Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Hot Kiss


__ADS_3

Sementara itu di belakang panggung...


Ara sedang mengadakan selebrasi kecil dengan para penari latarnya. Ia sangat bergembira atas pencapaian yang telah diraih. Tersirat kegembiraan dari wajahnya, begitupun dengan para penari latarnya.


"Kalian luar biasa!"


Ara memeluk para penarinya. Ia merasa sangat gembira karena bisa bekerja sama dengan para pelayan remaja kerajaan ini. Ia tampak begitu bahagia, senyumnya mengembang memenuhi hati para penari.


"Nona, Anda begitu memikat dengan gerakan tadi. Anda sungguh mahir menari," puji salah seorang penata rias yang melihat pertunjukan Ara tadi.


"Ini semua berkat mereka, Mbok. Terima kasih, ya." Ara tersenyum kepada para penari latarnya.


"Kami juga sangat senang, Nona. Kami tidak percaya bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini."


"Benar, Nona. Kami hanyalah seorang pelayan biasa. Tapi berkat Nona, kami bisa seperti seorang putri malam ini."


Para penari latar mengungkapkan perasaan gembiranya kepada Ara. Ara pun bertambah bahagia karena penuturan mereka. Rasanya ia telah berhasil membahagiakan orang di sekitarnya.


"Kita semua sama saja, yang membedakan hanya tugas dan tanggung jawabnya. Mulai sekarang, kalian harus lebih percaya diri lagi. Jangan malu untuk mencoba hal baru. Karena kita tidak tahu bagaimana jalan hidup ke depannya. Bisa saja setelah ini kalian dipersunting oleh pangeran. Ya, kan?" Ara menyemangati.


"Ah, Nona Ara bisa saja."


Para penari itu tampak tersipu, malu sendiri. Keceriaan terjadi di belakang panggung hingga mengundang pangeran bungsu kerajaan ini datang.


"Pangeran Rain."


Mereka membungkukan badan setelah menyadari kedatangan sang putra mahkota. Rain tidak menjawabnya sama sekali. Ia langsung menarik Ara keluar dari ruangan ganti. Tanpa kata, tanpa pamit.


"Rain?!"


Ara yang kaget dengan kedatangannya, hanya bisa mengikuti ke mana langkah kaki sang putra mahkota pergi. Rain lantas mengajak Ara ke sebuah tempat yang tak jauh dari ruang ganti itu.


Di taman kecil istana...


Ada sebuah taman kecil tempat di mana kolam ikan koi dipelihara. Letaknya tidak jauh dari ruang utama, hanya sekitar sepuluh meter saja. Rain lalu menyandarkan Ara ke dinding ruangan. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh sang gadis.


"Rain?" Ara pun tampak bingung.


Rain diam saja. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.


"Mmh?!"

__ADS_1


Ara terkejut, tiba-tiba saja Rain mencium bibirnya. Daging lembut itu menyentuh bibir Ara tanpa aba-aba terlebih dahulu. Sontak saja Ara kelabakan, ia lantas mendorong sang pangeran.


Dia ini kenapa, sih?


Semakin kuat Ara mendorong tubuh Rain, semakin kuat Rain menahannya. Seolah tidak mengizinkan sang gadis untuk menolak kehendaknya ini. Napas Rain juga terasa begitu hangat di pipi Ara. Terdengar memburu, seakan tidak memberi ruang bagi sang gadis untuk melakukan perlawanan.


"Rain, lepaskan!"


Ara mencoba melepaskan diri, namun Rain semakin mengunci tubuhnya. Ia seperti tidak ingin kehilangan gadisnya itu. Suara gemercik air kolam pun menemani ciumannya malam ini.


"Rain, jangan!"


Rain semakin menjadi-jadi. Ia lantas mendaratkan ciumannya di leher sang gadis, dengan kedua tangan yang mencengkram kuat tangan gadisnya.


Ini tidak baik untukku. Aku bisa kehilangan kendali dibuatnya.


Ara menyadari jika ia tidak bisa berlama-lama seperti ini dengan Rain. Ia khawatir jika hasratnya terpancing lalu mengikuti kemauan sang pangeran. Bagaimanapun ia hanyalah manusia biasa, Ara sadar bagaimana dirinya.


"Rain ...."


