
Awal siang di istana Asia...
Keadaan istana Asia masih menegang pasca ratu dijebloskan ke ruang bawah tanah. Sang putra sulung ini tidak lagi bisa mentolerir perbuatan ratu yang sampai mengusik urusan pribadinya. Sang raja pun mendapat tekanan dari Zu untuk segera memberi hukuman atas hal yang telah ratu perbuat. Namun, sampai saat ini raja belum memutuskan hukuman apapun.
Shu, sebagai adik kandung dari Zu ikut membela kakaknya. Ia pun geram dengan perbuatan ratu yang sampai mencampuri urusan pribadi. Ia juga telah menyusun tim khusus untuk mencari semua pekerja terdahulu, saat ia masih kecil. Shu masih penasaran atas penyebab kematian ibu kandungnya.
Mendiang ratu divonis menderita penyakit parah saat mengandung Shu. Tapi saat mendengar cerita dari para pelayan terdahulu, keadaan ratu baik-baik saja sebelumnya. Setelah raja menikah dengan seorang penari istana, barulah keadaan berubah. Yang mana membuat Zu dan Shu menarik kesimpulan jika ratu sekaranglah yang telah membunuh ibunya.
Zu dan Shu tidak ingin gegabah. Mereka harus memastikan kebenarannya terlebih dahulu, tentang simpang-siur kabar ini. Dan hari ini akhirnya kabar itu didapatkan. Sebuah kabar yang mengejutkan keduanya.
Saksi hidup ratu terdahulu datang dan mengatakan hal apa saja yang terjadi sebelum dan sesudah raja menikah dengan ratu yang sekarang. Keduanya pun mengambil kesimpulan jika ratu yang sekarang telah sengaja membuat ibu kandung mereka mati perlahan. Zu dan Shu pun bergegas menemui ratu di ruang bawah tanah istana.
Di ruang bawah tanah...
Zu dan Shu menemui ratu yang sedang dipenjara di ruang bawah tanah. Keduanya pun tanpa basa-basi berbicara kepada wanita paruh baya itu.
"Wanita laknat! Kau benar-benar tidak tahu diri!"
Zu geram bukan main kala mengetahui jika ratu sekaranglah yang telah meracuni ibunya dulu. Ia kemudian mencabut pedangnya, berniat menghunus jantung ratu sendiri.
"Kakak, kuatkan kesabaranmu. Aku ingin mendengar pembelaan darinya." Shu masih menahan.
Sang ratu tampak diam dan menunduk. Ia tidak berani melihat ke arah kedua putra tirinya.
"Ibu Ratu, tolong jawab pertanyaanku. Jawab dengan sejujurnya. Jika tidak, eksekusi matimu akan dijalankan hari ini." Shu mencoba memberi peringatan kepada ratu.
Ratu bergaun krim itupun menangis. Ia tidak ingin mati. Kesombongannya selama ini hilang begitu saja. Zu sendiri masih mengatur ulang napasnya, ia berapi-api untuk menyelesaikan masalah ini sendiri. Terlebih kenyataan pahit harus diterimanya.
Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itulah pepatah yang tepat untuknya. Ia ditinggalkan Ara dan kini harus mengetahui penyebab kematian ibunya. Dan ternyata ratu sekaranglah yang telah meracuni ibu kandungnya.
"Ibu Ratu, apa benar kau telah meracuni ibu sampai ibuku meninggal?" tanya Shu berusaha menstabilkan emosinya.
__ADS_1
"Ak-aku ...." Suara sang satu bergetar.
"Katakan saja. Jika jujur, hukumanmu akan diperingan. Tapi jika kau tidak menjawabnya, eksekusi matimu akan dilaksanakan hari ini." Shu memperingatkan.
Ratu seperti tidak menemukan jalan keluar. Ia benar-benar terpojok dan harus mengakui segala perbuatannya. Sedang Zu masih menunggu sambil menatap tajam ke arahnya. Putra sulung kerajaan Asia ini duduk di kursi kayu yang ada di depan teralis penjara bawah tanah.
"Ak-aku, aku tidak membunuh ibumu, Shu." Ratu gugup menjawabnya.
"Pengawal, panggilan pelayan Ne kemari." Shu meminta.
Seketika ratu pun memohon. "Pangeran Shu, maafkan ibu. Ibu salah, ibu mengakuinya." Ratu akhirnya mengakuinya.
Ratu terlupa jika masih ada seorang pelayan yang masih hidup dan menjadi saksi mata atas perbuatannya terdahulu. Seketika Zu pun berdiri dari duduknya.
