
Malam harinya di istana Angkasa...
Rain dan Ara sedang menikmati malam bersama di teras atap kediaman sang pangeran. Keduanya tengah berdansa ringan sambil memutar lagu dari ponsel milik Ara. Ponsel itu ternyata Rain simpan baik-baik sampai akhirnya Ara bisa melihat kembali ponselnya.
Malam ini sang gadis tampak anggun mengenakan gaun pink panjangnya hingga semata kaki. Sedang sang pangeran masih mengenakan jubah kebesarannya yang berwarna merah.
“Sayang.”
“Hm?”
Ara masih betah merebahkan kepalanya di dada Rain. Sedari tadi ia memeluk pangerannya dan tidak ingin melepas. Rain pun tertawa kecil melihat tingkah lucu Ara yang manja. Baru kali ini di sepanjang kedekatannya Ara bertingkah bak anak kecil yang menggemaskan di mata Rain. Rain juga tidak keberatan dengan sikap Ara, ia terus membelai lembut rambut calon pengantinnya itu.
“Kau masih ingat dengan kejadian saat hujan turun waktu itu?” tanya Rain pelan.
“Waktu di atap ini?” Ara mendongakkan kepalanya, melihat Rain.
“He-em. Yang aku mendiamkanmu sampai kau menangis,” kata Rain lagi.
“Huh, kau ini. Memang suka membuat orang menangis,” ketus Ara.
“Eh?!”
“Kau sengaja melakukannya, bukan?” Ara menerka.
“Sayang, tidak begitu maksudku.” Rain membela diri.
“Lalu?” tanya Ara yang ingin kepastian.
Rain diam sejenak, ia memalingkan pandangannya sambil terus berdansa ringan. Dan akhirnya ia mengakui sesuatu.
“Aku … cemburu. Aku cemburu waktu itu ….” Rain mengakuinya.
"Cemburu?"
"Ya. Aku cemburu karena melihatmu bersamanya. Baru kali itu aku merasakan sakit, tapi tidak mengeluarkan darah." Rain mengakui di depan gadisnya.
Satu tahun yang lalu, awal kedekatan Rain dan Ara…
Rain baru saja tiba di istana setelah ada urusan yang mengharuskannya ke luar. Langkah kaki kudanya berjalan pelan saat melewati gazebo istana. Pagi ini ia tidak melihat sosok gadis yang biasa duduk di sana.
Dia ke mana, ya?
__ADS_1
Bersama pasukannya, Rain melewati gazebo istana menuju halaman belakang. Ia kemudian mengadakan apel sebentar dengan para pasukan dalam rangka patroli keamanan. Sejak fajar sampai menjelang siang, ia belum juga tidur. Rain menjalankan rutinitas dan tanggung jawabnya sebagai seorang panglima tinggi kerajaan.
Di waktu fajar, Rain sudah terbangun dan siap untuk melatih pasukannya. Barulah saat matahari terbit latihan militer yang ia lakukan itu berakhir. Dan setelahnya ia mendapat jam kosong jika tidak ada pekerjaan. Namun, entah mengapa hari itu ia diharuskan untuk ke luar istana. Mau tak mau sang pangeran pun menjalankan tugasnya.
Setelah keluar dari istana beberapa jam lamanya, sang pangeran kembali dan tidak melihat gadis yang biasa duduk di gazebo itu ada. Setelah melakukan apel sebentar, Rain pun berniat mencari tahu di mana gerangan sang gadis berada. Cukup lama ia bertanya sana-sini sampai akhirnya didapati sebuah jawaban. Rain pun segera menuju lokasi tujuan bersama kuda hitamnya. Namun…
Sesampainya di kawasan air terjun firasatnya berubah tak enak. Ia melihat kuda putih Cloud dan kereta kuda milik istana ada. Di atas pelataran air terjun pun ia hanya menemukan seorang kusir dan beberapa pasukan berkuda yang bertugas mengawal Ara. Dengan hati berdebar, Rain pun turun dari kudanya lalu menuju air terjun dengan melewati puluhan anak tangga. Dan sesampainya di bawah, terlihatlah pemandangan yang menyayat hatinya.
Ara ….
