aku seperti tidak sanggup melihat tatapan kedua matanya. Bola mata birunya itu seolah menghipnotisku. Aku segera memalingkan pandangan ke luar jendela.
Ya Tuhan, tolong hatiku...
Kulihat dia tersenyum sendiri lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat pembangunan kota. Tangan kirinya mulai menggapai tangan kananku, dia menggenggamnya. Semakin lama genggaman itu terasa semakin erat. Sementara tangan kanannya bersandar di sisi jendela kereta.
Cloud masih malu-malu kepadaku. Tidak seperti Rain yang begitu agresif. Mereka sangat bertolak belakang dari sisi sikap dan kepribadian. Namun yang kuyakini, sekuat apapun mereka, mereka juga manusia biasa yang membutuhkan tempat bersandar dan berlabuh.
Kunikmati perjalananku bersamanya. Kubiarkan saja apa yang Cloud lakukan padaku, aku tidak menolaknya. Kunikmati alur cerita ini yang entah mau dibawa ke mana.
Beberapa jam kemudian...
Beberapa jam setelah melihat perkembangan proyek besar kami, Cloud mengajakku mengunjungi sebuah kedai makan. Sesampainya di sana, pemilik kedai menyambut hangat kedatangan kami.
"Silakan, Pangeran Cloud. Silakan, Nona Ara."
Pemilik kedai makan itu menghidangkan sajian istimewanya kepada kami.
"Pangeran Cloud, kudengar jika Anda sudah memiliki pasangan. Apakah Nona Ara ini?" tanya pemilik kedai.
Errr...
Aku segera menoleh ke arah Cloud. Cloud tampak tersenyum dan tidak menjawabnya.
"Anda sangat beruntung, Nona, memiliki pasangan seperti Pangeran Cloud ini. Beliau sangat mengayomi rakyatnya. Kami sering mendapatkan bantuan di setiap bulannya dan Pangeran Cloud sendiri yang turun langsung ke jalan."
__ADS_1
"Anda terlalu memujiku." Cloud melihat pemilik kedai seraya tersenyum.
"Saya hanya mengatakan yang sebenarnya saja, Pangeran. Semoga hubungan kalian direstui Yang Maha Kuasa."
Pemilik kedai itu lalu berpamitan, undur diri dari hadapan kami. Cloud tampak tersenyum-tersenyum sendiri. Sepertinya aku butuh kejelasan atas perkataan pemilik kedai tadi.
"Cloud?"
"Ara, maaf. Mungkin hal ini mengejutkanmu."
"Maksudmu?"
"Makanlah, nanti kita bicarakan lagi."
Cloud memintaku menyantap hidangan sebelum terburu dingin. Dia selalu membuatku berada dalam lingkaran teka-teki yang membuatku bertanya-tanya. Entah kapan Cloud akan membuka tabirnya untukku.
...
Setelah selesai makan siang bersama, Cloud mengajakku ke pelabuhan. Kami melanjutkan pekerjaan kami di sana.
Kuberikan skesta rancangan baju kebayaku padanya. Dia pun memberikan saran dan pendapatnya tentang rancanganku ini. Beberapa kutambahi dan beberapa ada yang kukurangi. Cloud pastinya lebih tahu selera pasar busana di negeri ini.
"Tak apa, Ara. Biarkan saja tergerai." Cloud berucap sambil meneguk secangkir kopi.
Aku pun membiarkannya tersapu angin laut sambil meneruskan sketsa rancanganku. Kuintip sedari tadi jika Cloud selalu memperhatikanku. Entah apa yang ada di pikirannya, aku terus saja bekerja.
"Permisi."
Seorang pria paruh baya datang membawa sebuah biola di tangannya. Pria itu mengenakan jas berwarna hitam. Sepertinya dia bukan berasal dari kalangan bawah. Pakaiannya begitu elegan dan mewah.
"Senang dapat bertemu kembali, Tuan Mozart."
Cloud berdiri berjabatan tangan dengannya. Aku pun ikut berdiri, membungkukkan sedikit tubuhku kepada pria paruh baya itu namun tanpa berjabat tangan. Melihat hal yang kulakukan, Cloud seperti terkesima.
"Perkenalkan, Ara. Dia adalah Tuan Mozart, seorang musikus dari negeri lain yang menetap di negeri ini. Dia teman sekaligus mentorku dalam bermusik," ucap Cloud yang membuatku terkejut.
"Kau bisa bermusik?" tanyaku kepada Cloud.
__ADS_1
Cloud hanya tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pria paruh baya itu yang menjawabnya.
"Kalau bukan karena Pangeran Cloud, saya tidak akan menjadi seperti ini, Nona."
Pria paruh baya itu menambah daftar teka-tekiku tentang Cloud. Aku penasaran, kemampuan apa saja yang Cloud kuasai selama ini. Aku menoleh ke arahnya, namun Cloud hanya diam saja. Sementara pria paruh baya yang mengaku bernama Mozart itu tampak bercerita kepada Cloud. Aku jadi punya ide berkenaan dengan pertunjukkanku nanti.
"Pangeran Cloud, bagaimana jika Tuan Mozart kita undang ke istana untuk mengisi acara di pertunjukkan nanti?" tanyaku kepada Cloud.
"Suatu kehormatan bagi saya dapat memasuki istana, Nona Ara." Mozart meletakkan tangan kanannya di dada.
"Ide yang bagus. Nanti akan kupertimbangkan kembali. Namun sekarang, sepertinya akan lebih baik jika Tuan Mozart mengiringi kami berdansa."
"Berdansa?!" tanyaku kaget.
"Baik, Pangeran. Dengan senang hati." Pria paruh baya bernama Mozart itu menuruti.
"Ayo, Ara. Berdansalah denganku."
"Tap-tapi ...."
Cloud menarik tanganku. Semua gambar rancanganku dirapikan olehnya dan meminta pengawal menjaganya. Aku diajaknya ke tengah, ke lapangan luas di tepi pantai. Cloud benar-benar ingin mengajakku berdansa. Kedua tangannya melingkar di pinggangku.
"Santaikan tubuhmu, Ara. Dan lingkarkan kedua tanganmu di leherku."
Aku menuruti permintaan Cloud. Mozart pun mulai memainkan biolanya. Nadanya terdengar begitu lembut hingga membuatku terhanyut dalam suasana.
Cloud menatapku dalam dan membuatku tidak dapat berkutik. Saat aku berusaha memalingkan pandangan darinya, Cloud mencegah dengan jemarinya lalu memintaku untuk menatapnya kembali.
Laut kini menjadi saksi antara Cloud dan aku.
Aku menikmati nada-nada yang dilantunkan biola itu. Hingga tanpa kusadari, kepalaku sudah bersandar di dada Cloud yang bidang. Cloud pun tidak menolaknya. Dia malah memengang lembut kepalaku lalu mengusapnya. Dia biarkan aku menikmati irama detak jantungnya yang mengalun merdu.
Cloud, aku ....
Entah mengapa aku tidak dapat menolak rasa ini. Sebuah rasa yang kini menyelimuti hati dan mengetuk sanubari. Aku merasa tidak berdaya di hadapannya.
"Ara, kau sangat cantik."
__ADS_1
Dia memujiku seraya tersenyum manis. Aku tidak tahu harus berkata apa. Pipiku merah merona dibuatnya. Terlebih saat dia lebih merapatkan tubuhku di tubuhnya. Seolah memberikan kode jika aku miliknya.
Cloud, tolong jangan seperti ini...