Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Busy


__ADS_3

Sesampainya di ruang makan istana...


Para menteri menyambut kedatanganku dan juga Rain. Mereka membungkukkan badan, memberi hormat. Dengan tersenyum, aku membalas sapaan mereka. Kulihat raja tampak terkejut di saat melihat aku datang bersama Rain. Sedang Cloud, belum juga tiba.


Ke mana ya dia?


Tak lama Cloud datang, namun dia bersama putri itu. Putri dari Negeri Aksara. Cloud tampak tidak enak hati saat melihatku. Dia segera melepaskan gandengan putri itu.


Aku harus bisa memakluminya. Cloud sedang melaksanakan tugas kerajaan.


Aku mencoba tersenyum saat melihat kedatangannya. Dia lantas memilih untuk duduk di sisiku.


Keempat menteri duduk di sisi kanan raja. Sedang aku bersama kedua pangeran dan putri itu duduk di sisi kirinya. Aku diapit oleh kedua pangeran. Rain di kanan dan Cloud di kiriku.


Makan malam segera dimulai. Hidangan pembuka pun tersaji dengan baik. Seperti biasa, aku harus menghidangkan kepada kedua putra mahkota ini. Sedang putri itu tampak mengambil sendiri hidangan pembukanya.


Beberapa pertanyaan terlontar dari raja kepada putri itu. Tersirat secara tidak langsung raja memberikan ultimatumnya kepada pihak Aksara. Kini aku mulai sedikit mengerti bagaimana politik kerajaan bermain.


"Aku sudah mengirimkan surat kepada ayahmu, Putri. Kau bisa tetap tinggal di sini, namun ayahmu harus membayar semua ganti rugi atas perbuatannya. Tapi jika dia menolak, dengan sangat terpaksa aku harus mengembalikanmu." Raja berkata tegas.


Putri itu tampak diam. Dia seperti sedang merenungi nasibnya. Aku sendiri tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Aku jadi teringat dengan perkataan tetua agung, untuk berhati-hati dalam setiap menerima tamu yang datang ke istana. Apakah yang dimaksud tetua agung adalah putri ini? Aku sendiri belum tahu.


Rasanya aku ingin segera membaca buku hitam itu dan menemukan siapa diriku sebenarnya. Apakah benar aku adalah gadis yang ditakdirkan untuk negeri ini? Atau ada gadis lain?


Semakin lama kuperhatikan, seperti ada magnet kuat yang mendorongku untuk membantu memecahkan masalah di negeri ini. Aku merasa mampu melerai benang kusut yang sedang terjadi.


Mungkin aku harus bertanya langsung kepada raja.


Aku membatin di antara perkataan raja bersama para menterinya. Sedang kedua putra mahkota tampak diam mendengarkan. Sampai makan malam selesai pun, baik Rain maupun Cloud diam. Tidak bicara sepatah kata juga.

__ADS_1


Rapat pun dimulai...


Putri yang bernama Andelin itu diminta raja untuk menunggu keputusan tentang tindakan Angkasa terhadap negerinya. Putri itu menurut, dia menunggu kabar selanjutnya. Sedang aku sendiri bersama para menteri dan kedua pangeran memulai rapat internal kerajaan.


Kami berada di ruangan khusus yang tidak terlalu luas. Awalnya, para menteri diminta untuk melaporkan hasil kinerjanya kepada raja. Setelah itu bergantian Cloud dan Rain. Dan kini giliranku tiba menanggapi.


Jujur saja, aku tidak tahu banyak tentang politik kerajaan. Aku juga tidak mengerti benar bagaimana naik-turun perdagangan negeri ini. Aku lulusan tata kota yang terbiasa merancang sesuatu. Entah itu bangunan, lokasi ataupun hal lain yang berkaitan dengan rancang-merancang.


Kuutarakan semua rancangan pertunjukan busana di hadapan mereka. Raja kemudian mempertimbangkan apa yang aku sarankan. Dan akhirnya, sebuah keputusan didapati setelah berjam-jam berada di dalam ruangan rapat.


"Baiklah. Tiga minggu lagi pertunjukan busana akan diselenggarakan. Aku harap semua dapat mempersiapkannya."


Pembagian tugas sudah dilakukan. Tinggal kami bekerja menurut tanggung jawab masing-masing. Tentunya tanpa mengabaikan tugas harian yang harus selalu diselesaikan.