Dia melihat dari sudut pandangnya jika Ara dan Cloud sedang berciuman. Seketika itu juga hatinya terasa sakit bukan main. Baru saja ia merasakan bagaimana jatuh cinta. Tapi kini, ia sudah harus merasakan sakit yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kedua tangannya mengepal, dadanya pun naik-turun tak beraturan melihat apa yang terjadi di bawah sana. Ia pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan pemandangan itu.
…
“Waktu itu aku begitu sakit melihatmu bersamanya, Ara.” Rain membenarkan poni Ara yang tersapu angin malam.
“Rain ….”
“Aku tidak tahu bagaimana menjabarkan rasa sakitnya. Mungkin lebih sakit daripada ditebas oleh pedang. Seumur hidupku baru pertama kali merasakan sakit yang seperti itu.” Rain menuturkan.
“Rain, tapi apa yang kau lihat itu tidaklah benar.” Ara berusaha menjelaskannya.
“Ya, mungkin saja. Tapi dari kejadian itu aku berusaha menahan diri untuk tidak mendekatimu. Sampa akhirnya aku mendengarmu sakit. Kau ingat waktu aku mengantarkan obat dan makanan?” tanya Rain lagi.
“Ara.” Rain memeluk Ara dengan erat, langkah dansa mereka pun terhenti. “Aku benar-benar mencintaimu. Aku memang tidak pintar merangkai kata untuk menunjukkan perasaan cintaku. Tapi ketahuilah, aku amat menginginkanmu. Bukan hanya untukku, tapi juga untuk anak-anakku kelak.” Rain berkata jujur.
“Iya, Sayang. Aku mengerti.” Ara mengusap-ngusap punggung Rain.
“Tapi sekarang pak tua itu sudah membuat keputusan gila. Aku kesal sekali.” Rain mencerca ayahnya.
“Hei, tidak boleh seperti itu. Raja adalah ayahmu.” Ara melepaskan pelukan lalu menatap pangerannya.
"Ya, aku tahu. Tapi tetap saja aku kesal." Rain menahan emosinya.
"Sudah, ya." Ara pun menenangkan pangerannya.
"Ara."
“Hm?”
“Sejujurnya aku ingin jadi yang pertama. Tapi sepertinya tidak bisa, ya?” Rain tersenyum kepada Ara.
__ADS_1
“Dasar!” Ara pun memukul pangerannya.
“Sakit, Sayang!” Rain pun memegangi lengannya yang dipukul Ara.
“Kau ini membuatku kesal, tahu!” gerutu sang gadis.
“Eh, benarkah? Bukannya aku lucu, ya?” Rain seperti berpikir.
“Iya, lucu. Aku jadi gemas melihatmu!” seru Ara lagi.
“Kau gemas padaku?" tanya Rain.
“He-em.”
“Tapi kenapa tidak melakukan sesuatu apapun padaku?” tanya Rain lagi.
“Hah?” Ara bingung.
“Ini.” Rain menunjuk bibirnya.
“Rain ….”
“Cium aku, Ara,” pintanya yang membuat sang gadis menghambur ke pelukannya.
“Rain, aku menyayangimu.” Ara tiba-tiba memeluk Rain dengan erat sekali.
“Aku lebih menyayangimu, Gadisku. Tapi sekarang cium aku dulu. Aku sudah tidak tahan,” kata Rain yang membuat Ara tertawa.
“Hahaha, dasar kau ini!”
Ara pun mendekatkan wajahnya ke wajah Rain. Ia berusaha meraih bibir Rain yang berwarna merah muda itu. Tapi karena Ara tidak terlalu tinggi, ia kesulitan untuk meraih bibir pangerannya. Yang mana hal ini membuat Rain tersenyum-senyum sendiri.
“Sulit ya jika aku berdiri tegak seperti ini?” Rain seperti mengejek Ara.
“Rain!” Ara pun kesal dibuatnya.
“Baiklah, aku saja yang menunduk.” Akhirnya Rain yang mencium Ara.
Kedua tangan sang gadis melingkar di leher pangerannya. Rain pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ara. Mereka berciuman sambil menikmati malam bersama. Keduanya melepaskan energi kasih setelah lama tak berjumpa. Dan kembali cinta keduanya membuat iri bagi siapa saja yang melihatnya.
Aku mencintaimu, Ara. Amat mencintaimu. Rain memperdalam ciumannya.
__ADS_1
...
...Ayo berikan votemu untuk bab selanjutnya!...