
"Selamat datang, Pangeran Cloud, Nona Ara."
Para pelayan menyambut kedatangan kami. Cloud mengajakku tersenyum kepada seluruh pelayan kerajaan yang menyapa. Namun, kesedihan di hati ini sepertinya tidak dapat kututupi darinya.
Terima kasih, Cloud. Sudah mengizinkanku tinggal di dunia yang indah ini. Bertemu denganmu adalah sebuah keajaiban untukku.
Aku kemudian diantarkan oleh Cloud hingga di depan kamar.
"Selamat beristirahat, Ara," ucapnya lalu mengecup keningku.
Cloud?
Aku terkejut dengan sikapnya ini. Tak kusangka jika dia akan mencium keningku. Pipiku jadi merah merona dibuatnya. Dia lantas mengusap-usap kepalaku sebelum beranjak pergi.
Hatiku bimbang, tidak tahu harus bagaimana. Kubiarkan saja dia pergi dari hadapanku. Hanya senyuman yang mampu kuberikan kepadanya, dan sepertinya Cloud pun mengerti. Dia lantas beranjak pergi dari depan kamarku.
Beberapa hari kemudian...
Sudah beberapa hari ini aku sibuk mengerjakan tugasku. Sampai aku lupa sudah berapa lama tidak bertemu Rain. Rain yang biasanya nyelonong masuk ke kamarku, kini tidak lagi. Tiba-tiba aku teringat akan dirinya dan ingin segera bertemu.
Aku kemudian keluar mencarinya. Berharap dapat bertemunya dengan cepat. Kususuri jalan setapak menuju gazebo istana. Tak lama, kulihat Rain dari kejauhan sedang berjalan bersama Menteri Pertahanan. Keduanya tampak serius membahas sesuatu.
Aku berjalan cepat untuk menemui Rain. Kulihat tangan kanannya terbalut perban berwarna putih.
"Pangeran Rain, sudah lama kita tidak berjumpa."
Aku segera menghampiri dan menyapanya, namun Rain seperti tidak melihat dan mendengarku.
"Pangeran Rain, kau tidak apa-apa?" tanyaku lagi yang melihat tangan kanannya terperban.
"Maaf, Pangeran, Nona. Sebaiknya saya permisi dahulu."
Menteri Pertahanan itu berpamitan kepada kami. Sepertinya dia merasa tidak enak dengan situasi ini.
"Tunggu, Tuan Dave. Aku ikut bersamamu."
Ap-apa?!
Rain membuatku terkejut dengan perkataannya. Dia sama sekali tidak memedulikanku. Membalas sapaanku saja tidak, membuatku heran dengan sikapnya yang tidak seperti biasanya.
Rain?
Dia berjalan menjauh dariku begitu saja, tanpa kata tanpa pamit. Bersama Menteri Pertahanan dia melanjutkan perbincangannya dan meninggalkanku sendirian di taman.
Rain ... ada apa denganmu?
...
Hari-hari kulewati dengan begitu asing. Tidak seperti biasanya. Kehangatan yang kurasa, seakan hilang terbawa hujan. Rainku tidak pernah menampakkan dirinya lagi di depanku.
__ADS_1
Hatiku bertanya-tanya, apakah ada kesalahan yang kubuat sehingga Rain tidak lagi memedulikanku? Aku belum mendapatkan jawabannya. Malam ini pun aku tidak bisa tidur. Haruskah aku menemuinya?
Kuambil mantelku. Gerimis malam ini menemaniku melangkahkan kaki menuju kediamannya di barat istana. Sesampainya di sana, kulihat lampu masih dinyalakan, aku lalu mengetuk pintu.
Beberapa pelayan membukakan pintu lalu mempersilakanku untuk masuk. Kuutarakan tujuanku ke sini dan para pelayan bilang jika Rain sedang berada di teras atap malam ini.
"Semalam ini? Bukannya di luar sedang gerimis?" tanyaku kepada para pelayan.
"Kami tidak tahu, Nona. Sepertinya sudah beberapa hari ini sikap Pangeran Rain berubah drastis. Kami tidak berani menanyakan apa sebabnya." Pelayan pertama menceritakan.
"Kami juga menemukan pecahan kaca di kamar mandinya. Sepertinya Pangeran Rain sengaja melukai dirinya." Pelayan kedua bercerita.
"Melukai diri?" tanyaku segera.
"Benar, Nona. Sebaiknya Nona bertanya langsung kepada Pangeran Rain. Kami permisi."
Pelayan ketiga berpamitan diikuti kedua pelayan lainnya. Ucapan para pelayan kediaman Rain membuatku segera melangkahkan kaki menuju teras atap kediamannya.
