Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Replace Point of View


__ADS_3

Gemercik air di kolam ikan belakang rumah, menemani seorang gadis yang sedang menyapu. Gadis berambut hitam panjang sepinggang itu tampak sibuk membersihkan sisa makanan kedua adiknya yang berserakan di lantai. Sesekali ia mengelap dahinya yang berkeringat. Tak ayal, gerutuan kecil melantun indah di benaknya.


Harusnya tadi aku yang menang.


Ara menderita kekalahan setelah bermain bersama kedua adiknya. Permainan itu mengharuskan yang kalah menjadi pelayan sehari di rumah. Dia kesal dan juga tidak menyangka jika harus kalah dengan kedua adiknya. Padahal permainan terbilang mudah, hanya menyusun puzzle yang berantakan.


"Hah, selesai juga akhirnya."


Ia kemudian duduk sejenak di atas kursi bambu sambil menikmati udara pagi ini. Kebetulan hari ini skripsinya sudah sampai di pertengahan jalan sehingga ia bisa sedikit bersantai.


Terdengar suara burung nuri bercuitan di atasnya, seolah ingin berbincang dan menanyakan kabar. Ara lalu menoleh sesaat ke sangkar burung itu sambil tersenyum.


"Kau rindu padanya, ya?"


Dia bertanya kepada burung yang tak dapat menjawab pertanyaannya. Kini ia sering merasakan kesepian saat berada di rumah. Kenangan-kenangan itu selalu terlintas di benaknya.


"Mereka mulai sibuk dan kini aku hanya sendiri di rumah."


Tak lama, suara dering ponselnya berbunyi. Nada dering All That I Need milik Boyzone terdengar jelas di telinganya.


"Siapa, ya?"


Ia segera bangkit, menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Dan dengan segera mengangkat telepon itu.


"Halo?"


"Ara?"


"Hm, iya. Ini siapa, ya?" tanyanya karena melihat nomor tak dikenal.


"Ini Kak Dara, ini nomor baru Kakak."


"Astaga, aku sampai nggak kenal suaranya. Maaf ya, Kak."


"Ngak apa-apa. Kamu lagi sibuk hari ini?" tanya suara dari seberang.


"Oh, nggak begitu juga sih, Kak. Hari ini aku libur dulu. Semalam habis melakukan perjalanan jauh," jawab Ara.


"Hah? Perjalanan jauh?"


"Iya, semalam habis lembur ngerjain skripsi."


"Astaga, kirain Kakak sungguhan. Dasar!"


"Tidak, Kak. Aku hanya bercanda." Ara tertawa kecil.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau libur, mainlah ke sini. Kita meditasi lagi," kata suara dari seberang.


"Ah, iya juga. Sudah lama aku tidak ikut meditasi. Baiklah, nanti aku ke sana, Kak. Em, mungkin sejam lagi."


"Oke, Kakak tunggu. Jangan lupa bawa buah tin yang sudah masak itu, ya."


Buah Tin? Dari mana Kak Dara tahu jika buah tinku sudah masak? tanyanya dalam hati.


"Oh, baiklah. Sampai nanti, Kak."


Telepon itu kemudian terputus beberapa saat setelah mengucapkan salam perpisahan. Ara jadi bingung sendiri dengan pesan seseorang yang menelpon tadi.


"Apakah aku pernah membuat status jika buah tinku sudah masak?" Ia bertanya-tanya sendiri. "Jangan-jangan ... Rain?!"


Ara tersentak. Teringat akan masa di mana sang pangeran bungsu itu tinggal di rumahnya. Ia kemudian membuka galeri ponselnya untuk menemukan folder yang sudah dihapus.


"Benar ternyata."


Iapun menemui kepastian jika ternyata ada yang meng-upload foto buah tin di status sosmed-nya dulu. Dan perkiraannya memang tak meleset, jika Rain lah yang membuat status di sosmed-nya itu.


Dasar usil! gerutunya dalam hati.


Iapun segera bergegas menuju lokasi, tempat di mana si penelepon memintanya untuk datang. Terlihat dirinya yang tersenyum-senyum sendiri kala mengingat kelakuan sang pangeran bungsu itu, Rain Sky.


Satu jam kemudian...


"Ya, ampun. Lama sekali kita tidak bertemu ya, Cantik."


Wanita dewasa itu menyambut kedatangan Ara di rumahnya. Dia mengenakan pakaian ketat berwarna hitam yang membalut seluruh tubuhnya.


"Kak Dara, makin lama makin ramai, ya?" tanya Ara saat melihat semakin banyak orang yang datang.