Rain masih tidak menggubris perkataan sang gadis. Ia malah mencengkram pinggul Ara lalu kembali menciumi bibir gadis itu. Perlahan, tubuh Ara melemah. Ia pun merespon apa yang Rain lakukan padanya.


Akhirnya kau menyerah, Sayang.


Napas keduanya terdengar berat. Tidak ada lagi suara penolakan yang terdengar. Hanya ada gemercik air kolam bersama angin yang berembus pelan. Rain menghujami sang gadis dengan ciumannya itu.


"Hah ... hah ...."


Ara masih memejamkan matanya saat Rain melepaskan cumbuan. Rain pun menikmati pemandangan indah sang gadis saat menyerah kepadanya. Dada Ara naik-turun dibuat pangeran yang satu ini. Rain lantas berbisik di telinga sang gadis.


"Jangan pernah memancingku dengan liukan indah tubuhmu, Sayang. Kau tahu, aku semakin bergairah dan tidak sabar untuk melakukannya. Kau begitu menggodaku." Rain lalu mencium kembali leher sang gadis.


"Rain ... kau nakal sekali." Ara mencoba menolaknya.


"Ya, aku memang nakal. Tapi hanya denganmu saja." Ia lalu menarik pinggul Ara agar lebih dekat dengannya.


"Rain, sudah. Jangan lagi." Ara tampak menyerah.


Raut wajah Ara terlihat begitu imut di pandangan mata Rain. Ia tidak henti-hentinya menatap sang gadis. Rain kemudian menarik dagu Ara dengan jemari tangannya. Ia lalu mengecup bibir sang gadis dengan lembut.


"Aku mencintaimu ... Araku."

__ADS_1


"Rain ...." Ara lantas membuka kedua matanya.


"Katakan jika kau juga mencintaiku," pinta Rain seraya menatap dalam Ara.


"Aku ... mencintaimu," jawab Ara yang masih berusaha menormalkan laju napasnya itu.


"Katakan jika kau juga menginginkan aku," pinta Rain lagi.


Ara tak berdaya. Iapun menuruti kemauan sang pangeran.


"Aku menginginkan ... mu, Rain." Suara Ara tertahan.


"Gadis pintar."


Rain lantas memeluk Ara, mendekapnya dengan erat. Ia peluk tubuh mungil sang gadis ke dalam dekapannya yang hangat.


"Kau dengar itu, detak jantungku memanggil namamu," kata Rain lagi.


Rain, kau ini.


"Setelah ini temani aku hingga habis masa usiaku, Ara." Rain berkata sungguh-sungguh.


Mendengarnya, Ara segera melepaskan pelukan sang pangeran. "Rain, jangan berkata seperti itu. Aku tidak ingin mendengar yang tidak-tidak."


Rain pun mengangguk. "Kau tahu, tadinya tujuan hidupku hanya satu, Ara."


"Satu?"


"Ya, hanya ingin mati demi menjaga negeri ini. Tapi ... setelah bertemu denganmu, aku mempunyai tujuan lain."


"Apa itu?" tanya Ara penasaran.


"Aku ingin menjadi seorang ayah, mendidik putra-putraku untuk meneruskan perjuanganku ini. Dan aku ingin kau yang melahirkan putraku itu."


"Rain ...."


Tiba-tiba Ara merasa terharu. Ia lantas memeluk tubuh kekar sang pangeran.


Ara merasa sangat bahagia. Hatinya kini terisi penuh dengan cinta. Tak bisa ia bayangkan jika harus kembali berpisah dengan Rain. Ara menyadari jika Rain begitu mencintainya. Rela meninggalkan tugas hanya demi untuk bersamanya. Ara juga menyayangi Rain.


Cinta keduanya begitu membuat iri seluruh penghuni istana. Namun, tak bisa dipungkiri jika setelah kedatangan Ara sikap Rain berubah 180 derajat.

__ADS_1


Cinta itu memang mampu mengubah segalanya. Termasuk hal yang tidak mungkin sekalipun. Dan Ara telah membuktikannya.


Aku begitu menyayangimu, Ara. Hanya dirimu yang selalu aku pikirkan. Tak bisa kubayangkan jika aku kehilanganmu, mungkin saja aku bisa gila. Kau telah mewarnai hidupku ini, memberiku semangat untuk melanjutkan hidup dalam balutan kasih yang kau berikan. Aku sangat mencintaimu...


__ADS_2