Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Wherever You Are


__ADS_3

Pagi harinya....


Aku terbangun. Kulihat mentari sudah mulai menampakan sinarnya. Mungkin ini baru setengah enam pagi.


Samar-samar aku mendengar suara burung laut berterbangan. Aku tidak tahu kini ada di mana, yang pasti bukan di Angkasa.


Kulihat tubuh pangeran Asia ini masih setia mendampingiku. Wajahnya pun terlihat begitu menggemaskan saat tertidur.


Kasihan, dia rela tidur dengan posisi duduk seperti ini.


Aku merasa kasihan padanya. Semalaman pasti sangat melelahkan baginya karena menahan kepalaku di dadanya. Dia juga masih terlelap sekarang.


"Pangeran ...."


Aku berucap lembut ke arahnya sambil menarik pelan bajunya itu. Tapi, dia masih belum juga terbangun.


Pasti dia amat lelah.


Aku lantas mendekatkan bibirku ke telinga kanannya, berbisik lembut. "Pangeran ...." Seketika itu juga dia terbangun.


"Nona?"


Dia segera mengucek matanya lalu meregangkan kedua tangan ke samping. Rasanya amat langka bagi gadis sepertiku yang bisa melihat seorang pangeran tampan baru bangun dari tidurnya.


"Kau sudah bangun?" tanyanya pelan padaku.


"Sudah. Dan sekarang aku lapar," kataku manja.


Aku berusaha untuk lebih dekat. Ya, anggap saja sebagai rasa terima kasihku karena dia telah menolongku. Lagipula tidak ada gunanya jika terus-terusan menjaga jarak. Aku bisa lari ke mana?


"Nona, sebentar lagi kita sampai. Kita makan di pelabuhan saja, ya." Dia tersenyum seraya mengusap kepalaku.


"Em, baiklah." Aku pun menurut padanya.


Benar saja apa yang dikatakan olehnya. Tak lama, kami tiba di sebuah pelabuhan. Dan kulihat banyak peti kemas berdatangan pagi ini. Di sini begitu ramai sekali. Zu lalu memegang tanganku, meminta agar mengekor padanya.


"Ini adalah Pelabuhan Naga. Pintu masuk ke Negeri Asia. Kau lihat ada lambang naga di sana?"


Aku menuruni kapal bersama Zu. Dia menuntunku dengan sangat hati-hati sambil terus memberi tahu ini dan itu. Aku merasa kehidupan baruku akan dimulai di sini.

__ADS_1


"Pangeran Zu, Anda sudah kembali."


Seorang pria tua menyambut kedatangan Zu. Dia pun melihat kami yang bergandengan tangan. Pria itu tampak terkejut dengan hal yang Zu lakukan.


"Pangeran, ini?" Dia bertanya tentangku.


"Ah, iya. Paman, kenalkan dia Dewi. Dia kekasihku." Zu memperkenalkanku kepada pria tua itu.


Sontak aku terkejut dengan perkenalan yang dia katakan kepada pria tua itu. Zu tidak menyebutku sebagai Ara, melainkan Dewi.


"Selamat datang di Pelabuhan Naga, Putri Dewi," kata pria tua itu padaku.


Seketika aku menahan tawa mendengarnya, aku merasa geli sendiri. Sudah dipanggil dewi ditambah putri lagi. Zu pun menyadarinya. Dia kemudian merangkul pinggangku dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya mengusap-usap perutku ini.


Eh-eh?! Aku jadi tidak mengerti apa yang dilakukannya.


"Baiklah. Silakan, Pangeran. Sarapan pagi sudah tersedia," kata pria tua itu mempersilakan kami.


Aku jadi heran. Baru juga tiba, tapi pria tua itu sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Zu.


Apa Zu terbiasa sarapan di sini? Atau jangan-jangan makan malam waktu itu dia memesannya juga di sini? Aku jadi kepo sendiri.


Kulihat Zu tertawa. Dia lalu memegang tanganku agar berjalan bersamanya, menuju ke suatu tempat, yang lebih tepatnya seperti kedai makan ala Korea.


Sementara itu di istana Angkasa...


Rain tiba di istana saat mentari terbit. Dan kini ia sedang beristirahat di dalam kamarnya. Ia mencoba tidur setelah seharian penuh mencari kepastian akan keberadaan sang gadis.


Sepulang dari Pulau Hati, Rain masih terjaga di atas kapal. Ia memandangi bintang fajar sambil memikirkan bagaimana sebaiknya nanti.


"Ara, aku tidur sebentar, ya. Rasanya lelah sekali. Kau tahu, aku belum tidur dari kemarin."


Rain memandangi tabung kecil yang ia pegang. Ia juga mengambil ponsel Ara dari dalam laci meja kamarnya. Ia pandangi foto sang gadis seraya mengusapnya pelan. Dan tak lama, sang pangeran pun terpejam. Ia terlelap dalam mimpi dan angan yang melambung tinggi.