"Rain!"
Kulihat Rain membiarkan tubuhnya dibasahi rerintikkan air hujan.
"Rain!"
Rain tidak menyahuti panggilanku. Dia tetap diam sambil menatap langit yang menurunkan air hujannya. Aku pun tidak peduli lagi dengan diriku, aku berlari menujunya. Rintik-rintik air hujan kubiarkan membasahi tubuhku.
Aku tiba di hadapannya sambil menahan rintik hujan yang jatuh dengan mantelku. Namun, Rain diam saja.
"Rain, apa aku membuat kesalahan? Katakan padaku Rain, jangan diam saja."
Aku memelas. Sepertinya ada sebuah kesalahpahaman yang telah terjadi di antara kami, namun Rain tidak bergeming. Dia malah memutar badannya, berbalik lalu berjalan menjauh dari hadapanku.
Ini tidak beres!
Hatiku terasa kacau. Rain begitu dingin kepadaku. Aku kemudian berlari mengejarnya lalu menahan kepergiannya dengan kedua tanganku.
"Rain, tolong bicara. Kumohon ...."
Mataku berkedut, seolah memberi isyarat jika kristal bening ini akan segera meluncur dari persembunyiannya. Aku menelan ludahku, mencoba tetap tenang saat mendapat perlakuan seperti ini.
"Rain ...."
Rain sepertinya menyadari jika aku masih menunggunya bicara. Dia melepaskan kedua tanganku yang menahan tubuhnya. Dia kemudian berbalik menghadapku.
"Ara ...."
Suara Rain terdengar serak. Dia menyentuh rambutku dengan tangan kanannya yang terperban putih.
"Rain, katakan padaku. Apa yang membuat dirimu seperti ini?" tanyaku segera, tidak ingin membuang-buang waktu.
__ADS_1
Rain terdiam sejenak. Dia kemudian memegang tangan kananku. Tangannya yang terperban putih itu lalu mengarahkan tanganku ke dadanya, tepat di jantungnya.
"Ara, kau tau? Kau sudah seperti udara yang kuhirup. Namun kini ... udara itu menghilang. Dadaku terasa sangat sesak."
"Rain—"
"Aku sakit melihatnya. Aku sakit," katanya dengan tatapan penuh luka.
"Rain, kau melihatnya? Melihat apa?" tanyaku yang belum menyadari akan maksudnya.
"Aku melihatmu bersamanya, bersama kakakku sendiri," jawabnya pelan seraya melepaskan tanganku dari dadanya.
"Rain, aku—"
"Ara, mungkin aku yang terlalu berharap padamu dan membiarkan hati ini terluka."
"Rain, kau melihat kami di air terjun?" tanyaku memastikan.
Rain terdiam, dia menelan ludah berulang kali dengan tatapan pilu ke arahku.
"Sebaiknya kau segera kembali ke kamarmu. Aku khawatir Cloud akan mencarimu."
"Tapi, Rain—"
"Pergilah."
Aku mencoba untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Aku merasa ada kesalahpahaman yang harus segera diselesaikan.
"Rain, tidak semua yang kau lihat itu benar."
Aku coba menjelaskannya kepadanya, namun Rain menolak.
"Tolong jangan hancurkan hatiku, Ara. Pergilah sebelum kesabaran ini habis."
Rain ....
Aku diusirnya. Baru kali ini aku diusir oleh Rain. Dia membelakangiku dan memintaku untuk meninggalkannya. Rasanya begitu sakit diabaikan olehnya. Kristal bening ini tidak mampu kutahan lebih lama lagi. Butiran air mata jatuh ke pipi bersamaan dengan langkah kakiku yang meninggalkan Rain.
Aku turun ke lantai dasar sambil mengusap air mataku. Para pelayan kediaman Rain terlihat mencoba untuk menanyakan keadaanku, namun kuabaikan. Aku terus saja berlari dari kediamannya, melewati taman istana yang sepi. Saat ini aku seperti kehilangan arah, aku tak berdaya.
"Rain, kau salah paham."
Aku mencoba untuk menenangkan diri saat sampai di tengah taman. Berusaha jalan seperti biasanya agar tidak menarik perhatian penghuni istana yang lain.
Hatiku sedih, tak berarah. Seperti kehilangan kasih sayang yang amat besar. Yang selama ini telah kunantikan sejak lama.
Rain, mengapa harus seperti ini?
Aku mencoba bersikap biasa. Kulewati jalan setapak di taman sambil menikmati rerintikkan air hujan yang membasahi tubuhku. Kubiarkan rintik hujan ini menemani malam gelapku yang sunyi.
__ADS_1