Raja sendiri bertindak sebagai pengawas terselenggaranya acara. Rencana undangan akan dibuat esok hari.


"Aku ingin istana ini direnovasi dalam seminggu ke depan. Bisakah kalian menyelesaikannya, Putra-putraku?"


Raja meminta Cloud dan Rain bekerja sama memperbaharui istana. Keduanya pun menyanggupi permintaan ayahnya. Aku sedikit bisa bernapas lega saat keduanya tidak lagi berseteru. Tampaknya raja telah membicarakan sesuatu kepada keduanya tanpa kuketahui.


Rapat yang dipimpin oleh raja akhirnya selesai. Aku segera bergegas kembali ke kamar karena ternyata sudah hampir memasuki pertengahan malam. Kali ini aku diantar oleh Menteri Dalam Negeri, Count.


"Nona, raja akan mengundang empat puluh negeri dalam waktu dekat. Apakah kita harus membuat panggung besar?" tanyanya kepadaku.


"Aku pikir kita menggunakan ruang utama saja, Menteri Count. Ruang utama begitu luas. Biarkan para pangeran dan putri duduk di atas karpet merah saja," jawabku lugas.


"Bagaimana jika raja dan ratu negeri lain ikut datang?" tanyanya lagi.


"Aku rasa kita bisa menggunakan teras atas lantai dua dan tiga, agar raja dan ratu bisa melihatnya dengan jelas."


"Jadi terpisah?"

__ADS_1


"Ya, benar. Aku menginginkan tidak ada kesenjangan antara pangeran dan putri kerajaan lain. Aku ingin mereka membaur dan saling berkenalan. Tapi tetap terpisah tempat antara pangeran dan putrinya." Aku melanjutkan.


"Baiklah, Nona. Saya mengerti."


Kami akhirnya berpisah, tepat di pintu masuk area selatan istana. Tak jauh dari kamarku berada.


Pertunjukan besar akan segera diadakan. Aku harus memberikan yang terbaik untuk kerajaan ini. Tekad bulat sudah tertanam di dalam hatiku. Kini saatnya menunjukkan kemampuanku.


Aku memang seorang gadis desa. Terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku yakin mempunyai kemampuan melampaui putri raja sekalipun. Aku yakin aku bisa.


Keesokan harinya...


Pagi ini para penariku sudah berkumpul di teras kamar. Aku baru saja bangun padahal. Kulihat antusias mereka untuk berpartisipasi sungguh besar.


"Salam bahagia untuk Nona Ara."


Mereka menyapaku seraya membungkukkan badan saat aku membuka pintu kamar. Segera kuambil ponsel lalu meminta mereka untuk berlatih sendiri sampai aku selesai mandi.


Mereka tampak heran dengan sesuatu yang kubawa ini, tapi kuabaikan saja. Fokusku untuk melatih mereka.


Seusai mandi, aku mengenakan gaun yang dibawakan Mbok Asri untukku. Gaun berwarna krim pemberian dari Rain. Berlengan panjang dengan dasar jatuh hingga menutupi mata kaki. Gaunnya ringan sehingga membuatku bebas bergerak.


"Baik, kita mulai gerakan ketiga, ya."


Akupun mulai menari gerakan inti. Gerakan reff lagu All That I Need ini. Tampak mereka begitu bersemangat. Energi positif itu mampu kurasakan yang membuat semangatku ikut berkobar.


"Luar biasa!"


Aku memberi tepuk tangan kepada sepuluh penariku. Aku lalu meminta mereka untuk mengulangi gerakan di bagian kedua lagu. Mengulang gerakan dari awal, namun dengan lirik yang berbeda. Seharian akhirnya mereka bisa menghapal gerakan tari ini dengan baik.


"Besok lagi, ya. Jangan lupa pagi-pagi ke sini," pesanku saat mereka berpamitan.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga. Tinggal lagu kedua, lagu dansa. Aku pakai lagu apa, ya?"


Sejenak aku berpikir lagu apa yang pantas digunakan untuk acara dansa. Seketika aku teringat dengan Paman Mozart. Aku lalu bergegas menemui Cloud untuk meminta izin bertemu dengan Paman Mozart, musikus dari negeri asing.


__ADS_2