Lain Rain, lain juga Cloud. Putra sulung kerajaan ini bergegas keluar dari ruangannya. Ia ingin menemui sang adik yang sudah kembali ke istana. Namun ternyata, sang ayah melarangnya saat berpapasan di salah satu koridor yang ada di barat istana.


"Biarkan adikmu beristirahat terlebih dahulu. Kau temani Ayah sarapan saja."


Sky dengan penuh kasih sayang mengajak putranya itu untuk sarapan pagi bersama. Keduanya lalu menuju gazebo istana, tempat di mana Ara biasa berada.

__ADS_1


Di gazebo istana...


Para pelayan datang membawakan hidangan sarapan pagi untuk sang raja dan pangeran Angkasa. Mereka tampak berhati-hati dalam menyajikan. Dan ternyata, Sky meminta kue nastar buatan Ara yang masih tersisa di dapur. Ia lalu mulai mencicipi kue itu.


"Cloud, ini adalah kue buatan Ara. Rasanya begitu enak. Ayah akui jika dia gadis yang serba bisa." Sky mengawali perkataannya.


Cloud hanya diam, ia lantas ikut mencicipi kue itu. Ia rasakan butir demi butir kue nastar buatan gadisnya. Dan entah mengapa, ia ingin menangis. Teringat dengan semua kenangan yang telah dilaluinya.


Melihat hal itu, Sky segera meneguk tehnya. Ia kemudian mengusap-usap punggung sang putra. Ia cukup mengerti apa yang sedang dirasakan Cloud saat ini.


"Sudahlah. Tak ada gunanya juga kau menangisinya, Cloud." Sky berusaha menenangkan.


"Ayah, apakah aku terlalu lemah sebagai seorang pria?" Cloud bertanya pelan.


Sky mengembuskan napasnya, sesaat setelah mendengar pertanyaan itu. Ia lalu menoleh ke arah Cloud.


"Kadang kita memang perlu menangis untuk meredakan kesedihan yang melanda. Kehidupan bukan hanya soal canda dan tawa, semuanya tercipta berpasangan. Kadang tertawa, kadang juga terluka. Tinggal bagaimana kita menyikapi saja." Sky menuturkan.


"Tapi, Yah. Aku merasa lemah menghadapi hal ini. Aku sepertinya tidak pantas untuk menjadi raja." Cloud berkecil hati.


Mendengar itu Sky malah tertawa. Ia lalu menyantap hidangan sarapan paginya.


"Aku selalu kalah cepat dari Rain. Pekerjaanku terlalu menumpuk sehingga tidak mempunyai banyak waktu untuknya. Aku butuh seseorang untuk meringankan pekerjaanku ini, agar bisa mempunyai lebih banyak waktu bersamanya." Cloud mengeluarkan unek-unek dari dalam hatinya.


"Ya, Ayah tahu, Cloud. Tapi tidak mudah mempercayakan administrasi negeri kepada orang lain. Pekerjaan ini memang terlihat mudah, tapi sangat membahayakan jika dipegang oleh yang tak ahli. Kau pasti mengerti maksud Ayah, bukan?" tanya Sky kepada Cloud.


Cloud hanya diam. Ia juga tampak malas untuk sarapan.


"Mari kita selesaikan satu persatu permasalahan yang ada. Jangan semuanya sekaligus, karena kau tidak akan mampu. Nanti jika satu sudah selesai, barulah beralih ke yang lain." Sky memberikan saran.


"Tapi, aku ...."


"Untuk saat ini lanjutkan pekerjaanmu. Ayah masih berusaha untuk menemukan titik terang atas permasalahan yang ada. Bersabarlah." Sky menepuk bahu putranya.


Cloud merasa sedikit tenang setelah mendengar penuturan ayahnya. Ia akan mencoba untuk lebih kuat lagi dalam menghadapi permasalahan yang ada. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali bertemu dengan sang gadis. Gadis yang telah membawa pergi hati dan jiwanya itu.


Ara ... walau kita jauh, aku selalu mendoakanmu. Aku berharap kita akan segera bertemu, secepatnya. Aku menyayangimu bukan lagi sebagai kekasih. Tapi, sebagai ibu dari calon anak-anakku kelak. Kembalilah, kumohon ....


Dari kejauhan, Moon melihat suami dan putranya sedang sarapan pagi bersama. Ia merasa kesal karena suaminya tidak ikut mengajaknya. Moon merasa sikap suaminya berubah 180 derajat sejak perginya Ara dari istana. Namun, bukannya menyadari, ia malah semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Gadis itu benar-benar menjauhkan aku dan kedua putraku. Dan kini dia juga mulai menjauhkan suamiku. Aku berharap dia tidak lagi kembali ke istana. Aku tidak ingin melihatnya. Moon berkata dalam hati.


Ia lantas pergi bersama pengawal pribadinya. Ia tinggalkan pemandangan yang mengesalkan pikiran itu. Moon lantas sarapan pagi seorang diri. Hanya kebencian yang setia menemaninya.


__ADS_2