"Jadi kau yang meracuni ibuku?!" Zu berapi-api.
"Ma-maafkan ibu, Zu. Ibu melakukannya karena tidak terima Lee dijadikan prajurit biasa." Ratu akhirnya mengakuinya.
Zu pun mengarahkan pedangnya ke arah ratu. Seketika ratu menghindarinya. Hampir saja ia mati di tangan anak tirinya sendiri.
"Ibu Ratu, kau begitu tega. Hanya karena Lee dijadikan prajurit biasa, kau sampai membunuh orang lain dengan meracuninya. Kau tahu seberapa besar kesalahanmu?" tanya Shu yang tak menyangka jika ia juga hampir ikut mati, karena saat itu sang ibu tengah mengandungnya.
Ratu terdiam.
"Lalu apakah kau juga yang menyihir ayahku? Kenapa di kamar ayah banyak sekali barang-barang aneh? Apa sebenarnya tujuanmu?" tanya Shu lagi.
"Tujuannya adalah untuk menguasai kerajaan ini. Dia menginginkan putranya menjadi raja selanjutnya. Bukan begitu, Ratu?"
Sang nenek datang bersama beberapa pengawalnya. Ia ikut bicara dalam permasalahan ini.
"Nenek?!" Shu dan Zu pun melihat ke arah neneknya yang datang.
__ADS_1
"Aku sudah menduga jika selama ini dialah penyebab kematian mantuku. Namun, aku belum mendapatkan bukti sama sekali. Terlebih ayah kalian tidak memercayai nenek. Tapi hari ini, semua sudah terbongkar. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, Ratu." Kedatangan sang nenek semakin menyudutkan ratu.
"Nenek, apa kita harus mengeksekusinya?" Shu bertanya.
"Ayahmu kini sedang diobati. Sihir- sihir dari wanita ini juga sedang dibuang. Kalian jangan terburu-buru. Tunggu ayah kalian yang mengambil keputusan." Sang nenek menenangkan.
Kini ratu Asia tidak lagi berkutik setelah perbuatannya diketahui oleh pihak istana. Sungguh amat disesali, setelah dua puluh tahun lamanya, perbuatan ratu itu baru bisa terbongkar. Ia pun harus mempertanggungjawabkannya. Tidak hanya di hadapan keluarga utama kerajaan, tapi juga dihadapan rakyat Asia.
Di Aksara...
Hari ini Cloud memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sang pangeran ternyata tidak sulit untuk merapikan administrasi negeri ini. Sore ini ia bisa kembali ke Angkasa. Hanya dalam dua hari pekerjaannya bisa diselesaikan. Sepertinya semesta merestuinya untuk segera kembali ke Angkasa dan meminang gadisnya.
Kini sudah hampir tiba jam makan siang. Cloud pun merapikan dokumen yang sedang dikerjakannya. Ia berniat keluar dari ruangan dan melihat keadaan istana. Setelahnya, ia akan kembali bekerja dan menyelesaikan tahap akhir pekerjaannya.
Cloud melangkahkan kaki melihat-lihat keadaan istana Aksara. Ia temani belasan pasukan yang berjaga. Ia juga menjumpai semua menteri yang diasingkan di ruangan khusus. Rencana Cloud akan menggelar rapat setelah pekerjaannya selesai. Kemungkinan pagi hari ia baru tiba di Angkasa.
"Pangeran Cloud."
Semua menteri di ruangan itu berdiri saat Cloud datang. Para menteri sama sekali tidak diperbolehkan keluar selama masa pengalihan negeri.
"Duduk saja. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan." Cloud meminta para menteri untuk duduk kembali.
Ruangan pengasingan itu hanya terdiri dari kursi dan meja. Tidak ada tempat tidur atau tempat peristirahatan lainnya. Ruangan pengasingan ini lebih mirip seperti penjara karena para menteri hanya bisa melakukan aktivitas di dalam dan tidak boleh keluar. Makan dan minum pun harus diantarkan pihak dapur istana.
"Aku sudah mencapai tahap akhir proses administrasi negeri ini. Beberapa kejanggalan sudah berhasil ditemukan. Dan beberapa di antara kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan. Ke depannya aku tidak bisa memastikan bagaimana nasib kalian. Dan aku juga tidak tahu hukuman apa yang akan diberikan Angkasa. Tapi, semoga saja kalian hanya dibebastugaskan. Tidak mendapatkan hukuman berat."
Cloud menuturkan. Para menteri pun terdiam seribu bahasa.
...
...Ayo berikan votemu, kita update bab selanjutnya!...
__ADS_1