
Dua jam kemudian...
Kami sudah tiba di suatu tempat yang belum kuketahui. Pangeran Asia ini pun mengajak ku keluar dari kereta. Dia juga membantuku dengan sangat hati-hati saat keluar dari kereta ini. Namun, alangkah terkejutnya di saat melihat apa yang ada di hadapanku.
"I-ini?!"
Tiba-tiba saja jantungku berdegup keras lalu melambat, seperti kehilangan kekuatan untuk memompa aliran darah. Aku terkejut dengan apa yang ada di hadapanku. Zu pun seperti menyadarinya.
"Nona?"
Dia tampak khawatir, dia segera merangkulku. Sedang aku, masih tak percaya dengan yang kulihat ini.
"Nona!"
Dan entah mengapa, aku mulai kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Kesadaranku ikut berkurang, pandanganku pun gelap seketika. Dan akhirnya, tubuhku terasa kaku lalu jatuh tak berdaya.
Beberapa saat kemudian...
Perlahan aku terjaga, entah berapa lama tak sadarkan diri. Dan saat membuka mata, kulihat sekeliling tempat yang begitu kukenali. Tidak lagi bersama Zu di depan bangunan yang kulihat tadi, melainkan ... di bukit pohon surga.
"Dewi ...."
Suara itu lantas kudengar. Kutahu jika itu suara Tetua Agung. Dan lantas saja aku segera mencari ke asal suara.
"Kakek?!"
Aku terkejut saat melihatnya ada di belakangku. Tidak jauh, hanya berjarak sekitar lima meter saja. Biasanya dia kalau datang dari arah depan dan munculnya juga perlahan-lahan, tidak mengagetkan seperti ini.
"Dewi, aku hal yang ingin kusampaikan padamu." Dia langsung menuju ke inti pembicaraan.
"Apa itu, Kek?" tanyaku segera.
"Dewi, berhati-hatilah dalam mengendalikan emosi. Kau harus banyak bersabar menghadapi ujian ini," katanya lagi.
"Ujian?" Aku termenung.
"Ya, ini adalah ujian untukmu dan juga untuk kedua pangeran. Kau harus mengikuti arus, jangan mencoba melawannya. Karena itu akan membahayakanmu."
"Maksudnya, Kek?" tanyaku tak mengerti.
"Sebentar lagi kau akan mengetahuinya." Dia tersenyum lalu berjalan pergi.
"Kakek! Tunggu!"
Tetua Agung seketika hilang dari pandanganku, padahal aku belum sempat bertanya padanya. Suasana bukit pohon surga yang kulihat pun berubah menjadi istana Angkasa.
Aku bisa melihat mereka?!
Tiba-tiba aku bisa melihat Cloud, dia tampak lelah sekali. Aku pun segera berjalan mendekatinya yang sedang merebahkan tubuh di atas sofa yang biasa kami duduki. Aku mencoba mengusap pipinya itu.
"Cloud, aku rindu." Rasanya ingin sekali menangis melihat dia tidur seperti ini.
Entah mengapa aku jadi amat merindukan istana. Aku ingin kembali ke Angkasa.
Rain ....
__ADS_1
Aku juga bisa melihat Rain sedang tertidur. Di mana di sampingnya ada ponselku.
Dia melihat fotoku?
Hatiku terenyuh melihat hal ini. Dan segera saja kukecup pipinya. Ya, walaupun tidak sampai, hanya seperti angin saja.
"Aku benar-benar merindukan kalian."
Di sebelah kiriku aku melihat Rain, di sebelah kananku aku melihat Cloud. Tak ada sekat di antara mereka. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Tapi sayangnya, aku tidak bisa menyentuh keduanya.
"Nona! Nona!"
Tak lama pandanganku kabur. Aku pun mendapatkan kembali udaraku yang hilang.
"Pa-nge-ran ...."
Kubuka mataku perlahan dan melihat Zu tampak panik di hadapanku. Entah di mana aku sekarang, yang pasti sedang direbahkan di tempat yang empuk sekali.
"Nona, minumlah."
Zu lalu memberiku secangkir minuman yang tidak tahu itu apa. Lantas saja aku meneguknya karena merasa haus, dan seketika aku merasa dingin.
"Aduh!"
"Nona, kau lebih baik?" tanyanya seraya meletakkan cangkir minumku ke atas meja kecil yang ada di sampingnya.
"Pangeran itu apa? Rasanya kenapa dingin sekali?" tanyaku sambil memejamkan mata, merasakan dingin.
"Itu air daun mint, Nona. Kata tabib kau terkena panas dalam."
"Hah? Panas dalam?" Aku terkejut.
"Pangeran, aku—"
"Nona, menurutlah. Kau akan aman dan nyaman di sini." Zu meneruskan perkataannya.
Aku jadi teringat perkataan Tetua Agung yang memintaku untuk tidak melawan arus. Jadi ya sudah, aku menurut saja apa yang Zu katakan.
"Sekarang tidurlah. Nanti aku akan kembali. Selamat beristirahat," katanya sambil menyelimutiku.
