
Di istana...
Sekitar pukul sembilan pagi utusan dari Negeri Aksara datang ke istana. Utusan itu disambut dengan baik oleh Cloud. Seorang pria paruh baya yang menjabat sebagai sekretaris negeri, menyapa putra mahkota kerajaan ini.
"Luar biasa! Istana ini terlihat begitu mewah. Perpaduan warnanya begitu berkelas," puji pria itu.
"Anda terlalu memuji, Tuan Land."
"Tidak-tidak. Aku berkata sejujurnya. Mungkin suatu hari kita bisa bekerja sama merancang sebuah gedung pemerintahan," lanjut pria itu.
"Tampilan istana ini bukan kami yang merancangnya, Tuan Land."
Cloud terus berbincang sepanjang perjalanan dari gerbang masuk istana hingga ke ruang tamu kerajaannya. Ia tampak begitu bersahaja.
"Hm, benarkah? Lalu siapa yang merancang tampilan istana ini?" tanya pria itu lagi.
Cloud tersenyum. Ia tampak mengingat seseorang.
"Seorang gadis berbakat yang merancangnya," lanjut Cloud kemudian.
"Dia ada di istana ini?" tanya pria itu.
"Dia baru saja kembali ke negerinya, Tuan Land."
"Sayang sekali, aku tidak dapat menemui gadis berbakat itu." Land tampak menyesal.
Tanpa terasa mereka telah tiba di ruang tamu istana. Cloud segera mempersilakan duduk utusan tersebut.
Berberapa pelayan menyajikan hidangan kepada utusan Negeri Aksara dan para pengawalnya. Di ruangan itu hanya ada Cloud, Menteri Dalam Negeri dan Sekretaris Negeri Aksara. Ketiganya kemudian melanjutkan perbincangan.
"Sepertinya paduka tidak ingin menyambut kedatangan kami, Tuan Cloud." Land tampak kecewa karena tidak dapat bertemu dengan raja.
Cloud tersenyum, ia lalu menjawabnya," Sebelum menemui raja, Anda akan melewatiku terlebih dahulu."
Tampak ketegangan mulai menyelimuti ruang tamu istana itu.
Ruang tamu istana sangat luas. Lampu-lampu kristal menghiasi atapnya. Dinding kokoh berwarna ungu muda dengan lantai marmer berwarna putih. Tirai jendela juga tampak begitu mewah dengan paduan ungu metalik dan ukiran emas. Istana kerajaan ini mampu menciutkan nyali Aksara yang notabene hanyalah sebuah negeri kecil.
"Baiklah, kami mengerti. Kedatangan kami kemari karena ingin membahas kelanjutan surat yang lalu, Pangeran Cloud," lanjut Land.
"Silakan, Tuan Land." Cloud mempersilakan.
"Rasanya jika kedua negeri ini disatukan akan menghasilkan negeri besar yang mampu melampaui negeri asing," kata Land.
__ADS_1
"Aku juga berharap demikian. Tapi negosiasi kemarin sangat menyudutkan Angkasa, Tuan Land. Ini seperti penghinaan bagi kami." Cloud menanggapi.
"Maafkan kami, Pangeran Cloud. Kami hanya menawarkan yang terbaik demi terjalinnya hubungan erat di antara kedua negeri. Bukankah pernikahan dapat menyatukan kesenggangan di antara kita?"
Cloud tersenyum kecil menanggapinya. Ia lalu meneguk teh hangat untuk meredakan emosi yang mulai muncul di benaknya itu. Sedang Menteri Dalam Negeri tampak diam, menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.
"Putri Andelin juga sangat cantik. Ia menawan. Sepertinya cocok untuk Anda," bujuk Land.
"Tuan Land. Bagaimana bisa aku menikahi seseorang yang tidak kucintai? Bagaimana bisa memaksakan putra sendiri menikahi gadis yang belum dia kenal sepenuhnya hanya demi mempertahankan kenyamanan hidup Anda?"
Sontak perkataan Cloud membuat Land terdiam. Utusan Negeri Aksara itu tampak berpikir keras.
"Tuan Land, ada baiknya jika peperangan ini tidak terjadi. Kita dapat menjalin kerja sama tanpa perlu adanya syarat yang menyudutkan suatu pihak." Menteri Dalam Negeri ikut berbicara.
"Aku juga berpikir demikian, Tuan Count. Tapi aku hanyalah seorang utusan yang menyampaikan pesan raja," sahut Land.
"Tuan Land, jika kau lihat perbandingan Angkasa dan Aksara. Apakah mungkin kami akan kalah lalu tunduk kepada negerimu?" tanya Cloud kepada Land dengan tatapan tajam.