"Iya. Selama beberapa bulan ini memang semakin banyak yang datang. Mari duduk," ajak wanita berambut tersemir merah itu.


Keduanya kemudian duduk di sebuah ruangan terbuka. Tampak di sana bebatuan yang tersusun rapi dengan bunga-bunga teratai yang ada di sepanjang kolam buatan. Rupanya, dulu Ara sering main ke sini. Dia tidak sungkan untuk mengambil bunga yang ada di kolam itu.


"Kakak, apakah jika kita sering bermeditasi bisa mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain?" tanya Ara sambil mengambil beberapa bunga teratai dari kolam.


"Eh, kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya wanita yang bernama Dara.


"Aku hanya ingin tahu saja, Kak. Akhir-akhir ini aku merasakan hal aneh telah terjadi padaku," jawab Ara, seraya berjalan mendekat ke arah wanita dewasa itu. Ia kemudian duduk di sampingnya, di atas sebuah kursi yang terbuat dari rotan.


"Kau sudah tahu bagaimana hukum LOA itu bekerja, kan?" tanya wanita itu.


"Hm, ya. Tapi jika ini benar hasil dari meditasiku. Aku rasa, aku tidak pantas mendapatkannya."

__ADS_1


"Hei, jangan begitu. Semua yang terjadi bukan tanpa alasan. Jika kau memang diberi kelebihan oleh Tuhan, harusnya disyukuri bukan malah dikeluhkan."


"Tapi, Kak. Sebenarnya sudah lama aku tidak mengaktifkannya. Aku begitu sibuk mengurus skripsiku. Sampai-sampai waktu untuk istirahat pun berkurang."


"Tetap saja, Ara. Sudah setahun lebih dirimu terjun dalam dunia tarik-menarik ini. Walaupun berhenti, tetap saja sinyal dari semesta itu dapat kau rasakan."


"Em, begitu, ya?" tanya Ara tak percaya.


"LOA sudah mendarah daging di dirimu. Jadi, nikmatilah. Dan tetap berpikiran positif. Karena apa yang kau pikirkan, maka itu yang akan menjadi kenyataan."


Senyum kecil tersirat dari wajah manis gadis kepunyaan pangeran bungsu ini. Ia kemudian mencium harumnya bunga teratai sambil membayangkan wajah sang pangeran.


Rain, sedang apa kau di sana?


Dunia ini memang tidak seindah yang diharapkan. Namun, jika dijalani dengan kepasrahan kepada kehendak Yang Maha Kuasa, maka ketenangan batin itu akan didapatkan. Dan kini Ara sudah dapat menerima takdirnya. Walaupun terkadang, rasa rindu itu begitu memburunya.


Sementara itu, di lain tempat dan waktu...


Di sebuah meja makan besar, terlihat seorang pria paruh baya sedang menyantap hidangan penutup bersama istri dan anaknya. Pria itu mengenakan mahkota yang terbuat dari emas murni. Berjubah hitam dengan aksesoris zamrud di tubuhnya. Ia tampak sangat perkasa di usianya yang sudah menginjak lima puluh tahun ini.


"Rain belum juga datang, Cloud?" tanyanya kepada pemuda yang duduk di sebelah kanannya.


"Belum, Yah. Mungkin sebentar lagi," jawab pemuda berjubah putih itu.


"Sudah seharian adikmu belum juga kembali ke istana. Kenapa masih berdiam diri?" ketus seorang wanita berjubah merah. Dia adalah ibu kandung dari Cloud dan Rain, Moon.


"Rain sudah besar, Ibu. Nanti dia juga pulang sendiri," jawab Cloud singkat.


Ketiganya masih menyantap hidangan penutup. Tampak Cloud yang kurang berselera makan saat ibunya begitu mencemaskan keadaan Rain.


"Ayah, Ibu. Aku undur diri. Makanku sudah selesai." Cloud beranjak pergi.


"Tunggu, Cloud," kata ibunya seraya menyeka mulut dengan sapu tangan.


Cloud kemudian menghentikan langkah kakinya saat sang ibu memanggil. "Ada apa, Ibu?" tanyanya lembut.


"Ibu ingin kau segera memenuhi permintaan Negeri Aksara," jawab ibunya.


Cloud diam, ia tidak menanggapi ucapan ibunya. Cloud segera pergi tanpa menjawab sepatah kata pun.


"Cloud!" teriak Moon.


"Sudah, Sayang. Biarkan Cloud berpikir sejenak. Hal itu tidak mudah baginya."


"Tapi—"

__ADS_1


Sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi di negeri ini. Cloud sepertinya enggan untuk membicarakan hal itu.


__ADS_2