Dia lantas pergi dari hadapanku, keluar dari ruangan ini. Dan kuperhatikan saksama, sepertinya ini adalah sebuah kamar. Aku lantas mencoba bangun.
"Di mana aku? Apakah aku sudah tiba di istana Asia?"
Aku mencoba memperhatikan ruangan ku berada. Kulihat desainnya mewah walau tidak terlalu besar. Hanya ada kasur berukuran jumbo dan laci meja kecil di samping kanan dan kirinya. Ukuran ruangan ini sekitar 5x5 meter.
Sepertinya memang dikhususkan untuk tidur saja.
Terlepas dengan di mana diriku sekarang, aku benar-benar terkejut dengan apa yang kulihat tadi. Aku melihat bangunan besar yang pernah kulihat saat menerapkan Law of Attraction dulu.
Jangan-jangan pria waktu itu adalah Zu.
Aku masih tak habis pikir dengan hal yang kualami. Aku merasa dejavu mengalami semua ini. Terlebih bangunan yang kulihat tadi hampir sama persis dengan yang kulihat waktu penerapan itu.
"Aku coba keluar kamar saja."
__ADS_1
Akhirnya, aku mencoba bangun, menuju pintu lalu keluar kamar. Dan ternyata di luar cukup luas, mungkin sekitar 10x10 meter. Kulihat ada sofa di dekat perapian, piano di dekat jendela, dan lemari besar yang tidak jauh dari pintu kamar ini, serta beberapa hiasan ruangan.
Ini seperti apartemen.
Karena penasaran, aku segera menuju jendela yang dibiarkan terbuka lebar. Jendelanya sangat besar dan juga berfungsi sebagai pintu menuju teras luar kamar.
Indahnya ....
Kulihat hamparan hijau luas sekali. Ada taman-taman bunga menghiasi, ada kolam ikan dan juga patung naga di sini.
Ini di istana bukan, ya?
Aku mencoba menuju teras luar kamar. Dan kulihat ada sungai mengalir dari atas sini.
"Wah, indahnya!"
Aku takjub melihat pemandangan yang ada di hadapanku. Ini seperti berada di pegunungan atau mungkin tempat rekreasi? Hah, entahlah. Indah sekali di sini, rasanya ingin mandi di sungai itu.
"Nona?"
Zu tiba-tiba keluar dari suatu ruangan yang berada di samping kamar tadi, dengan tubuh terbalut handuk putih sebatas pusar ke lutut. Dia sambil menghanduki rambutnya itu.
"Pa-pangeran?!" Aku pun terkejut seketika.
"Kau tidak beristirahat? Atau mau makan siang bersamaku?" tanyanya seraya berjalan mendekat.
"Pa-pangeran. Di situ saja, jangan mendekat!" seruku spontan.
"Eh?!" Dia seperti bingung sendiri.
"Pangeran, kenakan dulu pakaianmu, ya. Oke?"
Aku memintanya agar tidak lebih mendekat karena dia belum mengenakan pakaian. Jujur saja aku merasa risih melihatnya.
Sepertinya ruangan yang berada di samping kamar tadi adalah kamar mandi.
Zu lantas tertawa. Dia berjalan menuju lemari besar lalu membukanya. Dan ternyata lemari itu berisi pakaian yang amat banyak. Zu mengenakan pakaian di tempat.
Astaga! Di-dia mengenakan pakaian di depanku? Dia berani sekali.
Segera kubalikkan badanku, membelakanginya. Aku benar-benar kaget dibuatnya.
Pintu lemarinya memang besar, sehingga bisa menutupi tubuhnya yang sedang mengenakan pakaian. Tapi, tetap saja kurang pantas karena ada aku di sini. Ya, walau jarak kami cukup jauh.
Lama-lama aku khawatir dekat dengannya.
Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentangku. Terlebih perkataannya waktu itu membuat tanda tanya besar di hati ini, rasanya ingin sekali menanyakannya.
"Ini adalah ujian untukmu dan juga untuk kedua pangeran. Kau harus mengikuti arus, jangan mencoba melawannya. Karena itu akan membahayakanmu."
Aku jadi teringat kembali dengan ucapan Tetua Agung. Apa ini yang dimaksud olehnya? Haruskah aku bersikap biasa saja kepada Zu? Atau bagaimana?
"Nona."
Zu lantas mendekatiku setelah mengenakan pakaian kerajaannya yang berwarna hitam itu. Dan seketika aku terpana dibuat olehnya. Zu begitu tampan dan menawan hati. Dia juga tersenyum manis sekali, hingga terlihatlah gigi-giginya yang rapi itu.
__ADS_1
Pangeran, kalau sudah begini aku harus bagaimana?
Entah apa yang dimaksud oleh Tetua Agung. Namun sepertinya, aku memang harus mengikuti arus kehidupan ini. Aku akan mencoba menerima kehadiran Zu di dalam hatiku, mencoba untuk menyayanginya sebagaimana menyayangi kedua pangeranku. Ya, walaupun hatiku belum bisa menerima sepenuhnya. Tapi, apa salahnya jika dicoba terlebih dahulu? Tak ada yang tahu bagaimana ke depannya, bukan?