"Negeri kami adalah sebuah negeri besar dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Kami mempunyai jutaan prajurit yang siap meluluhlantakkan negerimu. Jika negerimu rata dengan tanah, maka ke mana kau akan lari?" Cloud menyudutkan Land.
Land tampak berpikir keras. Diplomasinya gagal menghadapi Cloud. Ia lalu mencari cara agar hati Cloud luluh.
"Begini saja, Pangeran Cloud. Bagimana jika Aksara mendatangkan terlebih dahulu putrinya. Ya, anggap saja sekedar berkunjung untuk beberapa waktu." Land mencoba bernegosiasi.
"Silakan. Jika Anda ingin mengirimkan putri ke istana ini. Tapi hal itu tidak akan menyurutkan niatan kami untuk mundur dari medan peperangan," ancam Cloud.
Land menelan ludahnya. Gestur tubuhnya kalah telak jika dibandingkan dengan Cloud. Cloud juga menyadari hal ini. Ia segera mencairkan suasana dengan mempersilakan Land untuk meneguk teh hangatnya. Sepertinya Angkasa mampu meredam niatan Aksara yang mengajaknya berperang.
Beberapa jam kemudian...
Setelah utusan Negeri Aksara kembali, Cloud berdiskusi dengan Menteri Dalam Negerinya, Count. Keduanya tampak berbincang serius di dalam ruangan Cloud.
"Pangeran Cloud, aku berharap Anda tetap berhati-hati dengan siasat Aksara ini." Count mengingatkan.
"Aku tahu, Tuan Count. Aksara terlalu memaksakan kehendak bahkan sampai rela menjual putrinya sendiri."
"Maafkan saya, Pangeran Cloud. Kenapa tadi tidak Anda tolak saja permintaannya?" tanya Count hormat.
Cloud menghela napasnya. "Aku hanya berusaha bersikap baik dengan memenuhi kemauannya. Selama aku mampu, kurasa aku dapat menerimanya."
"Lalu bagaimana dengan Anda sendiri. Saya khawatir jika nanti—"
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan Count. Hatiku ini sudah ada yang memiliki," sela Cloud yang tahu akan maksud dari menterinya itu.
__ADS_1
Cloud beranjak dari duduknya. Ia menatap ke luar jendela ruangan. Menunjukan pandangannya ke gazebo istana. Dipandanginya gazebo itu dengan tatapan penuh harap. Ia berharap Ara akan segera datang.
Ara ... cepatlah datang. Aku membutuhkanmu...
Cloud menutup pagi ini dengan harapannya. Sebuah harapan akan kehadiran sang gadis yang berhasil mencuri hatinya itu. Tampak Count seperti mengerti siapa yang dimaksud oleh Cloud. Ya, siapa lagi kalau bukan Ara. Gadis berbola mata hitam itu.
Sementara itu di halaman belakang istana...
Rain sedang asik bersenda gurau bersama ibunya. Tampak sang ibu yang begitu memanjakan putra bungsunya itu.
"Kau sudah besar sekarang, Nak. Ibu tak percaya anak Ibu segagah ini," puji Moon.
"Ibu berlebihan."
"Tidak, Nak. Ibu hanya berkata yang sebenarnya. Pelatihan militermu membuat Ibu rindu sekali. Bagaimana luka dibahumu sekarang?" tanya Moon yang perhatian.
"Hanya tersisa bekas kecil, Bu. Ramuan yang Ibu buat benar-benar menyamarkan bekas lukanya."
Moon tersenyum senang.
"Ibu, ada yang ingin aku katakan," kata Rain.
"Katakanlah, Nak," sahut Moon.
"Ibu, sebenarnya aku sedang jatuh cinta."
Sontak saja Moon terkejut mendengar hal itu.
"Jatuh cinta? Dengan siapa?" tanya Moon penasaran.
"Dengan seorang gadis pujaan hatiku, Bu."
"Apakah dia ada di istana ini?" tanya Moon lagi.
"Tidak, Bu. Dia ada di negeri lain," jawab Rain.
Rain begitu terbuka dengan ibunya. Ia tidak mampu menyembunyikan apapun dari sang ibu. Hal itulah yang mungkin membuat Moon begitu menyayangi putra bungsunya ini.
"Kapan dia akan datang? Kau akan memperkenalkannya pada Ibu, bukan?" Moon berharap.
"Tentu, Bu. Nanti selepas dia ke istana, aku akan memperkenalkannya."
"Anak yang baik." Moon lalu mengusap kepala Rain.
__ADS_1
Ibu dan anak itu meneruskan senda gurau mereka di jam istirahat makan siang. Tampak Rain yang sangat menyayangi Ibunya dan begitupun sebaliknya.